Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Titik Terdalam
Malam kedua di Nanji Camp Ground turun perlahan, tanpa riuh. Api unggun yang sejak sore menjadi pusat tawa kini tinggal bara kecil yang berpendar redup. Sebagian besar tenda sudah gelap. Angin dari arah Sungai Han membawa udara dingin yang cukup untuk membuat orang-orang menarik jaket lebih rapat, sekaligus cukup jernih untuk menajamkan pikiran.
Diskusi siang tadi ternyata tidak menghasilkan apa-apa selain daftar masalah. Konsep besar yang diharapkan menjadi tulang punggung proyek narasi artistik yang menyatukan visi musikal, visual, dan cerita ternyata berulang kali menemui jalan buntu.
Terlalu abstrak untuk pasar, terlalu aman untuk disebut berani, terlalu banyak kompromi hingga perlahan kehilangan jiwa.
Nala duduk di bangku kayu panjang dekat area komunal, laptop terbuka di hadapannya. Cahaya dari layar memantul samar di wajahnya yang tampak lelah. Rambutnya diikat rendah, beberapa helai terlepas dan menyentuh lehernya setiap kali angin berembus. Ia memijat pelipisnya pelan, bukan karena pusing, melainkan karena kelelahan mental yang tidak bisa diatasi hanya dengan tidur singkat.
Tatapannya masih tertuju pada layar, tetapi pikirannya terasa jauh. Beberapa kalimat yang sejak tadi ia susun di dokumen seolah tidak pernah benar-benar menemukan tempat. Ia menghapus satu baris, menuliskannya kembali, lalu kembali menghapusnya.
Jeongin berdiri tidak jauh darinya, memperhatikan tanpa menginterupsi. Sejak sore, ia sengaja menahan diri agar tidak terlalu dekat, atau memberi kesan dominan. Ia tahu kapan harus berbicara dan kapan harus membiarkan seseorang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Ia menunggu momen yang tepat hingga akhirnya malam ini, momen itu datang dengan sendirinya.
“Kalau kita terus pakai format rapat besar, ide ini tidak akan lahir... terlalu banyak suara,” ucap Jeongin akhirnya, suaranya rendah dan tenang.
Nala mengangkat kepala dan menoleh, mencari sumber suara yang datang dari arah sampingnya.
“Aku juga merasa begitu. Kalau terus seperti ini, perjalanan ini akan sia-sia dan hanya membuang waktu. Apalagi besok malam kita kembali. Aku tidak ingin merusak kepercayaan perusahaan,” ucap Nala, suaranya terdengar lelah, tetapi tetap menyimpan keteguhan. Ia mengembuskan napas pelan sebelum kembali menatap layar laptop di hadapannya.
Jeongin mengangguk tatapannya sempat jatuh pada wajah Nala yang terlihat semakin letih di bawah cahaya layar.
“Tim kecil... kita butuh key person saja. Kita cari benang merahnya dulu,” lanjutnya.
Beberapa menit kemudian, satu per satu anggota tim mengundurkan diri—bukan karena diminta, melainkan karena kelelahan yang nyata. Yu-ra mengeluh pusing dan memilih masuk tenda lebih dulu, Sumin sudah sejak tadi menahan migrain, Yoo-gi bahkan tertidur di kursi lipat dengan laptop masih terbuka di pangkuannya, kepalanya sedikit terkulai ke samping.
Tanpa ada keputusan resmi, malam itu menyisakan dua orang.
Nala dan Jeongin.
Mereka berpindah ke meja kayu yang lebih kecil, sedikit menjauh dari api unggun. Lampu taman menyala temaram di atas kepala, cukup terang untuk membaca, tetapi cukup redup untuk menciptakan jarak dari dunia luar. Sesekali terdengar suara dedaunan yang bergesekan diterpa angin malam.
Sungai Han mengalir tenang di kejauhan, memantulkan cahaya kota seperti garis-garis perak yang terputus di permukaan air. Di tengah suasana yang semakin sunyi itu, layar laptop Nala menjadi satu-satunya cahaya yang benar-benar menarik perhatian mereka.
Malam semakin larut namun untuk pertama kalinya sejak diskusi dimulai, ide-ide mereka justru mulai menemukan ruang untuk bernapas.
“Mulai dari sini,” kata Nala sambil memutar layar laptopnya ke arah Jeongin. “Apa yang sebenarnya ingin kita ceritakan?” lanjutnya sembari menatap ekspresi pria di sampingnya.
Jeongin tidak langsung menjawab saat itu juga, ia memilih membaca dan menyimak semuanya dengan seksama sebelum akhirnya berkata,
“Bukan tentang siapa mereka di panggung. Namun, siapa mereka saat tidak ada yang melihat, ASTRAE tidak boleh menjadi boy group yang template seperti grup lain. Prioritas kita adalah mereka sekarang,” ucapnya, membuat Nala terdiam.
Kalimat itu sederhana, tetapi tepat atau mungkin terlalu tepat. Diskusi mengalir pelan, nyaris tanpa jeda, mereka tidak saling mendominasi semuanya terasa seperti diskusi yang sehat bahkan Jeongin menyelaraskan ritmenya dengan Nala—menyelesaikan ide yang belum sempat ia ucapkan, mengembangkan poin yang hanya ia singgung sepintas.
“Kamu selalu berhenti di titik ini. Bukan karena idemu kurang, tetapi karena kamu takut terlalu jujur,” ujar Jeongin suatu saat, menunjuk bagian konsep yang berulang kali dihapus dan ditulis ulang.
Nala menatap layar jemarinya masih berada di atas papan ketik, tetapi tidak ada satu pun tombol yang ditekan.
“Aku hanya tidak ingin konsep ini ditolak. Kita semua sudah bekerja keras, kan? Aku tidak mau kelelahan siapa pun menjadi sia-sia,” ungkapnya. Ada kekhawatiran yang samar dalam suaranya, seolah-olah seluruh beban tim ikut ia pikul seorang diri.
Jeongin mengangguk pelan.
“Kadang, yang jujur justru bertahan paling lama,” balas Jeongin, tanpa nada menggurui.
Waktu berjalan tanpa mereka sadari, jam di ponsel Nala menunjukkan lewat tengah malam ketika akhirnya mereka berhenti menulis. Konsep itu lahir di antara kelelahan dan keheningan. Bukan hasil kompromi, melainkan hasil keberanian yang dibagi dua.
Nala menyandarkan punggungnya pada kursi, lalu mengembuskan napas panjang. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap layar laptop yang kini dipenuhi rangkaian kalimat yang sejak tadi mereka cari.
“Ini... berhasil. Aku yakin,” ucapnya sembari menatap lurus ke depan. Ada kelegaan tipis yang akhirnya muncul di wajahnya setelah berjam-jam berkutat dengan keraguan.
Jeongin tersenyum tipis. Bukan senyum puas, melainkan senyum seseorang yang sejak awal tahu ke mana arah malam ini akan berujung.
“Perusahaan akan suka,” katanya.
“Bukan itu. Tim akan merasa didengar,” sanggah Nala pelan.
Beberapa detik sunyi menggantung di antara mereka. Angin bergerak perlahan, membuat api kecil di kejauhan bergetar dan sesekali memercikkan cahaya merah sebelum kembali meredup.
“Kalau dunia sedikit lebih adil, kamu tidak perlu memikul semuanya sendirian,” ucap Jeongin tiba-tiba. Suaranya lebih rendah dari sebelumnya.
Nala menoleh perlahan, meskipun tidak ada sentuhan. Hanya kalimat itu yang berdiri di antara mereka, menggantung di udara seperti sesuatu yang tidak meminta jawaban namun terlalu tepat untuk diabaikan.
“Aku tidak pernah merasa sendirian,” jawab Nala pelan.
Jeongin menatapnya lama, tatapannya tidak menunjukkan desakan, seolah-olah ia hanya sedang menunggu Nala menyadari sesuatu yang menurutnya sudah jelas.
“Aku harap seperti itu... tetapi yang aku lihat tidak. Kamu kelelahan, Nala,” ucapnya.
Nala tidak menoleh kali ini dia hanya menyandarkan tubuhnya lebih dalam pada kursi, membiarkan punggungnya tenggelam dalam sandaran yang dingin.
Untuk sesaat, ia tidak membantah bukan karena ia setuju, melainkan karena kata kelelahan itu terasa terlalu dekat dengan sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan.
“Aku tidak tahu selelah apa dirimu... Menjadi istri, ibu, dan bekerja, itu luar biasa,” ucapnya.
“Ini pilihan hidupku, Oppa. Dan aku harus menjalaninya, apa pun dan bagaimanapun medannya,” jawab Nala pelan tanpa membuka mata.
Jeongin tidak langsung menanggapi. Ia membiarkan kata-kata Nala mengendap di udara malam, seolah menghormati keteguhan yang baru saja diucapkan atau mungkin sedang mencari celah di antara keyakinan itu.
“Pilihan hidup,” ulangnya perlahan, nyaris seperti sedang mencicipi diksi tersebut. “Kalimat yang sering dipakai orang kuat... dan sering juga dipakai untuk membenarkan kelelahan yang tidak pernah diberi jeda,” lanjutnya pelan.
Nala membuka mata, menatap lurus ke depan, cahaya lampu taman membentuk bayangan lembut di garis wajahnya, membuat raut letihnya tampak terlalu tenang.
“Aku tidak mengeluh,” katanya singkat.
“Aku tahu,” jawab Jeongin cepat. “Justru itu.”
Ia bersandar pada sandaran bangku kayu, kedua tangannya terlipat longgar. Nada suaranya tetap rendah, tidak menggurui lebih menyerupai pengamatan seseorang yang merasa telah mengenal medan itu lebih dulu.
Nala terdiam tatapannya masih tertuju pada sungai yang membentang di kejauhan, tetapi kalimat Jeongin tadi perlahan menetap di kepalanya.
Justru itu.
Dua kata sederhana yang entah mengapa terasa lebih berat daripada nasihat panjang.
“Kau tidak pernah mengeluh. Kau hanya menyesuaikan diri lalu mengisi celah, menyerap beban, dan entah sejak kapan... menganggap itu normal,” lanjutnya.
Nala tersenyum tipis, tanpa sedikit pun humor di wajahnya.
“Karena memang itu yang harus dilakukan,” jawabnya.
“Harus.” Jeongin mengulang kata itu. Kali ini lebih pelan. “Atau terbiasa?” tanyanya.
Hening jatuh di antara mereka, diisi oleh suara sungai yang mengalir stabil seperti sebuah ironi kecil tentang sesuatu yang terus bergerak tanpa pernah diminta menjelaskan dirinya sendiri.
“Kau tahu, banyak orang mengira keseimbangan itu soal membagi waktu. Padahal, sering kali yang terjadi adalah satu sisi terus mengalah agar sisi lain tetap utuh,” ucapnya pelan.
Nala menghela napas perlahan tetapi tidak membantah namun tidak juga menyetujui. Sikap diamnya lebih mirip seseorang yang sudah terlalu sering mendengar variasi kalimat serupa, tetapi belum pernah benar-benar memiliki ruang untuk memikirkannya.
Angin berembus sedikit lebih kencang di antara mereka, sehelai daun kecil entah dari mana tersangkut di rambut Nala, tepat di dekat pelipisnya. Jeongin melihatnya lebih dulu.
Refleks, ia mengangkat tangannya.
“Tunggu,” katanya pelan.
Nala tidak sempat bereaksi. Jeongin sudah sedikit mencondongkan tubuh hingga jarak di antara mereka menyempit, cukup dekat hingga aroma lembut dari rambut Nala yang baru dicuci tercium samar. Dengan gerakan ringan, hampir terlalu alami, ia menyelipkan jarinya di antara helaian rambut Nala yang berantakan, lalu membenarkannya sebelum mengambil benda kecil yang tersangkut di sana.
“Ada daun,” ucapnya tenang seraya menarik daun itu pergi.
Nala terdiam sesaat gerakan itu sederhana. Terlalu sederhana untuk dipermasalahkan, tetapi cukup untuk membuatnya menyadari betapa dekat jarak mereka barusan.
“Oh... terima kasih,” katanya pelan.
Jeongin menarik tangannya kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Daun itu diremas pelan di antara jarinya sebelum ia menjatuhkannya ke tanah.
“Kau terlalu sering lupa merawat hal-hal kecil,” katanya sambil menatap ke arah sungai.
Nala tersenyum samar.
“Aku baik-baik saja,” jawabnya.
Namun, Jeongin menggeleng cepat.
“Orang yang benar-benar baik-baik saja tidak perlu mengatakannya,” balas Jeongin ringan, nyaris bercanda. Ia lalu menoleh kepadanya, tatapannya kini lebih serius daripada sebelumnya.
“Aku hanya khawatir... suatu hari kau akan bangun dan menyadari bahwa kau sudah terlalu lama kuat sendirian,” lanjutnya.
Nala mengernyit pelan ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuatnya tidak langsung menemukan jawaban.
“Aku tidak sendiri... ada putraku, ada suamiku...” jawab Nala.
“Aku tahu,” kata Jeongin cepat. Ia terdiam sejenak, seolah menyadari bahwa jawabannya tadi terdengar lebih tergesa daripada yang seharusnya.
“Maksudku... tidak dalam arti literal.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada yang nyaris bersahabat, “Kadang berada di tengah keluarga, pekerjaan, dan ekspektasi justru membuat seseorang paling sulit didengar. Semua orang mengira kau bisa.”
Kalimat itu jatuh dengan rapi, tanpa tuduhan. Tanpa menyebut nama siapa pun. Namun, cukup jelas untuk meninggalkan bayangan.
Nala memejamkan mata sejenak tubuhnya bersandar lebih dalam pada bangku kayu, seolah malam ini akhirnya memberinya izin untuk berhenti waspada. Suara Sungai Han tetap mengalir di kejauhan. Angin malam menyentuh wajahnya perlahan, membawa hawa dingin yang justru terasa menenangkan.
Untuk beberapa detik, Nala tidak berkata apa-apa dia hanya diam, membiarkan kalimat Jeongin berputar di kepalanya—bukan karena ia sepenuhnya percaya, melainkan karena untuk pertama kalinya seseorang menyuarakan sesuatu yang selama ini bahkan jarang ia tanyakan kepada dirinya sendiri.
“Aku memilih ini... jadi akan aku lalui sampai selesai,” katanya lagi, lebih pelan.
Jeongin tidak menyangkal, dia hanya mengangguk, senyumnya tipis dan penuh pengertian atau setidaknya, tampak demikian.
“Aku tidak pernah meragukan itu. Aku hanya berharap... pilihan hidup tidak selalu menuntut pengorbanan yang sama dari orang yang sama, Nala.” Jeongin berhenti sejenak, lalu menatapnya lebih dalam. “Kau bahagia dengan pernikahanmu... jadi istri rahasia?”
Kalimat terakhir itu membuat Nala menoleh cepat. Ia tidak menyangka Jeongin akan membawa pembicaraan mereka sejauh itu namun sebelum sempat mengatakan apa-apa, pria itu kembali melanjutkan.
“Kau tidak ingin diakui sebagai istrinya di hadapan dunia? Kau tidak ingin memanggil nama suamimu dengan bebas di depan umum? Jalan bersama... hidup layaknya pasangan normal? Kau tidak jenuh hidup berumah tangga seperti itu?” lanjutnya.
Nala terdiam ketika pertanyaan-pertanyaan itu datang satu demi satu, tetapi tidak terdengar seperti tuduhan. Justru karena itulah semuanya terasa lebih sulit untuk ditepis.
Sejujurnya, ia pun pernah menginginkan hal yang sama.
Ia ingin diakui sebagai istri Junho. Ingin dapat berjalan bersamanya tanpa harus memperhatikan siapa yang melihat. Ingin memanggil nama suaminya di tempat umum tanpa perlu menyamarkannya dengan panggilan lain. Namun, di balik semua keinginan itu, Nala juga memahami alasan Junho, dia juga paham apa yang dipertaruhkan.
“Junho punya alasan... Semua itu demi keamanan kami,” jawab Nala akhirnya. Suaranya tetap tenang, meski ada sedikit keraguan yang mulai menyusup di balik keteguhannya.
“Dengan menyembunyikanmu dari dunia selama belasan tahun pernikahan?” todong Jeongin.
Lagi-lagi, Nala terdiam.
Ucapan itu tepat mengenai sesuatu yang selama ini ia simpan jauh di dalam dirinya. Sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia sangkal, tetapi juga tidak pernah berani ia buka terlalu lama.
Jeongin membiarkan keheningan bekerja, ia tidak buru-buru mengisi ruang yang tercipta. Ia tahu, pertanyaan yang tepat tidak perlu dijawab segera. Cukup dibiarkan mengendap, lalu tumbuh menjadi sesuatu yang perlahan mengusik keyakinan seseorang.
“Keamanan itu adalah kata yang sering dipakai untuk menunda kebahagiaan,” ucapnya pelan. “Kalau dia memang seorang pria, dia tidak akan takut mengakui pasangannya kepada dunia hanya karena takut dunia melukainya.”
Kata-kata itu keluar begitu tenang, hampir seperti sebuah kesimpulan sederhana. Namun, justru ketenangan itulah yang membuatnya terasa tajam.
Nala tidak menjawab tatapannya kembali mengarah ke Sungai Han. Cahaya kota masih memantul di permukaannya, tetapi untuk pertama kalinya malam itu, pemandangan tersebut tidak lagi terasa menenangkan.
Kalimat Jeongin telah menyentuh sesuatu yang selama ini Nala pilih untuk tidak disentuh, bukan karena ia tidak punya jawaba melainkan karena ia takut pada jawaban yang mungkin sebenarnya sudah ada di dalam dirinya.
Nala menatap ke depan, rahangnya mengeras tipis. Angin malam menggeser daun-daun kering di tanah, menimbulkan suara lirih yang hampir tenggelam oleh gemericik Sungai Han. Ia tidak menyangkal, tidak pula membenarkan. Ia hanya diam dan diamnya kali ini bukan keteguhan, melainkan kehati-hatian.
“Aku tidak mengatakan dia salah,” lanjut Jeongin, nadanya tetap datar. “Aku hanya bertanya... sampai kapan pengorbanan itu harus selalu datang darimu?”
Ia menoleh sedikit, cukup untuk melihat reaksi Nala dari sudut matanya.
“Belasan tahun, Nala. Bukan satu atau dua musim. Kau membesarkan anak, membangun karier, menjaga rumah tangga tanpa pernah benar-benar berdiri di tempat yang seharusnya menjadi milikmu. Apa itu adil?” lanjutnya.
Nala menghela napas panjang dadanya naik turun perlahan, seolah ia sedang menata kembali sesuatu yang mendadak berantakan di dalam pikirannya.
“Ini bukan tentang tempat,” jawab Nala.
“Justru tentang itu,” sahut Jeongin lembut. “Tentang di mana seseorang berdiri dalam hidup pasangannya. Tidak semua orang kuat hidup dalam bayangan. Dan tidak semua orang seharusnya diminta untuk itu.”
Ia berhenti sejenak tatapannya beralih kembali ke permukaan sungai, sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih hati-hati.
“Tapi kau mengambil keduanya bersamaan,” lanjutnya.
Nala memejamkan mata seolah enggan menerima kebenaran yang ada di sana—bukan kebenaran yang ia akui kepada orang lain, melainkan sesuatu yang diam-diam ia akui kepada dirinya sendiri.
Pada malam-malam yang terlalu sunyi. Pada acara-acara yang ia hadiri seorang diri. Pada momen ketika ia harus menahan diri untuk tidak menyebut nama suaminya terlalu bebas di ruang publik.
Ia memang pernah menginginkan kehidupan yang berbeda namun, keinginan itu tidak pernah menghapus cintanya kepada Junho.
“Aku mencintainya dan cinta itu... kadang memang menuntut pengorbanan, kan?” katanya lirih.
Jeongin mengangguk, seolah sepakat.
“Cinta selalu begitu. Namun, pengorbanan yang sehat seharusnya bergantian.” Ia berdiri, melangkah membentuk setengah lingkaran kecil, lalu kembali duduk.
Jarak di antara mereka tetap aman seolah-olah percakapan mereka tidak lebih dari sebuah diskusi biasa. Namun, bagi Nala, beberapa kalimat malam itu mulai terasa jauh lebih sulit untuk dianggap biasa.
“Aku hanya khawatir, Nala... kau terlalu terbiasa kuat sampai lupa bagaimana rasanya dimiliki sepenuhnya. Kau pantas mendapatkan lebih dari sekadar status di atas kertas... kau berhak meminta pengakuan dan keberaniannya,” lanjutnya.
Kalimat itu jatuh pelan, nyaris seperti simpati namun bayangannya panjang. Nala membuka mata, menatap api unggun yang telah padam hanya sisa bara merah yang masih menyala samar di antara tumpukan kayu, perlahan kehilangan cahayanya.
“Aku tidak minta dikasihani,” kata Nala. Suaranya terdengar yakin, meski ada getaran kecil yang tidak berhasil ia sembunyikan.
“Aku tidak mengasihani,” jawab Jeongin cepat. “Aku menghormati. Dan sebagai orang yang bekerja denganmu, sebagai sahabat, sebagai seseorang yang sudah kuanggap keluarga, yang melihat caramu memikul beban tanpa suara... aku tidak bisa menutup mata.”
Ia menurunkan suaranya pada kalimat terakhir, seolah-olah tidak ingin membiarkan siapa pun selain Nala mendengarnya.
Hening kembali menyelimuti mereka dari kejauhan, tenda-tenda berdiri diam, menyimpan mimpi orang-orang yang telah tertidur. Sungai Han terus mengalir, tidak peduli pada kerumitan manusia yang duduk di tepinya dan mencoba memahami hidup masing-masing.
“Aku tidak menuntutmu memilih. Aku hanya berharap suatu hari nanti kau memilih dirimu sendiri dengan porsi yang adil,” kata Jeongin pelan.
Nala berdir gerakannya tenang dan terukur, dia kemudian merapikan jaketnya, memastikan bagian kerahnya kembali menutup leher sebelum menatap Jeongin dengan sorot mata yang jernih, tetapi tetap tertutup.
“Aku sudah memilih... dan pilihan itu tidak selalu terlihat indah dari luar. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku sejauh itu. Namun, aku sudah cukup... cukup percaya bahwa semua yang suamiku lakukan adalah untuk kebaikanku,” ujar Nala.
Jeongin tersenyum kecil.
“Aku tahu... Junho beruntung punya istri sepertimu.” Ia ikut berdiri, tetap menjaga jarak yang sopan di antara mereka. “Malam sudah larut. Kau sebaiknya istirahat.”
Jeongin menatap Nala dengan lembut sedangkan Nala hanya mengangguk kecil sebelum kembali menatap Sungai Han untuk sesaat. Di dalam dirinya, masih ada keyakinan yang sama terhadap pilihan yang telah ia ambil.
Namun, beberapa pertanyaan yang malam itu ditinggalkan Jeongin tidak ikut pergi bersamanya. Mereka tetap tinggal, diam-diam, di sudut pikirannya.
"Terima kasih untuk malam ini." Nala berbalik, lalu melangkah menuju tendanya.
Setiap langkah terasa sedikit lebih berat bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena pertanyaan-pertanyaan yang kini ikut berjalan bersamanya. Pertanyaan yang tidak memiliki jawaban malam itu, tetapi terlanjur menemukan tempat di sudut pikirannya.
Jeongin tidak mengikutinya dia tetap berdiri di tempat, membiarkan sosok Nala perlahan menjauh di antara deretan tenda yang mulai gelap. Senyum tipis di wajahnya perlahan memudar, digantikan ekspresi yang sulit dibaca antara kepuasan kecil dan kesabaran seseorang yang tidak terbiasa terburu-buru.
Tatapannya tetap mengikuti punggung Nala hingga perempuan itu hampir menghilang di balik bayangan tenda.
"Kita lihat... sampai kapan cinta itu akan terus bertahan?" gumamnya pelan.
Tidak ada seorang pun yang mendengar kalimat itu.
Angin kembali bergerak, menyusuri area perkemahan dan menggoyangkan dedaunan di sekitar mereka. Api unggun di kejauhan hampir padam sepenuhnya, menyisakan bara merah yang sesekali berpendar sebelum kembali tenggelam dalam gelap.
Cahaya kota memantul di permukaan Sungai Han, bergetar lembut mengikuti aliran air seperti garis batas tipis antara apa yang terlihat dan apa yang sengaja disembunyikan.