Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah pengakuan
Digo. Sosok jangkung dikenal sebagai sosok Casanova di SMA Garuda Indonesia. Penggoda ulung, dengan sejuta pesona. Hobinya cuma menggoda adik kelas sampai mereka gumoh. Tak heran, kalau itu membuat nama Digo melambung di kalangan anak cewek.
Nggak tahu aja sih mereka, kalau tingkah Digo yang seperti itu hanya sebuah bentuk pelarian. Ya—pelarian dari penolakan seorang Sheila Gabriella.
Tapi kalau kata Mahendra, Digo itu kayak cacing kepanasan. Pecicilan, alias nggak bisa diem-apa-apa lagi kalau udah di satuin sama Devandra. Macam belahan jiwa yang saling melengkapi. Yang satu bodoh, yang satunya aneh. Jadi pas banget!
Bukan apa-apa, hanya saja tingkah cowok itu sering memancing amarah Mahendra. Rasanya Mahendra benar-benar ingin menonjok wajah Digo, setidaknya sekali sebelum dia mati. Seperti saat ini. Ketika Digo tiba-tiba meneleponnya hanya untuk melontarkan pertanyaan yang sangat amat tidak penting.
"Tebak! Gue lagi di mana?" tanya Digo sambil nyengir kuda.
Tak lama terdengar geraman rendah dari seberang sana. "Peti mati."
Digo yang semula lagi nyengir-nyengir mendadak mengubah ekspresi wajahnya. "Astaghfirullah! Mulut lo ya, Mahendra!"
"Cepetan! Lo ngapain telpon gue?" seru Mahendra dengan galaknya.
"Kagak sih, cuma mau main tebak-tebakan aja. Gue tadi rencananya mau telpon Tristan tapi di tolak."
"Jadi nggak ada yang penting?!" selidik Mahendra dari seberang sana.
"Nggak," jawab Digo seolah minta di tonjok.
"NGGAK WARAS, LO!" Mahendra berteriak, nyolot.
Tut! Panggilan terputus setelahnya.
Lah! Gitu aja emosi si Bon Cabe. Sesaat Digo menggelengkan kepalanya. "Perlu ke RSJ itu orang, emosinya nggak stabil."
Sekarang ini Digo tengah melangkahkan kaki melewati pintu rumah sakit. Tahu kan cowok itu mau apa?
Yups! Menjenguk ibu Sheila.
Tetapi ketika dirinya telah sampai di lorong rumah sakit, langkahnya harus terhenti kala mendapati Sheila di sana. Gadis itu terlihat tengah berbincang dengan seseorang di depan meja administrasi.
"Apa nggak ada keringanan biaya? Saya sudah pakai BPJS juga."
"Nggak ada mbak. Potongannya hanya sekian, mohon segera dilunasi. Jika tidak rumah sakit terpaksa lepas tangan atas pengobatan pasien."
"Kasih saya waktu seminggu la—"
"Nggak bisa! Ini sudah lewat dari tanggalnya, sebaiknya mbak cari rumah sakit yang bersedia menampung pasien."
Mendengar itu, Digo berjalan mendekat. Berniat menghampiri.
"Ada apa Sheila?"
Langsung saja Sheila menoleh, kedua matanya menatap wajah Digo dengan sorot mata terkejut. "Ngapain di sini?"
Merasa percuma bertanya, Digo memilih beralih kepada perempuan yang berada di balik meja administrasi. "Ada apa, mbak?"
"Begini, pasien atas nama Sarah Gabriella belum membayar tagihan pengobatan untuk menjalani kemoterapi."
Digo cukup terkejut mendengarnya. Dilihatnya Sheila yang telah membuang tatap ke arah lain. "Biar saya aja yang bayar," ucap Digo mengambil keputusan, tanpa berpikir panjang.
Langsung saja Sheila menoleh. "Nggak usah!" katanya sambil menahan tangan Digo yang hendak mengeluarkan ATM dari dalam dompetnya.
"Nggak apa-apa, kali! Santai aja!" kekeh Digo sebelum beralih ke arah pegawai administrasi.
Cowok itu hanya ingin mencairkan suasana.
Sesaat Sheila mengepalkan kedua tangannya, gadis itu menarik lengan Digo untuk ikut bersamanya.
Menjauh dari meja Administrasi.
"Apaan sih lo! Nggak usah ikut campur, mending kakak balik! Gue bisa urus semuanya sendiri," herdik Sheila memasang wajah serius.
"Lo mending pulang! Gue kan udah bilang jangan dateng kesini!"
Ah! Katakan Digo bodoh lantaran terus berusaha datang walau tahu tidak pernah diizinkan untuk masuk. Tapi gimana dong, Digo itu tipe orang yang tidak mudah menyerah.
Ketika Kael William masih dirawat disana, Digo memiliki alasan menemui Sheila. Dengan membawa bingkisan dan bunga setiap hari untuk Sarah Gabriella. Tapi sekarang dirinya tidak memiliki alasan dan gadis itu semakin gencar menolak kehadirannya.
Seperti sekarang ini.
"Gue mau jenguk ibu lo—"
"Nggak perlu, kak!" tolak Sheila dingin ketika Digo menyodorkan buket bunga kepadanya. Sudah tidak terhitung berapa bunga yang berakhir di tempat sampah akibat ulah Digo yang terus memaksa datang.
"Kakak mending pulang!"
Digo mengangguk kecil. "Oke, tapi setelah gue urus administrasi nyokap lo."
"Gue nggak mau!" tolak Sheila nyaris frustasi dengan sikap kakak kelasnya itu.
Tidak! Nyatanya Sheila frustasi karena memikirkan semuanya.
Kenapa, biaya pengobatan ibunya sangat mahal?
Kenapa, ayahnya meninggalkan keluarga mereka?
Kenapa, dirinya mendapatkan manusia seperti Revan sebagai kakak? Dan banyak lagi!
Semua pertanyaan itu benar-benar membuat Sheila merasa sangat sesak dan tidak berdaya.
"Lo kenapa sih, selalu nolak bantuan gue? Jelas-jelas nyokap lo butuh biaya biar bisa langsung ikut kemoterapi."
Sheila masih diam dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Gadis itu terlihat sangat kalut dan berantakan di mata Digo, entah mengapa hal seperti itu membuat Digo sangat sedih.
"Karena gue nggak butuh!" ungkap Sheila seolah keras kepala.
"Lo jijik ya sama gue?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Digo itu sukses membuat kedua netra Sheila bergerak tidak fokus. Gadis itu merasakan sesuatu mulai mengusiknya—dan itu harus segera dihentikan.
Sheila jelas tidak tahu bagaimana perasaan Digo saat menanyakan hal itu.
Lantaran semua orang berpikir Digo hanya bermain-main dengan Sheila. Cowok itu tidak serius, katanya. Mereka beranggapan jika Digo hanya marah dan penasaran—tentang bagaimana figur cantik itu bisa terus bersikukuh menolak kehadirannya sejak 4 semester lalu, padahal sangat banyak gadis yang rela bertukar posisi dengan Sheila.
Tetapi mereka jelas salah. Tidak ada yang mengerti, termasuk teman-temannya juga beranggapan sama. Padahal Digo tidak pernah main-main jika sudah menyangkut tentang Sheila. Cowok itu benar-benar peduli dengan gadis itu.
"Nggak gitu," gumam Sheila mulai merasa tidak enak hati. Suaranya bahkan mulai terdengar bergetar.
"Gue cuma nggak enak sama lo, Kak." Sesaat tatapan Sheila turun, seolah mencoba menghindari sorot mata yang menghujamnya dengan sangat keras. "Gue nggak mau ngerepotin siapa pun, termasuk lo."
"Gue nggak ngerasa direpotin sama lo," sahut Digo cepat. Mencoba memberi pengertian.
"Kalau bantuan gue buat lo ngerasa nggak nyaman, lo bisa ganti kalau udah ada." Cowok itu kembali berucap dengan intonasi rendah. Kedua matanya masih setia menatap serius ke arah Sheila yang masih tertunduk di hadapannya.
Menghela nafas beberapa kali, Digo menoleh ke arah meja Administrasi. Menatap sinis sang penjaga yang tampak mengawasi keduanya. "Mending samperin nyokap lo! Biar gue urus semuanya."
"Gue nggak mau ngerepotin—"
"Please ... biarin gue bantu lo kali ini," bujuk Digo dengan serius. "Demi nyokap lo juga."
Sheila menahan lengan Digo yang hendak berlalu, gadis itu menarik ujung lengan pakaian cowok itu. "Terima kasih!" bisik Sheila seraya tersenyum kecil. "Pasti akan gue balikin secepatnya."
Mendadak desiran hangat menghampiri Digo. Cowok itu ikut tersenyum dibuatnya. Setelahnya, tanpa mengatakan apa pun—Digo berjalan ke arah meja Administrasi. Cowok itu benar-benar melakukan tugasnya untuk membantu Sheila. Menandatangani beberapa surat persetujuan sampai membayar lunas tagihan pengobatan untuk Sarah Gabriella.
Rela menggunakan semua tabungannya untuk itu.
Naif. Mungkin itu kata yang paling pas menggambarkan sosok Digo. Cowok itu sama sekali tidak sadar, kalau senyum manis di wajah gadis yang ia anggap baik hati itu kini berubah jadi senyum licik.
Sheila Gabriella sudah memegang kendali penuh—permainan dimulai.
Di tempatnya, Sheila menggeleng kecil. Bagaimana ada orang sebodoh ini? Otak Digo itu berfungsi nggak sih?
Usahanya berhasil, Digo dengan mudah mengeluarkan uang 11 juta hanya untuk membantunya sekali saja.
Tunggu! Bagaimana jika Sheila pura-pura menangis tadi, apa cowok itu akan membayar lunas biaya perawatan ibunya di rumah sakit ini, sampai nanti?
Ya, sudah pasti.
Tidak ingin ambil pusing, Sheila berbalik arah—berniat kembali ke ruangan ibunya. Bagaimanapun gadis itu harus selalu berada di sisi ibunya. Tetapi dengan terpaksa langkahnya terhenti, lantaran mendapati sosok Revan telah menghadang jalannya.
Cowok itu memandangnya dengan tatapan menuntut sekaligus memperingati.
"Ngobrolin apa lo sama dia?" tuntut Revan dengan nada tidak suka mengudara. Sesaat cowok itu menatap tajam ke arah Digo yang masih berada di depan meja administrasi.
Melihat Revan hendak menghampiri Digo, dengan cepat Sheila menarik lengan kakaknya itu untuk ikut dengannya. Kemanapun, di mana Digo tidak bisa melihat mereka. Tidak! Jika Digo melihat Revan di sini, gagal sudah rencananya.
"Lo ngapain di sini?" tanya Sheila setelah membawa Revan menjauh dari posisi Digo berada.
"Lo ada hubungan apa sama bajingan kayak dia?"sanggah Revan yang tidak bisa mengontrol suaranya.
"Ini rumah sakit! Jangan teriak-teriak!" peringat Sheila ketika beberapa orang menoleh ke arah mereka.
Amarah Revan terpancing, cowok itu mencengkram lengan saudaranya kuat-kuat. Tak heran jika nantinya meninggalkan bercak kemerahan di sana. Hal seperti ini sudah biasa.
Sorot mata Revan masih terlihat menuntut sebuah jawaban dengan tidak sabar. "Jangan macem-macem ya, lo! Jawab gue! Itu kacungnya Kay kenapa bisa sampe sini?!"
"Lo pacaran sama dia?" selidik Revan dengan suara rendahnya. Terdengar sangat menakutkan, ditambah sorot mata cowok itu terus menatap Sheila dengan tajam.
Sheila terperangah di tempat.
"Nggak! Lepasin gue!" bisik Sheila yang masih berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman Revan.
"Jawab gue! Dengar ya, lo tau gue nggak pernah suka sama geng mereka! Mau jadi cewek apaan lo pacaran sama orang nggak bener kayak gitu!" pekik Revan tertahan tepat di depan wajah Sheila.
Di tempatnya Sheila mendengus pelan. "Lo pikir gue bodoh pacaran sama orang kayak dia? Gue juga ngelakuin itu karena kita butuh dia sekarang!"
Revan tersenyum remeh. "Kenapa orang kayak gue butuh bajingan kayak dia!"
"Itu karena lo nggak mampu buat bayarin pengobatan Ibu. Kita butuh duit dia sampe ibu bener-bener sembuh," jelas Sheila yang sukses membuat Revan bergeming di tempat.
Melihat kelengahan kakaknya, Sheila melepaskan cengkraman pada lengannya. Lantas mendorong tubuh Revan untuk menjauh darinya.
"Dan sebelum itu terjadi, mendingan lo nggak usah dateng ke sini. Gue nggak mau Digo tau kalau ternyata gue ada hubungan darah sama orang kayak lo!"
Sheila memandang wajah kakaknya dengan penuh luka. "Nggak usah sok peduliin gue sama ibu! Urusin aja temen-temen bejat lo itu!" desisnya sebelum berlalu.
***************
Pelajaran olahraga berakhir sejak tadi. Tetapi Kay masih belum berganti seragam. Ngilangin keringat, pikirnya. Cowok itu memilih pergi ke ruang guru alih-alih ruang ganti.
Ngapain? Dipanggil karena pelanggaran sekolah, lah!
Nggak dong, bercanda. Udah insyaf dia. Tujuannya datang adalah untuk menanyakan tugas-tugasnya yang masih kosong. Yah—setelah merenung beberapa hari terakhir, Kay tersadar jika dikeluarkan dari OSIS ternyata ada hikmahnya.
Salah satunya, Kay bisa mengejar keterlambatan materi dan tugas-tugas yang masih tertinggal. Bukan apa-apa, hanya saja selama semester terakhir, cowok itu selalu disibukkan oleh kegiatan OSIS. Bisa dibilang, Kay ketinggalan materi lantaran sering izin saat pelajaran berlangsung.
Tak jarang juga cowok itu harus melewatkan ulangan harian hanya karena jadwal OSIS yang padat.
Tetapi sekarang tidak. Dirinya sudah tidak memiliki kegiatan apapun di luar pembelajaran, pikirnya ini kesempatan yang baik untuk mengejar pelajaran sekaligus memperbaiki nilai. Sebentar lagi dirinya sudah kelas dua belas, jadi tidak terlambatkan?
Tok! Tok! Tok!
Setelah mengetuk pintu, Kay berjalan masuk ke dalam ruang guru. Mencari sosok Wali Kelasnya—Pak Handoko.
"Ada apa, Kay?" tanya beliau tatkala mendapati Kay mendatangi meja kerjanya.
"Tentang kekurangan tugas di semester ini, kata bapak saya masih kurang banyak."
"Oh, ya betul itu!" Sejurus kemudian Pak Handoro beralih ke komputernya. Beliau terlihat mencari sesuatu untuk ditunjukkan kepada Kay.
"Lihat! Banyak nilai yang masih kosong, guru-guru mapel yang lain sudah nagih nilai ke bapak."
Di tempatnya Kay merendahkan tubuhnya, kedua netranya memperhatikan layar komputer berisi data kekurangan tugas. "Boleh saya foto, Pak?"
Pak Handoko mengangguk kecil. "Silahkan!"
Mendengar itu, Kay langsung merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Memotret daftar tugasnya.
Setelah itu dirinya terlibat percakapan ringan dengan Pak Handoko, tentang konsekuensi keterlambatan pengumpulan nilai serta beberapa urusan kelas.
"Kamu, mau kembali ke kelas?" tanya Pak Handoko.
"Iya, Pak." Kay menjawab dengan sopan.
"Tolong panggilkan Gilang dan Rafid! Mereka juga masih hutang banyak nilai!"
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." Setelah mengatakan itu, Kay keluar dari ruang guru. Cowok itu berniat mengganti seragamnya serta sebelum ke kelas.
Sesampainya di kelas, sesuatu yang tidak diharapkan muncul di hadapannya. Sesuatu itu bernama Zacky Aksa. Ingat dengan sosok kakak kelas yang Kay pukuli di kantin beberapa bulan lalu?
Ya—dia adalah kakak kelas yang mengganggu Rora.
Sial! Ngapain sih itu orang datang lagi?
Oke! Biar Kay jelaskan—semenjak dirinya resmi mundur dari jabatannya sebagai ketua OSIS, banyak organisasi maupun klub ekstrakurikuler yang berinisiatif merekrutnya agar bergabung untuk menjadi bagian dari mereka. Seperti yang Bastian lakukan.
Mulai dari Paskibra, Baseball, sampai Klub Basket. Bukan tanpa alasan mereka ingin Kay bergabung—itu karena Kay dikenal kompeten dalam bidang olahraga, cowok itu juga piawai dalam mengatur suatu organisasi.
Tapi sayangnya Kay hanya tertarik pada satu klub, yaitu taekwondo. Alhasil, Kay menolak semua tawaran yang diajukan untuknya. Orang normal tidak akan datang untuk kedua kali untuk membujuk Kay—karena itu berarti mencari masalah.
Kay tidak akan mengubah keputusannya meskipun diberi tawaran yang sama sebanyak 100 kali. Terbukti dengan kegigihan Bastian yang berakhir gagal. Tapi rupanya kakak kelasnya yang satu ini, belum paham juga.
"Ngapain?" tanya Kay tanpa basa-basi.
Cowok itu berjalan mendekat ke arah bangkunya. Di mana Zacky dan temannya duduk dengan sebelah kaki dinaikkan ke meja. Kakak kelasnya itu juga membawa bola basket di tangannya, yang terlihat beberapa kali dipantulkan ke dinding kelas untuk dijadikan mainan.
"Gabung ke klub basket kita, Kay!" ucap Zacky yang terdengar layaknya perintah.
"Gue nggak bisa!" tolak Kay seraya menyingkirkan kaki kakak kelasnya dari atas bangkunya. "Minggir!"
Zacky terdiam sesaat sebelum menuruti perintah Kay. Jika dirinya tidak ingat harus membujuk Kay bergabung dengan Klub Basketnya, sudah dipastikan sebuah tinju melayang di wajah sombongnya.
adik kelasnya itu. Zacky jelas masih menaruh dendam akibat kejadian di kantin beberapa bulan lalu.
"Lo mending gabung, Kay! Pak Andrian udah percaya banget sama lo, dia pengen lo ikut pertandingan di musim pertama," kali ini teman Zacky yang bersuara dengan serius.
"Gue nggak mau, bukannya masih ada Kael William?" balas Kay sambil duduk di bangkunya. Dengan santainya mengambil buku paket dari dalam tas—cowok itu berniat mengerjakan tugas-tugasnya.
"Dia udah nggak ikut. Katanya mau fokus buat UTBK."
Kay tersenyum miring. "Alasan doang itu. Dia aja kemarin habis ngapel sama ceweknya," kata Kay sebelum mengedarkan pandang ke penjuru kelas.
"Lang! Gilang!"
"Apaan?" Sosok berbadan pendek yang dimaksud menoleh.
"Lo sama si Rafid dicariin Pak Handoko." Setelah mengatakan itu, Kay kembali fokus ke latihan soalnya.
Seolah menganggap kedua kakak kelasnya adalah angin berlalu. Jelas itu membuat presensi Zacky merasa diabaikan.
Adik kelasnya yang satu ini memang luar biasa kurang ajarnya.
"Kay! Jadi gimana?!" tuntut Zacky sambil memantulkan bolanya ke lantai. Berniat menarik atensi Kay agar kembali kepadanya.
"Gimana, apanya?" gumam Kay bermalas-malasan.
"Gabung aja ke klub kita! Kesempatan bagus kayak gini nggak mungkin datang dua kali, apalagi buat orang kayak lo," pungkas Zacky penuh penekanan.
Kesabarannya jelas hampir habis. Ck! Sialan memang Pak Andrian—karena guru itu, dirinya harus memohon kepada Kay seperti ini.
"Maaf! Tapi gue nggak mau." Jawaban dari Kay itu membuat Zacky dan temannya terperangah. Jelas ini melukai harga diri mereka. Banyak teman-teman Kay, yang notabene adik kelas menyaksikan itu.
"Lo itu udah bukan ketua OSIS lagi, Kay! Masih aja belagu! Harusnya lo berterima kasih masih ada yang mau nampung di ekstra."
"Kenapa, lo nggak terima?" herdik Zacky, nyolot—ketika Kay akhirnya membalas menatapnya dengan tajam.
"Kriminal kayak lo emang nggak pantes sih gabung ke klub kita. Pastinya cuma bisa ngerusak. Gue bingung sama Pak Andrian yang ngebet banget, buat kriminal kayak lo masuk ke klub kita," sindir Zacky yang membuat suasana kelas terasa semakin panas.
"Jangan gitu Zack! Anaknya Yang Terhormat Freddy Narendra, tuh!" ejek teman Zacky ikut-ikutan menimbali dengan raut wajah kesal.
Jika tidak salah namanya Gio. Anak kelas dua belas yang dulunya suka ngebully adik kelas waktu angkatannya Kay masih MOS.
Mendengar ucapan temannya, Zacky sengaja berubah ekspresi wajahnya menjadi ketakutan. Cowok itu jelas hanya berpura-pura.
"Oh, iya! Maaf-maaf. Bokap lo pengacara kan, ya?" celetuk Zacky seraya memantulkan bola basket ke kepala Kay, lantas menangkapnya lagi.
"Pasti gampang lah, kalau cuma ngeluarin lo dari penjara," sindir Zacky seolah berniat memancing amarah Kay. "Ya, kan?"
Baik Zacky dan Gio tertawa sarkas melihat bagaimana wajah Kay yang berubah menjadi merah. Rahang cowok itu terlihat mengeras, tangannya mengepal seolah siap mematahkan tulang kakak kelasnya itu lantaran merani mengusiknya.
Mereka jelas melakukan kesalahan besar. Membangkitkan amarah Kay Morgan, bukanlah pilihan yang bijak.
Tak!
Kay meletakkan bolpoinnya ke meja dengan kasar. Menimbulkan suara yang menusuk di antara hening kelas.
Seolah tak tahan menjadi diam. Cowok itu akhirnya mengangkat wajahnya. Sungguh! Kay berusaha mengendalikan diri sejak tadi. Kay tidak ingin meladeni, tapi bajingan-bajingan di hadapannya terus memancing amarahnya sampai meledak.
Kay menyeringai ke arah Zacky. Tatapannya berubah tajam, netranya juga mulai menggelap—sesaat sukses membuat nyali Zacky menciut. "Gue kriminal aja, masih bisa bikin lo ngemis-ngemis biar gue gabung ke klub lo,"
"Apa lagi kalau bukan, udah sujud di kaki gue—"
BUGH!
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Kay bisa merasakan pukulan keras mendarat di rahangnya. Hal itu bahkan menyebabkan Kay terjatuh dan terperosok ke lantai. Pekikan terkejut dari gadis-gadis di kelas Kay terdengar memenuhi ruangan setelahnya.
Mereka semua langsung berlari menjauh dari meja Kay.
DUG!
Dengan sangat keras Zacky memantulkan bola basketnya ke kepala Kay. "Udah ngerasa hebat, lo!"
"Ck! Yaelah Kay ... Lo itu cuma hama di sekolah ini. Ngerusak nama sekolah aja masih bisa songong! Mentang-mentang anak orang kaya?!"
Di tempatnya Kay menyeka darah segar yang keluar dari ujung bibirnya. Ah, sial! Ini jelas sobek. Cowok itu juga beberapa kali mengerjapkan mata guna memfokuskan pandang. Ya bayangin aja, kepala habis dilempar pakai bola basket dua kali. Mata Kay kan jadi berkunang-kunang.
"Ngomong, lo!" seru Zacky yang masih bisa didengar oleh Kay.
Sesaat Kay melirik kursi kayu di sampingnya. Jika ini Kay yang dulu, dirinya pasti sudah langsung berdiri—menghantamkan kursi itu ke kepala Zacky. Memastikan kepala kakak kelasnya itu pecah di depan matanya. Dirinya menang, itu pasti.
Tapi tidak. Kay yang sekarang tidak ingin menang. Lebih tepatnya, Kay tidak ingin begitu. Berakhir di ruang BK dan mendapatkan skors. Dirinya sadar itu bukan tindakan yang keren.
Nyatanya, dalam hidup tidak selalu harus menang.
Kay menelan salivanya diam-diam. Mencoba mengatur pernafasannya sebelum berdiri.
"Maaf, Zack! Tapi gue nggak mau gabung ke Klub Basket. Bukan karena gue songong, tapi gue udah ikut taekwondo. Waktunya nggak akan cukup," kata Kay berusaha tetap tenang.
Menatap Zacky dan Gio yang terlihat terkejut dengan respon Kay. Cowok itu terlihat tenang—tidak sekeras biasanya. Mereka pikir Kay akan membelas.
Ini jelas aneh. Teman-temannya bahkan berpikiran sama. Suasana mendadak terasa mati, ini lebih menakutkan daripada ketika Kay mulai meledak-ledak emosinya. Bahkan Zacky dan Gio yang sudah mengenal bagaimana sosok Kay tidak bisa mengeluarkan kata-kata lantaran terkejut.
"Gue bakal temuin Pak Andrian langsung, buat nolak. Lo berdua nggak perlu capek-capek lagi buat bujuk gue gini," lanjut Kay sambil mengambil beberapa lembar jawab dan buku dari atas mejanya.
"Maaf juga buat omongan gue tadi, habis mabuk gue!" kata Kay ngasal.
Sejurus kemudian, cowok itu berjalan keluar kelas.
dengan buku-buku di tangannya. Setiap langkah Kay diiringi tatapan penuh tanya dari semua orang.
Anjani sekali, kemana perginya temperamental seorang Kay Morgan? Dimakan cicak kah, sampai hilang begitu?
Lain halnya dengan teman kelasnya yang pasti masih terheran-heran, Kay yang sudah sampai di tengah lorong kelas diam-diam tersenyum. Ada perasaan lega sekaligus bangga dalam dirinya.
"Anjay! Keren juga gue tadi!" bisik Kay kesenangan nggak jelas.
****************
Perpustakaan sekolah.
Entah bagaimana Kay bisa berakhir di sana. Pikirnya ini salah satu tempat terbaik untuk menemukan sesuatu yang dirinya butuhkan sekarang, yaitu ketenangan.
Ya—buat ngerjain kekurangan tugasnya.
Ketika cowok itu berjalan masuk ke dalam perpustakaan, semua pasang mata langsung tertuju padanya.
Dih! Kayak Miss Indonesia, aja!
Memilih mengabaikannya—Kay melanjutkan langkahnya. Lagi pula itu sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya. Masih dengan menenteng buku paket dan lembar jawabannya, Kay mencari-cari bangku kosong.
Tetapi langkahnya langsung berhenti kala mendapati sosok Rora juga berada di sana. Gadis itu terlihat tertidur pulas di salah satu bangku dengan posisi tangan sebagai bantal. Sesaat Kay tersenyum tipis, cowok itu menghampiri Rora detik selanjutnya.
Biarkan saja jika Rora akan memarahinya nanti. Yang jelas Kay ingin duduk di samping gadis itu, maka dengan sangat hati-hati cowok itu menarik bangku di sebelah Rora. Duduk di sana dengan tenang sekaligus menjaga gadis itu kala tertidur.
Siapa tahu, ketika Rora tidur ada yang berniat jahat dengan mencolong bolpoin dan pensil gadis itu.
Yaelah si Kay! Niatnya sih mau ngerjain tugas, malah jagain anak orang tidur.
Mengabaikan akal sehatnya, Kay justru memperhatikan wajah Rora yang sedang tertidur dengan earphonenya, dalam diam.
Ditariknya salah satu earphone yang bergelantung bebas di sisi meja. Berniat mengetahui lagu macam apa yang gadis ini sukai, Kay memasangkannya.
earphone itu ke telinganya. Tapi sayangnya yang tengah Rora dengarkan bukan sebuah lagu, melainkan sebuah pesan suara.
Dan itu adalah suara Shayen.
Di tempatnya Kay langsung terpaku. Suara itu nyatanya masih berhasil membuatnya sesak. Dadanya berdesir nyeri. Pesan-pesan itu ... rasanya tidak asing di telinga Kay.
"Jangan lupa belajar!"
"Jaga kesehatan!"
"Jangan lupa bawa payung!"
Kay tersenyum miris. Mengingat bagaimana dulu dirinya juga mendapatkan pesan-pesan yang sama dengan milik Rora. Kaset-kaset usang itu, pesan-pesan suara bodoh itu—bagi Kay semua hanya omong kosong.
"Kalau lo emang khawatir sama kita, harusnya balik dari dulu, bangsat!" bisik Kay sangat pelan. Terlalu pelan, sampai hanya bisa didengar olehnya.
Berbeda dengan Rora yang menyimpan dan mendengarkan rekaman pemberian dari Shayen, Kay justru telah membuangnya. Cowok itu menolak setiap kali paket dari Shayen datang. Kay tidak ingin menerimanya—alhasil semua rekaman suara itu berakhir di tempat sampah.
Masih dengan earphone yang menyumpal di sebelah telinganya. Kay ikut menumpukan wajah pada lipatan tangannya. Menghadap ke arah Rora. Memandang wajah gadis itu dengan sorot mata lembut, nyaris kosong, dan tanpa jeda.
Entah kenapa Kay mendadak merasa hampa.
Ruangan terasa sunyi nyaris mati. Bahkan suara milik Shayen yang semula menyapa melalui kabel earphone sudah tidak terdengar lagi.
Hening.
Hanya ada napas pendek-pendek milik Rora yang entah sejak kapan mulai bersahutan dengan deru napasnya. Tanpa sadar, seulas senyum terbit di bibir tipis cowok itu. Diliriknya jemari kecil milik Rora yang masih sentiasa menggenggam pulpen.
Ck! Sejak kapan gadis ini terobsesi dengan yang namanya belajar?
Sejurus kemudian, dengan sangat hati-hati Kay menarik benda panjang itu dari jemari Rora. Tanpa sengaja membuat jemari keduanya bersentuhan. Di tatap wajah Rora yang masih terlihat terlelap sekali lagi. Rora belum merasa terganggu kala Kay menyentuh ujung kelingkingnya dengan ragu.
Jemari Rora begitu mungil jika dibandingkan dengan miliknya. Tanpa sadar hal sederhana seperti itu membuat Kay kembali tersenyum kecil. Cowok itu menautkan kelingking mereka dengan hati-hati. Mencoba menikmati sunyi, dengan Rora di sampingnya.
Dipandanginya wajah Rora untuk kesekian kali. Tetapi kali ini berbeda. Tatapan Kay terlihat menuntut—mencari sebuah jawaban yang mengganggu dirinya akhir-akhir ini.
Jantung yang berdebar, perasaan yang gembira?
Jika diingat-ingat Kay selalu merasakan itu ketika bersama Rora. Seperti saat ini—hanya dengan sebuah sentuhan kecil. Ah, tidak! Sejatinya Rora tidak perlu melakukan apapun untuk memacu debaran jantung milik Kay.
Gadis itu hanya perlu di sini—di sampingnya seperti saat ini. Dan segalanya terasa sempurna.
Menyadari sesuatu, Kay tersenyum miring. Cowok itu menemukan jawabannya.
Ah, sial! Rupanya Devandra benar adanya.
Kay sudah membiarkan dirinya jatuh cinta pada Rora.