Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Hazel menatap Arlend cukup lama, seolah mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan pria itu. Setelah hening beberapa saat, ia akhirnya mengangguk pelan. Senyum tipis yang tampak polos dan rapuh terukir di wajah cantiknya.
"Baiklah... kalau begitu, aku mau makan," cicit Hazel pelan.
Arlend menghembuskan napas lega. Dengan kesabaran dan kelembutan luar biasa yang tak pernah diperlihatkannya pada siapa pun di dunia ini, Arlend kembali menyendokkan bubur hangat. Ia memegang mangkuk itu dengan hati-hati, memosisikan sendok di depan bibir Hazel seraya menyuapinya perlahan, suapan demi suapan, memastikan gadis itu tidak tersedak. Hazel menerima setiap suapan dalam diam, sesekali mencuri pandang ke arah Arlend yang begitu telaten memanjakannya.
Setelah mangkuk bubur itu bersih dan Hazel selesai meminum obatnya, rasa kantuk akibat efek obat mulai menyerang tubuh lemas gadis itu. Matanya kian berat dan perlahan terpejam rapat. Arlend merapikan selimut tebal hingga menutupi dada Hazel, lalu mendudukkan dirinya di sisi ranjang.
Jemari tegap Arlend bergerak perlahan, membelai lembut helai demi helai rambut panjang Hazel yang terurai di atas bantal. Tatapan mata sang Raja Mafia berubah sangat redup dan hangat, dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam sekaligus dorongan posesif untuk menjaga gadis ini dari bahaya apa pun di muka bumi.
"Tidurlah yang nyenyak, Hazel..." bisik Arlend sangat pelan, menyapukan jemarinya di pipi halus Hazel. "Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."
Sementara itu, di sudut kota lainnya.
Di sebuah apartemen sempit dan agak kumuh yang luput dari penyitaan klan Victor satu-satunya aset tersisa yang atas namanya tidak terdaftar di Adeline Group suasana begitu pekat oleh keputusasaan dan hawa kemarahan.
Helena duduk di atas sofa kain yang sudah agak kusam, memegang kepalanya yang berdenyut hebat. Wajah cantiknya yang dulu selalu dipoles kosmetik mahal kini pucat pasi, lebam, dan dipenuhi guratan ketakutan. Di hadapannya, Cateline terduduk di lantai berkeramik dingin, memeluk lututnya dengan gaun robek yang memperlihatkan bekas perban kasar di bahu dan punggungnya akibat cambukan Gideon kemarin.
"Aku benar-benar tidak menyangka..." kata Helena memecah keheningan, suaranya parau dan gemetar hebat akibat syok berat yang belum mereda. "Pria hilang ingatan yang kita pungut dua tahun lalu... pria yang kita jadikan pelayan, kita injak-injak harga dirinya, dan kita jadikan tempat pelampiasan amarah... ternyata adalah Arlend Kyren Victor. Mafia paling kejam dan penguasa dunia gelap!"
Helena mendadak mendongak, menatap Cateline dengan pendar mata menyalahkan yang amat tajam.
"Dan ini semua karena kau, Cateline! Kau yang paling parah menyiksanya!" seru Helena dengan suara melengking penuh emosi. "Kau yang saban hari mencambuknya, menyuruhnya berlutut, dan menyiksanya tanpa ampun! Kalau saja kau tidak memperlakukannya seperti anjing, klan Victor tidak akan meratakan perusahaan dan seluruh harta kita sampai habis seperti ini!"
Cateline tersentak. Ia mengangkat kepalanya yang berantakan, menatap ibunya dengan tatapan tak percaya dan murka yang membara.
"Kenapa Mama menyalahkanku?!" jerit Cateline histeris, air matanya menetes membasahi pipinya yang kotor. "Mama juga ikut menikmati setiap kali dia disiksa! Mama yang selalu menghina statusnya dan menyuruhnya membersihkan rumah bagaikan budak! Kenapa sekarang seolah-olah ini semua hanya salahku?!"
"Tapi kau yang paling membencinya, Cateline!" bentak Helena tak mau kalah, menunjuk tepat di depan wajah putrinya. "Kenapa kau tidak bisa memanfaatkan statusmu?! Kau kan bisa megatakan bahwa kau adalah istrinya! Gunakan status pernikahan itu untuk menyelamatkan kita! Pergi kepadanya dan katakan bahwa kau adalah istri sahnya secara hukum!"
Cateline tertawa sumbang sebuah tawa frustrasi yang berujung pada isakan tangis menyayat hati. Ia mengepalkan tangannya di atas lantai dingin.
"Pernikahan apa, Ma?!" teriak Cateline dengan suara pecah dan penuh penyesalan yang terlambat. "Pernikahan itu palsu! KITA TIDAK PERNAH MENIKAH!"
Helena membeku di tempatnya, matanya membelalak lebar.
"Semua dokumen itu cuma rekayasa yang kita buat!" pangkas Cateline seraya meremas rambutnya sendiri secara histeris. "Kita tidak pernah mendaftarkan pernikahan itu ke catatan sipil! Dulu kita hanya membuat surat nikah bodoh itu agar publik percaya bahwa aku menikah dengan pria kaya demi menutupi rumor, dan menjadikan dia pria simpanan yang bisa kita perah! Sekarang... dia sudah tahu semuanya, Ma! Dia tahu pernikahan itu cuma kebohongan murahan!"
Cateline merosot, menyandarkan punggungnya ke kaki sofa seraya meraung histeris. Ia menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada lagi celah, tidak ada lagi kebohongan, dan tidak ada lagi harta yang tersisa. Mereka telah benar-benar membangunkan iblis terkejam di dunia, dan kini kehancuran total telah mengepung hidup mereka.
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...