Indonesia
NovelToon NovelToon
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Sebulan setelah ATG selesai, jadwal kontrol Alya bukan lagi setiap hari, tapi setiap minggu. Dan minggu ini adalah kontrol minggu kelima, yang dokter bilang paling menentukan.

Pagi jam 6, Alya bangun tanpa alarm obat. Alarm obat siklosporin baru bunyi jam 7. Ia bangun karena sudah tidak sesak, bukan karena demam. Itu bedanya.

Ia mandi sendiri. Dulu di ICU dan HCU, mandi harus dilap perawat. Sekarang ia mandi di kamar mandi rumah, pakai air hangat, dengan rambut yang mulai tumbuh lagi. Tipis, tapi tumbuh. Efek rontok siklosporin bulan lalu sudah lewat.

Di kaca, ia lihat wajahnya. Masih pucat, tapi bukan pucat kertas seperti waktu Hb 7. Pipinya sudah agak berisi karena sebulan ini ia makan 3 kali sehari, bukan mual terus.

Arga sudah siap di bawah dengan map biru. Map yang isinya adalah riwayat hidup Alya sebulan terakhir dalam angka: 16 ribu saat di ICU, 22 ribu hari kedua ATG, 48 ribu dua minggu setelah ATG, 71 ribu minggu lalu.

"Hari ini target berapa?" tanya Mbok Sari sambil bawain bekal.

"Target dokter sih 100 ribu ke atas, Mbok," jawab Arga.

Alya turun pakai daster rumahan, bukan baju pasien. Ia pakai masker N95, tapi tidak pakai topi lagi. Ia sudah berani lepas topi.

"Mas, nanti kalau hasilnya bagus, kita mampir beli bibit bunga kuning ya?" kata Alya di mobil.

Arga yang nyetir angguk. "Yang di taman RS itu?"

"Iya. Yang kecil-kecil itu."

Perjalanan ke RS tidak lagi seperti perjalanan ke IGD sebulan lalu yang buru-buru dengan sirine. Sekarang santai, 40 km/jam, lewat jalan yang sama, tapi Alya bisa lihat sawah di kiri kanan.

Di RS, bagian lab hematologi sudah kenal Alya. "Bu Alya kontrol mingguan ya?" sapa perawat lab.

"Iya, Bu."

Diambil 4 tabung darah. Alya lihat jarum masuk, darah keluar. Dulu ia takut, sekarang ia hafal rasanya.

Sambil nunggu hasil 2 jam, mereka duduk di taman bunga kuning itu lagi. Taman yang sama di Bab 24. Sekarang Alya sudah hafal taman ini.

"Dulu aku lihat taman ini dari jendela lantai 5, buram," kata Alya. "Sekarang duduk di sini."

"Besok kalau 150 ribu, kita tanam yang banyak di belakang rumah," kata Arga.

Jam 10.30, hasil keluar.

Masuk ruangan dokter, dokter hematologi buka map, lihat lama, lalu senyum yang berbeda dari senyum-senyum sebelumnya. Senyum lega.

"Bu Alya, Pak Arga, ini hasilnya."

Ia putar kertas.

Leukosit: 3,4 (normal 4-11, hampir normal)

Hemoglobin: 9,8 (dari 7,8, naik tanpa transfusi)

Trombosit: 112.000

Alya baca angka 112.000 itu dua kali.

"112 ribu, Dok?" tanyanya memastikan.

"112 ribu, Bu. Tanpa transfusi sama sekali minggu ini. Minggu lalu Ibu 71 ribu, sekarang 112 ribu. Naik 40 ribu dalam seminggu. Ini respon cepat, termasuk yang bagus."

Arga yang di samping langsung ambil kertas itu, foto, kirim ke grup keluarga.

Bu Ratna yang ikut di belakang kursi langsung meluk Alya dari belakang. Tidak ada kata-kata, cuma istighfar dan nangis pelan.

"Berarti pabriknya udah produksi sendiri ya, Dok?" tanya Alya, pakai istilah yang dokter ajarkan di Bab 21.

"Betul. Pabriknya sudah mulai produksi sendiri. Tentara yang nyerang sudah mati sama ATG kemarin. Sekarang sisa nunggu produksi naik terus sampai 150 ribu normal."

Dokter tulis resep: siklosporin dosis diturunkan, tidak lagi 3 kali sehari, jadi 2 kali sehari.

"Obatnya dikurangi, Dok?" tanya Arga.

"Dikurangi. Karena sumsum sudah mulai kerja, kita tidak perlu tekan imun terlalu kuat lagi."

Keluar ruangan, Alya berhenti di koridor lantai 5. Di jendela tempat dulu ia lihat taman dari HCU.

"Mas, dulu aku di sini, lihat taman buram," kata Alya lagi.

"Sekarang kamu di bawah, lihat jendela ini dari taman," jawab Arga.

Mereka turun ke parkiran, mampir ke toko tanaman dekat RS. Beli 3 polybag bibit bunga matahari kecil kuning yang sama persis dengan yang di taman RS.

"Yang ini ya, Mas, yang kayak di taman," kata Alya sambil tunjuk.

Penjual bilang, "Ini bunga matahari mini, Bu. Mudah tumbuhnya, 2 minggu mekar."

Siang di rumah, Mbok Sari sudah masak sop ayam. Bukan sop ayam saring RS, tapi sop ayam kampung dengan wortel dan kentang. Dulu di Bab 18, Alya yang masak sop tapi tidak dimakan Arga. Sekarang Arga yang ambil mangkok, suapin Alya di meja makan yang dulu ada vas mawar layu.

Sekarang vasnya ada satu tangkai bunga kuning dari taman RS yang sudah agak layu, tapi masih kuning.

"Mas, bunga RS nggak boleh diambil tau," kata Alya, tapi senyum.

"Udah izin tukang taman. Katanya untuk pasien HCU lantai 5 yang dulu lihat dari jendela, boleh ambil satu," jawab Arga.

Alya makan dua mangkok sop. Lebih banyak dari 10 suap di Bab 23.

Sore, mereka tanam 3 polybag bunga kuning itu di belakang rumah, di tanah yang dulu kosong dan ditumbuhi rumput liar karena Arga tidak pernah urus kebun.

Alya pakai sarung tangan, masker, topi, karena dokter bilang jangan kena debu banyak. Arga yang cangkul, Alya yang taruh bibit.

"Ini nanti mekarnya kapan?" tanya Alya.

"2 minggu, kata penjualnya," jawab Arga.

Malam jam 7, alarm HP Arga bunyi: minum siklosporin dosis baru, 2 kali sehari.

Alya minum pil kuning itu, sekarang tidak sepahit dulu karena dosisnya setengah.

Setelah minum, ia buka buku biru muda yang dulu Arga baca diam-diam.

Ia tulis halaman baru, dengan tulisan yang sudah tidak gemetar lagi.

Hari ini 30 hari setelah ATG. Trombositku 112 ribu.

Dulu 16 ribu di ICU, sekarang 112 ribu tanpa transfusi.

Dokter bilang respon cepat.

Mas Arga masih di sini. Tadi kita tanam bunga kuning di belakang rumah. 3 polybag.

Katanya 2 minggu mekar. Sama kayak sumsumku, pelan-pelan mekar lagi.

Aku suka rumah yang sekarang, yang ada alarm jam 7 dan bau tanah basah di belakang.

Arga baca dari belakang, lalu duduk di samping.

"Boleh aku tulis di bawahnya?" tanya Arga.

"Boleh."

Arga tulis dengan tulisan tangannya yang besar-besar di bawah tulisan Alya:

Sampai 112 jadi 150. Sampai penuh. Aku di sini.

Alya tutup buku. Di luar jendela kamar, 3 polybag bunga kuning sudah ditanam, disiram, menunggu 2 minggu mekar, sama seperti pabrik di dalam tubuhnya yang menunggu penuh.

1
Inarrr Ulfah
semgat alaya
Nuna_Pena: hehe.. makasi cayank sudah mampir..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!