Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Dia hanya menerima nasibnya dengan kepasrahan yang luar biasa menyedihkan.
Sementara itu di dalam mall, tepatnya di lantai satu area toko mainan impor langka kelas atas.
Prang!
Dua buah robot mainan edisi terbatas hancur berkeping-keping karena sengaja dilempar oleh Bianca ke lantai.
"Aku bilang aku mau boneka beruang yang ukurannya sebesar rumah!" jerit Bianca mengamuk.
"Kenapa kalian memberiku robot bodoh ini?! Aku tidak suka!" teriaknya sambil menendang pecahan robot itu.
Beberapa pelayan toko berseragam rapi tampak gemetar ketakutan melihat amukan anak konglomerat tersebut.
"Maaf, Nona Kecil. Boneka ukuran raksasa sedang kosong stoknya hari ini," ucap manajer toko membungkuk berkali-kali.
"Aku tidak peduli! Kalian semua sangat bodoh!" bentak Bianca dengan wajah merah padam.
"Pecat mereka semua sekarang juga, Mama!" teriak Bianca menarik-narik ujung gaun mahal Nabila.
Nabila berdiri di tengah toko itu dengan wajah pucat pasi.
Kepalanya terasa seperti mau meledak mendengar teriakan melengking putrinya yang tiada henti.
Sorot mata para pelanggan lain di dalam toko itu menatap Nabila dengan pandangan menilai.
Seolah-olah mereka berkata dari dalam hati bahwa Nabila adalah ibu yang tidak becus mendidik anak.
"Bianca, hentikan sekarang juga. Kamu membuat Mama sangat malu di sini," desis Nabila menarik pelan tangan putrinya.
"Aku tidak mau berhenti! Mama yang memalukan karena miskin dan tidak bisa membelikanku mainan!" balas Bianca dengan kasar.
Gadis kecil itu langsung menepis tangan Nabila dengan sekuat tenaga.
Sret!
Kuku Bianca yang lumayan panjang tidak sengaja menggores punggung tangan Nabila dengan cukup dalam.
Goresan itu langsung meninggalkan bekas garis merah memanjang di kulit putih Nabila.
Nabila tersentak kaget dan menatap punggung tangannya yang mendadak terasa perih.
Kesabarannya yang sudah setipis benang akhirnya putus total di detik itu juga.
"Cukup, Bianca!" suara Nabila naik satu oktaf bergema di ruangan itu.
Seisi toko mainan itu mendadak hening mencekam mendengar bentakan istri CEO Wegan Group tersebut.
Bianca sedikit terkejut mendengar bentakan keras dari ibunya yang biasanya selalu berbicara lemah lembut padanya.
Tapi sedetik kemudian, gadis kecil licik itu malah menangis meraung-raung dengan sangat dramatis.
"Huwaaa! Mama membentakku di depan orang miskin!" tangis Bianca sambil menutup wajahnya.
"Aku akan telepon Papa agar Papa mengusir Mama dari rumah kita!" ancam Bianca di sela tangis palsunya.
Ancaman jahat dari mulut anak berusia enam tahun itu benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewarasan Nabila.
Nabila menoleh ke arah pengawal pribadi keluarga Wegan yang sejak tadi berjaga siaga di luar pintu toko.
"Urus anak ini dan bayar semua kerusakan yang dia perbuat di toko ini," perintah Nabila dengan suara sangat dingin.
"Baik, Nyonya. Lalu Nyonya sendiri mau pergi ke mana?" tanya pengawal itu dengan sopan menundukkan kepala.
"Aku butuh udara segar. Jangan ada satu pun yang berani mengikutiku," putus Nabila sambil berbalik badan.
Nabila melangkah keluar dari toko mainan itu dengan langkah gontai dan pikiran yang sangat kacau.
Dia mengabaikan teriakan Bianca yang memanggil-manggil namanya dengan nada kesal di belakang sana.
"Kenapa rasanya sesakit ini? Dia itu darah dagingku sendiri," batin Nabila meremas dadanya yang terasa sesak.
"Tapi kenapa aku justru merasa sangat benci berada di dekatnya," lanjutnya dengan air mata yang hampir menetes.
Nabila terus berjalan tak tentu arah menyusuri koridor mall yang ber-AC sejuk itu menuju ke arah pintu keluar.
Dia butuh melihat cahaya matahari bebas karena mall mewah ini mendadak terasa sangat mencekik lehernya.
Nabila mendorong pintu kaca lobi mall dan hawa panas ibu kota langsung menerpa wajah cantiknya.
Suara bising kendaraan bermotor dan hiruk pikuk jalanan sedikit mengalihkan pikirannya yang sedang kalut.
Nabila berjalan perlahan menuju area pilar batu besar tempat di mana pengunjung biasanya menunggu mobil.
Di saat yang sama, tepat di balik pilar marmer besar itu sedang terjadi sebuah keributan kecil.
"Hei anak gembel! Sudah kubilang jangan mengemis di area mall ini!" bentak suara kasar seorang pria berseragam.
"Kau merusak pemandangan pengunjung VIP kami!" lanjut satpam mall bertubuh besar itu.
Nabila menghentikan langkahnya dan menoleh perlahan ke arah sumber suara keributan tersebut.
Satpam itu tampak sedang memarahi sosok anak kecil kurus yang meringkuk ketakutan di lantai marmer lobi.
"Maaf, Pak Satpam. Saya cuma mau cari uang buat makan siang," ucap suara kecil yang bergetar penuh ketakutan.
"Tolong jangan tendang saya, badan saya sudah sakit semua," mohon anak itu menyatukan kedua tangannya.
Hati Nabila yang tadinya sedang hancur lebur tiba-tiba berdesir sangat hebat mendengar suara parau anak malang itu.
Ada sebuah dorongan kuat yang sama sekali tidak bisa dijelaskan secara nalar yang membuat kaki Nabila melangkah mendekat.
"Alasan saja kau! Pasti kau disuruh orang tuamu yang pemalas itu kan untuk menipu pengunjung!" bentak satpam itu lagi.
Satpam itu mengangkat sepatu botnya bersiap menendang gelas plastik kotor milik Luna.
"Jangan dibuang uang saya, Pak!" jerit Luna sambil memeluk gelas plastiknya dengan tubuh mungilnya.
"Ibu saya akan memukul saya pakai kayu sampai berdarah kalau uangnya hilang!" teriak Luna menangis ketakutan.
Mata satpam itu melotot marah dan dia mengulurkan tangannya bersiap untuk menarik paksa kerah baju Luna.
"Hentikan perbuatan kasarmu itu sekarang juga!"
Suara Nabila yang dingin dan sangat berwibawa memecah ketegangan di area pilar lobi tersebut.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget