Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Mentari menyengat lebih terik di atas pasar kota. Suasana bising pedagang sayur, aroma rempah yang menyengat, serta lalu lalang warga desa menjadi benteng alami bagi Arka dan Kinanti. Di mata semua orang, Arka hanyalah suami telaten yang dengan sabar mendorong gerobak cilok sambil membawakan tas belanjaan istrinya.

​Namun, indra tempur Arka yang terasah bertahun-tahun tidak pernah beristirahat. Setiap ketukan langkah kaki di sekitarnya terhitung dengan presisi mutlak.

​Dari sudut matanya, Arka menangkap pergerakan Galuh yang menyelinap di antara kerumunan warga dekat lapak bumbu. Pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam itu bertindak cepat. Matanya yang tajam mengisyaratkan dua eksekutor bayaran berdarah dingin yang menyamar sebagai pembeli untuk mengepung Kinanti dari dua arah berlawanan.

​'Mereka memanfaatkan kelengahan pasar untuk pengangkatan senyap,' batin Arka dingin.

​"Mas Arka, Kin mau beli cabai merah di sebelah sana ya," pamit Kinanti sambil melepaskan genggaman tangannya dan melangkah menuju lapak pedagang cabai.

​"Iya Sayang, hati-hati jalanannya agak licin," sahut Arka dengan suara lembut dan senyum polosnya yang biasa.

​Namun, begitu Kinanti melangkah lima meter di depan, Arka sengaja menggeser posisi gerobak ciloknya hingga menutupi pandangan Kinanti dari area samping. Dalam hitungan detik secepat kilat yang tak disadari oleh para pembeli di pasar Arka melangkah memotong jalur pemburu bayaran pertama yang mencoba mendekati Kinanti dari belakang.

​CTAK!

​Dengan gerakan yang tampak seperti ketidaksengajaan menyenggol bahu, jemari Arka menyelusup ke balik jaket pria itu, menekan titik saraf utama di lehernya dengan kekuatan mematikan. Pria tersebut mendadak lumpuh seketika, matanya mendelik sebelum Arka merangkul badannya dengan sigap seolah-olah menolong seorang warga yang sedang pingsan.

​"Mas, temannya lemas nih, kecapekan kayaknya. Saya dudukin di bangku kayu ya," ujar Arka ramah kepada pemburu bayaran kedua yang berdiri membeku satu meter di depannya.

​Pemburu bayaran kedua itu menelan ludah dengan wajah pucat pasi. Ia menyaksikan sendiri bagaimana rekannya dilumpuhkan dalam hitungan milidetik tanpa ada satu pun warga pasar yang menyadarinya. Tekanan killing intent yang dipancarkan Arka saat menatap matanya membuat lutut pria itu gemetar hebat.

​"M-maaf... salah orang..." bisik pemburu bayaran kedua itu terbata-bata, lalu membalikkan badan dan kabur melarikan diri menembus kerumunan pasar.

​Arka mendudukkan mayat pria pertama di bangku kayu di bawah pohon rindang, menyandarkannya seolah sedang tertidur pulas, lalu berbalik kembali ke gerobak ciloknya dengan senyum tanpa dosa.

​"Mas Arka! Udah nih cabainya!" panggil Kinanti riang sambil membawa kantong plastik merah.

​Arka menyambut istrinya dengan tatapan hangat yang meluluhkan hati. "Sudah semua belanjanya, Sayang? Kalau sudah, yuk kita pulang. Mas buatkan es teh manis di rumah."

​"Asyik! Yuk pulang, Mas!" seru Kinanti manis sambil menggandeng erat lengan Arka.

​Di persimpangan jalan gang sempit tak jauh dari pasar, Galuh berdiri tegap menyaksikan seluruh kejadian itu dari balik kegelapan. Rahangnya mengeras, keringat dingin membasahi dahinya. Taktik intrik dan manipulasi yang biasa ia banggakan runtuh seketika di hadapan dominasi mutlak sang Raja Kegelapan.

​'Pria itu... dia tidak hanya kuat, tapi dia membentengi istrinya bagaikan dinding besi yang tak menembus,' batin Galuh dengan gigi gemeletuk. 'Penyergapan kasar tidak akan pernah berhasil. Aku harus memakai cara lain.'

​KREEK...

​Malam merayap pekat di hutan pinus perbatasan selatan. Atmosfer mendadak membeku. Aura killing intent yang dipancarkan Arka begitu pekat, membuat dua eksekutor sisa yang berdiri di samping Galuh merasakan tekanan luar biasa hingga napas mereka tersengal.

​Namun, Galuh tetap berdiri tegap. Raut wajahnya yang rapi dan tenang sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. dengan gaya santainya yang khas, ia mengibaskan abu rokok di ujung jarinya sebelum menatap Arka lurus-lurus.

​KRELEK...

​"Raja Kegelapan turun gunung sendiri hanya untuk menyapa tamu?" tutur Galuh halus, suaranya sangat santai tanpa nada gemetar sedikit pun. "Sebuah kehormatan besar."

​"Aku tidak suka tamunya membawa niat buruk ke desa tempat istriku tinggal," sahut Arka datar. Langkah kakinya menyapu daun kering tanpa sedikit pun menimbulkan suara.

​Di sisi kiri, Sarah yang mengenakan seragam biru navy ala pramugari lengkap dengan rok span gelap bermodel khusus taktis sudah mencabut pistol peredam suara dari balik belahan roknya. Rambut sanggulnya tetap rapi meski angin malam berembus kencang.

​"Galuh! Jangan banyak omong!" cerocos Sarah cerewet dengan nada tertahan namun penuh ketegasan. "Kamu pikir bisa lolos setelah mencoba mengacaukan pasokan bahan baku warung Kinanti?! Dasar pemburu bayaran licik!"

​Lingga yang berdiri di samping Sarah sambil mengusap rambut mullet-nya yang tertiup angin hanya menyunggingkan senyum tipis. Ia merangkul bahu kekasihnya sejenak untuk menenangkan emosi Sarah yang meluap-luap.

​"Sabar, Sayang... jangan teriak-teriak begitu, nanti suaramu serak," goda Lingga santai, walau matanya yang tajam sudah terkunci rapat pada dua eksekutor Galuh. "Biar Bos Arka yang menyelesaikan dalangnya, kita urus sisanya."

​"Lingga! Ini situasi serius!" omel Sarah gemas seraya menepis pelan tangan kekasihnya, meski jemarinya tetap sigap mengarahkan moncong senjata.

​Dua eksekutor bayaran yang panik melirik ke arah Galuh. "Bos! Kita serang bersamaan!"

​SRET!

​Tanpa menunggu aba-aba dari Galuh, kedua eksekutor itu langsung menerjang ke depan dengan pisau komando bertoreh racun. Kecepatan mereka luar biasa, terlatih dari berbagai konflik internasional.

​Namun, di mata Arka dan Lingga, gerakan itu terlalu mudah dibaca.

​Arka melangkah maju satu senti. Gerakannya sehalus bayangan. Sebelum eksekutor pertama sempat mengayunkan belatinya, Arka mencengkeram pergelangan tangan pria itu.

​KRAK!

​Arka memutarnya hingga terdengar bunyi retakan tulang yang mengerikan. Tanpa jeda, sikut Arka menghantam bagian dada eksekutor tersebut.

​BUGH!

​Pria itu ambruk tak bernapas.

​Di saat bersamaan, eksekutor kedua mencoba menyerang Sarah. Namun Lingga bergerak lebih cepat. Dengan kibasan tangan yang presisi, Lingga menangkis serangan tersebut, lalu menarik tubuh musuh ke arahnya sebelum menghentakkan lututnya tepat di ulu hati musuh. Sarah yang tak mau kalah langsung mendaratkan pukulan taktis menembus titik vital di leher musuh tersebut.

​BLES! GEDEBUK!

​Hanya dalam hitungan belasan detik, dua eksekutor elit itu sudah terkapar tak bernyawa di atas tanah basah.

​Kini, hanya tersisa Galuh yang berdiri sendirian di bawah rindangnya pohon pinus.

​Galuh menyunggingkan senyum tipis, tetap bersikap sangat tenang dan tegap meski anak buahnya baru saja dibantai di depan matanya.

​"Imbalan seratus juta dolar memang bernilai tinggi, tapi menghadapi monster seperti kalian bertiga... rasanya imbalan itu agak terlalu murah," ucap Galuh santai seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel hitamnya.

​Arka melangkah mendekat, berhenti tepat tiga langkah di depan Galuh. Matanya sehitam malam, menyalurkan ancaman mutlak.

​"Ini peringatan terakhirku, Galuh," bisik Arka, suaranya bak vonis dari dasar neraka. "Pergi dari Bandung, atau aku sendiri yang akan memastikan namamu terhapus selamanya dari dunia bawah."

​Galuh menundukkan kepalanya sedikit dengan nada menghormati yang tenang. "Pesan diterima dengan baik, Raja Kegelapan. Tapi ingat... jika bukan aku yang datang, pemburu bayaran lainnya tidak akan seramah ini."

​PFFFT... WUSH!

​Dengan gerakan santai, Galuh melempar sebuah bom asap kecil ke tanah. Asap tebal membumbung tinggi membungkus area tersebut, dan saat asap menghilang ditelan angin malam, sosok Galuh sudah menyelinap pergi melarikan diri ke dalam pekatnya rimba.

​"Cih! Dia kabur!" gerutu Sarah cerewet seraya merapikan kembali rok spannya.

​CEKREK...

​"Lingga! Kenapa kamu nggak tahan dia tadi?!"

​Lingga terkekeh pelan, melingkarkan tangannya di pinggang Sarah dan mengecup pipi kekasihnya singkat. "Biarkan saja dulu, Sayang. Dia cuma musang bertopeng yang sedang mengukur kekuatan kita. Yang penting malam ini area selatan sudah bersih."

​SREK... SREK...

​Arka menyapu sisa darah di tangannya menggunakan kain lap yang biasa ia pakai di gerobak cilok. Aura pencabut nyawa yang menyelimutinya perlahan meluruh.

​"Bersihkan area ini," perintah Arka singkat pada Lingga. "Aku harus segera kembali. Kinanti bisa terbangun kapan saja."

​Arka membalikkan badan, berjalan melangkah cepat menembus kegelapan menuju rumah panggungnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!