Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:676k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Laboratorium lama Sari Anggraini berada di belakang gedung yayasan, tertutup pohon mangga dan pagar besi yang catnya mengelupas.

Kuncinya tidak ada di kantor administrasi.

Itu alasan Wibowo.

"Ruangan itu sudah lama tidak dipakai," katanya. "Tidak aman. Banyak dokumen rusak. Kalau Naira perlu arsip, staf bisa memilihkan."

Naira menatap pintu berkarat di depannya. "Saya tidak meminta staf memilih ingatan ibu saya."

Ratri yang sejak pengakuan Mirah tampak kehilangan suara, akhirnya berkata, "Sari pun tidak suka orang masuk ke ruang itu."

"Saya anaknya."

"Kamu tidak dibesarkan olehnya."

Surya menoleh.

Ratri langsung menyesal, tetapi kalimat itu sudah keluar.

Naira diam beberapa detik.

Luka yang paling tajam kadang datang dari fakta yang benar. Ia memang tidak dibesarkan Sari cukup lama. Ia punya potongan ingatan, bukan tahun-tahun penuh. Bau jas laboratorium. Tangan dingin yang menempel di kening. Suara ibu yang berkata jangan takut pada darah kalau yang kamu cari adalah hidup.

Tetapi kehilangan tidak membuatnya kurang anak.

"Justru karena itu," kata Naira, "saya tidak akan membiarkan orang lain memilih bagian mana dari ibu saya yang boleh saya kenal."

Mirah mengirim Idris membawa kunci cadangan.

Ratri menatap satpam tua itu dengan marah, tetapi Idris hanya menunduk dan menyerahkan kunci kepada Naira.

"Bu Sari dulu titip," katanya pelan. "Katanya kalau suatu hari putrinya datang, jangan serahkan ke siapa pun selain dia."

Naira menerima kunci itu.

Tangannya sedikit gemetar.

Raka berdiri beberapa langkah di belakang. Ia datang tanpa membuat keributan, dengan kemeja hitam dan wajah yang membuat staf yayasan tiba-tiba sangat sibuk menatap lantai.

"Kamu yang minta dia datang?" tanya Surya kepada Bagas.

Bagas menggeleng cepat. "Saya masih sayang hidup, Pak."

Raka mendengar, tetapi pura-pura tidak.

Naira memasukkan kunci. Pintu menolak sebentar, lalu terbuka dengan suara seret panjang.

Bau kertas tua dan debu menyambut mereka.

Ruangan itu kecil. Meja baja di tengah. Rak kaca di dinding. Lemari arsip terkunci. Tidak ada kemewahan. Hanya sisa kerja keras yang ditinggalkan terburu-buru.

Di atas meja, ada noda gelap yang tidak hilang.

Naira menyentuhnya dengan ujung sarung tangan.

"Tinta," kata Raka.

"Atau reagen."

"Aku sudah minta orangku cek denah lama bangunan ini," ucap Raka. "Ada jalur kabel bawah tanah menuju gedung arsip klinik yang sudah tutup."

Naira menoleh. "Kapan kamu minta?"

"Tadi malam."

"Sebelum aku minta bantuan?"

Raka diam.

Surya langsung menatapnya seperti menemukan alasan baru untuk tidak suka.

Naira melepas sarung tangan satu sisi dan menghadap Raka penuh. "Aku menghargai informasi. Tapi jangan masuk lebih dulu ke ruang hidupku."

Raka menerima teguran itu tanpa membela diri. "Aku khawatir mereka memindahkan bukti."

"Khawatir bukan izin."

Kalimat itu membuat udara berubah.

Dulu, laki-laki di hidup Naira mengambil keputusan untuknya dengan berbagai nama. Cinta. Keluarga. Kebaikan. Perlindungan. Semua terdengar indah sampai ia sadar dirinya tidak pernah ditanya.

Raka menatapnya lama.

"Baik," katanya akhirnya. "Mulai sekarang aku tawarkan dulu."

"Bukan mulai sekarang. Dari awal seharusnya begitu."

"Iya."

Jawaban singkat itu membuat Naira justru kehilangan sedikit amarah. Ia sudah terbiasa dilawan. Dimas dulu selalu menjelaskan kenapa ia benar. Surya kadang melindungi terlalu cepat. Raka biasanya memaksakan jalan seperti orang yang menganggap dunia lebih aman kalau ia pegang lehernya.

Hari ini ia berhenti.

Mungkin kecil.

Tetapi Naira melihatnya.

Maya berdeham pelan. "Kita cari arsip dulu sebelum semua orang di ruangan ini menyelesaikan terapi masing-masing."

Bagas hampir tertawa.

Ratri tidak.

Naira membuka lemari arsip. Kosong.

Rak kaca. Kosong.

Laci meja pertama. Kosong.

Laci kedua macet.

Idris menyerahkan obeng kecil tanpa diminta. "Bu Sari suka menyimpan barang di tempat yang bikin orang malas membongkar."

Naira mencongkel pelan. Laci itu terbuka.

Di dalamnya ada kotak kayu tipis dibungkus kain putih yang menguning.

Naira membuka kainnya.

Sebuah pulpen perak tergeletak di atas buku catatan kecil. Di badan pulpen terukir huruf S.A. Ujungnya aus. Bukan benda mahal untuk dipamerkan, melainkan alat yang dipakai setiap hari.

Di bawah buku, ada flashdisk lama dan selembar foto.

Foto itu memperlihatkan Sari, Mirah, dan seorang laki-laki yang wajahnya dicoret tinta hitam. Di belakang mereka ada papan nama: Klinik Aruna Timur, Unit Arsip Riset.

Naira membuka buku catatan.

Tulisan Sari rapi, miring sedikit ke kanan.

Kalimat pertama membuat napas Naira berhenti.

Jika Naira membaca ini, berarti aku tidak berhasil pulang tepat waktu.

Surya menutup mata.

Raka menunduk, memberi ruang pada sunyi yang tidak bisa ia perbaiki.

Naira membaca lanjut.

Jangan percaya laporan akhir. Jangan percaya tanda tangan yang memakai tinta biru pada tanggal 17 Agustus. Data asli tidak pernah berada di yayasan. Aku menyimpannya di tempat orang-orang mengira hanya ada kematian lama.

"Kematian lama?" bisik Maya.

Naira membalik halaman.

Ada rangkaian angka.

12-1-18-21-14-1.

Lalu satu kata.

Timur.

Raka berkata pelan, "Aruna."

Naira menatapnya.

"Aku menawarkan informasi," kata Raka cepat. "Boleh?"

Naira menahan senyum tipis yang hampir muncul. "Boleh."

"Klinik Aruna Timur dulu punya ruang arsip jenazah kecil sebelum direnovasi jadi gudang dinas kesehatan. Setelah kebakaran administrasi, banyak berkas dipindah ke rumah sakit lama di kabupaten itu. Gedungnya sekarang kosong."

Wibowo tiba-tiba bergerak ke pintu.

Bagas menghadangnya. "Mau ke mana, Pak?"

"Saya ada rapat."

"Rapat dengan siapa? Orang yang wajahnya dicoret di foto?"

Wibowo menatap foto itu dan wajahnya kehilangan warna.

Naira menyimpan buku catatan ke dalam tas bukti.

"Pak Wibowo," katanya, "kalau Anda tahu sesuatu tentang klinik Aruna Timur, sekarang waktu terbaik untuk bicara."

"Saya tidak tahu."

"Wajah Anda bilang sebaliknya."

Ratri berbisik, "Jangan, Wibowo."

Satu kata itu cukup.

Naira menatap mereka berdua bergantian.

"Jadi kalian tahu."

Tidak ada jawaban.

Ponsel Raka bergetar. Ia melihat layar, lalu ekspresinya berubah.

"Ada yang baru saja mengakses arsip pengadaan alat medis lama Yayasan Anggraini," katanya.

"Dari mana?"

"Jaringan kantor Cakradinata Farma."

Nama itu membuat Ratri duduk lemas di kursi laboratorium.

Naira menggenggam pulpen ibunya.

Untuk pertama kalinya, peninggalan Sari tidak terasa seperti cerita mati. Ia terasa seperti peta.

Dan seseorang di luar sana baru saja sadar peta itu ditemukan.

Raka menurunkan ponsel. "Aku bisa kirim orang ke Aruna Timur sekarang. Hanya memantau dari luar."

Naira menatapnya.

Raka mengangkat kedua tangan sedikit. "Aku menawarkan."

"Kirim satu tim legal, satu tim dokumentasi. Tidak ada yang masuk gedung tanpa koordinasi denganku."

"Baik."

Surya memperhatikan pertukaran itu dengan wajah sulit dibaca. "Kamu sudah mulai mengizinkan dia?"

"Saya mengizinkan bantuan, Pa. Bukan kendali."

Raka menunduk sedikit kepada Surya. "Saya paham bedanya."

Surya mendengus pelan. "Bagus kalau kali ini pahamnya bertahan lebih dari satu jam."

Bagas pura-pura batuk.

Di sisi lain ruangan, Wibowo mencoba menyelipkan sesuatu ke saku. Naira melihat gerakan itu dari pantulan kaca lemari.

"Tangan di meja, Pak."

Wibowo membeku.

Maya mendekat dan mengambil kertas kecil dari tangannya. Isinya hanya satu nomor telepon tanpa nama dan kode: A.C.

Ratri menutup wajah.

"A.C. siapa?" tanya Maya.

Wibowo tidak menjawab.

Raka melihat nomor itu, lalu matanya mengeras. "Adrian Cakradinata."

Nama itu seperti membuka jendela yang selama ini ditutup rapat.

Naira menyimpan pulpen Sari ke dalam kotak bukti, tetapi sebelum menutupnya, ia melihat ada bagian pangkal yang sedikit longgar. Ia memutarnya pelan.

Dari dalam pulpen jatuh gulungan kertas tipis.

Tulisan Sari sangat kecil.

Jangan serahkan Naira kepada siapa pun yang mengaku melindunginya tanpa mendengarnya.

Ruangan diam.

Naira membaca kalimat itu dua kali.

Lalu ia melipat kembali kertas tersebut dan memasukkannya ke saku jas, dekat jantungnya.

"Ibu bahkan sudah menegur kalian dari masa lalu," kata Maya pelan.

Naira tidak tersenyum.

Di luar laboratorium, langit Jakarta mulai gelap. Peta menuju Aruna Timur sudah berada di tangannya. Tetapi sekarang peta itu bukan hanya menunjuk tempat.

Ia menunjuk perang yang ternyata sudah dimulai sebelum ia lahir.

Raka menurunkan ponsel. "Aku bisa kirim orang ke Aruna Timur sekarang. Hanya memantau dari luar."

Naira menatapnya.

Raka mengangkat kedua tangan sedikit. "Aku menawarkan."

"Kirim satu tim legal, satu tim dokumentasi. Tidak ada yang masuk gedung tanpa koordinasi denganku."

"Baik."

Surya memperhatikan pertukaran itu dengan wajah sulit dibaca. "Kamu sudah mulai mengizinkan dia?"

"Saya mengizinkan bantuan, Pa. Bukan kendali."

Raka menunduk sedikit kepada Surya. "Saya paham bedanya."

Surya mendengus pelan. "Bagus kalau kali ini pahamnya bertahan lebih dari satu jam."

Bagas pura-pura batuk.

Di sisi lain ruangan, Wibowo mencoba menyelipkan sesuatu ke saku. Naira melihat gerakan itu dari pantulan kaca lemari.

"Tangan di meja, Pak."

Wibowo membeku.

Maya mendekat dan mengambil kertas kecil dari tangannya. Isinya hanya satu nomor telepon tanpa nama dan kode: A.C.

Ratri menutup wajah.

"A.C. siapa?" tanya Maya.

Wibowo tidak menjawab.

Raka melihat nomor itu, lalu matanya mengeras. "Adrian Cakradinata."

Nama itu seperti membuka jendela yang selama ini ditutup rapat.

Naira menyimpan pulpen Sari ke dalam kotak bukti, tetapi sebelum menutupnya, ia melihat ada bagian pangkal yang sedikit longgar. Ia memutarnya pelan.

Dari dalam pulpen jatuh gulungan kertas tipis.

Tulisan Sari sangat kecil.

Jangan serahkan Naira kepada siapa pun yang mengaku melindunginya tanpa mendengarnya.

Ruangan diam.

Naira membaca kalimat itu dua kali.

Lalu ia melipat kembali kertas tersebut dan memasukkannya ke saku jas, dekat jantungnya.

"Ibu bahkan sudah menegur kalian dari masa lalu," kata Maya pelan.

Naira tidak tersenyum.

Di luar laboratorium, langit Jakarta mulai gelap. Peta menuju Aruna Timur sudah berada di tangannya. Tetapi sekarang peta itu bukan hanya menunjuk tempat.

Ia menunjuk perang yang ternyata sudah dimulai sebelum ia lahir.

1
Yune Z
sprt nya akan di cintai secar ugal ugalan😄😄😄
Indah Utammi Dapoer MakYong
dari Bab 1 sampe sini Bab 51, Naira tidak menye² terlalu tidak..
tp seperti kluar kodrat, terlalu hrs mengikuti setiap ucapan nya pendapat orglain serasa tak berharga, bahkan papa nya sendiri..
karakter Raka yg tegas jg jd kehilangan jati diri..
alur nya seru, tp smpai titik ini yg dibahas itu² ajja.. jauh terlalu jauh blom ada lega nya baca nya..
Terlalu Berat tp seru
Siti Solikah
bagus novelnya thor
Hj Mia Mubin
Clara Sik pintar Sik dokter padahal baru jg jadi dokter intership atau apalah namanya🤭
Helmi Mass
aku suka ceritanya ouh ya salken dari aku 🙏
evana gusani
baru mampir
Dwi Ferbi
jalan cerita nya sangat menarik..setiap bab bikin penasaran.
terima kasih buat author yg sudah menulis cerita ini..semangat & sukses selalu🙏🏻😍
Dwi Ferbi
cerita yg sangat menarik..gak bs berhenti baca.
menegangkan & bikin penasaran
👍😍
Soni Hariato
p
Irizka RA Yusuf
aku merasakan tidak adahubung yg hangat dari setiap perbincangan disini, dari awal sampai sini semua kata" dingin Dan kaku, monoton. baik itu hubungan Surya sebagai ayah Dan Naira anaknya. bahasanya sama kesetiap orang dingin Dan kaku.
maaf y Thor saya tidak melanjutkan baca. krn jenuj bacanya. padahal ceritanya bagus🙏
Kam1la: hai kak, istri cadangan sang Mafia baru saja up, jika berkenan mampir ya...
total 1 replies
Mutia
Walaupun dah telat tp sy mau tanya. Raka sakit apa hrs terapi.
Mutia
Naira bicara dg papanya knp formal sekali dg menyebut diri saya, dpt bicara dg org lain
Kristiwolla Ssps
ko di ulang
Kristiwolla Ssps
prinsip yang kuat
Netty Netty
bagus, karakter tidak lebay👍💪
Netty Netty
good
Jetva
Ada kalimat berulang juga paragraf berulang...
Julia thaleb
💗💗
Kristiwolla Ssps
setelah diatas lupa dari mana asalmu
Julia thaleb
kok Naura yakin ibunya hidup, bisa jadi itu rekaman lama waktu Naura masih kecil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!