Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Hujan gerimis mengguyur kaca jendela kafe kecil di pojok jalan. Suasana di dalam cukup sepi. Hanya terdengar dentingan sendok di cangkir dan desisan mesin espresso yang sesekali menyala. Di salah satu meja dekat jendela, dua perempuan duduk saling berhadapan.
Naya memegang cangkir kopi yang sudah dingin sejak setengah jam lalu. Matanya kosong, menatap ke luar seolah mencari sesuatu yang tak pernah ada.
Dara, temannya sejak masa kuliah, menatapnya dengan wajah khawatir. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka suara. “Kamu yakin mau bercerai dari Aslan?” tanya Dara pelan, hampir berbisik.
Naya tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela lagi. Suara hujan perlahan semakin deras. “Aku sudah yakin dengan keputusanku, Dar,” katanya akhirnya, suaranya datar, tanpa emosi. “Mas Aslan sudah menikah lagi dengan perempuan lain. Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya"
Dara mengerutkan dahi. Ia meletakkan cangkirnya dengan sedikit keras di atas meja, cukup untuk membuat Naya menoleh.
“Lalu bagaimana dengan perasaanmu?” tanya Dara tegas. “Kamu selalu memikirkan kebahagiaan suamimu, tapi dia sendiri tidak pernah memikirkan perasaanmu. Kamu boleh berpisah dengan Aslan, tapi kamu tidak boleh rugi, Naya. Kamu harus mengambil semua hakmu.”
Naya menatap temannya dengan bingung. “Maksud kamu gimana, Dar?”
Dara menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, menatap Naya dalam-dalam. Suaranya lebih pelan, tapi setiap kata terasa tajam.
“Ambil dulu uang Aslan. Bila perlu, gadaikan rumah yang kamu tempati sekarang ke bank. Jangan biarkan pelakor itu menang dan menikmati semuanya.”
Naya terdiam. Kalimat itu menggantung di udara, bercampur dengan bau kopi dan suara hujan di luar. Ia tahu Dara tidak sedang bercanda. Temannya itu selalu langsung pada intinya, terutama ketika melihat Naya diperlakukan tidak adil oleh suaminya.
Selama ini, Naya memang sudah terlalu banyak berkorban. Ia masih ingat jelas bagaimana dulu Naya rela mnegubur mimpinya, di tahun ketiga pernikahan mereka, Aslan meminta agar Naya menghentikan kuliah S2-nya.
“Nanti saja, Nay. Aku belum siap jauh dengan kamu” katanya waktu itu dengan suara lembut yang selalu berhasil membuat Naya luluh.
Naya menurut. Ia meninggalkan tesis yang sudah setengah jalan, meninggalkan beasiswa yang susah payah ia dapatkan, dan memilih menjadi ibu rumah tangga penuh waktu.
Pekerjaannya di sebuah firma arsitektur juga ia tinggalkan. Gaji yang lumayan, teman-teman kantor yang menyenangkan, bahkan peluang naik jabatan, semua dilepas. “Aku siap mengabdi untukmu, Mas,” katanya dulu dengan penuh keyakinan.
Aslan hanya tersenyum dan mencium keningnya. “Kamu istri terbaik.”
Tapi sekarang, setelah tujuh tahun, semuanya hancur berantakan setelah penghianatan suaminya.
Naya menunduk, memandang jari-jarinya yang dulu sering dipakai menggambar denah bangunan. Sekarang jari-jari itu hanya terbiasa memasak, menyetrika, dan mencuci piring.
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana, Dar,” bisiknya. “Aku sudah terlalu lama jadi istri yang patuh. Aku bahkan tidak punya rekening sendiri"
Dara meraih tangan Naya, menggenggamnya erat. “Makanya aku bilang, jangan sampai kamu keluar dari pernikahan ini dengan tangan kosong. Rumah itu atas nama siapa? Cicilan mobil? Tabungan bersama? Semua itu harus kamu perhitungkan. Kalau perlu, kita temui pengacara. Jangan biarkan Aslan dan perempuan itu hidup tenang sementara kamu harus memulai semuanya dari nol.”
Naya mengangkat wajahnya. Ada sesuatu yang berubah di matanya, bukan lagi kekosongan, tapi semacam bara kecil yang mulai menyala. Ia teringat malam-malam panjang menunggu Aslan pulang, hanya untuk mendengar alasan kerja lembur. Ia teringat bagaimana Aslan selalu mengabaikannya.
Hujan di luar semakin deras, seolah turut menyaksikan keputusan yang mulai terbentuk di dalam hati Naya.
“Baiklah,” katanya pelan, tapi tegas. “Aku tidak akan pergi dengan tangan kosong. Kalau Aslan bisa meninggalkanku demi perempuan lain, maka aku juga berhak mengambil apa yang menjadi hakku.”
Dara tersenyum tipis, puas. “Itu baru Naya yang aku kenal.”
Keduanya terdiam sejenak. Di luar, hujan masih mengguyur jalanan. Di dalam, Naya mulai menyusun rencana, bukan lagi tentang bagaimana menyenangkan Aslan, tapi tentang bagaimana ia akan berdiri kembali, dengan kepala tegak, dan tanpa rasa rugi.
*****
Beberapa hari setelah pertemuan di kafe itu, Naya masih bolak-balik menimbang keputusan yang sudah ia ambil. Setiap malam, ia duduk di sofa ruang keluarga dengan laptop terbuka. Ia membuka folder-folder digital yang dulu hampir tak pernah ia sentuh, scan sertifikat rumah, rekening bersama, bukti transfer Aslan ke rekening rumah tangga, bahkan foto-foto pernikahan yang kini terasa seperti milik orang lain.
Pagi itu, ponselnya bergetar. Nama Dara muncul di layar. “Naya, kamu bisa luangkan waktu sore ini nggaj?” suara Dara terdengar ceria, tapi ada nada serius di baliknya. “Aku sudah atur pertemuan. Jangan bilang kamu tidak bisa.”
Naya menghela napas. “Pertemuan apa, Dar?”
“Aku kenalkan kamu dengan pengacara hebat kenalanku. Selama ini dia selalu memenangkan Kasus perceraian, harta gono-gini, bahkan yang rumit sekalipun, hampir selalu dia yang menang. Aku sudah cerita sedikit soal situasimu”
Naya terdiam sejenak. “Pengacara? Aku… belum siap, Dar.”
“Kamu tidak perlu siap Nay. Kamu hanya perlu datang. Jam empat sore di kantornya, di kawasan Sudirman. Aku jemput, ya.”
*
*
Kantor itu berada di lantai dua puluh satu sebuah gedung kaca yang menjulang. Lobi yang dingin, aroma kopi mahal, dan suara sepatu hak tinggi yang berdentum di lantai marmer membuat Naya merasa sedikit asing. Ia mengenakan blazer hitam sederhana dan celana kain, rambutnya diikat rapi. Dara berjalan di sampingnya dengan langkah percaya diri.
“Tenang saja,” bisik Dara sambil menekan tombol lift. “Dia tidak seperti pengacara-pengacara yang kaku. Dan… ya, kamu akan tahu sendiri, nanti”
Klek...
Pintu ruang kerja terbuka. Seorang pria berdiri dari balik meja kayu gelap. Tinggi, bahu tegap, kemeja putih dengan lengan digulung sebatas siku, dan dasi yang sudah longgar di kerah. Rambutnya hitam, sedikit acak-acakan di bagian depan, seolah baru saja digaruk karena terlalu fokus membaca berkas. Ketika ia mengangkat wajah, Naya sempat menahan napas.
Ia sangat tampan, wajah tegas, mata tajam yang tampak lelah tapi tetap hidup, dan senyum tipis yang muncul begitu melihat mereka masuk.
“Dara,” sapa pria itu dengan suara rendah dan tenang. “Sudah lama tidak ketemu.”
“Adrian,” balas Dara sambil tersenyum. “Ini Naya, temanku yang aku bicarakan kemarin.”
Adrian mengulurkan tangan. Jabatannya kuat, tapi tidak berlebihan. “Naya. Silakan duduk.”
Naya duduk di kursi di depan meja. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Usia pria ini… kira-kira tidak jauh darinya. Mungkin tiga atau empat tahun lebih tua. Bukan sosok pengacara senior beruban yang biasa ia bayangkan, melainkan seseorang yang masih berada di usia produktif, energik, dan… menarik.
Adrian membuka sebuah folder tipis di depannya. “Dara sudah ceritakan garis besarnya. Suamimu menikah lagi secara siri, kamu ingin mengajukan gugatan cerai sekaligus menuntut pembagian harta. Benar?”
Naya mengangguk. “Ya. Aku… tidak mau pergi dengan tangan kosong.”
Adrian menatapnya sebentar, seolah menilai. Bukan menilai penampilan, melainkan menilai keteguhan. “Bagus sekali. Banyak klien yang datang ke sini masih ragu. Kamu sudah memutuskan, dan itu memudahkan pekerjaan saya.”
Ia menyandarkan tubuh ke kursi, jari-jari saling bertaut di depan dada. “Aku akan jujur. Kasus seperti ini bisa berjalan mulus, bisa juga berlarut-larut. Tergantung seberapa rapi bukti yang kamu punya, dan seberapa keras pihak lawan bertahan. Tapi dari pengalaman, hampir semua suami yang sudah menikah lagi cenderung ingin cepat selesai, asalkan mereka merasa tidak dirugikan terlalu banyak. Tugas kita adalah membuat mereka merasa dirugikan secara proporsional.”
Naya menggigit bibir bawah. “Aku punya beberapa dokumen. Sertifikat rumah atas nama suami, tapi cicilannya dibayar dari rekening bersama. Ada juga beberapa transferan yang nilainya lumaya besar yang tidak pernah aku ketahui tujuannya.”
Adrian mengangguk pelan. “Bagus. Kirim semuanya ke email saya malam ini. Besok kita mulai susun strategi. Kalau perlu, kita bisa minta sita jaminan atas rumah sebelum proses berjalan terlalu jauh. Jangan sampai aset itu dipindahkan ke nama orang lain.”
Naya menatapnya. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ada seseorang yang membicarakan haknya dengan nada yakin, tanpa mengasihani, tanpa menyuruhnya bersabar. Hanya fakta, strategi, dan kemungkinan yang akan menang.
Adrian tersenyum tipis lagi, kali ini lebih hangat. “Kamu tidak sendiri dalam proses ini, Bu Naya. Saya akan dampingi sampai putusan inkrah. Dan… kalau boleh jujur, saya jarang melihat klien yang datang dengan wajah sepuas itu setelah memutuskan untuk melawan. Biasanya mereka masih penuh air mata.”
Naya tertawa kecil, pelan. “Air mata saya sudah habis, Pak. Sekarang yang tersisa hanya perhitungan.”
Adrian menatapnya sebentar lebih lama. Ada sesuatu di matanya, bukan sekadar profesionalisme, melainkan sedikit rasa hormat. “Bagus. Kita mulai dari perhitungan itu.”
Di luar jendela gedung tinggi itu, matahari sore mulai condong ke barat. Dara tersenyum puas dari sisi kursi, sementara Naya, merasa bahwa langkah yang ia ambil tidak lagi hanya soal meninggalkan Aslan… melainkan soal membangun kembali dirinya sendiri.
jadi kenapa kamu harus marah?