Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28.Banyak sekali hambatan
Keheningan yang menenangkan akhirnya kembali menyelimuti penthouse mewah milik Arka di kawasan pusat kota Jakarta. Setelah badai besar di lantai 40 Danuartha Tower mereda dan kebohongan persengkongkolan antara Nyonya Rosalia, Hendra, serta Lina dipatahkan secara telak, Arka sengaja mengambil libur dua hari penuh dari seluruh kegiatan kantor.
Pria berusia 39 tahun itu ingin memfokuskan seluruh perhatiannya untuk mendampingi Aira serta memastikan keamanan keluarga kecil mereka.
Siang itu, Aira baru saja kembali dari rumah sakit ternama di Jakarta Selatan—tempat Ibu Wahyuni dirawat di fasilitas suite VIP terbaik.
Rasa lega membuncah di dada Aira. Ibu Wahyuni yang sudah sadar kini perkembangannya makin pesat, meski masih butuh banyak terapi pemulihan fungsi motorik. Senyuman dan restu lembut sang ibu saat Aira mengunjunginya tadi menjadi penawar terbaik bagi seluruh rasa lelah dan trauma masa lalu yang sempat mencengkeram jiwanya.
Aira melangkah masuk melewati lorong penthouse bernuansa modern minimalis itu. Namun, bukannya ketenangan yang menyambutnya, suara gaduh dari arah dapur justru memecah keheningan rumah.
"Elano! Jangan ditarik, Nak! Nanti tepungnya tumpah semua!" suara Arka yang biasanya terdengar dingin dan berwibawa di ruang rapat para petinggi perusahaan, kini terdengar agak panik dan kewalahan.
Aira menaikkan sebelah alisnya bingung. Ia melangkah cepat menuju area dapur bersih. Betapa terkejutnya Aira saat menyaksikan pemandangan ajaib di depannya: meja dapur marmer yang biasanya bersih mengkilap kini penuh dengan bintik-bintik tepung putih, lantai bertaburan sereal cokelat, dan di tengah-tengah kekacauan itu berdiri seorang Arka Danuartha dengan kemeja putihnya yang sudah ketempelan tepung di bagian dada.
Sementara itu, Elano—bocah berusia lima tahun dengan pipi gembul dan mata bulat jenaka—sedang berdiri di atas kursi makan sambil memegang sendok kayu besar. Wajah mungilnya sudah berantakan oleh belepotan cokelat dan tepung putih di hidungnya.
"Papa sih lama! Elano kan mau bikin kue bolu buat Mama Aira!" seru Elano dengan suara cadelnya yang menggemaskan. Bocah itu sama sekali tidak mau menurut saat Arka mencoba mengambil alih mangkuk adonan di tangannya.
"Elano, Papa bilang tunggu Mama Aira pulang dulu baru kita bikin. Kamu malah tuang susu sama tepung sekaligus," bujuk Arka seraya menyapu sisa tepung di lengannya. Pria pengusaha kawakan itu tampak benar-benar tidak berkutik menghadapi tingkah ajaib putra tunggalnya.
"Nggak mau! Elano bisa sendiri! Papa diam aja!" tolak Elano cepat, makin erat memeluk mangkuk plastik merahnya seraya membelakangi Arka.
Aira tak sanggup lagi menahan tawa. Suara tawa renyahnya seketika mengalihkan perhatian dua pria beda generasi di dapur tersebut.
"Mama Aira!" jerit Elano kegirangan. Tanpa memikirkan tangannya yang masih penuh adonan lengket dan tepung, bocah nakal itu langsung melompat turun dari kursi dan berlari kencang menerjang Aira.
"Eh, Elano! Jangan lari—" tegur Arka panik.
Bruk!
Elano sukses menabrak kaki Aira dan memeluk pinggang Aira erat-erat. Hasilnya, gaun terusan krem langsing yang dikenakan Aira seketika terhiasi dua cap tangan mungil penuh adonan cokelat dan tepung putih.
"Mama Aira dah pulang! Lihat nih, Elano bikin kue spesial buat Mama Aira biar Mama nggak sedih lagi!" pamer Elano polos tanpa merasa bersalah sedikit pun. Matanya berbinar-binar penuh kebanggaan, sama sekali tidak sadar bahwa di lantai 40 gedung perusahaan bapaknya baru saja terjadi peperangan hukum yang menegangkan. Bagi Elano, yang penting Mama Aira sudah kembali ke rumah.
Aira berlutut tanpa peduli gaun mewahnya makin kotor. Ia tertawa geli seraya mengusap pipi gembul Elano yang bertepung, meninggalkan coretan baru di wajahnya sendiri.
"Aduh, anak pinter Mama mau bikin kue? Tapi kok mukanya malah mirip kucing ceplok begini?"
"Papa yang bikin kotor! Papa tadi numpahin tepungnya!" tuduh Elano cepat seraya menunjuk ayahnya tanpa dosa.
Arka membelalakkan mata, menatap putranya tak percaya. "Loh? Kok Papa? Kan Elano yang tarik bungkus tepungnya tadi sampai robek?"
"Papa yang pegangnya nggak kuat!" balas Elano tak mau kalah, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuh yang persis sekali dengan gaya Arka kalau sedang rapat.
Aira makin tertawa lepas melihat interaksi ayah dan anak itu. Rasa tegang, ketakutan akan ancaman Nyonya Rosalia, dan trauma ditelantarkan oleh Hendra serta Lina seketika menguap sirna, terbalikkan oleh kehangatan nyata di dapur kecil ini.
Arka melangkah mendekat, menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putranya. Namun tatapan matanya saat mengunci iris mata Aira melunak begitu dalam. Pendar kebahagiaan di wajah Aira adalah satu-satunya hal yang paling ingin dilindungi Arka di dunia ini.
"Lihat kan, Sayang? Anakmu ini makin hari makin tidak mau nurut sama Papanya," adu Arka dengan nada sedikit bersungut-sungut, walau jemari besarnya mengusap lembut sisa tepung di pipi Aira.
Aira mendongak, menyunggingkan senyum manis. "Anakku? Anak Mas Arka juga, tau. Lagian sifat tidak mau mengalahnya itu persis banget sama Mas Arka."
"Mama Aira! Tadi ketemu Omah Wahyuni di rumah sakit nggak? Omah Wahyuni sudah sembuh belum?" cerocos Elano menanyakan sang nenek dengan matanya yang bulat penasaran.
"Sudah ketemu, Sayang," jawab Aira lembut seraya mengusap rambut halus Elano.
"Omah Wahyuni kirim salam dan cium banyak-banyak buat Elano. Kata Omah, Elano harus rajin belajar dan jangan nakal sama Papa."
"Elano nggak nakal kok! Papa yang nakal!" potong Elano cepat sambil menjulurkan lidahnya ke arah Arka.
Arka mendesah pelan lalu berlutut di samping Aira, memegang kedua bahu mungil Elano. "Elano, dengar Papa. Sekarang Elano mandi dulu sama Bi Inah. Lihat nih, baju sama mukanya sudah kayak adonan martabak. Nanti kalau sudah bersih, baru kita lanjut bikin kue sama Mama Aira. Oke?"
Elano menatap Papanya curiga, lalu menatap Aira. "Beneran ya? Papa jangan bohong! Kalau Papa bohong, Elano bilang sama Omah Wahyuni kalau Papa suka cium-cium Mama Aira di kamar sampai Mama minta ampun!"
Deg!
Wajah Aira seketika merona merah padam sampai ke telinga. Ia menepuk pelan dada bidang Arka karena malu setengah mati. Bagaimana bisa bocah lima tahun itu memergoki atau mengucapkan hal sejujur itu?
Arka berdehem keras, berusaha mempertahankan raut wajah tegasnya walau tengkuknya ikut memerah. "Elano... bicara apa itu? Sudah, cepat ke kamar mandi sana!"
"Wlee! Papa malu!" ejek Elano sambil menjulurkan lidahnya, lalu berlari kencang menuju kamar mandi luar sebelum Papanya sempat menangkapnya. Suara tawa bocah itu bergema riang di sepanjang lorong penthouse.
Setelah Bi Inah mengurus Elano dan membersihkan area dapur yang porak-poranda, Arka menuntun Aira masuk ke dalam kamar utama mereka.
Aira baru saja hendak melangkah menuju lemari pakaian untuk mengganti gaunnya yang terkena noda adonan, namun lengan kekar Arka sudah lebih dulu melingkar di pinggang rampingnya dari belakang. Arka menarik tubuh molek istrinya hingga menempel rapat di dada bidangnya.
Pria berusia 39 tahun itu membenamkan wajah tegapnya di ceruk leher Aira, menghirup dalam-dalam aroma wangi alami tubuh istrinya yang selalu berhasil meluluhkan seluruh kelelahan fisik dan mentalnya.
"Mas... Aira mau ganti baju dulu, ini kotor kena adonan Elano," bisik Aira halus. Ia melingkarkan kedua tangannya di atas lengan Arka yang mendekapnya erat.
"Nanti saja," gumam Arka serak di leher Aira. Bibirnya mendaratkan kecupan-kecupan hangat di sepanjang garis leher dan bahu gadis itu, membuat Aira meremang pelan dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
"Biarkan Mas memelukmu sebentar. Mas rindu."
Aira membalikkan badannya di dalam dekapan Arka. Ia menatap mata hitam suaminya yang memancarkan pendar cinta, kejujuran, dan kehangatan yang melimpah. Tidak ada lagi rasa minder, canggung, atau ketakutan akan perbedaan status sosial di antara mereka. Keberanian Arka berdiri di Danuartha Tower, mempertaruhkan kekuasaan dan jabatannya demi membela Aira serta menjamin pengobatan Ibu Wahyuni, telah mengikis habis seluruh keraguan di hati Aira.
"Bagaimana keadaan Ibu Wahyuni di rumah sakit tadi, Sayang?" tanya Arka lembut, jemari besarnya menyelipkan helai rambut panjang Aira ke belakang telinga.
"Perkembangannya bagus banget, Mas," jawab Aira dengan mata berbinar haru. "Tangan kanan Ibu sudah mulai bisa digerakkan sedikit. Ibu juga tadi sempat membisikkan nama Aira dan nanyain Elano. Dokter bilang kalau terapi sarafnya rutin, Omah bisa belajar duduk sendiri dalam beberapa bulan."
Aira menatap lurus ke dalam mata Arka, menyentuh rahang tegas suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Semua ini berkat Mas Arka... Kalau bukan karena Mas yang membawa Ibu ke fasilitas suite VIP dan menyewa dokter spesialis terbaik, Aira nggak tahu gimana nasib Ibu sekarang. Terima kasih ya, Mas..."
Arka menggeleng pelan. Ia menarik Aira lebih rapat, mengikis jarak di antara mereka hingga tak tersisa celah.
"Jangan pernah mengucapkan terima kasih untuk sesuatu yang memang sudah menjadi kewajiban Mas sebagai suamimu, Aira. Kamu dan Omah Wahyuni adalah bagian dari hidup Mas sekarang. Apa pun yang menjadi bebanmu, adalah beban Mas juga."
Kata-kata Arka yang sarat akan keteguhan dan perlindungan mutlak itu membuat dada Aira bergetar hebat. Aira berjinjit sedikit, melingkarkan lengannya di leher Arka dan mendaratkan ciuman lembut di bibir suaminya.
Sentuhan manis itu seketika memantik gelora gairah kasmaran dalam diri Arka. Pria dewasa itu membalas ciuman Aira dengan intensitas yang lebih dalam, menuntut, dan penuh dominasi yang hangat. Ciuman mereka perlahan berubah menjadi sapuan gairah biologis suami istri yang sah dan saling mengikat jiwa raga.
Arka mengangkat tubuh ramping Aira dengan mudah, membawanya melangkah menuju ranjang king size di tengah kamar. Dengan gerakan yang penuh kelembutan dan rasa menghargai, Arka merebahkan Aira di atas kasur empuk, lalu menyusul di atasnya. Di bawah temaram sinar matahari sore yang menerobos sela-sela tirai kamar, Arka dan Aira kembali tenggelam dalam keintiman murni—menyatukan kerinduan, kehangatan, dan cinta mereka tanpa ada lagi bayang-bayang ketakutan akan dunia luar.
Dua jam berlalu. Suasana kamar utama sudah kembali tenang.
Sinar matahari sore berganti menjadi pendar senja keemasan. Aira tertidur lelap di dada bidang Arka yang telanjang, tertutup selimut tebal hingga sebatas dada. Wajah cantiknya tampak begitu damai, dengan rona merah alami di pipinya sisa dari keintiman panas yang baru saja mereka lalui.
Arka berbaring miring, menyandarkan kepalanya dengan satu tangan seraya menatap wajah istrinya tanpa henti. Jemari besar Arka mengusap lembut punggung polos Aira di balik selimut, mendaratkan kecupan singkat di kening gadis itu berulang kali dengan rasa kebucinan yang meluap-luap.
Perlahan dan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Aira, Arka melepaskan dekapannya. Pria itu bangkit dari ranjang, mengenakan celana santai dan kaos hitamnya, lalu meraih ponsel yang tergeletak di meja nakas.
Arka melangkah keluar kamar dengan langkah tanpa suara, menuju ruang kerjanya yang bernuansa kayu gelap di sudut penthouse.
Ketenangan dan kelembutan di wajah Arka seketika menguap tanpa sisa begitu ia menutup pintu ruang kerja. Raut wajahnya berubah menjadi sangat dingin, tegas, dan dipenuhi aura intimidasi yang menakutkan saat ia mendengarkan laporan dari ponselnya.
"Bicara, Raymond," perintah Arka dingin.
"Pak Arka," suara Raymond terdengar sigap dan serius dari seberang telepon. "Pengawalan terhadap Pak Hendra dan Bu Lina sudah selesai. Mereka berdua sudah dipastikan sampai di kampung halaman dan ditandai oleh tim keamanan lokal. Surat pernyataan pembatalan seluruh tuduhan palsu mereka juga sudah dipublikasikan oleh media mitra kita. Nama baik Nyonya Aira di internet sudah sepenuhnya bersih."
"Bagus. Pastikan mereka berdua tidak pernah punya akses lagi untuk mendekati rumah sakit tempat Omah Wahyuni dirawat," tegas Arka tanpa kompromi.
"Bagaimana dengan Ibu?"
Raymond menelan ludah sejenak sebelum menjawab. "Nyonya Rosalia saat ini berada di kediaman utama. Pihak komisaris Danuartha Group sudah menerima keputusan penonaktifan hak veto yang Pak Arka ajukan pagi tadi. Nyonya Rosalia sangat murka dan sempat menolak makan, Pak... namun secara hukum dan struktur perusahaan, beliau tidak bisa melakukan perlawanan karena seluruh kendali saham eksekutif ada di tangan Anda."
Arka menarik napas panjang. Ada hembusan napas berat yang keluar dari dadanya. Bagaimanapun juga, Rosalia adalah wanita yang melahirkannya. Namun Arka tidak menyesali keputusannya sedikit pun. Ibunya telah melangkahi batas dengan mencoba merusak rumah tangganya dan menginjak-injak harga diri Aira menggunakan cara-cara kotor.
"Biarkan Ibu tenang dulu di rumah utama. Jangan cabut fasilitas kesehatannya, tapi kunci seluruh aksesnya ke keputusan bisnis perusahaan," instruksi Arka dingin.
"Lalu bagaimana dengan Dania?"
Intonasi suara Raymond berubah makin berat dari seberang sambungan.
"Ini yang perlu diwaspadai, Pak Arka. Setelah rencananya bersama Nyonya Rosalia hancur total di Danuartha Tower, Dania tidak kembali ke rumah keluarga Danuartha. Intelijen lapangan kami mendeteksi Dania bertemu dengan seseorang di sebuah klub eksklusif di daerah Jakarta Pusat sore ini."
Arka menyipitkan mata hitamnya pekat. "Siapa pria itu?"
"Namanya Kevin Wijaya, Pak. Dia putra dari pemilik Wijaya Corporation—konsorsium bisnis rival utama Danuartha Group yang baru saja menyelesaikan akuisisi proyek di Singapura. Tampaknya Dania tidak berniat menyerah begitu saja. Karena aksesnya ke keluarga Danuartha sudah dipotong habis oleh Anda, dia berpotensi menjual informasi internal perusahaan kepada pihak rival untuk menjatuhkan Anda dan mengusik Nyonya Aira dari sudut lain."
Rahang Arka mengetat keras hingga urat di pelipisnya menonjol. Kilatan amarah yang membunuh memancar pekat dari matanya. Pria berusia 39 tahun itu menyandarkan satu tangannya di meja kerja, menyalurkan cengkeraman emosi yang dingin.
Dania ternyata lebih licik dan nekat dari yang ia perkirakan. Wanitanya yang terobsesi dengan kedudukan dan harta itu tidak ragu bertindak sebagai pengkhianat bisnis demi membalas dendam atas penolakannya.
"Kevin Wijaya cari masalah di waktu yang salah," desis Arka dengan suara serak yang begitu menakutkan.
"Awasi Dania dan Kevin selama 24 jam penuh. Catat setiap transaksi dan informasi apa pun yang dicoba dibocorkan oleh Dania."
"Baik, Pak Arka. Apakah kita akan langsung meringkus Dania?" tanya Raymond.
"Belum," balas Arka dingin, sebuah senyuman beracun terukir di bibirnya. "Biarkan dia merasa di atas angin dulu. Begitu dia melangkah cukup jauh dan menyerahkan dokumen itu pada Kevin, kita ratakan sekalian Wijaya Corporation bersama Dania sampai tidak ada sisa."
"Jangan biarkan ada satu pun ancaman yang bisa menyentuh Aira, Elano, atau Omah Wahyuni walau hanya seujung kuku," tambah Arka dengan nada dominasi mutlak.
"Paham?"
"Sangat paham, Pak Arka. Laporan akan terus diperbarui tiap jam."
Arka mematikan sambungan telepon. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap pemandangan gemerlap gedung-gedung bertingkat Jakarta dari balik dinding kaca ruang kerjanya.
Badai dari dalam keluarganya mungkin sudah berhasil ia padamkan, namun perang bisnis dan konspirasi dari luar kini mulai mendekat. Meski begitu, Arka Danuartha tidak akan pernah mundur satu langkah pun. Ia telah bersumpah untuk melindungi Aira dan keutuhan keluarga kecil mereka dari siapa pun yang berani mengusiknya.
_Bersambung