Indonesia
NovelToon NovelToon
Genius Keturunan Klan Phoenix

Genius Keturunan Klan Phoenix

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.

Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.

Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Dua Bunga yang Bersinar

Zi Lan masih menatap ke arah pintu tempat Riu Lin pergi, senyum tak lepas dari bibirnya.

"Kau tahu, Tuan Riu Zheng..." ucapnya pelan, "bakat seputih ini sungguh jarang ditemukan, bahkan di tempat asalku. Di alam yang begitu miskin energi, ia mampu melangkah sejauh ini... sungguh menakjubkan."

Belum sempat Riu Zheng menjawab, pintu terbuka lagi. Riu Lin kembali masuk, namun kali ini tidak sendirian. Di sampingnya berdiri Sui Lan, yang tadi menunggu di luar dan ikut masuk karena penasaran.

Sui Lan menunduk sopan saat melihat ada tamu penting, lalu berdiri tenang di samping Riu Lin.

Zi Lan hendak menyapa, namun kalimatnya tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak, napasnya tertahan. Ia menatap Sui Lan lekat-lekat, dari ujung kaki hingga ke wajah, lalu kembali menatap mata gadis itu.

Riu Zheng menyadari perubahan sikapnya. "Tetua Zi Lan... ada apa?"

Zi Lan tidak menjawab seketika. Ia melangkah maju perlahan, menatap Sui Lan seakan tak percaya pada pandangannya. Ia merasakan aliran energi yang mengalir tenang namun kokoh di tubuh gadis itu — murni, pekat, dan luar biasa.

"Anak ini..." suaranya bergetar pelan, "siapa namanya?"

"Ini Sui Lan, Tetua. Ia tumbuh bersama kedua anakku. Bagi kami, ia bukan sekadar teman — ia sudah seperti anak sendiri, saudara kandung bagi Riu Han dan Riu Lin," jawab Riu Zheng.

Zi Lan mengangguk pelan, matanya tak beralih sejenak dari wajah Sui Lan.

"Energinya..." gumamnya, "sama murninya, sama dalamnya, bahkan sama hebatnya dengan Riu Lin. Dua bakat selevel ini muncul di tempat yang sama, di alam yang sama... sungguh tak masuk akal."

Ia melangkah mendekat, menatap kedua gadis itu bergantian.

"Riu Lin... bercahaya seperti matahari pagi yang mewarisi keagungan ibunya. Sementara kau..." pandangannya berhenti pada Sui Lan, "...kau bercahaya seperti bulan purnama yang tenang namun tak pernah redup. Tingkat kultivasi kalian sama, kekuatan jiwa kalian seimbang, dan bakat kalian... seolah-olah diciptakan untuk berdiri berdampingan."

Sui Lan tersipu namun tetap tenang. "Tetua... saya hanya berusaha sebaik yang saya bisa."

Zi Lan tersenyum, kali ini senyumnya tulus dan hangat. "Jangan meremehkan dirimu, Nak. Bakat seperti ini tidak didapat hanya dengan berusaha — ia adalah anugerah yang langka. Di tempat asalku, mereka yang memiliki bakat sepertimu akan diperebutkan oleh klan-klan besar. Di sini, di alam yang terbatas ini, kalian berdua justru tumbuh bersama, saling menguatkan tanpa menyadari betapa istimewanya kalian."

Ia menoleh ke arah Riu Zheng.

"Tuan Riu Zheng... kau tidak hanya membesarkan putri yang mewarisi darah Phoenix. Di rumahmu ini, tumbuh pula permata yang tak kalah berharganya. Sui Lan memiliki potensi yang setara dengan Riu Lin. Jika suatu hari nanti kalian naik ke tempat yang lebih tinggi, kekuatan keduanya akan tumbuh bersamaan, saling melengkapi, dan siapa pun yang melihat mereka akan tahu — kedua gadis ini bukan orang sembarangan."

Riu Zheng tersenyum haru. Ia memang selalu tahu bahwa Sui Lan istimewa, namun mendengar pengakuan dari seseorang yang berpengalaman sejauh Zi Lan membuat hatinya terasa hangat.

"Terima kasih, Tetua. Kami memang selalu menganggapnya bagian dari keluarga."

Zi Lan mengangguk puas. Ia kembali menatap kedua gadis itu.

"Kalian berdua... jaga persahabatan ini. Bakat yang setara seperti ini jarang ditemukan. Kalian akan tumbuh menjadi kekuatan yang luar biasa, asalkan tetap berdiri berdampingan. Ingatlah kata-kataku ini."

Riu Lin dan Sui Lan saling berpandangan, lalu tersenyum seraya mengangguk.

"Baik, Tetua," jawab mereka berbarengan.

Percakapan itu berlanjut hingga larut malam. Zi Lan akhirnya memutuskan untuk bermalam di kediaman Riu Zheng, agar dapat beristirahat sekaligus membicarakan hal-hal yang belum tuntas. Di sinilah ia menyampaikan maksud kedatangannya yang sesungguhnya — membawa Riu Lin pulang ke Negeri Empat Wilayah.

Mendengar hal itu, wajah Riu Zheng seketika muram.

"Tetua..." suaranya terdengar berat, "saya baru saja ditinggalkan putra saya. Ia pergi ke tempat yang jauh, dan saya tak tahu kapan bisa bertemu dengannya lagi. Sekarang... sekarang saya harus melepaskan putri saya juga?" Ia menunduk, dadanya sesak oleh perpisahan yang datang bertubi-tubi.

Zi Lan menghela napas panjang, penuh pengertian. "Saya memahami perasaanmu, Tuan Riu Zheng. Sungguh saya paham. Bukan saya tidak menghargai tempatmu atau dirimu — justru sebaliknya. Namun kenyataannya tidak bisa kita pungkiri: Fang Yi Lan adalah putri Klan Fang, keturunan langsung darah Phoenix. Ia pergi tanpa pamit, menikah tanpa restu orang tuanya. Jika ia masih hidup, mungkin semuanya bisa dibicarakan, namun kini ia telah tiada. Tanpa kehadirannya, saya tak bisa menjamin apakah kakek dan neneknya akan menerima keturunannya kembali."

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan lembut, "Namun Riu Lin berbeda. Ia membawa darah Klan Fang yang murni, wajahnya persis seperti ibunya, dan senyumnya pun sama. Kehadirannya akan menjadi penawar duka yang mendalam bagi kedua orang tua Yi Lan. Melihatnya, mereka seakan melihat putri mereka kembali. Itulah sebabnya Riu Lin harus ikut — bukan sekadar sebagai keturunan, melainkan sebagai penjelmaan kembali putri yang hilang."

Riu Zheng terdiam. Ia tahu kata-kata Zi Lan benar. Namun melepaskan putri satu-satunya yang ada di sisinya... hatinya terasa perih.

Belum sempat ia menjawab, pintu terbuka perlahan. Riu Lin berdiri di sana, sepertinya telah mendengar sebagian percakapan itu. Ia melangkah masuk, menatap ayahnya, lalu pada Zi Lan.

"Ayah... Tetua Zi Lan..." suaranya tenang namun tegas, "jika saya harus pergi, saya tidak akan berangkat sendirian. Sui Lan harus ikut bersama saya. Di mana pun saya berada, saya tidak bisa tanpa dia. Dia adalah saudara, sahabat, dan bagian dari diri saya sendiri."

Zi Lan tersenyum lembut. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. "Saya sudah menyadarinya, Riu Lin. Bakat Sui Lan tidak kalah darimu. Di tempat yang lebih tinggi, kekuatannya akan berkembang pesat. Ia tidak pantas tetap terhalang di sini. Membawanya bersama kalian justru hal yang tepat."

Riu Lin tersenyum bahagia. "Benarkah, Tetua?"

"Benar. Kalian berdua tumbuh bersama, seimbang, dan saling melengkapi. Memisahkan kalian justru akan merugikan keduanya." Zi Lan menoleh ke arah Riu Zheng. "Bagaimana, Tuan? Biarkan mereka berdua pergi bersama. Riu Lin tidak sendirian, dan Sui Lan tidak akan terpisah dari keluarganya yang baru. Mereka akan menjaga satu sama lain."

Riu Zheng menatap putrinya, lalu ke arah Sui Lan yang kini muncul di ambang pintu menunggu keputusan. Ia melihat kebahagiaan sekaligus tekad di mata mereka. Perlahan, ia mengangguk.

"Baiklah..." suaranya bergetar namun tegas. "Pergilah berdua. Jaga diri kalian baik-baik. Ingat, di mana pun kalian berada, rumah ini tetap menanti kepulangan kalian."

Ia melangkah mendekat, merangkul kedua gadis itu. "Jaga satu sama lain. Dan sampaikan salam hormatku kepada kakek dan nenekmu, Riu Lin."

"Baik, Ayah," jawab mereka berdua seraya menahan air mata.

Zi Lan tersenyum melihat kehangatan itu. "Istirahatlah malam ini. Besok pagi kita berangkat. Tidak perlu terburu-buru — perjalanan ini akan kita lalui dengan tenang."

Malam itu, perkampungan Riu terasa sunyi namun hangat. Riu Lin dan Sui Lan berbagi cerita hingga larut, menyadari bahwa langkah besar menanti mereka — sebuah perjalanan menuju dunia yang lebih luas, tempat asal ibunda Riu Lin, dan tempat di mana bakat mereka akan bersinar sepenuhnya.

1
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ceritanya makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍👍
Lanjut Up Thor..
𝕸𝕬𝕾𝕿𝕰𝕽𝕾 𝕷𝕰𝕰, 𝕬𝕸𝕶
Luar Biasa, Mantap
sibaweh abduh
cerita yang sangat baik thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Alur Ceritanya bagus dan menarik untuk dibaca, Mantap 👍👍
Bg Byl
Cerita yg menarik dg alur yg mengalir baik dan tata bahasa yg bagus. keren 👍❤️
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Petualangan Riu Han makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍
syarif ibrahim
makin sakti nih.... 👍
syarif ibrahim
akhirnya.... terobati sudah kerinduan selama 20 tahun.... 👍
syarif ibrahim
kaget... ternyata sudah habis ceritanya..... up lagi Thor....... 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ceritanya makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!