Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LEDAKAN CEMBURU DAN TOPENG YANG RUSAK

Suasana di ruang tengah mansion berarsitektur modern itu seketika membeku bagaikan es di dalam freezer.

Keheningan yang pekat merayap cepat, menyelimuti tiga insan yang berdiri di bawah pendar redup lampu dinding keemasan.

Hanya ada suara deru pendingin udara dan ritme napas Ibu yang kian memburu menahan rasa syok yang luar biasa.

Mata Ibu yang terbelalak lebar menatap lurus ke arah liontin batu blue sapphire 15 karat yang memancarkan pendar biru pekat dan memukau di atas dadaku.

Sebagai seorang wanita sosialita yang menghabiskan separuh hidupnya mengejar kemewahan dan koleksi perhiasan mahal, Ibu tentu mengenali kilau murni dari perhiasan kelas atas.

Kalung platina The Tear of Serpent itu terlalu mencolok untuk dianggap sebagai aksesori biasa, dan keberadaannya di leherku di tengah malam bersamaan dengan gaun beludru hitam berpotongan strapless yang membalut indah tubuh rampingku merupakan sebuah ancaman yang teramat nyata.

"Jelaskan padaku, Raymond!" pekik Ibu dengan suara melengking tajam yang gemetar hebat akibat amarah yang membakar dadanya.

Cangkir di tangan kanannya berdenting keras di atas meja konsol terdekat saat ia meletakkannya dengan kasar.

"Kenapa anak perempuanku berdiri di sini mengenakan gaun mahal dan kalung berlian puluhan miliar di tengah malam bersamamu?!

Apa yang sebenarnya terjadi selama aku tidur di atas?!"

Ibu melangkah lebar menyeberangi area ruang tengah, menghentakkan sandal rumahnya di atas lantai marmer.

Wajahnya yang pucat tanpa riasan kini memerah padam, penuh rasa cemburu, kebingungan, dan ketakutan mendalam akan kehilangan posisinya sebagai nyonya rumah.

Aku sama sekali tidak melangkah mundur atau menunjukkan raut panik.

Dengan dagu terangkat tinggi dan postur tubuh yang tegak, aku menatap Ibu dengan senyuman paling manis namun paling dingin yang bisa kubentuk.

Aku sengaja membiarkan satu tanganku mengusap lembut liontin blue sapphire di dadaku, memamerkan keindahan batu permata tersebut tepat di depan matanya.

Sebelum aku sempat membuka suara untuk memprovokasi keadaan lebih jauh, Raymond melangkah santai ke depan, memotong jalur pandang Ibu padaku.

Pria 35 tahun itu meneguk sisa wiski dari gelas kristalnya hingga habis, lalu meletakkan gelas kosong itu dengan ketukan perlahan yang sangat tenang di atas meja mahoni.

"Kendalikan suaramu, Siska," ujar Raymond dengan suara bass-nya yang sangat rendah, datar, dan begitu dingin—sebuah tone suara penuh kendali yang biasa ia gunakan untuk menghentikan perdebatan di ruang rapat direksi.

"Ini sudah larut malam.

Tidak perlu berteriak seperti wanita tidak berpendidikan di depan para pelayan."

Kata-kata Raymond yang tajam itu bagaikan sabetan cambuk yang mendarat tepat di wajah Ibu.

Ibu tampak tersentak, dadanya kian kencang kembang kempis.

"Bagaimana aku bisa tenang, Raymond?!" tangis Ibu pecah, suaranya parau dan terengah-engah.

"Aku ini istri sahmu!

Kamu pergi ke luar pulau tanpa pamit padaku, lalu kamu pulang tengah malam dan aku mendapati anak perempuanku sendiri berdandan seksi mengenakan perhiasan yang bahkan belum pernah kamu belikan untukku!

Dari mana dia mendapatkan kalung itu kalau bukan darimu?!"

Ibu mengalihkan pandangannya padaku, matanya menyipit penuh rasa benci dan ancaman.

"Clarissa!

Jawab Ibu!

Dari mana kamu dapat gaun dan kalung itu?!

Apa kamu sengaja menggoda suami ibumu sendiri, iya?!"

Aku menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan kemenangan, melangkah satu senti mendekati sisi tubuh tegap Raymond.

"Ibu bersikap terlalu berlebihan," suaraku keluar begitu halus, tenang, dan jernih, sangat kontras dengan nada hysteria Ibu.

"Malam ini aku baru saja menghadiri acara lelang perhiasan bernilai tinggi di hotel bintang lima atas perintah Raymond.

Aku hadir untuk mewakili nama Perkasa Group karena Ibu sedang sibuk dengan perawatan wajah dan migrain Ibu."

"Mewakili Perkasa Group?!" jerit Ibu tidak percaya, menunjuk wajahku dengan jarinya yang gemetar.

"Sejak kapan kamu punya hak mewakili perusahaan suamiku?!

Aku ini istrinya!

Seharusnya aku yang mendampingi Raymond atau hadir di acara lelang sosialita seperti itu!

Bukan kamu!"

"Dan itulah alasannya kenapa aku memilih Clarissa, Siska," potong Raymond cepat, suaranya mendadak berubah menjadi sangat tegas dan mengintimidasi.

Ibu membeku di tempatnya, menatap Raymond dengan tatapan tidak percaya.

"A... apa maksudmu, Raymond?"

Raymond memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Ibu, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan gelapnya.

Aura dominan dari sang taipan tambang seketika mengurung atmosfer ruangan.

"Acara lelang malam ini adalah lelang privat bernilai ratusan miliar yang dihadiri oleh para mitra bisnis dan petinggi publik," terang Raymond dengan nada bicara tanpa emosi yang dingin bagai es.

"Aku membutuhkan seseorang yang cerdas, memiliki kontrol emosi yang stabil, dan tahu cara mengambil keputusan investasi dengan cepat tanpa perlu banyak mengeluh atau sibuk berfoto untuk media sosial.

Clarissa memenuhi seluruh kriteria itu."

Setiap kata yang diucapkan Raymond bagaikan belati runcing yang menghujam dada Ibu berulang kali.

Raymond secara tidak langsung menyebut istrinya sendiri dangkal, tidak berguna dalam urusan bisnis, dan hanya sibuk dengan hal-hal superfisial sementara ia memuji diriku sebagai sosok yang cerdas dan dapat diandalkan.

"Tapi... tapi kalung itu..." bisik Ibu dengan suara yang mendadak melemah, air mata kekecewaan dan rasa malu mulai merembes keluar di sudut matanya yang keriput halus.

"Kenapa kalung itu melingkar di lehernya?

Kenapa kamu membiarkan dia memakainya?"

Raymond melirik sekilas ke arah leherku, lalu kembali menatap Ibu dengan pandangan datar.

"Batu blue sapphire Sri Lanka itu adalah aset investasi bernilai tinggi yang berhasil dimenangkan Perkasa Group malam ini dengan harga tiga puluh miliar rupiah.

Clarissa yang mengeksekusi penawarannya secara sempurna di depan para pesaing bisnisku.

Mengizinkannya mengenakan kalung itu malam ini adalah apresiasi kecil atas keberhasilannya."

"Apresiasi...?" Ibu menggelengkan kepalanya dipenuhi rasa tidak percaya, suara tangisnya kian terdengar pilu di ruangan yang sunyi itu.

"Kamu memberinya apresiasi kalung tiga puluh miliar?!

Lalu bagaimana denganku, Raymond?!

Aku ini istrimu!

Selama pernikahan kita, kamu tidak pernah memberiku perhiasan semahal itu secara khusus!"

Ibu melangkah mendekati Raymond, mencoba meraih lengan kemeja putih suami mudanya itu dengan raut wajah memohon dan penuh ketakutan.

"Raymond, tolong... katakan padaku kalau kamu tidak punya perasaan apa-apa pada anak ini.

Katakan kalau kamu masih mencintaiku!

Tolong lepaskan kalung itu dari lehernya dan berikan padaku... sebagai bukti kalau kamu menghargaiku sebagai istri..."

Melihat Ibu berlutut secara emosional dan memohon kemurahan hati dari pria yang dicintainya membuat rasa dendam di dalam dadaku bergejolak puas.

Ini adalah pemandangan yang selalu kutinggalkan dalam mimpiku sejak Ayah meninggal dalam kemiskinan dan penderitaan akibat dicampakkan oleh wanita ini.

Topeng kesombongan Ibu sebagai nyonya rumah kaya kini hancur berkeping-keping di atas lantai marmer ini.

Namun, reaksiku yang paling kukagumi adalah reaksi dari Raymond.

Pria 35 tahun itu tidak memeluk Ibu atau menenanginya dengan kata-kata manis.

Raymond justru secara perlahan dan tegas menarik tangannya dari jangkauan Ibu, menolak sentuhan wanita itu di depan mataku.

"Jangan bersikap childish, Siska," ujar Raymond dingin, nadanya sangat tidak tersentuh oleh air mata Ibu.

"Perhiasan itu adalah aset perusahaan, bukan hadiah pribadi.

Dan aku sangat tidak menyukai wanita yang membuat drama tidak berguna di tengah malam hanya karena masalah rasa percaya diri yang dangkal."

Raymond memutar tubuhnya, menatapku untuk terakhir kalinya malam ini.

Manik mata hazel-nya memancarkan kilatan rahasia yang teramat pekat sebuah pengakuan tak terucap bahwa ia telah sepenuhnya berpihak padaku dalam pertempuran ini.

"Clarissa, kembalilah ke kamarmu dan istirahat," perintah Raymond lembut namun tegas padaku.

"Esok hari Pak Herman akan mengurus pendaftaran tiket penerbanganmu ke Bali untuk agenda peninjauan aset berikutnya."

"Baik, Raymond," jawabku manja dan manis, menyunggingkan senyuman tipis ke arah Raymond sebelum melirik Ibu yang berdiri membeku dengan air mata menetes di pipinya.

"Selamat malam, Bu.

Semoga pusing di kepala Ibu cepat sembuh."

Aku memutar tubuhku anggun, membiarkan gaun beludru hitamku berayun elegan saat melangkah menuju tangga.

Langkah kaki hak tinggiku mengetuk lantai marmer dengan irama yang mantap dan penuh kemenangan.

Di balik punggungku, aku bisa mendengar suara erangan tangis Ibu yang pecah menahan rasa malu dan cemburu yang membakar, disusul suara langkah kaki Raymond yang berjalan meninggalkannya begitu saja menuju ruang kerjanya di sudut ruangan.

Saat tiba di lantai dua di depan pintu kamarku, aku menghentikan langkahku dan memegang batu blue sapphire di dadaku yang terasa hangat.

Malam ini, topeng pernikahan manis Ibu resmi hancur.

Raymond tidak hanya mulai meretakkan benteng pertahanannya sendiri, tetapi ia juga baru saja memperlihatkan pada dunia bahwa di mansion ini... akulah satu-satunya wanita yang memegang kendali atas jalan pikirannya.

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!