Follow My IG : @mae_jer23
Geyara, gadis kampung berusia dua puluh tahun yang bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Cullen. Salah satu keluarga terkaya di kota.
Pada suatu malam, ia harus rela keperawanannya di renggut oleh anak dari sang majikan.
"Tuan muda, jangan begini. Saya mohon, ahh ..."
"Kau sudah kupilih sebagai pelayan ranjangku, tidak boleh menolak." laki-laki itu terus menggerakkan jarinya sesuka hati di tempat yang dia inginkan.
Tiga bulan setelah hari itu Geyara hamil. Masalah makin besar ketika mama Darren mengetahui sang pembantu di hamili oleh sang anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pusing menghadapi mama dan kak Tini
Benar kata si tuan muda kemarin, bahwa dia akan sibuk selama beberapa hari ke depan. Entah laki-laki itu pergi kemana. Sudah empat hari ia tidak kembali ke rumah. Dan entah kenapa Yara kangen.
Wanita itu sudah bekerja kembali seperti biasa. Untung tidak dimarahi karena waktu itu tiba-tiba pergi begitu saja. Mbok Ipe walaupun tegas tapi baik hati. Jadi dia hanya menegur dengan ringan dan tidak sampai ketahuan nyonya Lika. Untungnya ada banyak sekali pembantu di rumah besar ini jadi nyonya besar mereka tidak memperhatikan sendiri kehadiran para pembantunya.
Kondisi papanya sudah membaik. Ia menelpon dan bertanya ke mamanya kemarin. Walaupun mamanya menjawab dengan suara ketus yang membuatnya kebingungan, yang penting dirinya sudah mengetahui kondisi papanya seperti apa. Yara sudah dapat ijin dari mbok Ipe, jadi nanti besok dia bisa ke rumah sakit buat besuk papanya.
Sekarang Yara sedang berada di bawah pohon di belakang rumah keluarga Cullen. Ia baru habis menyapu dan sedang bersantai. Wanita itu melamunkan si tuan muda.
"Kemana sebenarnya dia pergi?"
Gumamnya pelan. Terakhir kali sebelum Darren pergi, pria itu memperlakukannya dengan sangat lembut. Bahkan mas Irgo tidak pernah selembut itu padanya. Yara mengeluarkan ponsel dari seragam pembantunya dan mencari nomor Darren yang dia simpan dengan inisial D.
"Untuk apa aku menelponnya? Dia saja tidak pernah menghubungiku. Akan kan hanya sebatas pelayan ranjangnya. Harga dirimu harus tinggi Yara. Laki-laki itu tidak menaruh hati padamu. Perbedaan kalian bak langit dan bumi." gumam Yara lagi pelan. Setelah itu ia menarik napas panjang dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Yara!" Yara menatap ke arah panggilan.
"Ada apa Lusi?" Lusi berjalan mendekati Yara.
"Kata mbok Ipe kalau kamu mau ijin besuk papa kamu di rumah sakit pergi sekarang aja. Karena nanti besok ada pesta di rumah ini. Jadi kita semua bakal kerja full, nggak bisa ijin keluar."
"Pesta? Pesta apa?"
"Nggak tahu. Aku nggak sempat tanya ke mbok Ipe. Udah pergi aja sana, biar aku gantiin pekerjaan kamu."
"Makasih ya Lusi." Lusi memang paling baik padanya.
Setelah berganti seragam pembantunya dengan pakaian biasa, Yara langsung meluncur ke rumah sakit. Semua keluarganya di sana lengkap. Papanya sedang tertidur, kondisinya cukup baik. Yaya senang melihatnya.
"Kemana saja kamu Yara? Papa kamu lagi sakit tapi kamu seenaknya pergi-pergi!" kata mamanya ketus.
Tini disebelah sang mama juga menatap sinis padanya. Kakak beradik itu belum pernah saling menghubungi lagi semenjak kejadian waktu itu. Yara betul-betul marah dan merasa dikhianati oleh kakak dan tunangannya sendiri. Mas Irgo memang sempat menghubunginya beberapa kali tapi tidak dia angkat.
"Aku kerja ma." Yara menjawab mamanya.
"Kerja? Jadi pekerjaan kamu lebih penting dari papa kamu begitu?!" tukas wanita paruh baya itu kasar. Yara sampai kaget. Mamanya memang jarang berbicara lembut padanya, tapi tidak sekasar ini juga.
"Nggak gitu ma, mama tahu aku baru berhutang banyak pada majikan aku. Aku tetap harus kerja kan? Lagian aku tetap pantau keadaan papa dari jauh." Yara memakai alasan itu ke mamanya.
"Halah, jangan cari alesan kamu. Kalau memang kamu nggak datang, paling nggak kirimin kami uang. Kamu tahu biaya rumah sakit papa kamu itu tinggi sekali. Uang yang kemaren nggak cukup untuk biaya makan dan transportasi kakak kamu bolak balik ke rumah sakit. Kalau kakak kamu sudah berkorban gantian jagain papa kamu sama mama, berarti kamu juga harusnya berkorban uang dong. Kakak kamu sibuk kuliah aja masih bisa datang. Masa kamu nggak datang, nggak bisa kirimin uang? Liat papa kamu, masih lemah banget. Cuma kamu yang bisa cari uang buat keluarga kita sekarang."
Betapa sakitnya hati Yara mendengar kalimat panjang mamanya. Intinya hanyalah uang. Selalu begitu. Baik kakak dan mamanya selalu mengangkat masalah uang tiap kali bicara dengannya. Memangnya dia mesin uang apa? Dari SMP dia sudah dipaksa kerja meski harus sibuk belajar. Sampai sekarang mereka pun terus menekannya dengan masalah yang sama.
"Ma, kenapa mama sama kak Yara selalu minta uang ke aku sih?"
"Ya karena kamu yang kerja!"
"Tapi sekarang aku nggak ada uang. Gajiku minggu lalu sudah di ambil semua sama kak Tini. Aku bahkan punya hutang sama majikan aku. Terus kalian mau aku ambil uang di mana?" Yara tidak tahan lagi. Dulu dia selalu diam, sekarang tidak lagi. Tidak akan.
"Terserah kamu mau ambil di mana. Kamu kan biasa kerja, pasti tahu." Tini angkat bicara.
"Ya udah, kalo gitu kak Tini kerja juga. Setahu aku bisa tuh kuliah sambil kerja. Apalagi selama ini aku liat kak Tini lebih banyak bolosnya dengan alasan sakit."
"Kamu!"
"Ehem, maaf. Di sini kamar pasien. Bukan tempat kalian buat ribut-ribut begitu. Tolong keluar kalau masih mau bertengkar." seorang dokter berpenampilan keren masuk bersama seorang dua perawat.
Tini langsung cepat-cepat mengatur rambutnya. Dokter itu sangat tampan, namanya Arka. Nama lengkapnya Arka Camaro. Anak pemilik rumah sakit ini. Tini sudah mencari tahu semua tentang pria itu. Dokter Arka juga yang mengoperasi papa mereka. Alasan Tini selalu rajin ke rumah sakit pun karena dokter tampan itu. Irgo kalah jauhlah jelas. Kalau di kampung si oke, tapi kalau di kota jelas tidak ada apa-apanya. Tini harus mendekati laki-laki kaya raya seperti dokter Arka ini. Dia bermimpi menjadi istri dari anak sang pemilik rumah sakit. Hidupnya pasti enak sekali. Bergelimang harta dan bisa melakukan apapun yang dia mau.
"Maaf dok, adik saya memang selalu bikin emosi bawaannya." kata Tini mendekati dokter Arka dan berbicara semanis mungkin. Arka menatap ke perempuan muda lain di ruangan itu. Yara juga balik menatapnya. Mereka saling menatap. Entah kenapa Arka merasa wanita itu familiar.
"Yara, kamu keluar dulu. Jangan ganggu pekerjaan dokter dan suster." usir Tini.
Yara tertawa hambar. Ia menatap mamanya yang langsung membuang muka darinya.
"Kalian semua keluar dulu." ucap dokter Arka.
"Semua dok? Tapi biasanya," Tini maju lebih dekat ke pria itu.
"Suster, tolong bawah mereka keluar."
Tini dan Weni mamanya terpaksa ikut keluar bersama Yara. Diluar mereka terus menyalah-nyalahkan Yara. Yara yang kesal hanya memilih diam. Mereka di rumah sakit, tidak sepantasnya ribut-ribut begini.
"Yara, kamu pergi ke kantin beliin kakak minum. Kakak sudah haus." perintah Tini.
"Kakak pergi saja sendiri. Memangnya nggak punya kaki?"
"Yara kamu!"
Yara memutar bola matanya malas lalu pergi dari situ. Tapi bukan untuk membelikan Tini minum. Terlalu bodoh kalau dia sampai pergi.
semua telah terjadi takdir berdoain aja mendiang papa kamu dah tenang dan bahagia...
Zidane kamu harus kuat dihadapan zia nanti, jangan tunjukan kesedihan kamu zia lagi hamil besar jangan sampai sedih dan stress bumil...
jadilah berusaha kuat nanti dihadapan zia, zia juga sangat kehilangan papa surya telah dianggap kayak papa kandung sendiri...
Zidane dan zia pasti merasakan kehilangan papanya sangat menyayanginya, emang siratna sakit jiwa dan stress harus dijebloskan rumah sakit jiwa...
gak suka sama ratna raga banget membunuh mantan suaminya, zia dan zidane merasakan kehilangan sosok figur seorang ayah sangat menyayangi mereka...
semoga aja kepergian papa mereka lebih kuat dan tabah zidane dan zia....
semangat gael noah owen👍👍👍
kayla jg harus slalu dampingi kk zidan iy🤭🤭
Kaka Mae sehat² juga yaa/Rose/
menurut Ratna sudah bener membunuh mantan suaminya, kayaknya ratna jebloskan rumah sakit jiwa🤭
zidane dan zia kehilangan papanya sangat menyayanginya, mana mama sakit jiwa dan stress harus yg metong mamanya jangan papa surya🤭
sabar ya zidane dan zia emang jalannya buat papa surya dah tenang dan damai, semoga zidane dan zia ikhlas atas kepergian papanya...
semangat updatenya thor💪💪💪
semoga setelah ini zidan dan zia bisa bahagia,,
berharap jg zidan bisa nikah sama kayla,, supaya zidan tidak sedih karn merasa sendrian ,,