Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Kesunyian malam telah menggantikan keramaian di siang hari. Lampu-lampu kota menyala terang, menyerupai bintang yang menghiasi langit malam.

Jalanan di sekitar kediaman Halvar mulai sepi. Hanya sesekali suara kendaraan terdengar dari kejauhan, lalu kembali menghilang di antara kesunyian malam.

Di dalam kediaman keluarga Halvar, sebagian besar lampu sudah dimatikan. Para pelayan juga telah kembali ke kamar masing-masing, begitu pula dengan anggota keluarga yang lainnya.

Namun, masih ada satu ruangan yang belum ikut terlelap bersama malam. Cahaya lampu masih terlihat dari balik pintu yang tertutup.

Ruang kerja Faresta.

Di atas meja masih tersusun beberapa berkas yang belum sempat disentuh sejak masalah perusahaan beberapa hari terakhir.

Danendra yang sejak tadi membantunya mulai menutup map terakhir. Setelah bergelut dengan dokumen perusahaan sejak makan malam tadi, kini pikirannya tertuju pada putri bungsunya. Elara.

“Faresta.”

“Iya, Pa?”

Danendra menyandarkan punggungnya ke kursi. “Menurutmu, siapa Elara sebenarnya?”

Pertanyaan itu membuat Faresta mengangkat pandangannya dari layar komputer.

“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur. “Tapi semakin lama mengenalnya… semakin sulit untuk menganggap Elara anak biasa.”

Danendra mengangkat alisnya. “Apa karena dia sering tiba-tiba menghilang dan muncul?”

Faresta mengangguk pelan. “Dan masih banyak hal aneh lain.”

Pikirannya kembali pada berbagai kejadian yang melibatkan Elara.

Cara gadis itu menemukan Arga. Cara Elara selalu mengetahui sesuatu lebih cepat dari orang lain.

Hingga berbagai ucapan aneh yang sering keluar begitu saja dari mulutnya.

“Kadang aku merasa dia berasal dari dunia yang berbeda dari kita, Pa.”

Danendra terdiam beberapa saat. Dalam hatinya ia juga merasa setuju dengan pernyataan Faresta.

Namun pria itu masih belum bisa memastikan, apakah perasaan tersebut berasal dari firasatnya atau hanya karena terlalu banyak hal aneh yang dilakukan Elara sejak datang ke keluarga mereka.

Pada akhirnya, Danendra hanya menghela nafasnya. “Apapun itu, dia tetap keluarga kita sekarang.”

Faresta tersenyum tipis dan mengangguk. “Aku tahu, Pa.”

Danendra berdiri dan hendak pergi setelah merasa urusannya selesai, sisa sedikit berkas dan ia yakin Faresta bisa mengatasinya sendiri.

Namun saat pandangannya menyapu berkas yang ada di meja Faresta, matanya tertuju pada sebuah nama yang beberapa hari terakhir terus menghantui pikirannya.

“Tentang Adrian—”

“Aku tau,” sahut Faresta. “Ini bukan sepenuhnya salah Papa. Persaingan saat itu memang tidak sehat, dan keluarga Virel yang memulai duluan.”

Faresta menghela nafasnya, tatapannya kosong seolah mengingat sesuatu di masa lalu.

"Kita juga tidak tahu jika bocah malang yang menjadi temanku itu ternyata keturunan Virel yang hilang.”

Danendra terdiam. Ia bisa memahami perasaan putra sulungnya yang tengah kacau sejak kemunculan Adrian.

Seseorang yang pernah mengisi hari-hari dimasa kecilnya hingga beranjak remaja, lalu menghilang selama bertahun-tahun. Bahkan mereka sempat menganggapnya telah tiada.

Tiba-tiba muncul kembali di tengah kekacauan yang hampir menghancurkan perusahaan mereka.

“Papa masih ingat saat kamu pertama kali membawa Adrian ke rumah,” ujar Danendra pelan.

“Lucas bahkan sering berkelahi dengannya gara-gara berebut remote TV.”

Faresta terkekeh kecil mengingat kejadian itu.

“Dan Lionel yang menangis karena mainannya di patahkan Adrian. Padahal yang mematahkan justru Leonard.”

Keduanya sempat tertawa kecil sebelum suasana kembali hening.

Danendra kembali duduk dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Menurutmu... apa Adrian benar-benar mau menghancurkan kita?”

“Aku tidak tahu,” jawab Faresta pelan.

Faresta menundukkan kepala, tangannya saling bertaut dan diletakkan di atas pangkuannya.

“Kalau tujuannya kembali untuk balas dendam… mungkin dia akan melakukannya.”

“Padahal saat itu Papa hanya berusaha mempertahankan perusahaan kita,” ujar Danendra pelan. “Virel Group hancur saat itu karena ketamakan mereka sendiri.”

Faresta mengangguk. Ia masih ingat bagaimana kacaunya Danendra saat itu. Kala itu, Faresta yang masih remaja tidak begitu mengetahui permasalahan yang terjadi di perusahaan. Ia hanya tahu jika sang Ayah pernah terlihat hampir putus asa.

Namun, sekarang ia mulai memahami semuanya.

Ternyata, masalah yang membuat Danendra seperti itu berhubungan dengan pengkhianatan yang sedang mereka bicarakan saat ini.

Banyak hal terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan, membuat keluarga Halvar harus berhati-hati dalam mengambil setiap keputusan.

Keserakahan para petinggi Virel Group saat itu yang menyeret perusahaan mereka ke jurang kehancuran. Keluarga Halvar hanya bertahan dari badai dan kecurangan mereka. Tidak ada niat untuk menjatuhkan Virel Group, apalagi mengambil keuntungan dari kehancuran perusahaan tersebut.

“Tapi tetap saja...” Danendra terdiam sejenak. Tatapannya terlihat berat. “Tidak semua orang melihatnya seperti itu.”

Faresta kembali mengangguk pelan.

“Benar. Tapi kita tidak tahu… cerita seperti apa yang sampai ke telinga Adrian.”

***

Keesokan paginya, Elara berjalan sendirian di lorong menuju kelasnya. Tatapan para siswa masih mengarah padanya, sama seperti kemarin. Rasa penasaran mereka masih menggebu.

Banyak yang ingin bertemannya. Namun, melihat sikap dingin Elara dan latar belakangnya yang merupakan bagian dari keluarga Halvar membuat mereka mengurungkan niat.

“Elara!”

Tepat saat hendak memasuki ruang kelasnya, Elara berhenti dan menoleh.

Seorang pemuda berlari cepat ke arahnya. Tangannya menggenggam paper bag coklat berukuran sedang.

Melihat wajah pemuda itu, kening Elara sedikit mengernyit. Ia pernah melihatnya.

“Ini... Leonard tadi sempat menitipkan ini untukmu.”

Elara terdiam. Ia menatap paper bag itu dan wajah pemuda itu bergantian.

“Ah, iya. Aku Aldo. Teman Leonard dan Lionel,” ujar Aldo sambil memperlihatkan deretan giginya.

Elara mengangguk. “Iya, aku tau. Kamu yang kencing di celana waktu itu.”

Mata Aldo seketika melotot panik. Wajahnya memerah menahan malu. Mengapa hal memalukan itu yang justru diingat oleh Elara.

“Ssst… jangan keras-keras, Elara. Itu gak disengaja dan itu… memalukan," bisiknya.

Aldo menghela nafasnya. “Ya sudah, ini ambil. Aku mau ke kelas dulu. Salam kenal, ya.”

Elara menerima paperbag itu dan masuk kedalam kelas.

Saat gadis itu melangkah dengan tenang menuju kursinya, tatapan teman-teman sekelasnya mengikuti.

Sejak pertama kali menjadi bagian dari kelas ini, Elara belum sekalipun bertegur sapa dengan mereka.

Bukan karena sombong. Elara hanya tidak tahu harus memulai percakapan dari mana.

Saat ia baru saja duduk dan meletakkan paper bag miliknya di atas meja, seseorang mendekat dengan langkah ragu.

Elara mengangkat kepala.

Itu ketua kelasnya.

Pemuda itu berdiri di samping meja Elara sambil menggaruk tengkuk dengan canggung.

“Emm, Elara?”

“Iya.”

“Ada yang mencarimu.”

“Mencariku?”

Ketua kelas itu mengangguk.

“Siapa?”

Pemuda itu tampak ragu sesaat sebelum menjawab. “Dia… kakak kelas. Namanya Bianca.”

Beberapa siswa yang mendengar nama itu langsung menoleh. Suasana kelas mendadak lebih ramai.

“Bianca?”

“Kenapa dia mencari Elara?”

Elara sendiri hanya memiringkan kepalanya sedikit. Mendengar teman-teman sekelasnya mendadak heboh membuatnya sadar jika nama itu bukanlah nama siswa biasa.

Perlahan, Elara menundukkan kepala. Tanpa mereka sadari, mata hijau itu bersinar sedikit lebih terang untuk sesaat sebelum kembali seperti semual.

Tak lama kemudian, Elara mendongak dan berdiri dari tempat duduknya.

Melihat Elara berjalan keluar kelas, hampir semua siswa menahan nafas. Seolah-olah pertemuan itu akan menjadi tontonan yang menegangkan.

Siapa yang tidak tahu Bianca di sekolah ini? Gadis cantik, berprestasi, dan populer. Belum lagi fakta bahwa hampir seluruh sekolah tahu bagaimana Bianca selalu berusaha mendekati Leonard.

“Mencariku?” tanya Elara tepat saat ia keluar dan berhadapan langsung dengan Bianca.

1
Nonik Anda Swl
next please Thor, seru dan keren, semangat💪💪
Queen AL
👍
Yani
lanjut Thorrr 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!