Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:746.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24 - Menjaga Jarak

Ratna tidak membalas pesan Arman malam itu.

Ia membaca kalimat terakhirnya berkali-kali sampai layar ponsel meredup.

Jangan menjauh karena kesalahan orang lain.

Kalimat itu terdengar benar. Terlalu benar. Namun hidup Ratna tidak pernah sesederhana benar dan salah. Kalau ia hanya memikirkan dirinya, mungkin ia bisa menikmati perhatian Arman. Mungkin ia bisa menandatangani kontrak rumah itu, menerima bantuannya, membiarkan laki-laki itu datang sesekali ke klinik dengan alasan tekanan darah.

Tetapi ia punya anak-anak.

Punya saudara.

Punya mantan suami yang belum resmi mantan.

Punya Sari yang mulai mengancam.

Punya kampung yang melihat setiap gerakannya seperti menonton sinetron gratis.

Ia juga punya harga diri yang baru saja berdiri, masih rapuh, belum kuat menahan terlalu banyak tangan.

Pagi harinya, Ratna mengirim pesan.

Ratna: Pak Arman, terima kasih untuk semua bantuan. Tapi saya tidak bisa melanjutkan rencana rumah itu.

Balasan datang hampir sepuluh menit kemudian.

Arman: Boleh saya tahu alasannya?

Ratna menulis, menghapus, menulis lagi.

Ratna: Saya belum resmi bercerai. Keluarga saya mulai melihat Bapak sebagai jalan keluar. Saya tidak ingin hidup saya berpindah dari bergantung pada satu laki-laki ke laki-laki lain.

Arman: Saya tidak ingin Ibu bergantung.

Ratna: Tapi orang lain akan menganggap begitu. Dan mungkin sebagian diri saya juga akan tergoda merasa aman karena Bapak.

Arman tidak membalas lama.

Ratna meletakkan ponsel, membuka klinik, memeriksa pasien. Ia mencoba tidak melihat layar setiap lima menit, tetapi gagal.

Menjelang siang, pesan Arman masuk.

Arman: Saya mengerti. Saya tidak setuju sepenuhnya, tapi saya mengerti. Rumah itu tetap kosong. Kalau suatu hari Ibu berubah pikiran, kontrak bisa dibicarakan lagi. Untuk sekarang, saya akan menjaga jarak.

Ratna membaca pesan itu dengan dada sesak.

Ia seharusnya lega.

Arman tidak marah. Tidak menuduhnya tidak tahu terima kasih. Tidak memaksanya menerima. Ia hanya mundur dengan sopan.

Justru itu yang membuatnya lebih berat.

Bu Rini datang siang itu membawa teh botol.

"Bu Dokter murung."

"Saya sedang hitung stok obat."

"Stok obat bisa bikin orang murung?"

"Kalau habis dan distributor telat, bisa."

Bu Rini duduk di kursi pasien tanpa diminta. "Pak Arman tidak datang hari ini?"

Ratna menatapnya.

"Apa semua orang menunggu beliau?"

"Bukan menunggu. Cuma... biasanya kalau ada mobil hitam itu, kampung jadi hidup."

"Kampung ini terlalu mudah hidup."

Bu Rini tertawa, lalu lebih serius. "Bu, maaf kalau saya lancang. Tapi Pak Arman kelihatannya baik."

"Kelihatannya."

"Iya, kelihatannya. Kita kan belum tahu dalamnya."

Ratna menutup buku stok.

"Justru karena belum tahu, lebih baik pelan-pelan."

"Pelan-pelan boleh. Tapi jangan mundur karena takut omongan orang. Omongan orang itu tidak pernah selesai. Waktu Bu Ratna diam, orang bicara. Waktu Bu Ratna menggugat, orang bicara. Waktu Pak Arman datang, orang bicara. Kalau Bu Ratna nanti mati pun, orang masih bicara soal bunga kuburan."

Ratna terdiam, lalu tertawa kecil. "Bu Rini ini kalau bicara kadang benar, kadang mengerikan."

"Yang penting tidak minta kerja."

Ratna tertawa lagi.

Namun setelah Bu Rini pergi, sepi kembali turun.

Sore itu, Bambang datang ke klinik. Tidak mengamuk. Tidak menarik tangannya. Ia berdiri di pintu, tampak lebih kusut dari biasanya.

"Aku dengar laki-laki itu tidak datang."

Ratna menatapnya dari balik meja. "Kamu datang untuk mengecek jadwal tamuku?"

"Dia bukan tamu. Dia laki-laki yang mengincar istriku."

"Aku menggugat cerai."

"Belum putus."

"Kalimat itu sudah terlalu sering kamu pakai."

Bambang masuk dan duduk. Ratna tidak mempersilakan, tetapi juga tidak mengusir. Di luar masih ada satu pasien menunggu obat, jadi ia menjaga suaranya.

"Ratna," kata Bambang, nadanya lebih rendah. "Aku bisa batalkan rumah Sari."

"Bagus."

"Makam juga."

"Bagus."

"Aku bisa... menjauh dari dia."

Ratna menatapnya.

Bambang tampak kesulitan mengeluarkan kalimat berikutnya.

"Kalau kamu mau pulang."

Ratna meletakkan pulpen.

Di luar, pasien yang menunggu obat pura-pura melihat poster imunisasi.

"Kamu pikir aku pergi karena rumah Sari belum dibatalkan?"

"Itu salah satu alasan."

"Bang, aku pergi karena kamu tidak pernah melihatku."

Bambang mengerutkan kening. "Aku melihatmu setiap hari."

"Tidak. Kamu melihat orang yang memasak, mencuci, menyiapkan obat, membuka klinik, mengurus anak, menutup mulut. Kamu tidak melihat aku."

Bambang diam.

"Sekarang setelah ada laki-laki lain yang melihatku, kamu panik."

Wajah Bambang memerah. "Aku tidak panik karena dia."

"Lalu kenapa datang menanyakan dia?"

Bambang tidak menjawab.

Ratna berkata pelan, "Aku sudah meminta Pak Arman menjaga jarak."

Mata Bambang langsung berubah. Ada lega yang terlalu jelas.

Itu membuat Ratna makin sedih.

"Kamu senang?"

"Itu keputusan benar."

"Bukan karena kamu. Karena aku."

Bambang tersenyum tipis, seolah tidak mendengar bagian terakhir. "Berarti kamu masih memikirkan keluarga."

Ratna menatapnya lama.

"Kamu memang luar biasa, Bang."

"Apa maksudmu?"

"Bahkan saat aku mengambil keputusan untuk menjaga diriku sendiri, kamu menganggap itu kemenanganmu."

Bambang tersinggung. "Aku hanya ingin rumah tangga kita tidak hancur."

"Rumah tangga kita sudah hancur. Yang belum selesai hanya proses hukumnya."

Bambang berdiri.

"Kamu keras kepala."

"Baru sekarang."

"Kamu akan menyesal."

"Mungkin. Tapi bukan hari ini."

Bambang pergi dengan wajah gelap.

Pasien di luar akhirnya masuk mengambil obat, wajahnya canggung.

"Bu Dokter..."

"Obatnya diminum dua kali sehari."

"Iya, Bu."

Pasien itu cepat pergi.

Ratna duduk sendirian di ruang periksa. Keputusannya menjaga jarak dari Arman seharusnya membuat semuanya lebih sederhana.

Tetapi malam itu, ketika tidak ada mobil hitam di depan klinik dan tidak ada pesan baru dari Arman, Ratna merasa kamar kecilnya lebih sempit dari biasanya.

Ia mematikan lampu lebih awal.

Dalam gelap, ia mengakui satu hal yang tidak berani ia tulis di pesan.

Ia merindukan percakapan singkat yang tidak membuatnya merasa bersalah.

Pagi berikutnya, Ratna bangun dengan mata sedikit sembap.

Ia kesal karena menangis tanpa alasan jelas. Tidak ada yang meninggal. Tidak ada sidang hari itu. Bambang tidak mengamuk. Arman hanya melakukan apa yang ia minta.

Tapi justru itu yang membuatnya sedih.

Sepanjang hidup, ketika Ratna berkata tidak, orang-orang biasanya menekan sampai ia berkata iya. Bambang begitu. Anak-anak sering begitu. Saudara-saudaranya begitu. Pasien pun kadang memaksa minta antibiotik meski tidak perlu.

Arman berkata, "Saya hormati."

Kalimat itu membuka ruang yang tidak biasa.

Ruang itu lega, tetapi juga sunyi.

Di klinik, seorang pasien lansia bernama Mbah Karto datang untuk kontrol. Setelah diperiksa, ia menatap Ratna lama.

"Bu Dokter kurang tidur?"

"Sedikit."

"Jangan terlalu banyak mikir laki-laki."

Ratna hampir tersedak. "Mbah Karto tahu apa?"

Laki-laki tua itu tertawa, giginya tinggal beberapa. "Saya sudah hidup tujuh puluh delapan tahun. Kalau perempuan kuat kelihatan capek, biasanya karena laki-laki bodoh atau laki-laki baik. Dua-duanya bikin pikiran."

Ratna menggeleng sambil menulis resep.

"Mbah, tekanan darahnya yang perlu dipikirkan."

"Iya, iya. Tapi Bu Dokter juga jaga hati. Hati kalau dibiarkan keras, nanti susah dipakai bahagia."

Setelah Mbah Karto pergi, Ratna duduk beberapa detik lebih lama.

Ucapan orang tua itu terdengar seperti bercanda, tetapi menempel juga.

Hati kalau dibiarkan keras, susah dipakai bahagia.

Ratna tidak ingin kembali menjadi perempuan yang terlalu lunak.

Namun ia juga tidak ingin berubah menjadi batu.

Sore itu ia membuka kotak kecil berisi selendang batik dari Yogyakarta. Kain hijau tua itu masih wangi lemari hotel, bercampur sedikit aroma rumah baru.

Ratna memakainya di depan cermin.

Wajahnya terlihat berbeda, bukan karena kain itu mahal, melainkan karena ia membelinya tanpa bertanya siapa yang butuh lebih dulu.

Ia menyentuh ujung selendang.

"Pelan-pelan," katanya pada bayangannya sendiri.

Bukan hanya kepada Arman.

Kepada hidupnya juga.

Ia melepas selendang itu dan melipatnya rapi.

Besok mungkin ia masih takut. Lusa mungkin ia kembali ragu. Tetapi malam itu, ia tidak mengutuk dirinya karena merindukan seseorang.

Setelah puluhan tahun hanya belajar bertahan, merasakan sesuatu yang baru juga butuh keberanian.

Ia masih punya waktu.

1
Anonim
awal cerita masih masuk nalar, tp mulai ketemu Arman dan Sari selalu tau gerak gerik Ratna, cerita mulai agak aneh…, setiap ada kejadian pd Ratna, Arman sll ada begitu jg dg Sari sll tau apa gerak gerik Ratna kaya pd punya CCTV sendiri…😂
Anonim
kok Sari bisa langsung tau sih ? katanya Sari tinggal nya di kampung sebelah, kok semua tentang Ratna si Sari langsung tau ya ? aneeh….
Anonim
diusia 60 thn adlh usia pensiun, dari kerja kantoran (kecuali dokter, pengacara) krn diusia itu fisik kita jg sdh tdk muda lg, tinggal menikmati hsl kerja dan menikmati hari tua dg bahagia, tp seperti dr Ratna kasus nya beda, masa tua bersama pasangan (suami) yg sehrs nya menikmati kebahagiaan, malah menjd masa tua yg menyakitkan, lbh ikhlas ditinggal mati pasangan drpd ditinggal krn perselingkuhan dan perceraian 😢
Tien Tien
merasakan rasaaanya .masuk banget ..kita ditinggal atw juta meninggalkan .semoga yg tersisa kebaikan. dan tidak ada penyesalan .
dwi sulastri
episode sebelumnya bu ratna pakai jilbab, ini kok disanggul ya
Wirly Pena
Semangat thor, karya yang bagus 👍

halo temen2, dukung dan baca " aku istrimu, bukan babu mu "

terimakasih 🙏
AlviAlva
coba kamu Mita ke bapakmu Mel
Amarilys
dari muda sampai tua masih plin plan seperti itu?? /Drowsy/
echa purin
👍👍👍
ceyee
bahasanya kayak terjemahan. apa ini novel terjemahan? berarti copas
Rochsdha Andriani
nah itu dia...
Sabrina Sheron
novel paling bagus yg pernah saya baca.
semua ada di kisah nyata bukan khayalan layaknya dunia novel biasa. semangat buat penulisnya💪
Rochsdha Andriani
kebaya ?
Surati
Bagus ceritanya
Mama lilik Lilik
ceritanya bagus dan seperti real banget,cuma kadang alamat rumah kadang pindah² semula diklinik lalu pindah ,ke rumah sewa tiba² di klinik dekat kampung cempaka, terakhir ke apartemen, tetap semangat KK dn terimakasih 🙏
Zakia Ulfa
ayolooohhh Bu dokter calon jodohmu dataaaaang
Zakia Ulfa
kereeeennn Lo ceritanya
Aji Priatun
suka banget alur ceritanya, keren Author, terima kasih
Kukun Sabarno
kenapa pemikiran nelati terlalu jauh tentang pak arman,seakan memanfaatkan kesempatan ya. apa aku salah??
Ema Susanti
sama seperti mantan suamiku. semoga Allah berikan jodoh yang baik dan tepat., 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!