Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Rahasia yang Hampir Terbongkar

Tangisan Clarissa bergema pilu di lorong remang restoran. Tubuhnya yang terbalut gaun marun masih tersungkur lemas di atas lantai marmer dingin. Pengakuan Bagas baru saja menghantam jiwanya bak petir—bahwa pria miskin yang selama tiga tahun dicaci maki keluarganya adalah Presdir tertinggi Pradipta Group.

Namun, Rendy yang baru melangkah tiga pijakan mendadak menghentikan gerakannya.

Sorot mata sang Presdir berkilat tajam di balik kegelapan lorong. Penyesalan Clarissa memang nyata, tetapi rasa sakit atas pengkhianatan dan kepatuhan pasrah wanita itu pada keluarganya belum sepenuhnya terbayar. Jika identitas aslinya dibongkar begitu saja malam ini, keluarga Rosma hanya akan berlutut meminta uang, bukan menyadari kebusukan moral mereka.

Rendy memutar sedikit kepalanya, melirik Bagas dengan kilatan sinyal yang amat dipahami oleh asisten pribadinya itu.

Bagas seketika membungkuk cepat, menepuk dahinya berpura-pura canggung. "Maafkan saya, Nyonya Clarissa! Saya salah menyampaikan dokumen! Maksud saya, Tuan Rendy adalah... sopir pribadi utama yang dipercaya membawa mobil Maybach milik pimpinan Pradipta Group!"

Clarissa yang tersedu-sedu mendadak menghentikan tangisnya. Ia mendongak dengan mata sembap yang merah. "S-sopir...?"

Rendy membalikkan badan sepenuhnya, memamerkan raut wajah yang kembali datar dan tenang. "Benar. Aku hanya sopir rental dan pengawal sewaan Pradipta Group. Jas mahal dan jam tangan ini hanya fasilitas dinas untuk mengawal tamu VIP malam ini. Pak Bagas hanya bercanda karena kesal melihat kelakuan Pak Hadi."

Rasa syok yang luar biasa dahsyat di dada Clarissa seketika meredam, berganti dengan gelombang lega yang bercampur aduk. Kebenaran bahwa suaminya bukan seorang Presdir triliuner rasanya jauh lebih masuk akal bagi logikanya daripada mimpi buruk yang baru saja ia dengar.

"Jadi... kamu bukan pemilik Pradipta Group?" bisik Clarissa dengan suara bergetar.

"Pria miskin seperti aku mana mungkin jadi pemilik konglomerat?" sahut Rendy dingin, memperjelas kebohongannya demi menjaga skenario penyamarannya tetap berjalan. "Aku bekerja banting tulang jadi sopir malam demi mengumpulkan uang."

Tanpa memedulikan dinginnya respons Rendy, Clarissa bangkit dari lantai dengan sisa tenaganya. Keraguan dan ketakutan akan status kaya-miskin seketika runtuh. Yang tersisa di dalam benak Clarissa hanyalah sosok pria yang selalu melindungi dan menghangatkan malam-malam dinginnya.

Dengan gerakan nekat dan penuh keputusasaan, Clarissa menyeberangi jarak di antara mereka.

SRET!

Clarissa melingkarkan kedua tangannya erat-erat di pinggang tegap Rendy dari belakang. Tubuhnya merapat tanpa celah pada punggung kokoh mantan suaminya.

Clarissa menyandarkan dadanya yang hangat dan membusung di balik gaun marun tepat pada belikat Rendy. Napasnya yang terengah-engah dan berantakan mengusap kain jas abu-abu Rendy, menyalurkan getaran keputusasaan dan rindu yang amat mendalam.

"Mas... tidak peduli kamu cuma sopir atau kuli, aku tidak peduli!" jerit Clarissa memilu di punggung Rendy, meremas kain jas suaminya dengan jemari yang gemetaran hebat. "Aku tidak butuh uang lima puluh juta atau mobil mewah... Aku cuma butuh kamu, Mas! Tolong kembali padaku..."

Gesekan rapat di antara dada hangat Clarissa dan punggung tegap Rendy menyebarkan arus panas yang membakar memori masa lalu mereka. Dekapan erat Clarissa menyalurkan detak jantungnya yang berpacu liar, beradu langsung dengan ketenangan tegap tubuh Rendy. Usapan jemari Clarissa di pinggangnya mengingatkan Rendy pada setiap malam di mana wanita ini pasrah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya di atas kasur busa kusam mereka.

Desahan halus dan racauan rindu Clarissa terus bergema di leher belakang Rendy. "Aku menyesal, Mas... Malam itu aku takut Ibu memenjarakanmu... Aku sangat mencintaimu, Mas Rendy... Tolong peluk aku lagi seperti dulu..."

Rendy terpaku sejenak. Kehangatan fisik bekas istrinya yang merayap di punggungnya sempat memantik desir hangat di dadanya. Namun, ingatan saat Clarissa menarik tangannya dari genggamannya di bawah meja—membiarkan surat cerai itu ditandatangani—seketika membekukan kembali rasa iba yang baru saja muncul.

Rendy memegang kedua pergelangan tangan Clarissa yang melingkari perutnya. Dengan gerakan tegas namun tidak kasar, Rendy melepaskan pelukan hangat tersebut, merenggangkan jarak di antara mereka.

"Pernikahan kita sudah selesai, Clarissa," kata Rendy tanpa menoleh ke belakang. "Surat cerai itu sudah sah secara hukum."

"Mas! Jangan berkata seperti itu!" tangis Clarissa pecah lagi, mencoba menggapai lengan Rendy.

Namun, sebelum Rendy sempat melangkah keluar dari lorong privat restoran tersebut—

TAP! TAP! TAP!

Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa dan bising bergema keras dari arah pintu utama lorong.

"Clarissa! Di mana kamu?!" suara melengking Ibu Rosma bergema panik, memecah kesunyian lorong.

Rosma muncul di ambang pintu lorong dengan napas terengah-engah, didampingi oleh Dion yang memegang ponsel dengan raut wajah murka. Rosma sengaja menyusul ke restoran karena khawatir transaksi pinjaman lima miliar dengan Pak Hadi mengalami hambatan.

Namun, langkah Rosma dan Dion seketika terhenti kaku saat mata mereka menangkap pemandangan di dalam lorong temaram tersebut.

Mata Rosma membelalak lebar melihat Clarissa berdiri dengan gaun marun yang sedikit kusut dan wajah basah oleh air mata. Dan tepat di hadapan putrinya, berdiri seorang pria berjas abu-abu gelap nan megah yang sangat kenal di ingatan mereka.

"Kamu?!" jerit Rosma dengan nada melengking penuh kecurigaan, menunjuk lurus ke wajah Rendy. "Rendy?! Kenapa sampah miskin seperti kamu bisa ada di restoran mewah ini?!"

Sambungan Bab 16

Dion ikut maju dua langkah dengan raut wajah memerah padam. Matanya menyapu penampilan Rendy dari ujung kepala hingga ujung kaki—jas mahal, kemeja sutra tanpa cela, serta jam tangan eksklusif yang berkilau di bawah lampu remang lorong. Dengki dan kemurkaan seketika membakar dadanya.

"Bagus ya!" bentak Dion dengan nada memaki. "Pantas saja kamu tidak mau ganti rugi soal jam tanganku! Ternyata kamu mencuri jas dan jam tangan mahal milik orang lain hanya untuk bergaya di restoran bintang empat!"

Ibu Rosma melangkah mendekat seraya berkacak pinggang, melemparkan tatapan jiji yang amat pekat pada mantan menantunya. "Clarissa! Kenapa kamu malah berduaan dengan penjahat ini?! Mana Pak Hadi?! Jangan bilang kamu merusak janji pertemuan lima miliar kita gara-gara pria pembawa sial ini!"

Clarissa menyapu air matanya dengan kasar, pasang badan di depan Rendy dengan sisa keberanian yang ia miliki. "Cukup, Bu! Cukup! Mas Rendy bekerja secara halal di sini! Dia yang menyelamatkanku dari kelakuan bejat Pak Hadi!"

"Menyelamatkanmu?!" cibir Rosma melengking. "Pak Hadi itu pengusaha kaya yang mau bantu bayar utang keluarga kita! Kalau kamu menolak dia gara-gara sopir sewaan tak berguna ini, esok pagi kita semua bakal ditendang ke jalanan!"

Rendy melangkah satu pijakan ke depan, menggeser tubuh Clarissa secara halus ke belakang punggung tegapnya. Sorot mata Rendy begitu membekukan, memancarkan kilatan wibawa Presdir yang membuat bentakan Rosma seketika tertahan di tenggorokan.

"Ibu Rosma," suara Rendy mengudara—begitu berat, tenang, dan sarat akan dominasi mutlak. "Simpan teriakanmu untuk esok pagi. Karena saat matahari terbit, tidak ada satu pun pengusaha di kota ini yang akan sudi memberi keluargamu pinjaman sepeser pun."

"Kamu... kamu mengancam saya?!" seru Rosma gagap, mencoba menutupi rasa gentar yang mendadak menyerang dadanya akibat tatapan mematikan Rendy.

Rendy tidak membalas. Ia merapikan kerah jas mewahnya, menatap Dion dan Rosma dengan pandangan meremehkan, lalu berjalan santai melewati mereka begitu saja diiringi Bagas dan para pengawal tegapnya.

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!