Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Hari-hari berlalu. Seminggu berlalu sejak Sari datang. Kantor makin nyaman, makin hangat. Sari benar-benar sosok pemimpin yang berbeda — mendengarkan, menghargai, tidak pernah membeda-bedakan siapa pun. Semua orang menyukainya. Termasuk Maxy.
Setiap pagi Sari akan menyapa semua orang satu per satu. Sering mampir ke meja Maxy, menanyakan progres pekerjaan, kadang berbagi camilan yang dibawa dari rumah, atau sekadar tertawa mendengar cerita sederhana Maxy.
Percakapan mereka mengalir begitu mudah, begitu alami. Terkadang mereka tertawa bersamaan, dan suara tawa itu terdengar menyenangkan — begitu menyenangkan sampai membuat telinga Shella terasa panas.
Shella selalu di sudut yang sama. Pura-pura sibuk. Pura-pura tidak melihat. Pura-pura tersenyum saat orang lain lewat.
Dia hanya berteman. Itu wajar. Sari atasan baru, dia butuh bergaul. Jangan berlebihan, Shella.
Tapi hati tidak pernah bisa disuruh berhenti merasa. Setiap kali melihat Maxy tersenyum lebar — senyum yang dulu hanya dia yang melihat — di depan Sari, ada sesuatu yang mencubit dadanya, pelan tapi terus-menerus. Seperti luka lama yang belum sempat kering, lalu tersentuh lagi berulang kali.
Siang itu saat makan siang, Sari duduk di meja yang sama dengan Maxy. Mereka berbicara dengan antusias tentang sebuah buku yang baru saja selesai dibaca Maxy. Sari mendengarkan sambil tersenyum, matanya berbinar, sesekali menambahkan pendapat, dan Maxy — Maxy terlihat begitu nyaman, begitu hidup.
Shella duduk sendirian di meja lain, menyuap nasi yang terasa hambar di mulutnya. Dia memaksa dirinya menelan, memaksa dirinya tersenyum saat rekan kerja lain menyapanya, tapi di dalam dadanya, badai kecil sedang bergemuruh tanpa suara.
Kenapa rasanya dia semakin jauh padahal dia ada di ruangan yang sama? Kenapa dia begitu santai bersama orang lain, tapi selalu ragu-ragu saat berbicara denganku? Apakah aku yang terlalu kaku? Apakah aku yang sudah ketinggalan?
Dia tahu dia tidak berhak cemburu. Dia yang menjauh. Dia yang memasang tembok. Dia yang bilang — jangan dekat-dekat aku lagi. Dan sekarang dia marah karena orang lain masuk ke ruang yang dia sendiri tinggalkan. Itu konyol. Itu tidak adil. Itu menyakitkan. Dan dia menyimpannya sendirian.
Sore harinya, Sari mengajak Maxy membantunya memindahkan beberapa dokumen ke ruang rapat. Mereka berjalan berdampingan, berbicara sambil tersenyum. Saat melewati meja Shella, Maxy menyapanya seperti biasa — sopan, ramah, tapi seperti rekan kerja biasa. Tidak lebih.
"Hati-hati ya, Sari. Sampai ketemu besok." ucap Maxy lembut.
"Terima kasih sudah bantu, Maxy. Sampai ketemu besok!"
Sari melambaikan tangan dan pergi. Maxy berdiri sebentar di lobi, melihat Sari pergi, lalu berbalik masuk kembali untuk mengambil tasnya. Saat dia menoleh, Shella sudah tidak ada di tempatnya. Mejanya rapi, kosong. Dia sudah pulang.
Maxy berdiri sendirian sejenak, lalu menghela napas pelan.
"Pulang dulu ya..." gumamnya sendiri, tidak ada yang menjawab.
Di dalam bus pulang, Shella duduk di dekat jendela, menatap jalanan yang mulai remang. Kepalanya penuh dengan ribuan pertanyaan yang tidak punya jawaban.
Kenapa aku begini? Kenapa aku tidak bisa sekadar bahagia untuknya? Dia baik, dia layak bahagia. Kalau Sari membuatnya nyaman, bukankah itu hal yang baik? Tapi kenapa... kenapa rasanya aku kehilangan dia sedikit demi sedikit setiap hari?
"Plak.." Dia menekan dahi ke kaca jendela yang dingin. Airmata mulai terasa hangat di sudut matanya, tapi dia menahannya. Tidak di sini. Tidak di tempat umum.
Sesampainya di rumah, dia masuk ke kamar, menutup pintu, dan baru saat itu "Brukk.." dia membiarkan dirinya terjatuh ke tepi tempat tidur. Dia memeluk bantal erat-erat, menekan wajah ke kain yang lembut, dan menangis — pelan, tanpa suara, tubuhnya berguncang halus.
Cemburu itu menyakitkan. Tapi yang lebih menyakitkan adalah tidak ada satu orang pun yang boleh tahu dia sedang merasakannya. Karena dia tidak punya alasan yang sah untuk cemburu. Dia bukan siapa-siapa Maxy. Maxy bebas berteman dengan siapa pun. Bahkan mungkin... bebas menyukai siapa pun.
Dia teringat Roxy. Sosok yang dulu dia kagumi, yang tampan, tenang, selalu mendengarkan tanpa menghakimi. Roxy yang selalu tahu kapan dia butuh ditemani tanpa banyak bicara.
Dia merogoh tas, mengeluarkan ponsel. Jari-jarinya ragu di atas layar. Nama "Roxy" ada di sana, tersimpan rapi. Mereka belum pernah benar-benar kehilangan kontak, tapi dia juga tidak pernah berani menghubunginya duluan.
Malam semakin larut. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh. Dia menarik napas dalam-dalam, menutup mata, lalu menekan tombol panggil.
Satu kali berdering. Dua kali. Tiga kali.
"Halo?" Suara Roxy terdengar tenang, sedikit terkejut tapi tetap lembut.
Shella menelan ludah. "Roxy... maaf mengganggu malam-malam begini."
"Tidak mengganggu sama sekali. Kamu baik-baik saja? Suaramu terdengar berat."
Pertanyaan sederhana itu seolah membuka penutup yang selama ini ditahan. Shella menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak tangis yang hampir lolos.
"Shella? Kamu di sana?"
"Aku... aku tidak tahu harus bicara pada siapa..." suaranya bergetar pelan. "Boleh... boleh kita bertemu sebentar saja? Aku tahu sudah larut. Kalau tidak bisa, tidak apa-apa. Aku cuma... aku butuh bicara sebentar."
Keheningan sejenak di seberang sana, lalu jawaban itu datang — tegas namun lembut.
"Tentu saja. Di taman kecil dekat persimpangan jalan tiga, yang ada bangku kayu di bawah pohon beringin itu? Kamu tahu tempatnya, kan?"
"Iya, aku tahu."
"Tunggu aku di sana. Hati-hati berangkat ya. Aku menyusul sekarang."
"Terima kasih, Roxy. Terima kasih banyak."
Panggilan berakhir. Shella berdiri, menyeka wajahnya dengan tisu, membetulkan rambutnya di depan cermin. Matanya sedikit bengkak, tapi dia tidak peduli. Dia butuh udara segar. Dia butuh seseorang yang mendengarkan tanpa menghakimi.
Dua puluh menit kemudian, Shella berjalan keluar pintu rumah. "Swooosh" Udara malam terasa sejuk, angin berhembus pelan membelai wajahnya. Dia berjalan perlahan menuju taman kecil itu — tempat yang sepi, tenang, hanya diterangi lampu jalan yang remang dan cahaya bulan yang samar.
Dia duduk di bangku kayu itu, memeluk tas di pangkuannya, menunggu. Hati-hati berdebar — bukan karena takut, tapi karena lega bahwa dia akhirnya berani melangkah keluar dari kesendiriannya.
Tak lama kemudian, "Tap..tap.." langkah kaki terdengar mendekat. Roxy berjalan tenang di bawah cahaya lampu jalan.
Dia mengenakan kemeja sederhana dan celana panjang, kedua tangannya di saku celana, wajahnya tenang seperti biasa. Saat melihat Shella, dia memperlambat langkahnya, lalu duduk perlahan di ujung bangku itu — memberi jarak yang nyaman, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
"Kamu mau cerita dulu, atau diam sebentar?" tanya Roxy pelan.
Shella tersenyum tipis, senyum yang menyakitkan. "Kamu selalu tahu apa yang orang butuhkan." ucap Shella lembut.
"Karena aku juga pernah merasa sendirian," jawab Roxy.
Shella menatap bayangan pepohonan di depannya.
"Roxy... aku konyol ya? Aku merasa cemburu. Padahal aku tidak punya hak sama sekali. Aku yang menjauh duluan. Aku yang membuat jarak. Dan sekarang aku kesal karena orang lain mengisi ruang yang aku tinggalkan sendiri."
Dia berhenti, menarik napas panjang yang bergetar.
"Aku melihat Maxy dengan Sari. Mereka terlihat begitu nyaman, begitu cocok. Dan setiap kali melihatnya, rasanya ada yang tercubit di sini." Dia menunjuk dadanya.
"Aku tahu itu tidak benar. Aku tahu Maxy berhak bahagia. Tapi kenapa... kenapa rasanya aku baru sadar betapa berartinya dia saat dia terasa semakin jauh?" lanjut Shella sambil menundukkan kepala.
Roxy mendengarkan dengan saksama, tidak memotong, tidak terburu-buru memberi solusi. Dia membiarkan setiap kata itu keluar, mengalir seperti air yang akhirnya menemukan jalannya.
"Dan yang paling aku takutkan..." lanjut Shella pelan, air mata menetes perlahan di pipinya.
"suatu hari nanti dia akan menyadari bahwa dia tidak butuh aku lagi. Bahwa ada orang lain yang lebih mudah dicintai, lebih mudah dijangkau, tidak seperti aku yang selalu ragu, selalu takut, selalu menjauh saat ingin mendekat."
Shella menyeka air matanya dengan punggung tangan, tersenyum pahit.
"Maaf... aku seharusnya tidak meluapkan semua ini padamu. Kamu datang untuk menenangkan aku, bukan menjadi tempat sampah perasaanku." lanjut Shella.
Roxy tersenyum lembut, menatapnya dengan pandangan yang begitu dalam dan tulus.
"Shella, dengarkan aku. Perasaan tidak pernah salah. Kamu tidak konyol, dan kamu tidak membebani siapa pun. Cemburu itu tanda kamu sangat peduli. Sedih itu tanda kamu sangat menghargai. Kalau tidak ada perasaan, tidak akan ada yang sakit. Dan rasa sakit itu bukan kelemahan — itu bukti kamu manusia, kamu peduli, kamu punya hati yang tulus."
Dia berhenti sebentar, suaranya melembut namun tegas.
"Tapi ada satu hal yang perlu kamu ingat — menjauh bukan cara melindungi seseorang. Menjauh hanya mengajarkan mereka untuk hidup tanpamu. Dan itu yang sedang kamu rasakan sekarang — ketakutan bahwa dia sudah mulai terbiasa tanpamu. Tapi belum terlambat. Selama ada rasa, selama dia masih di sana, kamu masih punya waktu untuk jujur — terutama pada dirimu sendiri."
Shella menunduk, air mata jatuh ke pangkuannya. "Aku takut, Roxy. Kalau aku mendekat lagi... dan dia sudah tidak ada di sana untukku? Kalau aku berbicara dan dia sudah menemukan tempat lain untuk bercerita? Aku takut ditolak. Aku takut terluka lebih dalam dari sekarang."
"Ketakutan itu wajar. Tapi percayalah — penyesalan karena tidak pernah mencoba itu jauh lebih menyakitkan daripada kegagalan." Roxy berdiri perlahan, menatap langit yang bertabur bintang samar.
"Kamu tidak perlu memutuskan semalam ini. Kamu tidak perlu langsung berlari kepadanya. Tapi jangan tunggu terlalu lama sampai dia benar-benar merasa tidak dibutuhkan. Seseorang yang berjuang sendirian terlalu lama... akhirnya akan belajar berjalan sendirian."
Kalimat itu terasa seperti jarum yang menembus malam. Shella terdiam, merenung dalam-dalam.
Seseorang yang berjuang sendirian terlalu lama... akhirnya akan belajar berjalan sendirian.
Apakah itu yang sedang terjadi? Apakah Maxy perlahan berhenti menunggu? Apakah Sari bukan penyebabnya, tapi hanya pelengkap dari kekosongan yang dia sendiri ciptakan?
"Terima kasih, Roxy..." bisiknya pelan, jujur dari hati yang terdalam. "Kamu selalu tahu cara membuatku merasa tidak sendirian. Entah bagaimana caranya, kamu selalu ada saat aku paling butuh."
Roxy tersenyum — senyum yang sedikit sedih tapi damai.
"Itu karena kamu juga berarti bagi seseorang, Shella. Sekarang pulanglah ya. Istirahat. Pikirkan semuanya dengan tenang. Besok adalah hari baru. Dan apa pun keputusanmu, lakukan karena hatimu menginginkannya, bukan karena takut kehilangan."
Shella mengangguk. Dia berdiri, membersihkan debu di roknya. "Kamu juga pulang ya. Hati-hati."
"Kamu juga. Sampai ketemu, Shella."
Shella berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan, meski hatinya masih penuh kerinduan dan kecemburuan yang belum sepenuhnya hilang. Tapi setidaknya sekarang dia tahu — masalahnya bukan pada Sari, bukan pada Maxy. Masalahnya ada pada dirinya sendiri yang masih terjebak di antara rasa takut dan rasa rindu.
Dan di bangku kayu itu, Roxy duduk sebentar lagi sendirian, menatap punggung Shella yang menjauh sampai menghilang di tikungan jalan. Dia tersenyum sendiri, senyum yang penuh kasih sayang dan pengorbanan yang tak terucap.
Semoga kamu menemukan keberanian itu, Shella. Semoga kamu tahu siapa yang sebenarnya selalu ada untukmu, dalam wujud apa pun.
Lalu dia berdiri, berjalan pergi menelan malam yang hening, berubah kembali menjadi dirinya yang sederhana — Maxy — yang diam-diam mencintai gadis itu dengan dua wajah yang sama, dengan satu hati yang tulus..