Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gue Tetap Anak Bengkel
Malam sebelum hari pernikahan digelar, suasana di paviliun sayap timur The Wirasena Compound terasa begitu mencekam. Udara di sana seolah membeku menjadi es.
Di dalam kamar tidurnya yang luas berdesain minimalis monokrom, Evan berdiri membisu di dekat dinding kaca antipeluru. Dari ketinggian lantai atas itu, ia menatap gemerlap lampu kota yang tampak seperti lautan bintang buatan.
Tapi, mata elangnya sama sekali tidak memantulkan keindahan apa pun. Hanya ada kebencian mendalam yang menyala-nyala di sana.
Evan memutar gelas kristal berisi whisky mahal di tangan kanannya. Cairan amber itu berputar liar, seiring dengan gejolak amarah yang sedang mengoyak dadanya.
Ia mendengus kasar. Jemarinya mencengkeram kerah kemeja tidurnya hingga buku-buku jarinya memutih. Seluruh otot tubuhnya menegang kaku, menolak kenyataan pahit bahwa besok pagi ia harus menikahi seorang gadis miskin dari bengkel berdebu yang telah berani menginjak martabatnya.
"Pernikahan mewah? Kontrak suci?" cibir Evan dengan suara baritonnya yang rendah dan dingin.
Ia menelan minuman itu dengan satu tegukan besar. Rasa terbakar yang menjalar di tenggorokannya masih kalah dengan rasa muak yang bergemuruh di dadanya. Matanya menyipit tajam, membayangkan kembali wajah Aira yang dengan berani menepis cek miliaran rupiah miliknya.
"Kakek boleh saja memaksaku untuk membawamu masuk ke rumah ini, Aira. Tapi jangan pernah berharap kau bisa menikmati kemewahan harta Wirasena," desis Evan penuh penekanan.
Ia melemparkan gelas kristalnya ke sudut ruangan. Karpet bulu yang tebal meredam bunyi hantamannya dengan sempurna. Evan berjalan muncar-mandir dengan napas memburu, seperti seekor harimau yang terperangkap di dalam kandang emas.
"Aku akan membuat hidupmu di rumah ini layaknya neraka," gumam Evan dengan senyum dingin.
"Kau akan menyesal setengah mati karena sudah mengambil langkah ini. Aku akan pastikan kau merasa seperti hantu yang terisolasi di istana sendiri, gadis oli. Kau yang akan memohon-mohon untuk cerai dariku."
***
Sangat kontras dengan aura mematikan di kediaman Wirasena, kehangatan yang tulus justru menyelimuti bengkel Veloctra Motors.
Meskipun hari sudah mulai gelap dan gerbang bengkel sudah bersiap untuk ditutup, Pak Beni, Jaka, Rian sengaja berkumpul di ruang tengah yang sederhana. Mereka ingin melepas keberangkatan Aira. Aroma kopi dan bakwan goreng yang hangat memenuhi udara, menciptakan suasana kekeluargaan yang begitu kental.
"Selamat ya, Ra. Bapak bener-bener nggak nyangka kalau anak buah Bapak yang paling tomboi, yang tiap hari baunya oli sama bensin, besok bakal berubah jadi Nyonya Besar," ucap Pak Beni membuka percakapan.
Senyuman tulus terukir di wajahnya. Mata Pak Beni tampak berkaca-kaca menatap gadis itu.
"Iya bener, Pak! Gila bener si Aira," seru Jaka bersemangat di sela kunyahan bakwannya. "Gue kira lo bakal jomblo seumur hidup gara-gara galak banget sama cowok yang suka ngegodain lo. Eh, taunya sekarang langsung tembus ke level tertinggi! Wirasena Group, Ra! Itu mah langsung naik lift ekspress ke puncak!"
Rian tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Jaka, hingga hampir saja tersedak kopinya. "Iya, Jak! Bayangin aja, besok Aira bangun tidur bukan denger suara knalpot bobokan lagi, tapi denger suara pelayan nganterin sarapan. Hati-hati lho, Ra, nanti tangan lo yang biasa megang kunci inggris jadi kaku kalau cuma megang garpu emas."
Aira langsung memutar bola mata malas. Ia mendengus pelan sambil menjitak kepala Jaka dan Rian bergantian. Tapi, sentuhannya jauh lebih lembut dari biasanya.
"Hih! Apaan sih lo berdua, berisik banget dah!" tukas Aira, mencoba menyembunyikan getaran gugup di jarinya yang meremas ujung wearpack.
"Siapa juga yang mau jadi sosialita menye-menye? Lagian gue nerima perjodohan ini kan buat nyelametin tanah bengkel kita dari penggusuran korporat. jadi bagi gue, status pernikahan ini biasa aja. Nggak akan merubah siapa diri gue!"
Suasana di ruangan sederhana itu mendadak hening sejenak. Aira menjeda kalimatnya, lalu menatap Pak Beni serta kedua sahabat karibnya dengan binar mata yang teramat tulus. Ada kesedihan yang tersirat di sana.
"Gue janji, setelah menikah pun gue bakal tetap sering-sering mengunjungi kalian di sini. Kalau perlu, gue tetap ikut bongkar mesin! Gue nggak akan pernah lupa dari mana gue berasal," tambah Aira, suaranya sedikit serak karena menahan haru.
"Wah, mantap! Itu baru sahabat gue!" sahut Rian riang, meski matanya juga mulai terlihat basah. "Tapi sumpah, Ra... kalau pria kaya itu berani nyakitin lo, kabur aja balik ke sini. Pintu Veloctra Motors selalu terbuka buat lo."
Pak Beni tersenyum bijak, lalu menepuk pundak Aira dengan penuh rasa kasih sayang. Sentuhan tangannya yang kasar karena puluhan tahun bekerja keras terasa sangat menenangkan di hati Aira.
"Bapak tahu kamu anak yang baik dan tulus, Ra. Tapi ingat, dunia yang bakal kamu masuki besok itu sangat keras," pesan Pak Beni lembut tapi serius.
"Berbeda jauh dengan bengkel ini. Di sana, orang bisa tersenyum manis di depan tapi menusuk dari belakang. Tetap jaga diri dan harga dirimu dengan baik. Jangan biarkan siapa pun, termasuk suami barumu, merendahkan martabatmu sebagai Aira Dhea Ananta."
Aira mengangguk mantap. Ia menelan ludahnya yang mendadak terasa kering. Ia mencoba sekuat tenaga mengusir bayangan kejam Evan yang tiba-tiba berdesir di benaknya.
"Saya akan baik-baik saja, Pak. Saya punya prinsip," bisik Aira lirih pada dirinya sendiri.
Di kejauhan langit malam, sekelebat kilat menyambar membelah kegelapan. Sebuah pertanda bahwa badai sesungguhnya akan segera datang menerjang kehidupan mereka esok hari.
Sementara di kediamannya, Evan masih berdiri tegak di dalam kegelapan. Ia menunggu datangnya fajar yang amat ia benci, dengan seulas senyuman dingin yang mengerikan di bibirnya.