Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Malam kian melarut di dalam mansion, namun keheningan yang tersisa tidak lagi membawa ketenangan bagi Luca.
Pria itu berdiri di balik jendela raksasa di ruang kerjanya, memegang segelas wiski yang dibiarkannya dingin tanpa tersentuh. Tatapannya menembus kegelapan halaman luar, tetapi fokus pikirannya tertambat sepenuhnya pada satu nama yang kini mendominasi seluruh dunianya.
Suara ketukan halus di pintu memecah lamunan Luca.
"Masuk," katanya dingin tanpa berbalik.
Bi Ratna melangkah masuk membawa baki berisi cangkir teh chamomile yang sudah kosong. "Tuan Luca... Non Ruby sudah tidur. Sepertinya dia sangat lelah dan syok setelah kejadian tadi siang."
Luca diam sejenak, mendengarkan laporan sederhana itu. Rasa lega yang samar menyusup ke dadanya, sebuah respons spontan yang langsung membuat rahangnya kembali mengeras.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Luca datar, berusaha menjaga suaranya tetap tanpa emosi.
"Non Ruby sempat menangis sebentar di kamar, Tuan," jawab Bi Ratna pelan, menatap punggung tegap majikannya dengan raut iba. "Tapi setelah itu dia senyum-senyum sendiri sambil pegang buku yang Tuan kasih kemarin. Dia... kelihatan merasa sangat aman di sini, Tuan."
Perkataan Bi Ratna menghantam Luca tepat di dadanya. *Merasa aman.*
Gadis yang pernah dihancurkan oleh pria yang seharusnya melindunginya, kini menaruh rasa percaya sepenuhnya pada seorang kejam seperti dirinya.
"Bagus kalau begitu," balas Luca pendek. "Pastikan dia tidak menyusahkan kamu besok. Kamu boleh pergi."
"Baik, Tuan." Bi Ratna membungkuk hormat lalu melangkah keluar ruangan, meninggalkan Luca kembali berdua dengan bayang-bayang nya sendiri.
Luca memutar gelas di tangannya, membiarkan es batu beradu menepi. Ia meletakkan gelas itu kasar ke meja, lalu berjalan melangkah keluar ruangan. Tanpa sadar, langkah kakinya membawa pria itu menyusuri koridor sepi menuju kamar yang ditempati Ruby.
Ia berhenti di depan pintu kayu jati yang tertutup rapat. Jemari Luca terangkat, menggantung beberapa inci dari gagang pintu. Ada dorongan gila untuk membuka pintu itu, memastikan sendiri bahwa gadis itu benar-benar ada di sana—aman di bawah pengawasannya.
Luca meraba dadanya yang berdegup dengan ritme yang tak biasa. Ia adalah penguasa bisnis yang tak bernurani, pria yang tak pernah membiarkan apa pun mengacaukan rencananya. Namun malam ini, menyadari betapa Ruby kini bergantung sepenuhnya pada perlindungannya, Luca tahu ia telah melewati batas yang buatannya sendiri.
Gadis itu bukan lagi sekadar pion dalam permainan hukumnya. Ruby telah menjadi alasan utama mengapa benteng dingin yang ia bangun bertahun-tahun kini perlahan runtuh.
Luca membalikkan badan dengan hembusan napas berat, menjauh dari depan pintu kamar Ruby sebelum dorongan gila di dadanya makin tak terkendali. Kehangatan yang baru saja mengusik pikirannya seketika menguap, berganti dengan aura mematikan yang biasa melapisi jiwanya.
Ponsel khusus ber enkripsi ketat di saku jasnya bergetar tanpa henti. Satu panggilan masuk dari jalur gelap yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu.
Luca mengangkatnya seraya berjalan cepat menuju lantai bawah, di mana kendaraan serba hitam telah bersiap di pelataran mansion yang sepi.
"Semua sudah siap, Boss," suara berat dari balik telepon melapor singkat. "Target sudah terikat di lokasi pembuangan luar kota. Tinggal menunggu perintah Anda."
"Saya jalan sekarang," jawab Luca dingin.
Pria itu melepas jas formalnya, menggantinya dengan jaket kulit hitam yang pekat. Tatapan matanya kini sepenuhnya kosong dari rasa kemanusiaan—kembali menjadi predator yang siap menghabisi siapa pun yang mengganggu wilayahnya. Target malam ini adalah salah satu orang kepercayaan Kavano yang mencoba menjual informasi internal perusahaan setelah negosiasi siang tadi.
Luca tidak pernah membiarkan ada keretakan sekecil apa pun dalam permainannya.
Mobil melaju kencang menembus keheningan jalanan malam yang kelam. Di dalam kabin yang temaram, Luca mengokang senjata api peredam suara dengan gerakan yang terlatih dan tanpa ragu.
Setengah jam kemudian, di dalam sebuah gudang tua yang remang dan terisolasi, suara tembakan teredam menggema pelan.
Sunyi kembali menguasai udara. Luca menurunkan senjatanya, menatap dingin pada target yang kini tak bernyawa di atas lantai semen. Tak ada penyesalan, tak ada keraguan. Ini adalah dunia nyata seorang Luca Oliver—dunia yang dipenuhi darah, kekerasan, dan eksekusi tanpa ampun.
Ia mengusap setetes noda darah yang terpercik di jarinya menggunakan saputangan, lalu melempar kain itu ke atas tubuh korbannya.
"Bereskan," perintah Luca singkat pada para pengawalnya yang berdiri kaku di kegelapan.
Sambil melangkah keluar menuju mobil untuk kembali ke mansion sebelum matahari terbit, pikiran Luca secara refleks kembali melayang pada sosok Ruby yang tertidur lelap di kamar yang bersih dan hangat. Kontras yang luar biasa gila. Pria yang baru saja mencabut nyawa seseorang tanpa berkedip adalah pria yang sama yang membelai pipi Ruby dengan lembut beberapa jam yang lalu.
Luca menyunggingkan senyum miring yang gelap di tengah kegelapan malam. Jika dunia luar harus berdarah demi memastikan tempat bernaung Ruby tetap aman dan utuh, maka Luca tidak akan ragu untuk menjadi iblis di balik bayang-bayang itu selamanya.