Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Kaki di Atas Lantai Semen
Keesokan harinya, fajar menyingsing dengan langit yang kelabu, seakan matahari pun enggan menampakkan diri di atas kawasan yang menyimpan begitu banyak rahasia. Kabut masih tebal menyelimuti lereng bukit, membungkus tujuh rumah Kampung Pitu dalam keheningan yang begitu dalam, hingga napas pun terasa berat untuk dikeluarkan. Tidak ada cahaya pagi yang hangat, tidak ada embun yang berkilau di daun hanya kabut abu-abu yang perlahan bergerak, menyusup di sela-sela pepohonan seakan hidup sendiri. Di penginapan bawah, kru film mulai bergerak sejak pagi, namun tidak ada yang berbicara dengan riang seperti hari-hari sebelumnya. Bayangan peringatan Dimas semalam masih menggantung di udara, menekan setiap hati yang hadir di sana, membuat setiap langkah terasa berat dan penuh keraguan.
Raka berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya perlahan. Tangannya yang biasanya tegap kini sedikit bergetar, meski ia berusaha menyembunyikannya. Di balik ketenangannya, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia bukan takut setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri berulang-ulang melainkan merasa berat, seakan ia sedang berjalan menuju sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya, sesuatu yang sudah menunggu bertahun-tahun lamanya, dan kini ia lah yang dipilih untuk menemukannya. Sesuatu yang tak bisa lagi ia kendalikan begitu syuting dimulai.
Pintu terbuka pelan. Laras masuk, wajahnya sudah lebih tenang dibanding kemarin, namun matanya masih menyimpan jejak kekhawatiran yang dalam, dan bibirnya terkatup rapat seakan menahan sesuatu yang berat untuk diucapkan. Ia membawa tas berisi perlengkapan catatan dan kamera kecil yang selalu ia bawa ke mana pun, seakan alat itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki.
"Kau yakin?" tanyanya pelan, berdiri di samping Raka, suaranya hanya cukup untuk didengar berdua. "Kita bisa mundur, Raka. Tidak ada yang akan menyalahkan kita. Uang bisa dicari lagi, proyek lain bisa dibuat, tapi keselamatan... nyawa tidak bisa diganti dengan apa pun. Dan perasaan di tempat itu... kau sendiri merasakannya kan? Ada sesuatu yang tidak ingin kita ada di sana."
Raka menatap pantulan dirinya di cermin, menatap matanya sendiri yang tampak lebih serius dari biasanya, lalu menoleh ke arah Laras dengan senyum tipis yang berusaha meyakinkan meskipun ia tahu itu tidak sepenuhnya jujur. "Kita sudah sampai sejauh ini, Laras. Seluruh kru sudah datang, semuanya sudah disiapkan, dan cerita ini... cerita ini menunggu untuk diceritakan. Dan kau sendiri yang kemarin bilang... di rumah itu ada sesuatu yang meminta ditemukan. Bukan untuk mengganggu, bukan untuk menaklukkan, tapi untuk didengarkan. Kalau kita pergi sekarang, siapa yang akan menceritakan kisah mereka? Siapa yang akan memberi mereka ketenangan yang selama ini tidak mereka miliki?"
Laras menghela napas panjang, udara yang keluar dari mulutnya terlihat beruap meski di dalam ruangan, tanda betapa dinginnya suasana itu. Ia menatap mata Raka lama, seakan mencari keraguan di sana, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Aku ikut. Tapi janjikan padaku kalau ada hal yang benar-benar berbahaya, kalau aku merasa ada sesuatu yang salah yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata, kita berhenti. Tanpa debat. Langsung pergi."
"Janji," jawab Raka mantap, tangannya menumpu bahu Laras pelan, meyakinkan.
Mereka berdua keluar ruangan dan menuju halaman penginapan, tempat seluruh kru sudah berkumpul. Semua wajah tampak serius, tidak ada candaan, tidak ada tawa seperti saat mereka masih di Jakarta. Dimas sudah ada di sana, berdiri di samping mobil yang akan membawa mereka naik ke atas. Wajahnya terlihat lelah, matanya bengkak seakan semalam ia tidak tidur sama sekali, dan pakaiannya tampak kusut seakan ia duduk diam di satu tempat sepanjang malam tanpa bergerak. Saat melihat Raka dan Laras mendekat, ia tidak tersenyum, hanya mengangguk pelan isyarat bahwa ia tetap ikut, meskipun hatinya menolak, meskipun setiap langkah yang ia ambil ke arah atas terasa seperti pengkhianatan terhadap tanah kelahirannya sendiri.
Perjalanan menuju Kampung Pitu terasa lebih lama dari biasanya. Jalan setapak yang menanjak itu kini tampak berbeda — lebih sunyi, lebih sepi, dan pepohonan di sisi jalan seakan menatap mereka dengan tatapan waspada, cabang-cabangnya menjulur ke jalan seakan ingin menghalangi langkah mereka. Tidak ada suara burung, tidak ada suara serangga, tidak ada suara air mengalir keheningan yang begitu total, hingga suara napas mereka sendiri terdengar terlalu keras, terlalu mengganggu di tempat yang begitu sakral. Kabut perlahan mulai menipis namun belum benar-benar hilang, menyisakan udara lembap yang menempel di kulit dan pakaian, membuat semuanya terasa berat dan lambat.
Sesampainya di kawasan tujuh rumah, suasana terasa lebih hening dari biasanya. Tidak ada warga yang keluar rumah, tidak ada aktivitas apa pun, pintu-pintu rumah tertutup rapat seakan penghuninya enggan melihat apa yang akan terjadi. Seakan seluruh penghuni Kampung Pitu tahu bahwa ada orang yang kembali menuju rumah kedelapan dan mereka memilih untuk tidak ikut campur, memilih untuk tidak tahu, karena mereka tahu bahwa rumah itu bukan tempat yang boleh diganggu.
"Kita mulai dari ruang tamu dulu," kata Raka pelan, suaranya memecah keheningan pagi itu, terdengar lebih keras dari yang ia duga. "Adegan di mana tokoh utama pertama kali masuk ke rumah itu. Suasana pagi, tenang, namun mulai terasa ada yang tidak beres. Kita ambil suasana dulu, jangan langsung banyak gerak. Biarkan rumah itu berbicara dulu."
Raka melangkah mendekati pintu rumah kedelapan. Tangannya terangkat perlahan menyentuh gagang pintu yang dingin dan basah karena embun. Dan tepat saat jari-jarinya menyentuh logam itu pintu terbuka dengan sendirinya, pelan-pelan, tanpa didorong, tanpa ditarik, seakan pintu itu sudah menunggu kedatangan mereka sejak lama sekali. Raka berhenti sejenak, menatap pintu yang terbuka itu, merasakan hawa dingin yang keluar dari dalam, lalu menarik napas dalam-dalam dan melangkah masuk.
Di dalam rumah, udaranya terasa jauh lebih dingin dibandingkan luar, meskipun tidak ada angin yang berhembus. Lantai semen yang keras dan padat itu terasa dingin menembus sol sepatu, merambat naik ke kaki, hingga membuat seluruh tubuh menggigil tanpa sebab. Setiap langkah kaki mereka terdengar bergema bukan satu kali, melainkan berulang-ulang, memantul dari dinding ke dinding, dari lantai ke langit-langit, seakan ada orang lain yang ikut berjalan di belakang mereka, meniru setiap gerakan yang mereka lakukan di atas permukaan yang keras dan rata itu.
"Suara langkah kakinya..." bisik salah satu kru, berhenti seketika, wajahnya pucat pasi. "Kalian dengar itu? Itu bukan gema biasa. Gema itu tidak punya irama. Langkahnya berbeda lebih berat, lebih pelan, dan... bunyinya berhenti saat kita berhenti. Itu bukan suara kita."
Semua orang berhenti bergerak seketika. Hening. Hanya suara napas yang terdengar. Lalu terdengar lagi langkah kaki pelan, berat, jelas berjalan di atas lantai semen di bagian belakang rumah, tempat dapur berada. Langkah kaki itu berhenti sebentar, lalu terdengar lagi, kali ini mendekat, perlahan namun pasti, seakan tahu di mana mereka berdiri. Bunyinya khas tapak demi tapak di atas permukaan yang keras dan dingin, tanpa ada suara kayu yang berderit sama sekali, tanpa ada lantai papan yang berderak. Semuanya semen, dan suara itu jelas berasal dari permukaan yang sama.
"Tidak ada siapa-siapa di sana," kata Dimas tegas, namun suaranya bergetar hebat, tangannya mengepal erat di sisi tubuh, kuku-kuku jari tangannya menancap kuat di telapak tangan hingga memutih. "Kita sudah periksa semuanya kemarin. Pintu belakang tertutup rapat. Tidak ada jendela yang terbuka. Dan tidak ada lantai kayu di rumah ini — semuanya semen, dari depan sampai belakang. Tidak ada ruang di bawahnya, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Itu tidak mungkin orang."
"Tapi itu bukan langkah kita," kata Laras pelan, matanya menatap tajam ke arah lorong yang menuju ke bagian belakang rumah, seakan ia bisa melihat menembus dinding. "Kita semua berdiri diam sejak tadi. Dan suara itu... itu berjalan mendekat. Bukan bayangan, bukan angin. Itu langkah kaki yang hidup."
Raka mengangkat tangan, memberi isyarat agar tenang, meskipun jantungnya sendiri berdegup kencang. "Lanjutkan. Kita tetap tenang. Mungkin itu hanya suara dari luar yang bergema di ruangan kosong yang dindingnya tebal. Kita fokus pada pekerjaan kita. Jangan biarkan imajinasi mengambil alih."
Namun di dalam hatinya, Raka tahu itu bukan sekadar gema. Setiap kali mereka bergerak sedikit saja, benda-benda kecil di atas meja sebuah gelas tua, buku catatan lusuh, dan sebuah kotak kayu bergeser perlahan di atas permukaan semen yang rata, tanpa ada yang menyentuhnya. Cahaya lampu yang dipasang kru berkedip-kedip pelan, terang lalu redup, seakan ada arus yang terus terputus dan tersambung kembali. Dan di sudut ruangan yang paling gelap, di balik bayangan lemari kayu tua yang tinggi, terlihat samar-samar bentuk tubuh seseorang yang berdiri diam tegak, tak bergerak, menatap mereka, namun tidak bergerak mendekat maupun menjauh, seakan menjaga jarak yang tepat.
Laras mengeluarkan buku catatannya dan mulai menulis dengan tangan yang sedikit gemetar, ujung pena hampir menembus kertas karena tegangannya. Pagi hari, kabut tebal, tidak ada angin, suhu turun drastis di dalam rumah. Langkah kaki terdengar jelas di lantai semen bagian belakang berat, pelan, mendekat. Semua berdiri diam saat suara itu terdengar. Benda bergeser sendiri tanpa ada yang menyentuhnya. Lampu berkedip. Bayangan di sudut ruangan yang tidak ada orang. Rumah ini bukan kosong. Rumah ini sedang menunggu. Dan yang berjalan di atas lantai semen itu tidak terlihat, tapi ia ada di sini, bersama kita, berjalan di antara kita, dan ia tahu kita ada di sini.
Saat ia menuliskan kalimat terakhir itu, terdengar suara ketukan pelan dari arah pintu belakang satu, dua, tiga... teratur, sabar, berirama, seakan orang yang mengetuk tahu bahwa mereka sedang mendengarkan, seakan ia tahu mereka sedang menunggu. Bunyi ketukannya jelas bukan pada kayu, melainkan pada pintu yang kokoh dan tebal, dan suaranya bergema di seluruh ruangan, memantul dari dinding hingga ke lantai semen yang dingin, hingga terasa bergetar di bawah telapak kaki mereka.
Dimas memejamkan mata rapat-rapat, kuku-kukunya menancap hingga meninggalkan bekas di telapak tangannya. Ia ingat peringatan itu jangan pernah membuka pintu belakang. Dan ketukan itu... itu bukan ketukan orang yang meminta izin masuk dari luar. Itu ketukan orang yang sudah ada di dalam, dan ingin keluar.