Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:501
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

Keputusan Lady Eleanor Blackwood seperti petir di tengah malam yang tenang, meretakkan fondasi otoritas Dominic dan mengubah total peta penyamaran Evangeline.

Empat puluh delapan jam sejak gertakan sang penguasa di sel bawah tanah, suasana Blackwood Manor berada dalam taraf ketegangan yang pekat. Rencana eksekusi rahasia mendadak batal, digantikan oleh kesibukan yang membingungkan bagi seluruh staf rumah tangga.

Rumor menyebar cepat di antara para pelayan, gadis pelayan baru yang ditangkap karena 'kesalahan teknis' itu bukanlah mata-mata, melainkan calon Nyonya Muda Blackwood.

Di sebuah kamar mandi bernuansa marmer putih di lantai dua sayap barat, Eva berdiri di depan cermin raksasa setinggi badan.

Air hangat dan minyak aromaterapi telah membersihkan sisa-sisa air garam, darah kering, dan debu sel bawah tanah dari kulitnya. Tiga pelayan pribadi pilihan Lady Eleanor baru saja selesai merawat luka-lukanya dengan salep antiseptik khusus, lalu mengenakan gaun sutra berwarna putih yang menjuntai hingga ke lantai.

Rambut cokelat gelapnya yang sebelumnya diikat ketat kini terurai halus dalam gelombang lembut, membingkai wajah tirusnya yang pucat. Luka memar di pergelangan tangannya akibat rantai baja disembunyikan secara sempurna di balik manset gaun bertabur renda perak.

Dari luar, Eva tampak seperti seorang dewi muda yang anggun dan berwibawa. Namun di dalam dadanya, setiap sel dalam tubuhnya tetaplah seorang Ghost Rose yang siap menerkam.

Klek.

Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.

Eva berbalik tenang melalui pantulan cermin. Dominic Blackwood melangkah masuk. Pria itu sudah membuang kemeja berdarah dan jas santainya.

Ia mengenakan kemeja kustom berwarna hitam kelam yang dipadukan dengan celana bahan berpotongan rapi.

Aura dominasi yang memancar darinya begitu pekat, membawa aroma parfum mahal dan tembakau halus yang kini sangat dikenal Eva.

Dominic mengibaskan tangannya pelan. Tiga pelayan wanita yang berada di ruangan itu menunduk dalam-dalam dan langsung mundur keluar, mengunci pintu dari luar atas isyarat mata sang majikan.

Hening mendadak memangkas udara di antara mereka.

Dominic tidak langsung bicara. Ia berjalan perlahan mengelilingi Eva, sepasang mata kelamnya memindai penampilan baru wanita yang beberapa hari lalu mencobanya membunuhnya dengan pisau serat karbon.

"Pakaian yang indah," desis Dominic. "Sangat cocok untuk seorang pembunuh yang gagal memenggal kepalaku."

Eva membalikkan tubuhnya sepenuhnya, menatap tepat ke dalam mata Dominic tanpa ada setitik pun rasa gentar. "Kau bisa berterima kasih pada nenekmu, Blackwood. Kalau bukan karena dia, aku pasti sudah membusuk di sel bawah tanahmu."

"Jangan salah sangka, Pelayan," Dominic melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Eva bisa merasakan hawa hangat dari napas pria itu.

"Nenekku mungkin melihatmu sebagai penyelamat nyawanya dan simbol penebusan bagi keluarga ini. Tapi bagiku, kau tetaplah ancaman berdarah dingin yang bernapas di dalam rumahku."

"Lalu kenapa kau menuruti perintahnya?" tantang Eva, mendongakkan kepalanya sedikit. "Seorang penguasa mafia yang ditakuti seluruh pantai timur... tunduk begitu saja pada keinginan seorang wanita tua?"

Bibir Dominic menyunggingkan senyum tipis yang mematikan. "Di dalam keluarga Blackwood, legalitas dan struktur kekuasaan adalah hukum mutlak. Nenekku memegang enam puluh persen saham voting di Blackwood. Jika dia membekukan aksesku hari ini, tiga faksi rival akan menyerang wilayah kami besok pagi."

Dominic meraih dagu Eva dengan jemarinya yang panjang dan kokoh, sebuah gestur kepemilikan yang dingin.

"Pernikahan ini adalah transaksi politik," bisik Dominic di depan wajah Eva.

"Publik dan faksi luar akan melihat pernikahan ini sebagai konsolidasi kekuatan. Rumor tentang kelemahanku di manor akan tertutup. Dan kau... kau akan menjadi tahanan dalam penjara emas."

Eva menyunggingkan senyum tipis yang tak kalah dingin. "Penjara emas? Kau melupakan satu hal, Dominic. Kau membawaku masuk ke dalam kamarmu. Kau memberiku akses yang aku butuhkan."

Dominic memicingkan matanya keras. Cengkeramannya di dagu Eva sedikit mengencang sebelum akhirnya ia melepaskannya dengan kasar.

"Kau pikir kau menang?" Dominic terkekeh pelan.

"Mulai hari ini, kau tidak akan pernah menyentuh senjata lagi. Setiap jengkal langkahmu akan diawasi. Dan yang paling penting..."

Dominic melangkah ke arah sudut ruangan, menarik sebuah dokumen berpelindung kulit hitam dari balik mejanya dan melemparnya ke atas meja rias di depan Eva.

"...kau akan menandatangani perjanjian pra-nikah ini."

Eva melirik dokumen tebal itu. "Apa isinya?"

"Aturan main kita," sahut Dominic datar.

Dominic menyandarkan punggungnya di tepi meja, bersedekah tangan seraya menjabarkan poin-poinnya dengan presisi seorang pengacara berdarah dingin.

"Pertama: Di depan publik, nenekku, dan media, kau adalah calon istri yang setia dan penuh kasih. Satu kesalahan kecil yang memicu kecurigaan bahwa pernikahan ini adalah rekayasa, maka orang-orang di sekitarmu, termasuk siapa pun yang memfasilitasi identitas palsumu di luar sana akan kuhabisi."

Eva mengetatkan rahangnya. Mengancam jaringan Silas adalah ancaman nyata. "Lanjut."

"Kedua: Kau akan tinggal di kamar utama bersamaku di lantai tiga. Tidak ada kamar terpisah. Musuh-musuhku dan orang-orang nenekku selalu mengawasi. Kita harus terlihat meyakinkan."

Jantung Eva berdesir pelan. Tinggal satu ruangan dengan Dominic Blackwood setiap malam berarti berada di jangkauan bahaya 24 jam nonstop. Namun itu juga berarti ia berada sangat dekat dengan dokumen-dokumen rahasia di ruang kerjanya.

"Dan ketiga," lanjut Dominic, matanya mengunci mata hazel Eva dengan pendar kebencian yang samar. "Kau tidak akan pernah mengajukan pertanyaan tentang urusan internal Blackwood Syndicate. Jika aku menangkapmu bertindak di luar peranmu sebagai istri penurut... aku sendiri yang akan memutus lehermu, terlepas dari apa yang dikatakan nenekku."

Eva menatap dokumen itu selama beberapa detik. Di kepala Eva, perhitungan berputar cepat. Silas selalu mengajarinya bahwa seorang agen sejati tidak pernah menolak posisi yang memberinya keuntungan strategis, betapa pun berbahayanya situasi tersebut.

Eva mengambil pena bulu emas yang terletak di samping dokumen. Tanpa membaca pasal-pasal hukum yang panjang dan rumit di dalamnya, ia menandatangani namanya dengan garis tegas, ia menambahkan nama penyamarannya, Evie Thorne pada dokumen perjanjian itu.

Dominic menaikkan sebelah alisnya saat melihat keberanian dingin gadis di depannya.

"Sudah selesai?" tanya Eva, meletakkan kembali pena emas itu dengan ketukan pelan. "Sekarang giliranku memberikan aturanku."

Dominic menyeringai sinis. "Kau pikir kau punya posisi untuk bernegosiasi, Pelayan?"

"Aku punya," balas Eva pelan, melangkah mendekati Dominic hingga ujung gaun sutranya menyentuh sepatu kulit pria itu. "Nenekmu menyukaiku. Jika aku membuat pernyataan bahwa kau menyiksaku secara rahasia di balik penampilanku yang anggun ini, saham voting-nya akan berada di pihak siapa?"

Mata Dominic mendadak menggelap oleh amarah yang tertahan. Sinyal bahaya di kepalanya kembali menyala. Gadis ini bukan sekadar pembunuh bersenjata, ia adalah pemain catur yang mampu memanfaatkan celah politik keluarganya sendiri.

"Katakan," desis Dominic rendah.

"Jangan pernah menyentuhku di luar peran yang kita mainkan di depan publik," kata Eva tegas, matanya menusuk tepat ke pupil mata Dominic. "Pernikahan ini adalah transaksi bisnis dan politik. Di balik pintu tertutup... kita tetap dua musuh yang saling mengintai."

Dominic menatap Eva dalam keheningan yang panjang dan tegang. Rasa benci, kecurigaan, dan daya tarik aneh yang tak terelakkan bertarung di dalam dada pria itu.

"Sepakat," sahut Dominic dingin.

...****************...

Sore harinya, Eva dipindahkan secara resmi dari sayap barat menuju lantai tiga, wilayah terlarang yang sebelumnya merupakan area terisolasi di Blackwood Manor.

Kamar utama Dominic bukan sekadar kamar tidur mewah. Ruangan itu luasnya hampir menyamai sebuah rumah tinggal, berlapis kayu mahoni gelap dengan perapian batu alam yang besar.

Namun yang paling mencolok adalah dinding bagian selatan ruangan tersebut, terdapat sebuah panel kaca antipeluru setinggi langit-langit yang memperlihatkan pemandangan tebing Blackwood Crest dan bukit pinus yang diselimuti kabut tebal.

Seorang pelayan senior membawakan dua lemari besar berisi gaun-gaun malam mahal, perhiasan, dan sepatu buatan desainer ternama, semuanya disiapkan atas perintah langsung Lady Eleanor untuk menyambut calon Nyonya Muda.

Saat malam mulai jatuh dan hujan gerimis mulai membasahi kaca antipeluru, pintu kamar terbuka kembali.

Dominic melangkah masuk, membuang jas lamanya ke atas sofa kulit. Pria itu tampak lelah setelah seharian mengatasi gejolak internal akibat pengumuman pernikahan dadakan ini.

Eva berdiri di dekat perapian, memegang secangkir teh hangat yang disajikan staf rumah tangga. Ia mengenakan gaun malam panjang berwarna hitam sederhana tanpa perhiasan.

Dominic berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan, menuangkan dua sloki minuman beralkohol tinggi ke dalam gelas kristal. Ia menyesapnya perlahan, membiarkan cairan keras itu membakar tenggorokannya.

"Upacara pernikahan akan diadakan lusa di kapel pribadi manor," kata Dominic tanpa menoleh, menatap rintik hujan di balik jendela kaca. "Hanya dihadiri oleh anggota senior keluarga, petinggi anggota, dan pengawal tingkat atas. Tidak ada media luar."

"Bagus," sahut Eva singkat. "Makin sedikit orang, makin mudah."

Dominic memutar tubuhnya, bersandar pada meja bar seraya menatap Eva. "Nenekku ingin kau mengenakan gaun pengantin milik almarhum ibuku."

Tangan Eva yang memegang cangkir teh mendadak membeku seketika.

Almarhum ibu Dominic.

"Kenapa?" tanya Eva, mencoba menjaga suara dan ekspresi wajahnya tetap datar.

"Karena nenekku menganggapmu memiliki keberanian yang sama dengannya," jawab Dominic pelan, nada suaranya mendadak berubah sedikit lebih berat dan rumit. "Ibuku... adalah satu-satunya wanita yang berani menentang aturan kaku keluarga Blackwood sebelum dia meninggal empat belas tahun lalu."

Empat belas tahun lalu.

Tahun yang sama ketika ibu Eva dibunuh di St. Jude. Tahun yang sama dengan map arsip Divisi Eksekusi Khusus - 2012 yang sempat Eva temukan di ruang kerja Dominic sebelum ia tertangkap.

Jantung Eva berdetak lebih cepat. Informasi ini terikat dengan benang merah yang sangat rumit. Kematian ibu Dominic dan pembunuhan ibunya terjadi di periode waktu yang persis sama.

Apakah ada hubungan antara tragedi di dalam keluarga penguasa ini dengan eksekusi kelam di pemukiman kumuh St. Jude.

Eva menelan ludah, menekan dorongan intuisinya agar tidak memancing kecurigaan Dominic. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja perapian, lalu menatap Dominic yang masih mengamatinya dari jauh.

"Aku akan mengenakannya," kata Eva pelan. "Jika itu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sandiwara ini."

Dominic meletakkan gelas kristalnya. Pria itu berjalan mendekati tempat tidur berukuran king-size di tengah ruangan, melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas meja samping.

"Tempat tidur ini cukup luas untuk dua orang," kata Dominic dingin, melirik ke arah Eva.

"Kau bisa tidur di sisi kiri. Aku di sisi kanan. Jangan mencoba melakukan gerakan mencurigakan saat aku tidur, Evie. Insting bertarungku tidak pernah istirahat."

Eva menyunggingkan senyum tipis, melangkah menuju sisi kiri tempat tidur seraya melipat tangannya di depan dada. "Saran yang bagus, Blackwood. Karena aku juga tidak pernah lupa di mana letak pembuluh darah lehermu."

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!