Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 : Selir Agung yang mulai panik
Kabar mengenai Kaisar Yan yang menghujani Istana Fengyi dengan hadiah mewah segera menyebar ke seluruh penjuru istana belakang bagaikan wabah. Tidak butuh waktu lama bagi berita tentang Kaisar yang mendadak hobi berkunjung ke kediaman Xia Ruo sambil pamer dada bidang untuk sampai ke telinga Selir Agung, Cui Lian.
Di Istana Ruyi yang megah, suasana mendadak terasa mencekam. Bunyi nyaring porselen mahal yang pecah berkeping-keping terdengar dari dalam kamar utama.
"Kurang ajar! Wanita barbar itu benar-benar menggunakan sihir apa sampai Yang Mulia bisa sebegitu nya memperhatikan nya?!" pekik Selir Agung Cui Lian dengan wajah murka.
Rambutnya yang disanggul rapi bergetar hebat seiring dengan napasnya yang memburu. Di depannya, seorang pelayan senior bernama Bibi Liu langsung berlutut gemetaran di atas lantai dingin, tidak berani mendongak.
"Ampun, Selir Agung. Menurut laporan dari mata-mata kita, Yang Mulia Kaisar bahkan sengaja membawakan sup sarang burung dingin sendiri untuk Permaisuri. Meskipun... meskipun Permaisuri memperlakukan Yang Mulia dengan sangat kasar, Yang Mulia sama sekali tidak marah," lapor Bibi Liu dengan suara cicitan.
Mendengar hal itu, cengkram jemari Cui Lian pada sandaran kursi kayunya semakin mengencang hingga kukunya yang dicat merah meruncing hampir patah. Cui Lian adalah selir yang paling diunggulkan di istana ini. Ayahnya adalah Menteri Utama yang memegang pengaruh besar di pemerintahan. Selama ini, dia selalu mengira posisi Permaisuri akan segera menjadi miliknya setelah rencana kudeta tempo hari berhasil menyingkirkan Kaisar dan Xia Ruo.
Namun, siapa sangka Kaisar Yan justru selamat dan kini malah menempel ketat pada Xia Ruo seperti prangko?
"Ini tidak bisa dibiarkan," desis Cui Lian, matanya memancarkan kilat kebencian yang pekat. "Dulu saat berburu di hutan, pembunuh bayaran yang aku kirim secara rahasia gagal menghabisi mereka berdua di dalam goa. Sekarang, jika Xia Ruo berhasil merebut hati Yang Mulia sepenuhnya, posisi ayahku di pemerintahan dan posisiku di istana belakang akan terancam habis!"
Cui Lian bangkit dari kursinya, berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Pikirannya berputar keras. Dia tahu betul bahwa Xia Ruo yang sekarang sama sekali berbeda dengan Xia Ruo yang dulu penakut dan lemah. Xia Ruo yang sekarang adalah makhluk barbar berkepribadian preman yang tidak takut memiting leher orang. Jika dia menggunakan cara kekerasan lagi di dalam istana, Kaisar Yan pasti akan langsung mencurigainya.
"Selir Agung, apa yang harus kita lakukan sekarang? Jika kita diam saja, kekuasaan di istana belakang akan sepenuhnya jatuh ke tangan Permaisuri," ujar Bibi Liu memprovokasi.
Cui Lian berhenti melangkah. Sebuah senyuman licik dan dingin perlahan terukir di bibirnya yang merah merona. "Jika kita tidak bisa membunuhnya dengan pedang, kita bunuh dia dengan reputasi. Seorang permaisuri yang barbar mungkin masih bisa dimaafkan, tapi bagaimana jika dia dituduh melakukan dosa paling besar di istana ini?"
Cui Lian menoleh ke arah Bibi Liu, memberikan isyarat agar pelayan setianya itu mendekat. Dia kemudian membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat rendah.
"Pergilah temui orang-orang kita di kediaman Ibu Suri. Cari tahu obat apa yang biasa dikonsumsi Ibu Suri akhir-akhir ini. Kita akan membuat sebuah panggung pertunjukan yang sangat meriah untuk menyambut kejatuhan Xia Ruo," bisik Cui Lian penuh kemenangan.
Sementara itu, di Istana Fengyi, Ara sama sekali tidak tahu kalau dirinya sedang dijadikan target konspirasi tingkat tinggi.
Dia saat itu sedang asyik mengajari Yuan-er cara bermain kartu remi tiruan yang dia buat sendiri dari potongan kertas tebal, sambil sesekali mengomel karena teh yang disajikan rasanya kurang manis.
Ara sama sekali tidak menyadari bahwa badai fitnah baru yang luar biasa besar sedang mengintai posisinya sebagai Permaisuri.
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣