Indonesia
NovelToon NovelToon
Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Status: tamat
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:44.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

"Krek!"

Suara tulang bergemeretak terdengar keras saat Adit meregangkan badannya di atas kasur kapuk yang tipis.

Dia membuka matanya perlahan dan menatap langit-langit kamar kayunya yang sudah mulai usang.

Badannya terasa sangat ringan dan segar pagi ini.

Adit bangkit dari kasur dan meremas telapak tangannya sendiri beberapa kali.

"Tenagaku rasanya penuh sekali sampai meluap-luap," guman Adit pelan.

Dia berjalan menuju meja kayu kecil di sudut kamar untuk mengambil gelas minumnya.

"Prang!"

Gelas kaca tebal itu tiba-tiba pecah berkeping-keping begitu jari Adit mencengkeramnya sedikit keras.

Air putih tumpah membasahi lantai papan kayu kamarnya yang berdebu.

Adit terdiam menatap telapak tangannya yang basah namun tidak terluka sama sekali oleh serpihan kaca tajam.

"Kapsul dari sistem itu benar-benar mengubah fisikku secara ekstrem," ucap Adit dalam hati sambil menelan ludah.

Dia sadar dia harus mulai membiasakan diri mengontrol tenaga barunya ini agar tidak merusak barang-barang lain.

Adit segera mengambil lap kain kotor dan membersihkan pecahan kaca di lantai kamarnya.

Setelah selesai, dia membuka pintu dan keluar dari kamar menuju ruang tengah.

Aroma singkong goreng langsung tercium sedap dari arah dapur rumah panggungnya.

Bang Jarwo dan Bang Sopo sedang duduk bersila mengopi di lantai dapur beralas tikar pandan.

"Pagi, Dit," sapa Bang Jarwo sambil mengunyah singkong goreng yang masih panas.

"Pagi, Bang," balas Adit santai lalu ikut duduk bersila di dekat mereka berdua.

Bang Sopo berhenti mengunyah dan menatap wajah Adit dengan dahi berkerut tajam.

"Kamu habis perawatan di salon kota semalaman ya, Dit?" tanya Bang Sopo tiba-tiba.

Adit mengangkat sebelah alisnya kebingungan mendengar pertanyaan absurd pamannya itu.

"Perawatan apanya, Bang? Saya dari semalam tidur mendengkur di kamar terus."

"Tapi kulitmu kelihatan bersih banget hari ini, otot lenganmu juga kayaknya makin gede dan padat," protes Bang Sopo sambil menunjuk lengan Adit.

Adit melirik lengannya sendiri dan memang benar ada perubahan fisik yang cukup mencolok.

"Oh, ini efek sering cuci muka pakai air sumur belakang rumah, Bang, seger banget airnya mengandung mineral tinggi," Adit beralasan sekenanya.

Bang Jarwo mendengus pelan mendengar alasan keponakannya yang terdengar sangat mengada-ada itu.

"Terserah kamu saja lah, Dit, pusing kepala Abang mikirin keanehan di rumah ini."

"Terus hari ini kita mau ngapain kerjaannya?" tanya Bang Jarwo mengubah topik pembicaraan.

"Ayam-ayam raksasa milikmu itu sudah mulai ribut di belakang minta makan dari subuh tadi," tambah Bang Jarwo.

Adit tersenyum simpul mendengar keluhan pamannya tentang ayam sistem tersebut.

"Hari ini kita akan bikin kandang baru yang jauh lebih besar dan canggih, Bang."

"Kandang bambu lagi? Biar Abang yang pergi potong bambunya di kebon Pak RT sekarang," tawar Bang Sopo cepat.

"Bukan kandang bambu, Bang, saya sudah pesan bahan material khusus dari kota semalam."

"Pesan dari mana malam-malam? Kok Abang tidak dengar ada truk material datang antar barang?" tanya Bang Sopo keheranan.

"Truknya datang jam dua pagi tadi, Bang."

"Abang tidurnya ngorok kencang banget jadi tidak dengar suara mesin mobil masuk halaman," jawab Adit berbohong dengan wajah tanpa dosa.

"Ya sudah, ayo kita ke belakang sekarang lihat barangnya," ajak Adit sambil berdiri dari duduknya.

Ketiga pria itu berjalan santai menuju halaman belakang yang sangat luas.

Seratus ekor ayam kampung super tampak berdesakan di dalam kandang bambu sementara buatan mereka kemarin.

"Tok tok tok!"

Suara patukan paruh ayam berukuran raksasa itu ke batang bambu terdengar sangat keras.

"Lihat itu, Dit, bambunya sampai mau jebol dipatuk rombongan siluman ayam ini," keluh Bang Jarwo khawatir.

Adit tidak menjawab dan hanya tersenyum melihat betapa agresifnya ayam ternaknya itu.

Dia berhenti melangkah dan memanggil antarmuka sistem di dalam pikirannya.

"Sistem, keluarkan Cetak Biru Kandang Otomatis dari penyimpanan sekarang," perintah Adit dalam hati.

[Merespons perintah Tuan.]

[Cetak Biru Kandang Otomatis disiapkan untuk segera digunakan.]

[Silakan tentukan area penempatan kandang di lahan Anda.]

Sebuah proyeksi garis kotak berwarna biru transparan yang bercahaya tiba-tiba muncul di pandangan mata Adit.

Proyeksi itu menutupi area kosong seluas lapangan basket di sudut kanan lahan hitam gembur tersebut.

"Di sebelah sana," ucap Adit pelan sambil menunjuk ke arah sudut lahan.

Bang Jarwo dan Bang Sopo kompak menoleh ke arah yang ditunjuk oleh telunjuk Adit.

"Di sana kan cuma tanah kosong melompong, Dit, materialnya mana?" kata Bang Jarwo bingung.

"Tunggu sebentar, Bang, kalian mundur sedikit ke belakang garis kayu ini," pinta Adit dengan nada tenang.

"Terapkan cetak biru sekarang juga," batin Adit memberikan perintah final kepada sistemnya.

[Menerapkan Cetak Biru Kandang Otomatis.]

[Proses konstruksi instan tingkat lanjut dimulai.]

"Wush!"

Angin kencang tiba-tiba berhembus berputar dengan ganas di sudut lahan kosong tersebut.

Debu dan tanah berterbangan tinggi menutupi pandangan mereka selama beberapa detik.

"Uhuk! Uhuk! Angin topan puting beliung dari mana ini pagi-pagi begini?!" batuk Bang Sopo sambil menutup matanya pakai lengan baju.

Perlahan angin puting beliung mini itu mereda dan debu pun turun kembali ke tanah.

Mulut Bang Jarwo ternganga lebar hingga rokok lintingannya jatuh bebas ke tanah tanpa dia sadari.

"Bruk!"

Bang Sopo langsung lemas dan jatuh terduduk di atas tanah hitam gembur melihat pemandangan di depannya.

Di tempat yang tadinya kosong melompong, kini berdiri sebuah bangunan memanjang berdinding baja ringan yang sangat bersih.

Atapnya terbuat dari jejeran panel surya yang berkilauan menyilaukan mata saat ditimpa sinar matahari pagi.

"Ini... bangunan ini turun dari langit pakai sihir ya, Dit?" tanya Bang Sopo dengan suara gemetar ketakutan.

Adit tertawa terbahak-bahak melihat reaksi kedua pamannya yang sangat berlebihan seperti melihat hantu di siang bolong.

"Itu kandang otomatis yang saya pesan dari kota, Bang, rakitannya canggih kan?"

"Canggih dari hongkong! Bagaimana caranya merakit bangunan baja segede ini dalam hitungan detik?!" teriak Bang Jarwo nyaris histeris.

"Itu namanya teknologi portabel lipat, Bang, kayak tenda kemping tinggal ditarik langsung jadi bangunan," jawab Adit asal mangap mencoba menenangkan.

"Tenda lipat bapakmu! Ini baja ringan sama beton tebal yang tertanam di tanah, Dit!" protes Bang Sopo masih tak percaya dengan akal sehatnya.

"Sudahlah, Bang, jangan terlalu dipikirkan nanti botak rambutnya."

"Yang penting kandangnya sudah jadi rapi, ayo kita pindahkan ayam-ayamnya ke dalam sana."

Adit berjalan santai mendekati bangunan baru itu dan memutar gagang pintu besinya.

1
echa purin
👍👍
I am Cat
up
kiyoe: terimakasih kak sudah mau mampir membaca karya saya 🙏
total 1 replies
craft
ini 1 jam lagi dulu aku panen tomat sampai jam 7/8 /Sweat/
admin 1 ini kayaknya gak pernah ke landang nya 😑/Proud/
kiyoe: hehehe kan pakai benih ajaib kaka 🤭
total 1 replies
craft
gawe gak yakin panen cabe 2 jam 😐😑
kiyoe: heheh
total 1 replies
craft
asalamualaikum thor saya mampir 😄😄😄
jangan lupakan saya thor🤣
kiyoe: hehehe terimakasih kaka
total 4 replies
Heni Setiyaningsih
🤣🤣🤣🤣🤣
Was pray
sistem pertanian dan peternakan berubah fungsi jadi sistem kultivasi. udah berubah jauh banget
Was pray
Adit lupakah? bahwa tanpa sistem gak bisa apa2? sekarang jadi arogan sama sistem. kesulitanmu karena dirimu terlalu serakah pingin cepat kaya sehingga menempuh jalan ilegal
Was pray
Adit kan ke jakarta numpang truk ekspedisi ! kok sekarang bawa mobil SUV nya? mobilnya jalan sendiri kah? 🤣🤣
kiyoe: hehehe terimakasih atas support nya kak ☺️
total 7 replies
Was pray
kapan jadiannya?
kiyoe: setelah itu
total 1 replies
Was pray
sopo dan Jarwo kan di perkebunan? othornya bingung kah?
Was pray: waktu berangkat Adit pamitan sama sopo dan Jarwo , kemudian Adit meminta agar sopo dan Jarwo menjaga kebun selama Adit di jakarta. coba dicek bab sebelumnya Thor.
total 2 replies
Was pray
kapan Adit beli mobil? kok tau2 udah punya mobil SUV? di sulap sim salabim hau mobil munculah. 🤣🤣🤣
Was pray
adi paham bisnis gak sih sebenarnya?
kiyoe: heheh iyaa kak biar cepat laku 🤣
total 5 replies
Was pray
berita dari Riana gak direspon dit?
Was pray
pagarnya setinggi Dada gak kependekan dit? paling gak setinggi 2 meter baru atasnya ditambah kawat berduri kayaknya lebih aman
Astiana 💕
menegangkan sekali Thor, ngeri banget.
kiyoe: hehehe biar tegang kak
total 1 replies
Astiana 💕
Abang wanglin kita muncul di karakter adit😁.
Astiana 💕
aku kasih kopi, semangat ya💪🏻, biar gak ngantuk☺️
kiyoe: wah terimakasih kak Astiana semangat terus pokoknya 🙏🙏
total 1 replies
Astiana 💕
sat set bener si Adit, dah dapat cewek aja dia, kapan jadian nya juga tak tau🤭
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Astiana 💕
lah giok jadi steak🤣🤣.
gak apa-apa lanjut aja, anggap aja lagi berpetualang di dunia lain.🤣🤭
kiyoe: hahaha
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!