Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tahta di Atas Badai dan Senyum yang Tersisa

Pendar lampu kilat kamera di ballroom Perkasa Tower akhirnya perlahan meredup, meninggalkan dengung bisik-bisik spekulasi dari puluhan wartawan yang masih terperanjat. Pernyataan Raymond bukan sekadar konferensi pers itu adalah deklarasi perang terbuka sekaligus pemindahan kekuasaan yang mengejutkan seluruh panggung bisnis ibu kota. Nama Clarissa kini bukan lagi sekadar bayang-bayang di balik skandal keluarga, melainkan pemegang kendali utama divisi investasi Perkasa Group.

Langkah kaki tegap Raymond membimbingku keluar dari ballroom menembus barikade pengawal, meninggalkan keriuhan media yang kini sibuk mengetik berita utama untuk siaran malam.

Di lantai 50 ruang kerja presiden direktur yang berlapis kaca kedap udara suasana terasa begitu kontras. Jakarta di balik dinding kaca membentang luas dalam balutan malam yang bertabur lampu kota. Di atas meja kerja mahoni berukuran raksasa, beberapa map dokumen hukum dan berkas restrukturisasi saham sudah tertata rapi.

Namun, perhatianku teralihkan oleh sosok wanita yang terduduk lemas di sofa kulit di sudut ruangan.

Ibu Siska masih berada di sana, didampingi oleh pengacaranya yang tampak menyerah. Penampilannya yang hancur berantakan kontras dengan keanggunan ruang kerja bertaraf internasional ini. Tatapan matanya yang kosong perlahan terangkat saat mendengar pintu ganda terpaku menutup.

"Raymond..." suara Ibu keluar lirih, parau, dan hampir tak terdengar. "Kamu benar-benar menghancurkanku? Demi... demi anak ini?"

Raymond melangkah santai menuju meja kerjanya, melepaskan jas hitamnya dan menyampirkannya di sandaran kursi. Pria 35 tahun itu tidak memandang Ibu dengan amarah, melainkan dengan keputusasaan dingin sebuah tatapan kepada seseorang yang tak lagi memiliki relevansi dalam hidupnya.

"Aku tidak menghancurkanmu, Siska," ujar Raymond datar, mengaitkan jemari tangannya di atas meja. "Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri sejak kamu memilih membawa rasa cemburu murahan dan ancaman media ke dalam urusan bisnisku. Dokumen di depanmu adalah satu-satunya jalur penyelamat yang kuberikan."

Pengacara Ibu menggeser map tebal di atas meja kaca menuju pangkuan Ibu. "Nyonya... ini draf kesepakatan terbaik. Tuan Perkasa menyetujui tunjangan bulanan yang cukup untuk kehidupan Nyonya, serta satu unit rumah di kawasan Jakarta Selatan. Tapi hak atas aset Perkasa Group, saham, dan mansion utama... sepenuhnya dicabut."

"Rumah kecil di Jakarta Selatan?!" Ibu tertawa sumbang, air mata kebingungan dan kekecewaan meluncur deras melintasi pipinya yang pucat. Ia menatapku dengan kilatan benci yang membara. "Clarissa! Kamu menang, iya?! Kamu puas melihat ibumu sendiri dibuang seperti sampah?!"

Aku melangkah pelan mendekati sofa tempatnya terduduk. Suara ketukan hak tinggi sepatu gadingku bergema mantap di atas lantai marmer. Aku membungkuk sedikit, menatap lurus ke dalam mata wanita yang dahulu meninggalkan Ayah dalam kemiskinan dan penderitaan.

"Puas?" suaraku berbisik halus, hanya diperuntukkan bagi pendengarannya. "Ini belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang dialami Ayah saat Ibu berpaling meninggalkan kami demi kemewahan pria ini. Ibu pikir harta bisa membeli segalanya... tapi malam ini, Ibu kehilangan harta, status, dan pria yang Ibu banggakan."

Ibu terperanjat, jemarinya gemetar hebat saat mencengkeram pulpen yang disodorkan pengacaranya. Dengan tangan bergetar dan tangis yang tak lagi mampu ditahan, wanita itu membubuhkan tanda tangannya di atas lembar perceraian dan pengalihan aset. Topeng nyonya rumah kaya resmi tanggal sepenuhnya dari hidupnya.

"Pak Herman, antar Siska keluar melalui pintu belakang," perintah Raymond tanpa berpaling sedikit pun dari layar komputernya.

Ibu dituntun keluar oleh pengacara dan pengawal. Saat pintu ganda itu kembali tertutup rapat, keheningan yang pekat kembali menguasai lantai tertinggi Perkasa Tower.

Aku berjalan mendekati dinding kaca raksasa, memandangi hamparan gemerlap lampu Jakarta yang membentang di bawah sana. Liontin blue sapphire 15 karat di dadaku memantulkan pendar biru pekat yang begitu dingin dan memikat. Balas dendamku telah tuntas. Ibu telah hancur, posisinya telah kuambil alih, dan status sosial yang dipujanya telah sirna.

Namun, ketika sebuah lengan tegap melingkar hangat di pinggangku dari belakang, dadaku berdesir kencang.

Raymond menarik tubuhku bersandar rapat pada dada bidangnya. Nafas hangatnya berembus di leherku saat pria itu menundukkan kepala, menyapukan bibirnya di sepanjang garis rahangku.

"Semuanya sudah selesai, Clarissa," bisik Raymond parau, suaranya yang bass mengunci seluruh jiwaku di tengah keheningan malam kota. "Ibumu sudah pergi. Media sudah di bawah kendaliku. Dan kamu... berdiri di puncak bersamaku."

Aku memutar tubuhku di dalam pelukannya, mendongak menatap iris mata hazel-nya yang memancarkan pendar dominasi dan obsesi yang tak pernah padam. Tanganku terangkat, membelai garis rahang tegasnya yang selalu membuatku bergetar.

"Apakah ini akhir dari permainan kita, Raymond?" tanyaku pelan dengan senyuman tipis yang sarat misteri. "Atau ini awal dari bahaya yang lebih besar?"

Raymond menyunggingkan senyuman dingin yang sangat memikat. Ia menundukkan kepalanya, mengikis habis jarak di antara kami, dan menyatukan bibir kami dalam sebuah ciuman dalam yang mengesahkan dominasi terlarang ini di atas tahta Jakarta.

Di lantai tertinggi gedung ini, di atas puing-puing kehancuran masa lalu, kami berdua menyambut babak baru bukan lagi sebagai korban atau pembalas dendam, melainkan penguasa yang siap membakar apa pun yang berani menghalangi jalan kami.

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!