Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Menelan Inti
Ujung tombak itu bergetar tipis. Dingin logamnya terasa menyentuh leher, nyaris merobek kulit Ye Chan yang sudah basah oleh peluh dan darah.
Pemuda pemegang tombak itu tidak bicara. Matanya menyipit, mengamati setiap inci gerak-gerik Ye Chan dengan kewaspadaan yang tidak goyah. Pakaian kain kasarnya tampak kotor, tertutup noda lumpur sungai yang pekat.
Ye Chan menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya kering, serasa dicekik oleh udara malam yang lembap.
"Namamu?" tanya Ye Chan. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh deru air di kejauhan.
Pemuda itu mengernyitkan dahi. "Kenapa?"
"Aku perlu tahu siapa yang akan menyeretku pergi dari sini."
Tombak itu perlahan turun. Pemuda itu menghela napas panjang sebelum menyarungkan senjata pendeknya ke punggung.
"Lu Han," jawabnya singkat.
"Ye Chan."
"Nama asli?"
Ye Chan tersenyum tipis. Wajahnya meringis karena luka di rusuknya kembali berdenyut nyeri.
"Kalau aku berniat menipumu, aku pasti memilih nama yang jauh lebih elegan."
Lu Han mendengus, lalu berbalik memunggungi Ye Chan. "Bisa jalan sendiri?"
"Bisa."
Ye Chan melangkah. Napasnya terputus saat kakinya menjejak tanah yang tidak rata. Tubuhnya oleng ke samping, hampir tersungkur ke akar pohon.
Sebuah tangan kokoh mencengkeram lengannya dengan cepat. Lu Han menatapnya datar.
"Katamu bisa jalan."
"Aku tidak bilang bisa jalan dengan baik," sahut Ye Chan, berusaha menegakkan punggungnya yang terasa patah.
Lu Han tidak menjawab. Ia hanya terus melangkah menembus kabut tipis yang mulai menyelimuti hutan. Ye Chan mengikutinya, menjaga jarak tetap aman meski tubuhnya terus memberi sinyal untuk beristirahat.
Di belakang mereka, sungai mengalir tenang. Tidak ada raungan monster. Tidak ada lagi sisa ancaman yang terasa. Namun, Ye Chan terus menoleh ke belakang, memastikan tidak ada sesuatu yang merayap dari kegelapan hutan.
Satu jam berlalu. Hutan belantara mulai menipis, digantikan oleh struktur-struktur kayu yang mencuat dari permukaan air.
Ye Chan berhenti melangkah. Di hadapannya, sebuah permukiman kayu berdiri tegak di atas tiang-tiang penyangga yang terendam air. Jembatan kayu berkelok menghubungkan satu rumah ke rumah lainnya, membentuk jalur yang tampak seperti sarang laba-laba raksasa di atas permukaan danau yang luas.
"Desa Arus Dangkal," gumam Lu Han tanpa menoleh. "Orang-orang di sini hidup dari apa yang diberikan sungai."
Ye Chan mengamati sekeliling. Beberapa perahu kayu tambat di sisi dermaga, bergoyang pelan mengikuti irama arus. Seorang wanita paruh baya tampak menjemur tanaman berwarna biru di atas papan kayu, acuh tak acuh dengan kehadiran orang asing.
Ia kemudian menatap ke arah sungai yang lebih lebar di kejauhan. Tiga perahu besar melintas melawan arus dengan kecepatan yang tidak wajar. Sosok-sosok berjubah berdiri di atasnya, auranya tampak menonjol di antara penduduk desa yang biasa.
"Banyak kultivator di sana," bisik Ye Chan.
"Ini wilayah air," jawab Lu Han singkat.
"Wilayah air?"
Lu Han menunjuk sungai yang membentang luas. "Kau benar-benar orang luar kalau tidak tahu itu. Qi di tempat ini mengalir di setiap tetes air."
Ye Chan terdiam. Ia bisa merasakannya sekarang. Qi di udara sini terasa berbeda. Lebih padat, lebih cair. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan auranya berinteraksi dengan energi di sekitarnya.
Tubuhnya merespons. Sesuatu di dalam nadinya berdenyut pelan, seirama dengan detak sungai yang mengalir di bawah kakinya.
***
Rumah Lu Han sederhana, hanya terdiri dari satu ruangan dengan alas tidur tipis di sudut. Setelah Lu Han pergi mencari rempah untuk obat, Ye Chan duduk di atas lantai kayu yang dingin.
Di depannya, sebuah mangkuk berisi air diletakkan di atas meja.
Ye Chan menatap air itu. Bayangannya tampak samar di permukaan yang tenang. Ia tidak butuh segel tangan. Ia tidak perlu mengalirkan Qi melalui meridiannya secara paksa.
Cukup keinginan.
Ye Chan mengulurkan satu jari.
Air di dalam mangkuk bergetar. Riak halus terbentuk dari pusat, melebar hingga menyentuh pinggiran keramik. Ye Chan menggerakkan jarinya ke atas.
Air itu terangkat.
Satu cun, dua cun, lalu tiga. Air itu melayang di udara, membentuk bola kecil yang berputar perlahan tanpa tumpah. Ye Chan menatapnya dengan saksama.
Bukan teknik. Bukan pula manipulasi Qi biasa. Ini terasa seperti memanggil bagian dari dirinya sendiri yang telah lama hilang.
Ia menurunkan tangannya, air itu jatuh kembali ke mangkuk dengan suara denting yang nyaring. Dadanya terasa sesak. Menggunakan kemampuan ini—bahkan untuk gerakan sekecil itu—membuat meridiannya yang rusak terasa seolah dicambuk.
Ia menutup matanya. Kemampuan ini memang ada di tubuhnya, tertanam setelah pertempuran di sarang monster. Namun, Giok Kehampaan masih bungkam. Benda itu tetap menjadi misteri yang tidak memberikan jawaban atau panduan.
Ia harus belajar sendiri.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara yang ganjil.
GRAAAAH!
Suara itu menggetarkan kayu di bawah kakinya. Burung-burung malam yang tadi bersahutan mendadak senyap.
Lu Han mendobrak pintu rumah, wajahnya pucat pasi. "Tidak mungkin..."
"Ada apa?" tanya Ye Chan, bangkit berdiri meski kepalanya berdenyut.
"Sesuatu keluar dari sungai."
Lu Han menggenggam tombaknya. Ye Chan tidak menunggu jawaban lagi. Ia melangkah keluar ke jembatan kayu.
Di kejauhan, air sungai bergejolak hebat. Arus yang tenang tadi kini berputar membentuk pusaran raksasa. Sesosok makhluk raksasa muncul dari balik kabut. Tubuhnya hitam legam, ditumbuhi sisik yang berkilau di bawah cahaya bulan. Dua tanduk menonjol dari kepalanya, melengkung tajam.
Hewan Buas Bertanduk Hitam.
Monster itu tampak lebih kurus, gerakannya tidak selincah sebelumnya, namun auranya masih cukup untuk membuat penduduk desa berlarian panik.
"Semua orang menjauh dari sungai!" teriak Lu Han.
Monster itu berhenti. Hidungnya mengendus udara. Matanya yang biru gelap tertuju tepat ke arah rumah tempat Ye Chan berdiri. Ia telah menemukan jejaknya.
Ye Chan mengepalkan tangan. "Dia mengincarku."
"Kau mengenalnya?" tanya Lu Han, suaranya gemetar.
"Sayangnya."
Monster itu mengangkat satu kaki depannya.
BOOM!
Gelombang besar menghantam dermaga. Kayu-kayu berderit, terlepas dari pengaitnya. Penduduk desa menjerit.
Ye Chan tidak lari. Ia justru melompat turun ke atas jembatan kayu yang hampir terendam. Ia mengangkat tangan, bukan untuk menyerang, melainkan untuk menahan.
Ia memusatkan kesadarannya. Ia membayangkan arus di depannya sebagai perpanjangan dari lengannya sendiri.
Arus yang seharusnya menghancurkan dermaga itu tiba-tiba terbelah. Air yang meluap berbelok arah, meluncur ke samping dan menghantam batu-batu di pinggir desa, tidak mengenai rumah-rumah kayu.
Lu Han ternganga.
Ye Chan menggerakkan telapak tangannya lagi. Kali ini, ia menarik air di bawah kaki monster itu.
Monster itu kehilangan keseimbangan. Tubuh besarnya terjatuh, menghantam permukaan air dengan dentuman yang memekakkan telinga.
Ye Chan menatap mata monster itu. Keduanya saling menatap. Bukan dengan kebencian, melainkan dengan pemahaman yang aneh. Ye Chan merasakan gejolak di dalam inti monster itu.
Inti itu retak. Sesuatu telah hilang di sana—sepotong dari kemampuan yang kini mengalir di dalam tubuh Ye Chan sendiri.
Monster itu memegangi dadanya, meraung kesakitan.
Ye Chan tidak membuang waktu. Ia masuk ke dalam air. Ia tidak perlu berenang; arus seolah menopang tubuhnya, mendorongnya bergerak secepat kilat.
Ia menendang air, mengarahkan arus menghantam punggung monster itu.
DUAGH!
Monster itu terlempar ke arah bebatuan besar. Ia berjuang untuk bangkit, namun gerakannya melemah. Intinya tidak lagi stabil. Jika ia memaksakan diri, intinya akan hancur lebur.
Ye Chan berhenti di permukaan, napasnya memburu. Ia tidak berniat membunuhnya. Ia tidak memiliki kekuatan untuk itu. Ia hanya bertahan.
Monster itu menatap Ye Chan sekali lagi. Kemudian, ia berbalik. Tubuhnya perlahan tenggelam ke dasar sungai yang dalam, meninggalkan jejak darah yang memudar di permukaan air.
Ye Chan kembali ke jembatan kayu, tubuhnya basah kuyup.
Lu Han menghampirinya dengan langkah ragu. "Kenapa kau membiarkannya pergi?"
Ye Chan mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. "Mana mungkin aku membunuhnya dengan keadaanku sekarang."
Ia menatap air yang kembali tenang. Sesuatu telah didapatkannya. Penguasaan air yang lebih stabil, lebih murni.
Malam itu, di rumah Lu Han, lampu-lampu kecil mengambang di atas sungai. Ye Chan duduk di dekat jendela, memandangi pantulan bintang yang retak oleh arus.
"Besok aku akan pergi ke Kota Arus Biru," kata Lu Han sambil menuangkan teh ke dalam cangkir kasar. "Pelabuhan terbesar di sini."
Ye Chan menoleh. "Wilayah ini disebut apa?"
"Laut Seribu Arus."
Ye Chan terdiam. "Laut?"
"Jangan tertipu namanya," Lu Han tersenyum tipis. "Di sini semuanya terhubung. Sungai, danau, kepulauan. Semuanya satu kesatuan yang hidup."
Lu Han menatap Ye Chan lekat-lekat. "Kalau kau ingin bertahan, ingat satu hal."
"Apa itu?"
"Jangan pernah menganggap air itu kosong."
Ye Chan menatap sungai. Permukaannya tenang, seperti kaca yang tidak pernah tersentuh angin. Namun jauh di bawah sana, sebuah bayangan besar melintas. Bayangan itu sangat panjang, bergerak dengan keanggunan yang mengerikan.
Ye Chan menyipitkan mata. Sesuatu yang jauh lebih besar dari monster tadi.
"Sepertinya," gumam Lu Han, suaranya merendah, "kita tidak akan tidur malam ini."
Ye Chan berdiri. Tangannya mengepal di balik lengan bajunya. Air di dalam cangkir di atas meja tiba-tiba bergetar kuat, membentuk pusaran kecil meski tanpa angin.
Lonceng kapal berbunyi dari kejauhan. Disusul oleh raungan panjang dari dasar sungai—berat, dalam, dan penuh ancaman yang tidak bisa ia definisikan.