Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Keesokan paginya, suasana lobi perusahaan Nadya tampak berbeda dari biasanya.
Begitu mobil Nadya terparkir dan pintu terbuka, kehadiran mereka berdua sontak menarik perhatian seluruh staf yang ada di sana. Armand, yang mengenakan setelan jas hasil karyanya sendiri, tampak begitu gagah dan berwibawa, membuat para karyawan yang melihatnya terperangah tidak percaya.
Siska, asisten pribadi Nadya yang sigap, segera berjalan mendekat dan menyambut kedatangan mereka dengan senyum profesional.
"Selamat pagi, Ibu Nadya, selamat pagi Bapak Armand," sapa Siska dengan nada hormat.
Nadya membalas sapaan itu dengan anggukan mantap sebelum memberikan instruksi.
"Siska, tolong carikan lima orang yang paling cekatan untuk membantu Mas Armand di bagian produksi nantinya. Setelah itu, kumpulkan seluruh karyawan di aula utama sekarang juga. Kita akan melakukan pengukuran untuk pembuatan seragam baru perusahaan."
Siska menganggukkan kepalanya dengan sigap.
"Baik, Bu. Akan segera saya laksanakan instruksinya."
Begitu Siska berlalu untuk menjalankan perintah, Nadya melirik suaminya yang tampak tenang namun berbinar penuh semangat.
Ia tahu, langkah kecil hari ini adalah awal dari pembuktian besar bahwa Armand tidak hanya sekadar penjahit biasa, melainkan seorang profesional yang mampu mengembalikan harga dirinya melalui karya tangan yang luar biasa.
Armand tersenyum pada Nadya, memberikan keyakinan bahwa ia siap menjalankan tanggung jawab barunya dengan sebaik mungkin.
"Ayo, Mas, ke ruang kerjaku dulu sambil menunggu mereka berkumpul," ajak Nadya lembut sambil menggandeng lengan suaminya.
Armand menganggukkan kepalanya, mengikuti langkah sang istri menuju ruang CEO yang luas dan nyaman.
Di dalam ruangan itu, mereka menghabiskan waktu sejenak sambil menikmati secangkir kopi hangat yang disiapkan Siska, mengobrol ringan untuk meredakan ketegangan sebelum Armand memulai tugas barunya.
Tak berselang lama, ketukan pintu terdengar. Siska masuk untuk melaporkan bahwa seluruh karyawan telah berkumpul di aula utama sesuai instruksi.
Nadya dan Armand lantas bangkit dan berjalan berdampingan keluar dari ruang kerja menuju aula.
Begitu pintu aula terbuka dan mereka berdua melangkah masuk, suasana riuh seketika mereda.
Kehadiran Armand dalam balutan jas slim-fit yang elegan, berjalan sejajar dengan sang CEO, membuat seisi ruangan terpukau.
Namun, tidak semua pandangan memancarkan kekaguman yang tulus. Beberapa karyawan mulai berbisik-bisik, melirik dengan pandangan penuh rasa iri dan dengki.
“Bukannya itu pria yang dulu sering dibicarakan sebagai suami matre? Kok sekarang penampilannya jadi beda drastis?” bisik salah seorang karyawan di barisan belakang kepada rekannya.
“Beruntung sekali dia. Bisa-bisanya dinikahi CEO kaya raya, padahal latar belakangnya cuma penjahit biasa. Entar juga kalau bosan dibuang,” timpal yang lain dengan nada sinis.
Bisik-bisik miring itu terdengar samar di telinga, namun Armand memilih untuk tidak ambil pusing.
Ia tetap menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke depan dengan tenang. Ia tahu, pembuktian terbaik bukanlah dengan membalas ucapan mereka, melainkan melalui hasil kerja nyata yang akan ia tunjukkan hari ini.
Di sampingnya, Nadya menyadari bisikan-bisikan tersebut.
Ia mengeratkan genggaman tangannya di lengan Armand, seolah ingin menegaskan bahwa suaminya tidak sendirian menghadapi tatapan penuh prasangka dari orang-orang di sekitar mereka.
Nadya menghentikan langkahnya di hadapan seluruh karyawan.
Suasana aula yang tadinya dipenuhi bisik-bisik mendadak sunyi mencekam saat melihat tatapan tajam dan dingin terpatri di wajah sang CEO.
Ia melepaskan genggamannya dari lengan Armand, lalu maju satu langkah ke depan.
"Saya dengar ada beberapa bisikan yang tidak perlu di ruangan ini," ucap Nadya dengan suara tegas, dingin, dan berwibawa yang menggema ke setiap sudut aula.
Ia menyapu pandangannya ke seluruh barisan karyawan, memastikan setiap orang menangkap ketegasan dalam kalimatnya.
"Perlu saya perjelas kepada kalian semua, pria yang berdiri di samping saya ini—suami saya, Armand—bukanlah orang yang kalian rendahkan. Kehadirannya di sini bukan karena
keberuntungan semata, melainkan karena keahlian, dedikasi, dan bakat luar biasa yang ia miliki di bidangnya. Mulai detik ini, saya tidak ingin mendengar ada bisikan murahan atau sikap meremehkan apa pun terhadap suami saya. Di perusahaan ini, posisinya sejajar dengan rasa hormat yang kalian berikan kepada saya. Ada yang keberatan?"
Suasana aula seketika teramat sunyi. Tidak ada satupun karyawan yang berani mengangkat kepala atau sekadar berbisik.
Mereka menunduk, menyadari bahwa Nadya sama sekali tidak main-main dalam melindungi suaminya.
Nadya melirik sekilas ke arah Armand yang berdiri tenang di sampingnya, lalu melembutkan ekspresinya seraya kembali menggandeng lengan pria itu.
"Silakan, Mas. Waktu dan tempat saya persilakan untuk memulai pengukuran," ucap Nadya lembut, menunjukkan sisi penuh kasih yang kontras dengan ketegasannya tadi.
Armand menarik napas dalam-dalam, merasakan dukungan luar biasa dari istrinya, lalu melangkah maju dengan penuh percaya diri untuk memimpin tim barunya.
Kelima karyawan yang telah dipilih Siska langsung maju mendampingi Armand di atas panggung aula.
Dengan cekatan, Armand membagi tugas mereka; dua orang bertugas memegang pita meteran, dua orang mencatat ukuran di buku data, dan satu orang membantu merapikan katalog bahan kain yang akan digunakan.
Armand menunjukkan keahliannya dengan sangat tenang dan profesional.
Gerakannya cepat, terarah, dan penuh perhitungan, memupus habis keraguan yang sempat ditunjukkan beberapa karyawan sebelumnya.
Di kursi barisan depan, Nadya mengawasi setiap gerak-gerik suaminya dengan senyum bangga yang tak bisa disembunyikan.
Ia lalu melirik Siska yang berdiri di sampingnya.
"Siska, tolong pesankan ke OB teh hangat dan kue untuk Mas Armand, ya. Biar beliau tidak kehausan selama mengukur," bisik Nadya penuh perhatian.
Siska menganggukkan kepalanya cepat. "Baik, Bu. Akan segera saya siapkan sekarang."
Tak lama kemudian, seorang office boy datang membawakan nampan berisi secangkir teh hangat dan piring kecil kue bolu lembut.
Siska dengan sigap meletakkannya di meja kecil di dekat sudut aula tempat Armand beristirahat sejenak di sela-sela kegiatannya.
Melihat perhatian kecil dari istrinya, Armand menoleh dan membalas tatapan Nadya dengan senyuman hangat penuh rasa syukur.
Suasana kerja di aula yang tadinya tegang kini berubah menjadi sangat produktif dan penuh energi positif.
Proses pengukuran massal itu berjalan lancar dan jauh lebih cepat dari perkiraan berkat kerja sama yang solid antara Armand dan kelima asisten barunya.
Satu demi satu karyawan maju ke depan dengan tertib, kekaguman baru mulai tumbuh di benak mereka saat melihat betapa telaten dan sopannya Armand dalam memperlakukan setiap orang.
Tidak ada lagi pandangan meremehkan; yang ada hanyalah rasa hormat yang perlahan terbangun.
Menjelang siang hari, sesi pengukuran akhirnya selesai.
Buku catatan di tangan para asisten sudah penuh dengan data ukuran seluruh staf perusahaan.
"Baik, rekan-rekan sekalian. Terima kasih atas kerja samanya hari ini. Untuk proses pemotongan bahan dan penjahitan akan segera kita mulai di ruang produksi," ucap Armand dengan suara tegas namun tetap ramah, menutup kegiatan hari itu dengan senyuman.
Para karyawan bertepuk tangan pelan, sebagian besar merasa takjub dengan aura profesional yang dipancarkan oleh suami sang CEO. Mereka pun kembali ke meja kerja masing-masing dengan tertib.
Nadya bangkit dari tempat duduknya, melangkah menghampiri Armand sambil membawa sehelai tisu bersih untuk menyeka keringat tipis di dahi suaminya.
"Kerja bagus, Mas. Kamu hebat sekali tadi," puji Nadya tulus sambil tersenyum manis.
Armand menerima perlakuan itu dengan mata berbinar hangat.
"Semua ini berkat dukungan dan kepercayaan kamu, Dek. Kalau bukan karena kamu yang membela Mas di depan tadi, mungkin Mas masih merasa ciut."
Nadya menggeleng pelan, merapikan kerah jas yang dikenakan Armand.
"Mas tidak perlu merasa ciut lagi. Mulai sekarang, dunia harus tahu kalau pria hebat ini adalah suamiku."
Di balik dinding kaca ruang kerja, Siska
mengamati momen romantis itu sambil tersenyum kecil.
Ia sangat senang melihat atasannya kini menemukan kebahagiaan yang utuh dan pendamping yang tepat.
"Masih ada waktu sebelum makan siang, bagaimana kalau kita lihat ruang produksi baru yang sudah disiapkan Siska?" ajak Nadya antusias.
"Dengan senang hati, CEO-ku," balas Armand tersenyum, menggandeng tangan istrinya menuju lantai khusus produksi tempat babak baru dalam hidup dan karier mereka akan dimulai.
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,