Indonesia
NovelToon NovelToon
Hari Terakhir Bersama Keluarga

Hari Terakhir Bersama Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Anak Genius
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Sudah seminggu berlalu sejak hari jamuan makan siang yang kacau itu. Selama tujuh hari ini, aku menghabiskan sebagian besar waktuku di dalam kamar lantai dua dalam kesunyian, terisolasi oleh rasa cemas yang kian hari kian menggerogoti waras jiwaku.

Entah bagaimana keadaan Paman Hendra sekarang? Apa beliau baik-baik saja? batinku penuh gejolak pilu sembari menatap nanar ke arah jendela kamar yang menampilkan langit sore yang meredup.

Jantungku bertalu-talu tidak keruan setiap kali mengingat barisan angka ghaib berdarah yang waktu itu kulihat. Batas waktu lima hari yang tercetak di telapak tangan Paman Hendra seharusnya sudah habis dua hari yang lalu. Kenyataan bahwa rumah besar keluarga Adipta ini masih diselimuti keheningan tanpa ada kabar duka yang datang, sempat menerbitkan secercah harapan di dadaku. Apakah ramalan kematian itu kembali meleset? Apakah Paman Hendra berhasil selamat?

Namun, alih-alih merasa tenang, rasa takut yang teramat sangat justru kian menghimpit rongga dadaku.

Selama seminggu ini, atmosfer di rumah besar ini terasa begitu aneh dan menegang kaku. Kak Aaron dan Kak Charles menjadi sangat jarang terlihat, dan jika berpapasan denganku di selasar koridor, mereka akan langsung membuang muka dengan kecanggungan yang amat sangat besar. Bahkan Olivia pun belakangan ini tampak lebih sering melamun setelah pulang dari kampusnya.

Aku menurunkan pandangan, meremas kain gorden dengan jemari yang bergetar hebat. Ketiadaan Kak Ethan yang masih belum pulang dari dinas luar kota membuatku tidak memiliki tempat untuk mencari jawaban. Di tengah remang cahaya sore yang kian menggelap, aku hanya bisa memeluk diriku sendiri, mati-matian berdoa pada kesunyian agar keheningan rumah ini adalah pertanda bahwa Paman Hendra benar-benar sehat, bukan karena jajaran kakak laki-lakiku sedang menyembunyikan sebuah tragedi mengerikan dariku.

"Apa sudah dijawab, Kak?" tanya Kak Charles pada Kak Aaron dengan nada suara yang dipenuhi kecemasan mendalam.

Sejak tadi, Charles terus berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerja yang megah itu. Tangannya mengepal kuat, sementara matanya tak lepas dari sosok Kak Aaron yang berulang kali mencoba menghubungi nomor ponsel Paman Hendra. Panggilan demi panggilan telah dilayangkan entah untuk yang ke berapa kalinya, namun sambungan telepon itu tetap saja tidak kunjung diangkat.

"Belum," sahut Kak Aaron parau. Wajah tegasnya kini tampak pucat pasi, dan guratan lelah tercetak begitu dalam di dahinya. Ia menurunkan ponselnya dari telinga dengan jemari yang bergetar samar. "Entah kenapa Paman Hendra sama sekali tidak bisa dihubungi selama satu minggu ini. Entah... entah apa yang sebenarnya terjadi dengan beliau di luar sana."

Ketakutan terselubung yang selama seminggu ini mereka tekan kuat-kuat, kini perlahan-lahan mulai merayap naik dan mencekik parunya. Ingatan tentang bentakan Bella di koridor sepi satu minggu lalu laksana belati yang kini berbalik menusuk nurani mereka. Batas waktu lima hari dari ramalan kecelakaan itu sudah terlewati.

"Sepertinya kerja sama bisnis kita kali ini akan gagal total," ucap Kak Aaron dengan napas yang terasa kian berat. Langkah kakinya bergerak mendekati meja kerja, menatap hampa ke arah dokumen kontrak proyek Australia yang kini menjadi tak berarti. "Bagaimana cara kita menjelaskan kekacauan ini pada Kak Ethan saat dia pulang dinas nanti? Pasti... pasti Kak Ethan akan mengamuk besar jika tahu masalah ini."

Dengan tangan yang kian gemetar dihantam rasa panik dan bersalah yang membakar dada, Kak Aaron akhirnya menyerah. Ia menggeser layar digital ponselnya, lalu mulai mencari kontak nama "Kak Ethan" untuk melaporkan situasi darurat yang kini sudah berada di luar kendali mereka.

"Sudah kubilang, Bella itu hanya pembawa sial! Membiarkan dia tinggal di rumah ini hanya akan menambah masalah bagi kita semua!" amuk Kak Charles frustrasi, suaranya menggema hebat di tengah ruang tamu yang luas. Ia mengacak rambutnya kasar, menolak untuk menatap Kak Aaron yang masih sibuk memandangi layar ponsel. "Tapi Kak Ethan malah memindahkan dia ke lantai dua! Setiap hari dia hanya mondar-mandir tidak jelas, membuatku pusing dan muak setiap kali melihat wajahnya!"

***

Langkah kakiku yang hendak menuruni anak tangga marmer seketika membeku kaku di tempat. Cengkeramanku pada besi pegangan tangga mengeras hingga buku-buku jariku memutih.

Aku tertegun di balik bayangan pilar lantai dua, mendengarkan setiap bait makian kejam yang dilontarkan oleh Kak Charles dengan dada yang kian terasa sesak dihantam rasa perih. Air mata hangat yang sejak seminggu lalu kuhalau kini kembali mendesak keluar, luruh perlahan melewati pipiku yang memucat.

Apakah ... apakah ingatan dan penglihatanku waktu itu salah? batinku pilu, mengingat kembali rentetan kalimat peringatan yang semalaman kuteriakkan pada Paman Hendra di ruang makan tempo hari.

Hanya karena perkataanku waktu itu, jalinan kerja sama besar keluarga ini hancur total. Hubungan bisnis yang mereka rintis selama belasan tahun kini terputus begitu saja. Apa yang akan terjadi jika Kak Ethan kembali dari luar kota dan mengetahui kekacauan ini? Apakah ... apakah beliau akan kecewa dan kembali mengurungku ke dalam kegelapan gudang lantai tiga yang dingin? 

Ketakutan akan kehilangan secercah kasih sayang yang baru saja kurasakan dari Kak Ethan laksana racun yang meremas kuat hulu hatiku. Denyutan nyeri di lambungku kembali beraksi akibat luapan stres yang teramat sangat menyiksa batin.

Aku memejamkan mata erat-erat, menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan untuk menetralkan gemuruh hebat di dalam dadaku. Aku menghapus sisa air mata di pipi dengan punggung tangan, lalu menatap nanar telapak tangan kiriku yang kini telah polos bersih.

Tapi ini menyangkut nyawa seorang manusia! bisikku tegas di dalam hati, mencoba menegakkan kembali pundakku yang gemetar. Tidak ... tidak, aku sama sekali tidak salah! Walaupun semua orang di rumah ini akan membenciku dan marah besar padaku karena hal ini, aku tidak akan pernah menyesal. Aku tidak mungkin hanya diam saja melihat tragedi maut merenggut nyawa orang lain tepat di depan mataku sendiri, di saat aku memiliki kesempatan untuk mencegahnya!

Dengan sisa kekuatan yang kupunya, aku memilih untuk membalikkan badan. Aku mengurungkan niatku untuk turun ke bawah dan melangkah perlahan kembali menuju kamar baruku. Biarlah waktu yang akan membuktikan apakah barisan angka ghaib berdarah di telapak tangan Paman Hendra waktu itu adalah sebuah kebenaran atau hanya kutukan gila yang salah sasaran.

"Kak, jangan marah-marah dulu. Mungkin Paman Hendra sedang sibuk urusan dinas di luar kota, makanya beliau belum sempat mengangkat telepon kita," sela Olivia tiba-tiba, melangkah masuk ke ruang tamu setelah mendengar amukan Kak Charles. Adik bungsu mereka itu berdiri tegak, menatap kedua kakak laki-lakinya dengan binar mata penuh pembelaan. "Niat Kak Bella itu juga baik. Kalian jangan selalu berpikir negatif padanya. Olivia berharap kalian tidak terus-menerus meluapkan amarah pada Kak Bella."

Suasana yang menegang kaku itu coba diredam oleh Olivia. Ia mengembuskan napas pendek, lalu mengulas senyuman tipis demi mencairkan kebekuan atmosfer.

"Sudah, sudah. Ayo kita makan siang saja dulu. Lagipula, Kak Ethan sangat menyayangi kita semua. Tidak mungkin beliau akan tega marah besar pada kita hanya karena masalah penundaan kontrak ini," lanjut Olivia lagi, berusaha keras menenangkan kepanikan Kak Aaron dan Kak Charles.

Namun, tepat saat mereka baru saja hendak membalikkan badan menuju ke ruang makan, langkah kaki Kak Charles seketika terhenti kaku. Sepasang mata elangnya mendadak menyalang tajam, tertuju lurus ke arah pangkal tangga marmer lantai dua.

Di sana, sosok Bella baru saja berniat turun ke bawah.

Melihat keberadaan adik perempuan yang dituduhnya sebagai pembawa sial itu, emosi Kak Charles yang sejak seminggu lalu terpendam seketika meledak tanpa sisa. Dengan napas yang memburu hebat, ia melangkah lebar menghampiri tangga, lalu mencengkeram kasar lengan ringkih Bella dan menarik paksa tubuh adiknya untuk turun ke lantai bawah.

****

Tubuhku tersentak keras, kehilangan keseimbangan akibat tarikan kasar yang tiba-tiba dari Kak Charles. Rasa perih di pergelangan tanganku mendadak berdenyut hebat, disusul oleh kram lambung yang kembali bergejolak akibat luapan stres yang luar biasa pekat.

"Kamu masih berani menampakkan dirimu di sini, hah?!" bentak Kak Charles dengan suara baritonnya yang menggelegar hebat, langsung mengempaskan tubuh ringkihku hingga aku terduduk lemas di atas lantai marmer yang dingin. "Kalau bukan karena kamu berbicara sembarangan dan membawa takhayul gila pada Paman Hendra tempo hari, tidak mungkin perusahaan kita akan kehilangan kerja sama sebesar ini!"

Aku meringis menahan sakit, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku untuk kembali berdiri tegak di hadapannya. Air mata hangat yang sejak tadi kutahan kini luruh membasahi pipiku yang kian memucat.

"Aku tidak berbohong, Kak ... apa yang aku katakan waktu itu adalah kebenaran!" ucapku dengan suara yang bergetar namun tersirat tekad mutlak yang kaku.

"Kamu masih mau mengelak sekarang?! Benar-benar tidak ada kapoknya, ya!" teriak Kak Charles, wajahnya kian merah padam oleh luapan amarah yang membakar nalarnya. Pria itu kehilangan seluruh kendali dirinya. Tanpa memedulikan teriakan histeris dari Olivia ataupun tatapan kaku Kak Aaron, ia kembali mencengkeram pundakku dengan teramat kuat. "Mulai hari ini, kamu tidak boleh menginjakkan kakimu di dalam rumah ini lagi! Keluar kamu!"

Duniaku serasa runtuh seketika saat tubuh ringkihku mulai diseret paksa oleh Kak Charles menuju arah pintu utama. Jeritan panik Olivia yang mencoba menahan lengan Kak Charles menggema pilu di langit-langit rumah besar keluarga Adipta, berkejaran dengan detak jantungku yang bertalu-talu tidak keruan menanti akhir dari takdir pengusiran kejam ini.

"Kak Charles, apa yang sedang Kakak lakukan?! Jangan mengusir Kak Bella! Kasihan dia, Kak!" jerit Olivia histeris sambil menangis tersedu-sedu.

Adik bungsu mereka itu mati-matian mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik jaket Kak Charles, berusaha menahan pergerakan kakak ketiganya yang seperti orang kesurupan. Namun, kekuatan fisik Olivia yang ringkih kalah jauh dibanding tenaga besar Kak Charles yang sedang diselimuti amarah buta.

"Minggir, Olivia! Kita harus mengusir anak pembawa sial ini dari rumah sekarang juga supaya keluarga kita tidak tertimpa kesialan lagi!" bentak Kak Charles dengan rahang yang mengatup rapat. Tanpa perasaan, ia langsung mengempaskan tangan Olivia yang sejak tadi berusaha mencengkeram lengannya dengan kuat.

"Tidak! Dia kakakku!" seru Olivia lantang, suaranya naik satu oktav memutus keheningan koridor rumah. Ia merangkak maju, mencoba meraih ujung selimut atau pakaianku yang terseret. "Jangan tarik Kak Bella! Dia kesakitan, Kak!"

"Olivia, minggir! Sekarang kamu harus pergi masuk ke kamarmu!" perintah Kak Charles mutlak, menunjuk ke arah tangga dengan telunjuknya yang gemetar karena emosi yang meluap-luap.

Cengkeraman tangan Kak Charles di pundakku terasa begitu mencengkeram kuat hingga menembus kulit sweter tipis yang kukenakan. Tubuhku diseret kasar di atas lantai marmer yang dingin, meninggalkan jejak rasa perih yang teramat sangat di sepanjang sendi-sendiku.

   “Dia kesakitan, Kak!”

Kalimat pembelaan dari Olivia laksana belati yang terus menusuk jiwaku, membuat setitik air mata hangat mengalir deras membasahi pipiku yang kian memucat. Namun, rasa sakit fisik di tubuhku mendadak tersamarkan oleh gejolak kram lambung yang kembali berdenyut sangat hebat. Stres yang luar biasa pekat akibat amukan kejam ini seolah kembali meremukkan pertahanan organ dalamku yang baru saja pulih dua bulan lalu.

Napas pelanku mulai putus-putus, berkejaran dengan detak jantung yang bertalu-talu tidak keruan di dalam rongga dada. Aku menatap nanar ke arah langit-langit ruang tamu yang bergerak mundur. Dua puluh tahun aku dikunci di dalam kegelapan gudang lantai tiga, dan hari ini, benteng isolasi itu dihancurkan hanya untuk melemparkanku keluar ke jalanan laksana sebongkah aib yang menjijikkan.

Dengan sisa tenaga yang terus terkuras habis, aku hanya bisa pasrah membiarkan Kak Charles menyeret tubuh lemasku mendekati daun pintu utama yang besar. Di balik jeritan panik Olivia yang kian histeris dan kebungkaman kaku Kak Aaron di sudut ruangan, aku memejamkan mata erat-erat, bersiap menghadapi akhir tragis dari takdir pengusiranku dari rumah keluarga Adipta.

Brak!

Daun pintu utama yang besar itu terhempas terbuka dengan sangat kasar akibat dorongan paksa dari tubuh Kak Charles. Udara dingin dari luar seketika menerpa wajahku yang sudah dibanjiri air mata. Aku memejamkan mata erat-erat, bersiap pasrah jika tubuh ringkihku benar-benar akan dilemparkan ke atas aspal halaman rumah yang keras.

"Berhenti!"

Sebuah suara bariton yang teramat berat, menggelegar, dan dipenuhi aura intimidasi yang pekat seketika memotong pergerakan kami. Suara itu begitu menggelegar laksana petir di siang bolong, memantul keras di dinding lorong depan rumah.

Cengkeraman tangan Kak Charles di pundakku mendadak terhenti kaku. Tubuhku yang lemas berhenti diseret.

Di ambang pintu yang terbuka lebar, berdiri sesosok pria tegap dengan setelan jas hitam yang sedikit kusut akibat perjalanan jauh. Sinar matahari siang menyinari punggungnya, menciptakan siluet yang teramat berwibawa sekaligus mengerikan.

Pria itu adalah Kak Ethan.

Ia telah pulang dari dinas luar kotanya jauh lebih cepat dari jadwal semula, murni karena laporan pesan singkat dari Olivia satu minggu lalu terus mengusik ketenangannya. Tas kerja kulitnya dijatuhkan begitu saja ke atas lantai teras dengan debuman pelan. Sepasang mata elang Kak Ethan menyalang tajam, menatap lurus ke arah Kak Charles dengan sorot mata yang dipenuhi oleh amarah murka yang luar biasa pekat, seolah siap melumat habis siapa pun di hadapannya.

"Kak ... Kak Ethan?" ucap Olivia terbata-bata di sela-sela tangisnya. Adik bungsu mereka itu terbelalak kaget, tidak menyangka bahwa pelindung tertinggi Kak Bella akan menampakkan diri di detik paling kritis ini.

Di sudut lain ruang tamu, Kak Aaron dan Kak Charles juga seketika membeku laksana patung. Mereka berdua begitu terkejut hingga lidah mereka mendadak kelu. Gengsi besar dan keangkuhan Kak Charles yang semenit lalu meluap-luap, dalam sekejap mata runtuh tanpa sisa di hadapan tatapan dingin sang kepala keluarga Adipta Group. Suasana di ambang pintu rumah besar itu mendadak diselimuti oleh keheningan mati yang teramat mencekam, bersiap menyambut ledakan amarah dari Kak Ethan yang telah menyaksikan sendiri kekejaman adiknya.

1
Cholifah Umro
ceritanya bagus
Cholifah Umro
lanjut thor
Cholifah Umro
Udah Bella biarin saja... gak usah cari masalah
my queen 👸: terima kasih kk uda mampir
total 1 replies
M. Al-Farezi
Lanjutkan👍

eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~
my queen 👸: siap kk
total 1 replies
Sayekti 0519
sangat mengenaskan.mili terus air mata Ama ingus ku thooor
my queen 👸: terima kasih sudah mampir kk
pantau cerita ku yang lain ya 🙏❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!