Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.
Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.
Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 Petunjuk di Tengah Hutan
Lian Yue termenung cukup lama di depan jendela.
Tatapannya menembus halaman rumah yang diselimuti cahaya pagi, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Surat tua yang ditemukan malam sebelumnya terus berputar di kepalanya.
Simbol setengah lingkaran dengan tiga garis pendek.
Tulisan yang memperingatkan agar tidak mempercayai keluarga sendiri.
Dan nama yang sengaja dicoret berkali-kali.
Semakin dipikirkan, semakin banyak kemungkinan bermunculan.
Jauh di dalam hatinya, Lian Yue tidak pernah menyangka bahwa masa lalu pemilik tubuh ini begitu rumit.
Awalnya ia hanya mengira dirinya mendapatkan kesempatan kedua untuk menjalani kehidupan yang lebih sederhana. Tinggal di desa, mengolah ladang, mengumpulkan hasil hutan, lalu perlahan membangun kehidupan baru bersama keluarga Han.
Namun ternyata masa lalu tidak berniat melepaskannya.
Helaan napas berat keluar dari bibirnya.
Lian Yue menyandarkan dagu di telapak tangan.
"Kenapa hidup orang ini begitu merepotkan?"
Tidak ada jawaban.
Tentu saja.
Jendela juga tidak mungkin memberinya jawaban.
Lian Yue akhirnya mengangkat kepala.
Ia sadar bahwa terus duduk sambil memikirkan sesuatu yang belum pasti tidak akan memberinya jalan keluar.
"Baiklah."
Ia berdiri.
"Helaan napas dan terus berpikir tidak akan menghasilkan apa-apa."
Tangannya meraih keranjang bambu yang telah diletakkan di sudut ruangan. Cangkul kecil yang biasa digunakannya untuk menggali tanaman liar juga tidak lupa dibawa.
Jika ia belum bisa memecahkan misteri keluarga Xian, setidaknya ia masih bisa melakukan sesuatu yang nyata.
Mencari makanan.
Mengumpulkan tanaman obat.
Atau menemukan sesuatu yang dapat dijual.
Lagipula, kehidupan tetap harus berjalan.
Setelah mengunci pintu rumah, Lian Yue mulai menyusuri jalan setapak menuju gunung.
Tanah di ladang memang perlahan mulai pulih.
Belum sepenuhnya subur, tetapi dibandingkan beberapa waktu lalu, kondisinya sudah jauh lebih baik. Dengan sedikit kesabaran, mereka mungkin bisa kembali menanam lebih banyak tanaman.
Namun karena masih ada waktu luang, Lian Yue memutuskan untuk menjelajahi bagian gunung yang belum pernah ia datangi.
Ada dua alasan.
Pertama, ia masih penasaran dengan batu merah aneh yang ditemukan sebelumnya.
Kedua, jika keberuntungan berpihak kepadanya, mungkin ia bisa menemukan sesuatu yang bernilai dan menukarnya dengan beberapa keping real perak.
Baru beberapa puluh langkah dari rumah, sebuah suara terdengar dari belakang.
"Istriku!"
Lian Yue berhenti.
"Istriku! Tunggu!"
Suara itu semakin dekat.
Ia menoleh dan melihat Han Zheng berlari ke arahnya.
Pria itu membawa keranjang bambu di satu tangan. Di tangan lainnya terdapat sebuah topi jerami bertepi lebar.
Rambutnya sedikit berantakan akibat berlari.
Lian Yue berkedip.
"Kamu kenapa?"
Han Zheng berhenti di hadapannya sambil mengatur napas.
"Kenapa tidak memberitahuku kalau ingin pergi ke gunung?"
Lian Yue menatapnya.
"Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar."
Han Zheng mengangkat topi jerami di tangannya.
"Ini."
Lian Yue mengernyit.
"Topiku?"
"Kamu lupa."
"Oh."
Lian Yue baru menyadari bahwa sejak keluar tadi ia memang tidak membawa topi.
Sebelum ia sempat mengambilnya, Han Zheng sudah mengangkat tangan dan memasangkan topi itu di kepalanya.
Gerakannya sederhana.
Namun entah mengapa, Lian Yue merasa sedikit canggung.
"Sudah."
Han Zheng kemudian menggenggam tangannya dengan santai.
"Ayo."
Lian Yue menatap tangan mereka.
Kemudian ia menatap punggung Han Zheng yang sudah berjalan lebih dahulu.
Pria itu bahkan tidak terlihat menyadari bahwa tindakannya barusan membuat Lian Yue terdiam beberapa saat.
Lian Yue akhirnya tersenyum tipis dan mengikutinya.
Sepanjang perjalanan, Han Zheng ternyata jauh lebih banyak bicara dibanding biasanya.
Bukan pembicaraan penting.
Sebagian besar hanya hal-hal kecil.
Tentang jalan yang licin.
Tentang ayam tetangga yang menurutnya terlalu gemuk.
Tentang bagaimana ia hampir tersandung akar pohon pagi tadi tetapi berpura-pura tidak terjadi apa-apa karena takut ditertawakan.
Lian Yue beberapa kali tertawa mendengarnya.
Han Zheng sendiri tetap memasang wajah datar ketika menceritakan semuanya.
Justru itulah yang membuat ceritanya semakin lucu.
Lian Yue diam-diam memperhatikannya.
Hari ini Han Zheng berbeda.
Tidak terlalu mencolok.
Namun cukup untuk disadari oleh seseorang yang setiap hari hidup bersamanya.
Pria itu menjadi lebih banyak bicara.
Lebih sering memperhatikannya.
Bahkan sekarang ia sengaja mengejar hanya untuk mengantarkan sebuah topi.
Lian Yue tidak tahu sejak kapan perubahan itu mulai terjadi.
Namun mungkin...
Sejak malam itu.
Malam ketika ia pergi diam-diam untuk menemui seseorang yang diyakini berada di balik kedatangan utusan keluarga Xian.
Lian Yue pergi tanpa memberitahu keluarga Han.
Ia mengira semuanya akan selesai dengan cepat.
Nyatanya, perjalanan itu memakan waktu hampir satu hari penuh.
Ia berangkat malam dan baru kembali ketika matahari telah condong ke barat.
Ayah dan ibu mertuanya tentu saja khawatir.
Bahkan Han Zheng yang biasanya tenang terlihat tidak seperti biasanya ketika ia kembali.
Lian Yue sendiri tidak menyangka akan selama itu.
Dan hasil perjalanannya?
Hanya sebuah surat yang tidak jelas.
Tidak ada jawaban yang benar-benar memuaskan.
Tidak ada nama yang bisa ia pastikan.
Yang ada justru semakin banyak pertanyaan.
Lian Yue menghela napas pelan.
"Ah..."
Han Zheng langsung menoleh.
"Kenapa?"
"Nothing."
Han Zheng mengernyit.
"Kamu menghela napas."
"Memangnya aku tidak boleh?"
"Boleh."
Han Zheng berpikir sejenak.
"Lalu jangan terlalu sering."
Lian Yue menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena kalau terlalu sering menghela napas, nanti aku ikut khawatir."
Langkah Lian Yue terhenti sesaat.
Han Zheng terus berjalan seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa.
Lian Yue menatap punggungnya.
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Orang ini..."
Ia kembali menyusul.
Tak lama kemudian, mereka sampai di percabangan jalan.
Han Zheng menunjuk ke arah timur.
"Hari ini kita tidak ke sana?"
Lian Yue menggeleng.
"Tidak."
Ia menunjuk ke arah barat.
"Kita coba hutan sebelah barat."
Han Zheng mengangguk.
"Kenapa?"
"Gunung timur sudah terlalu sering kita datangi. Selain itu..."
Lian Yue melirik ke arah pepohonan yang menjulang di kejauhan.
"Belakangan ini terlalu banyak kejadian aneh di sana."
Han Zheng tidak bertanya lebih jauh.
"Baik."
Ia hanya mengikuti.
Begitulah Han Zheng.
Selama Lian Yue mengatakan ingin pergi ke suatu tempat, ia akan ikut.
Mereka pun memasuki hutan bagian barat.
Pepohonan di sana lebih rapat dibandingkan sisi timur. Cahaya matahari hanya berhasil menembus sela-sela daun dalam bentuk garis-garis tipis.
Udara terasa lebih lembap.
Lian Yue berjalan perlahan sambil memperhatikan sekeliling.
Tiba-tiba suara kicauan terdengar dari atas.
Ia mendongak.
Beberapa ekor burung kecil terbang rendah dari satu dahan ke dahan lainnya.
Dan kemudian suara yang hanya bisa didengarnya terdengar di kepalanya.
[Manusia aneh.]
Lian Yue tersenyum.
[Di sebelah sana ada banyak buah beri.]
[Manis dan asam.]
[Manusia suka memakannya.]
[Burung juga suka.]
Lian Yue menahan tawa.
"Terima kasih."
Han Zheng menoleh.
"Kamu bicara dengan siapa?"
"Burung."
Han Zheng terdiam.
Ia menatap burung-burung di atas mereka.
Kemudian menatap Lian Yue.
"Burung menjawabmu?"
Lian Yue mengangguk serius.
"Tentu."
Han Zheng tampak berpikir keras.
"Kalau begitu, nanti tanyakan apakah mereka tahu tempat mencari madu."
Lian Yue langsung tertawa.
"Kenapa?"
"Karena aku ingin madu."
"Baiklah. Nanti kutanyakan."
Tidak lama kemudian, Lian Yue menemukan apa yang dicari.
Di balik beberapa semak tumbuh rumpun tanaman beri liar yang cukup lebat.
Buah-buahnya bergelantungan di antara daun hijau.
Warnanya keunguan dan tampak matang.
Mata Lian Yue langsung berbinar.
"Oh!"
Ia mempercepat langkah.
Han Zheng ikut mendekat.
"Ini buah asam."
Ia mengambil salah satu buah.
"Istriku, kamu yakin mau memetiknya?"
"Tentu saja."
Lian Yue mulai memetik buah-buah yang matang.
"Ini bisa dibuat menjadi campuran roti. Kalau dimasak dengan gula, rasanya akan lebih enak."
Han Zheng masih terlihat ragu.
"Masih bisa dimakan?"
"Yang ini bisa."
Lian Yue menunjuk buah yang berwarna keunguan.
"Yang matang rasanya manis dan sedikit asam."
Han Zheng mengangguk.
"Baik."
Ia pun mulai memetik.
Beberapa saat kemudian, Lian Yue yang sedang memasukkan buah ke dalam keranjang tiba-tiba melirik keranjang milik Han Zheng.
Wajahnya langsung berubah.
"Astaga!"
Han Zheng terkejut.
"Apa?"
Lian Yue segera merebut keranjang dari tangannya.
Ia melihat isinya.
Kemudian menatap Han Zheng.
Lalu kembali melihat isi keranjang.
"Apa yang kamu petik ini?"
Han Zheng berkedip.
"Buah beri."
"Ini?"
Lian Yue mengambil satu buah berwarna jingga dengan semburat merah.
"Yang matang warnanya seperti ini?"
Han Zheng mengangguk.
"Sepertinya."
Lian Yue menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.
"Ini masih mentah."
"Oh."
Han Zheng melihat buah tersebut.
"Tapi bentuknya sama."
"Memang sama."
Lian Yue menghela napas.
"Hanya saja yang satu belum matang."
Ia mengambil satu buah dari keranjang Han Zheng.
"Lihat."
Kemudian ia mengambil buah matang dari keranjangnya sendiri.
"Bandingkan."
Han Zheng melihat kedua buah tersebut.
Yang satu jingga kemerahan.
Yang satu lagi ungu gelap.
"Oh."
Lian Yue menatapnya.
"Kemari."
Han Zheng langsung waspada.
"Apa?"
"Coba ini."
Lian Yue mengambil buah yang baru saja dipetik Han Zheng.
Ia mendekatkannya ke mulut pria itu.
Han Zheng mundur sedikit.
"Tapi..."
"Kenapa?"
"Belum matang."
"Justru itu."
Lian Yue tersenyum.
"Coba sedikit saja."
Han Zheng masih ragu.
Namun melihat Lian Yue tersenyum sambil menunggunya, ia akhirnya membuka mulut.
Lian Yue memasukkan buah tersebut.
Beberapa detik kemudian...
Wajah Han Zheng berubah.
Alisnya mengerut.
Hidungnya sedikit berkerut.
Rahangnya menegang.
Lian Yue hampir tertawa melihat ekspresinya.
"Bagaimana?"
"Asam."
"Selain asam?"
Han Zheng mengunyah pelan.
"Sepat."
Lian Yue akhirnya tidak mampu menahan tawa.
"Hahaha!"
Han Zheng menatapnya dengan wajah datar.
"Apa yang lucu?"
"Kamu yang memetik buah mentah, lalu sekarang menyalahkannya karena rasanya asam."
"Aku tidak menyalahkan."
"Jelas-jelas wajahmu menyalahkan buah itu."
Han Zheng terdiam.
Kemudian ia melihat isi keranjangnya.
Setelah itu ia melihat keranjang milik Lian Yue.
Warna buahnya memang berbeda.
Han Zheng menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Aku kira semuanya sama."
Lian Yue menggeleng sambil tersenyum.
"Bagaimana bisa kamu memetik begitu banyak tanpa mencicipinya dulu?"
Han Zheng menunjuk ke arah keranjang.
"Karena istriku bilang buah itu bagus."
Lian Yue terdiam.
"Jadi?"
"Jadi aku petik."
Jawaban sederhana itu membuat Lian Yue tidak bisa berkata-kata.
Ia menatap pria di hadapannya.
Han Zheng benar-benar tidak memiliki banyak alasan.
Ia hanya mengikuti perkataannya.
Lian Yue akhirnya mengambil kembali keranjang tersebut.
"Baiklah. Yang ini jangan dibuang."
"Kenapa?"
"Kita bawa pulang."
"Masih bisa dimakan?"
"Bisa."
Lian Yue tersenyum kecil.
"Kita bisa membuatnya menjadi sesuatu."
Han Zheng mengangguk.
"Kalau begitu, aku akan memetik lebih banyak."
"Yang matang."
"Yang matang."
Han Zheng mengulangi dengan serius.
Lian Yue kembali tertawa.
Namun ketika ia berbalik untuk memetik buah berikutnya, pandangannya tiba-tiba berhenti.
Di balik rumpun beri, jauh di antara pepohonan, ada sesuatu yang tampak seperti bekas jejak kaki.
Bukan jejak kaki manusia.
Bentuknya samar.
Seolah seseorang sengaja menginjak tanah basah lalu menutupinya dengan daun.
Lian Yue menyipitkan mata.
Senyumnya perlahan menghilang.
"Han Zheng."
"Hm?"
"Jangan bergerak dulu."
Han Zheng langsung berhenti.
"Ada apa?"
Lian Yue tidak menjawab.
Matanya tertuju pada tanah.
Di samping jejak tersebut terdapat sesuatu yang kecil, setengah tertutup daun.
Sebuah benda logam.
Lian Yue berjongkok dan mengambilnya.
Begitu benda itu dibersihkan dari tanah, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Di permukaan logam tersebut terdapat pola yang sangat ia kenal.
Setengah lingkaran.
Tiga garis pendek di tengah.
Simbol yang sama dengan yang terdapat pada surat tua keluarga Xian.
Lian Yue menggenggam benda itu erat-erat.
Ternyata hutan barat bukan sekadar tempat mencari buah beri.
Seseorang pernah datang ke sini.
Dan berdasarkan kondisi jejaknya...
Orang itu mungkin belum pergi terlalu lama.
semangaat thor
atau mungkin masih terpendam😌😌🤔🤔
di otak saya🤣🤣
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
dgn diatas
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
mungkin terlalu tua 💪💪
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔