Indonesia
NovelToon NovelToon
Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: bunda Qamariah

"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."

Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.

Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.

Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.

Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Flashback kejadian malam itu

Flashback dimulai.

Kilat samar terlihat menyambar di langit malam. Zidan melangkah masuk ke dalam sebuah restoran dengan jaket hitam melekat ditubuhnya.

Dia memilih meja di pojok dekat jendela besar, duduk sendirian seraya memainkan ponselnya seperti sedang bertukar pesan dengan seseorang.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dari balik kaca, terlihat rintik gerimis yang semula tipis perlahan berubah menjadi curahan air yang mulai deras.

Zidan melambaikan tangan memanggil pelayan.

"Iya, Pak. Mau pesan apa?" tanya pelayan yang bergegas menghampirinya.

"Minta kopi hitam satu. Jangan terlalu manis, tapi juga jangan terlalu pahit," ujar Zidan melirik sekilas, dan lebih fokus pada ponselnya.

"Baik, Pak. Apa ada tambahan pesanan makanan?"

"Tidak usah. Itu saja," sahut Zidan singkat.

Pelayan itu mengangguk sopan lalu bergegas menuju area dapur.

Tanpa Zidan menyadari, sebuah intrik kecil sedang terjadi di meja seberang.

Seorang wanita yang duduk bersama kekasihnya menyelinap pergi ke arah dapur. Wanita itu menyuap salah satu staf dapur agar memasukkan obat perangsang dosis tinggi ke dalam cangkir kopi yang dipesan oleh kekasihnya sendiri.

Namun, kecerobohan terjadi. Cangkir kopi hitam yang dipesan Zidan memiliki tampilan yang identik dengan cangkir milik pria tersebut. Tanpa menyadari tertukarnya nampan, pelayan dengan polosnya membawa cangkir beracun itu menuju meja Zidan.

"Pak, ini pesanan kopi hitamnya. Selamat menikmati," ucap pelayan seraya meletakkan cangkir beraroma pekat itu di atas meja.

"Terima kasih," jawab Zidan singkat. Mengangkat cangkir tersebut, siap menyeruput.

Namun, saat mendekatkannya ke hidung, nalurinya tergerak. Aroma kopi itu sedikit berbeda—ada sensasi kimiawi samar yang tercium.

Sebagai seorang dokter, inderanya sangat peka terhadap perubahan zat sekecil apa pun. Ia meneliti permukaan kopi itu dengan kening berkerut, lalu kembali memanggil pelayan yang baru saja melangkah pergi.

"Permisi. Kopi apa yang kamu siapkan ini? Aromanya sedikit aneh," tegur Zidan penuh selidik.

Pelayan itu tampak bingung dan gugup. "M-maaf, Pak? Itu kopi hitam biasa sesuai resep restoran kami. Tidak ada yang berbeda sama sekali, Pak."

Zidan menatap cangkir itu sejenak. Pelayan itu terlihat jujur dan tidak mencurigakan, membuat Zidan berpikir mungkin itu hanya perbeda varietas biji kopi yang digunakan.

Drtt.. drtt..

Ponsel di atas mejanya berdering. Sebuah panggilan dari rumah sakit masuk. Zidan segera mengangkatnya, tahu itu pasti penting.

"Hello,"

"Halo, Dokter Zidan," suara penanggung jawab shift malam terdengar terburu-buru di seberang telepon. "Mohon maaf mengganggu waktunya, Dok. Kalau bisa, bolehkah Anda segera ke rumah sakit sekarang? Ada masalah mendesak di ruang operasional yang membutuhkan otorisasi dan penanganan langsung dari Anda."

"Baiklah. Saya akan segera ke sana," jawab Zidan kemudian mematikan sambungan telepon dan melemparkan pandangan ke luar jendela.

Hujan deras kini benar-benar mengguyur jalanan. Tak ingin membuang waktu dan mengabaikan rasa haus yang mendadak menyerang tenggorokannya, Zidan tanpa berpikir panjang langsung menenggak kopi itu hingga tersisa separuh.

Ia menyimpan selembar uang kertas 50 ribu di atas meja untuk melunasi minumannya, lalu bergegas keluar dari restoran melewati malam—tanpa menyadari bahwa racun obat perangsang itu mulai mengalir cepat mulai bereaksi.

Zidan mulai merasa tidak nyaman. Memegang kemudi erat, kondisi fisiknya perlahan memburuk dengan sangat cepat.

Suhu tubuhnya melonjak drastis, rasa gerah yang membakar dari dalam. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Dia merasa ada yang tidak beres di kopi tadi.

Hujan semakin deras. Pandangan Zidan perlahan mengabur, namun ia nekat menekan pedal gas lebih dalam demi cepat mencapai rumah sakit.

Begitu tiba di pekarangan rumah sakit, Zidan bahkan tidak memarkirkan kendaraannya dengan benar. Ia menepi sembarangan di depan pintu masuk utama, lalu keluar dari mobil dengan langkah sempoyongan dan sedikit berlari ringan.

Seorang petugas keamanan yang bersiaga langsung menghampirinya saat melihat keadaannya seperti tidak baik-baik.

"Pak, tolong bawa mobil saya ke area parkir," ucap Zidan, suaranya terdengar serak dan berat.

"Baik, Dokter." sahut petugas keamanan itu sigap.

"Terima kasih," ujar Zidan singkat sebelum menyerahkan kunci.

"Dokter Zidan kenapa ya? Dia seperti tidak sehat," gumam security melihat pemuda itu yang tampak oleng.

Zidan menerobos masuk ke dalam lobi utama, memotong jalur menuju lif khusus, dan langsung naik ke ruang kerjanya di lantai paling atas untuk mengisolasi diri.

Di lantai bawah, tak jauh dari area parkir, Humaira baru saja merapikan tasnya untuk bersiap pulang.

Ia sempat melihat mobil Zidan yang baru saja diambil alih oleh petugas keamanan.

Karena hujan yang sangat deras dan dia berkendara motor, mau tidak mau dia harus menunggu sampai hujan sedikit reda baru bisa pulang.

"Humaira!" panggil seorang dokter senior yang berjalan cepat ke arahnya.

"Ya, Dokter?" sahut Humaira santun.

"Apa kau melihat Dokter Zidan sudah datang?"

"Sepertinya sudah, Dok. Tadi saya sempat melihat mobil beliau baru saja diparkirkan di depan," jawab Humaira.

Dokter senior itu menghela napas lega, lalu menyodorkan sebuah map tebal ke tangan Humaira.

"Baguslah. Tolong antarkan beberapa berkas penting ini ke ruang kerja Dokter Zidan, ya. Minta beliau menandatanganinya segera."

Humaira melirik berkas itu dengan ragu. "Maaf, Dokter... apa Dokter bisa mengantarkannya sendiri? Jam dinas saya sudah selesai dan saya sudah bersiap untuk pulang." Jelas gadis itu.

"Tolong bantu saya kali ini saja, Humaira," desak dokter itu setengah berbisik. "Saya sungkan kalau harus mengganggu direktur malam-malam begini. Lagipula, hitung-hitung kamu kan sebentar lagi jadi keponakannya."

Iya, memang beberapa staf medis sudah mendengar kabar mengenai rencana pernikahan Zidan dengan Melodi—tante Humaira.

Tak ingin memperpanjang pembahasan yang membuatnya semakin lama dirumah sakit, Humaira akhirnya mengalah.

"Baiklah, Dok. Saya antarkan sekarang."

Gadis itu menerima map tersebut, lalu berbalik melangkah menuju lif untuk mengantarkan dokumen itu ke ruangan Zidan—tanpa pernah membayangkan bahaya besar yang sedang menunggunya di atas sana.

_

Tok... tok... tok.

"Dokter Zidan?" Humaira mengetuk pintu.

Karena tak kunjung ada sahutan dari dalam, ia memberanikan diri memutar gagang pintu dan melangkah masuk.

Pemandangan di dalam ruangan membuat gadis itu kaget. Ia melihat Zidan terduduk lemas di lantai, bersandar pada kaki meja dengan kemeja yang sudah berantakan.

"Dokter Zidan!" Panggil Humaira setengah berlari menuju meja kerja untuk meletakkan berkas, lalu bergegas menghampiri pria itu.

Humaira berlutut, mencoba membimbing lengan Zidan untuk membantunya berdiri. "Anda kenapa, Dokter?" Cemas Humaira menopang tubuh kekar pria itu.

"Tolong... kamu..." bisik Zidan serak. Suaranya tertahan oleh gejolak hebat yang makin liar menuntut di dalam tubuhnya.

"Minta tolong apa, Dokter?"

Gadis itu meneliti wajah Zidan dari dekat. Keringat mengucur deras membasahi dahi dan leher pria itu, napasnya tersengal-sengal berat, dan sorot matanya yang tajam tampak memerah dan liar.

Saat jemari Zidan mencengkeram lengan Humaira, tubuh pria itu menegang hebat—mencari pelampiasan atas rasa terbakar yang menyiksanya.

Humaira terpaku. Sebagai seorang perawat, nalurinya langsung menangkap situasi berbahaya. 'Obat perangsang!' batin Humaira shock.

Sadar dirinya berada dalam bahaya besar, Humaira bertindak cepat. Ia merangkul tubuh Zidan, memapahnya sejengkal lalu mendorong tubuh pria itu ke atas sofa terdekat yang terletak diruangan Zidan.

Bruk!

Zidan jatuh terjerembap di atas sofa. Humaira buru-buru; ia berbalik dan berniat melarikan diri menuju pintu keluar.

Namun, refleks Zidan dalam pengaruh obat terlalu cepat. Tangan kokoh pria itu melayang, mencengkeram pergelangan tangannya, menarik Humaira hingga tubuh gadis itu terhempas di atas sofa.

"Dokter! Dokter Zidan, sadar! Ini aku! Tolong! Tolong!" teriak Humaira histeris, berusaha memukul dan mendorong dada bidang pria itu yang mulai menindihnya.

Namun, teriakan dan rintihan Humaira sama sekali tak menembus kesadaran Zidan yang telah tenggelam. Apa lagi lantai paling atas adalah tempat yang sangat terbatas. Jarang sekali ada petugas yang bisa kesana karena lantai itu khusus untuk yang berurusan dengan direktur saja.

Terbelenggu oleh efek obat dosis tinggi, akal sehat pria itu telah sirna sepenuhnya. Yang tersisa hanya insting liar untuk melepaskan dahaga panas yang menyiksanya—mengubah malam hujan itu menjadi awal dari takdir dan luka panjang bagi Humaira.

Flashback Selesai.

Humaira tersentak dari ingatan mengerikan itu.

Air matanya menetes makin deras. Malam laknat itu telah merenggut segalanya darinya, meninggalkan janin yang kini tumbuh di rahimnya, yang baru dia ketahui sekitar seminggu lalu tentang adanya kehidupan disana.

Sementara Zidan—pria yang melakukan itu—bahkan sama sekali tidak mengingat wajah wanita yang pernah dia hancurkan.

Dan itulah alasan kenapa selama pernikahan mereka, Humaira sering datar dan dingin pada Zidan.

Ternyata, diam-diam wanita itu menaruh dendam amarah dan kebencian pada Zidan karena merusaknya secara paksa.

Usai malam nahas tersebut, tubuh Humaira dipenuhi luka-luka ringan dan memar di beberapa bagian—bukti betapa kerasnya ia memberontak dan mencoba melepaskan diri dari kungkungan Zidan yang tak sadarkan diri.

Rasa sakit secara fisik dan trauma mendalam menyiksanya selama berhari-hari. Bahkan sampai saat ini. Setiap malam dia sering terbangun dari tidur dengan tubuh dibanjiri keringat.

Tragisnya, seminggu setelah kejadian itu, Humaira tetap berada di sekitar Zidan dan bahkan meminta bantuan kecil padanya terkait pekerjaan di rumah sakit.

Namun, Zidan yang sama sekali tidak mengingat kejadian malam itu bersikap biasa-biasa saja, dan menganggap Humaira tak lebih dari sekadar perawat biasa di rumah sakitnya.

Pria itu tidak pernah menyadari raut ketakutan, luka memar yang tersembunyi di balik seragam perawat, maupun pandangan terluka dari gadis yang telah ia renggut kesuciannya..

Kejadian kelam itu terjadi tepat sebulan sebelum hari pernikahan Zidan digelar—pernikahan yang pada akhirnya menuntun Humaira menggantikan posisi Melodi di atas pelaminan atas nama martabat keluarga.

Itulah kenapa usai pernikahan beberapa hari, dia langsung mengurus surat cerai menunggu sampai Melodi kembali baru menyerahkan pada Zidan.

Dia tidak mau menghabiskan sisa hidupnya pada laki-laki yang dia benci. Soal pertanyaannya tadi diruangan Zidan, dia hanya memancing pria itu agar mau segera menceraikannya. Karena dia tahu, Zidan tidak akan pernah memilihnya, Humaira tahu betapa pria itu sangat mencintai melodi.

Bukan cuma itu. Ternyata dia juga sudah menyiapkan surat resign dari rumah sakit Zidan. Begitu mereka resmi bercerai, maka dia akan langsung mengajukan surat tersebut.

Humaira mengusap air matanya hingga bersih, menarik napas panjang untuk kembali menguatkan diri. .

Berdiri tegak merapikan seragamnya di depan cermin toilet. Ia tahu, ia harus kembali tampil tangguh di luar sana.

1
bunda n3
kamu salah pilih lawan zidan
Miranti Husna💥
pokoknya, mereka harus segera bercerai. aku nggk mau tahu. alva ama humaira harus nikah
Miranti Husna💥
arkhhhhhhhhb sumpah, satu cowok ini bener² bukin kesal baget zidannnnnnn alva rebut aja tu isterinya 😡
Miranti Husna💥
kak, kenapa ini barusan pendk banget updt bab nya kak.
Miranti Husna💥
🤣ngaku qja va, bilang kalau itu ankmu, biat dia bggk dpt apa² dasar pak direktor bikin Gemas....!!!
bunda n3
semoga aja Alva mengakui kalau itu anaknya😄
Miranti Husna💥
waduh. bakal ketahuan ni humaira sama zidan kalo lagi berbadan 2
Miranti Husna💥
Kayaknya alva itu serius suka sama humaira.
bunda n3
alamat Zidan tahu nih
Syakirah Dzaky
Alva kayakx emang mencintai Humairah dgn tulus , ayolah Humairah terima pak Alva , aku suka keluarga nya
bunda n3
Humaira terlalu overthinking
Miranti Husna💥
🤣 kocak! ternyata keluarga alva itu nggk semenyeramkan yg di luar 🤣 mereka itu sangat humoris, udah lengkap. astaga... tidak sabar menanti moment pernikahan mrka. semoga cepat bersatu ya🤭
Miranti Husna💥
cemburu, marah dan kecewa. hanya sebatas itu sj kemampuan mu zidan. tk punya perjuangan sm sekali 🤦
bunda n3
Mungkin dimata kamu Humaira itu ga berarti Zidan, tapi dimata orang lain dia sangat istimewa
bunda Qamariah: bener banget say
total 1 replies
partini
pacar setingan lah,
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂
bunda Qamariah: iya, emg. sekarang kebanyakan author2 baru say
total 5 replies
Syakirah Dzaky
Aduh tdk sabar liat Humairah cerai dan zidan trus nikah dgn pak Alva , pasti Humairah akan di ratukan dan sangat di syg di keluarga nya Alva . Tp ngomong2 apa judul novel org tua nya Alva Thor?
bunda Qamariah: aku tidak ada buat kak🤭 tapi kalo banyak yang mau, bisa kok dibuatkan
total 1 replies
Miranti Husna💥
noh, liat zidan, kamu sendiri kan yg kenak batunya. awalnya kamu membiarkan melodi untuk ngaku² hubungan kalian..sekgg alva gunakan itu sebagai umpan untuk membungkam mu
Miranti Husna💥
Dasar para manusia munafik dan toxic 😤 enak aja mau manfaatin humaira setelah berpikr humaira dkat sama org kaya😡 emang ibu sama anak sama saja! gila harta
bunda Qamariah: bener kak🤧
total 1 replies
bunda n3
Zidan secara tidak langsung menghina ibunya Humaira
bunda n3
nah Zidan, orang yang akan merebut istrimu ada di depanmu, blak-blakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!