Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Setelah Alesia menghabiskan suapan terakhir ramen instannya, Dante tidak langsung mengajaknya menuju mobil. Pria itu berdiri, menatap ke arah trotoar yang masih cukup ramai oleh pejalan kaki.
"Kita jalan-jalan sebentar di sekitar sini agar makananmu cepat turun," ucap Dante dengan nada perintah yang tidak bisa dibantah.
Alesia sempat terpaku di tempat duduknya.
Jalan-jalan? Dengan bos besar ini? Malam-malam begini? Pikirannya mendadak macet.
Namun, melihat Dante yang sudah melangkah duluan, Alesia akhirnya mengiyakan karena merasa tidak enak untuk menolak lagi. Ia buru-buru merapikan sisa sampah makanannya dan mengekor di belakang pria itu.
Mereka berdua berjalan memutari kawasan di depan kantor Aetheris Games.
Daerah tersebut memang terkenal sebagai salah satu pusat keramaian malam di Seoul, dipenuhi oleh deretan toko pakaian, lampu-lampu neon yang estetis, serta stan-stan makanan pinggir jalan yang mengepulkan aroma menggoda.
Suasana sangat ramai dan bising, berbanding terbalik dengan keheningan canggung yang menyelimuti mereka berdua. Alesia berjalan agak canggung karena jas milik Dante yang membungkus tubuhnya terasa sangat kedodoran, membuat beberapa orang yang lewat sempat melirik mereka dengan pandangan penasaran.
Saat mereka sedang berjalan beriringan di tengah trotoar yang padat, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul sekelompok anak muda yang berjalan terburu-buru sambil tertawa. Salah satu dari mereka tidak memperhatikan jalan dan menyenggol bahu Alesia dengan cukup keras.
Bruk!
Senggolan mendadak itu membuat tubuh kecil Alesia terguncang dan kehilangan keseimbangan. Ia hampir saja terjerembap ke samping. Namun, sebelum tubuhnya terjatuh, dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Dante mengulurkan tangan panjangnya dan menangkap kedua pundak Alesia, menahan tubuh gadis itu agar tetap tegak.
Aroma parfum maskulin mahal milik Dante langsung menyerbu indra penciuman Alesia saat tubuh mereka sempat berdekatan selama beberapa detik.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dante, suaranya terdengar sedikit lebih rendah dari biasanya, dengan gurat kecemasan tersembunyi yang jarang ia perlihatkan.
"Emm... gak apa-apa, Pak. Makasih," cicit Alesia, jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.
"Ah, maaf, maaf! Saya tidak sengaja," ucap pemuda yang menabrak tadi sambil membungkuk sekilas sebelum kembali berlari menyusul teman-temannya.
Dante perlahan melepaskan cengkeramannya di pundak Alesia, namun matanya yang abu-abu tetap menatap lekat-lekat ke dalam mata bulat gadis itu.
Kedekatan yang mendadak serta tatapan mata yang intens itu seketika membuat Alesia salah tingkah. Ia buru-buru memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas, berpura-pura merapikan jas Dante yang ia kenakan.
...****************...
Setelah dirasa cukup puas berjalan-jalan dan makanan di perut Alesia mulai turun, Dante akhirnya membawa gadis itu ke mobil sedan miliknya. Pria itu bersikeras untuk mengantarkan Alesia pulang ke apartemennya.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam kabin mobil terasa canggung namun menyiratkan kesan manis yang aneh.
Suara alunan musik klasik yang lembut mengalir dari speaker mobil, menemani keheningan di antara mereka.
Alesia hanya berani menatap keluar jendela, sementara Dante fokus menyetir, sesekali melirik ke arah kaca spion tengah untuk memastikan kondisi karyawannya yang tampak kelelahan.
Hingga akhirnya, mobil mewah itu berhenti di sebuah kawasan pemukiman padat penduduk. Dante tidak sengaja melihat dan memperhatikan area sekitar apartemen Alesia yang terletak di kawasan yang sangat sederhana, jauh dari kemewahan pusat kota Gangnam atau tempat tinggal elitnya sendiri. Bangunan itu tampak tua, dengan deretan tangga luar yang sempit dan kabel-kabel listrik yang saling silang di udara.
Begitu mobil berhenti sempurna, Alesia membuka sabuk pengamannya. Namun, tanpa diduga, Dante ikut mematikan mesin mobil dan turun dari kursi kemudi.
Pria tegap itu berdiri di samping mobil sembari mengedarkan pandangannya, melihat sekeliling lingkungan flat yang remang-remang dengan kening berkerut.
"Keamanan di sini bagaimana?" tanya Dante tiba-tiba, menatap tajam ke arah pintu masuk yang tidak memiliki penjaga digital.
Alesia yang baru saja merapikan tasnya menoleh bingung. "Aman kok, Pak."
"Tapi tempat ini kelihatan sama sekali tidak aman," sahut Dante dengan nada dingin dan skeptis, melirik ke arah lorong tangga yang gelap.
Alesia mendengus pelan, merasa sedikit terhibur dengan kepanikan bos besarnya yang terbiasa hidup di lingkungan serba steril.
"Buktinya saya masih baik-baik saja kan, Pak, sampai sekarang? Sudah satu tahun saya tinggal di sini dan tidak pernah ada masalah."
Dante terdiam sejenak, menatap Alesia yang berdiri di bawah temaram lampu jalanan dengan jas besarnya yang longgar. Akhirnya, pria itu mengembuskan napas pendek.
"Ya sudah. Saya pulang dulu."
"Terima kasih banyak, Pak. Hati-hati di jalan," ucap Alesia tulus sambil membungkukkan badannya memberi salam.
Dante masuk kembali ke dalam mobilnya, memutar arah, dan perlahan melaju membelah kegelapan malam, meninggalkan kawasan pemukiman tua tersebut.
Alesia berdiri mematung selama beberapa detik, menatap lampu belakang mobil Dante yang semakin menjauh. Ia memeluk jas hitam yang masih melekat di tubuhnya, menghirup sisa kehangatan dan wangi parfum yang tertinggal di sana.
"Kenapa Pak Dante mendadak tanya soal keamanan, ya?" bisik Alesia bingung pada diri sendiri, mengerutkan keningnya heran.
Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran aneh yang mulai berkecamuk di otaknya, Alesia membalikkan badan dan melangkah riang menaiki tangga menuju flatnya.
Malam ini, beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan, dan ketakutannya pada sang bos singa perlahan mulai mencair menjadi sesuatu yang sama sekali baru.