Indonesia
NovelToon NovelToon
Putri Yang Dibuang

Putri Yang Dibuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.

​Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
​Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.

​"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."

​Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara yang Hilang oleh Luka

"I-i-istri?" ucap Amara dengan terbata-bata. Suaranya terdengar serak, kaku, dan gemetar, seolah-olah pita suaranya harus bekerja ekstra keras setelah bertahun-tahun terabaikan.

Gabriel langsung tertegun di tempatnya. Manik matanya melebar sesaat, menatap wajah Amara dengan keterkejutan yang nyata.

Bukan karena mendengar suara gadis itu yang terbata, melainkan karena ia menyadari betapa mahalnya sepatah kata yang baru saja keluar dari bibir mungil tersebut.

Sebenarnya, Amara tidak bisu. Ia tidak terlahir tanpa kemampuan berbicara. Namun, trauma psikologis yang teramat berat, kombinasi dari siksaan fisik, isolasi berkepanjangan, dan ketakutan absolut yang ditanamkan oleh keluarganya, membuatnya mengunci suaranya sendiri.

Ditambah lagi dengan gangguan pendengaran sejak kecil yang membuat dunianya terisolasi, semakin membuatnya memilih untuk tenggelam dalam kebisuan total.

Melihat Gabriel yang terdiam menatapnya lekat-lekat, Amara mendadak panik. Ketakutan merayap di dadanya, mengira bahwa suaranya yang terdengar canggung dan aneh justru mengganggu pria itu.

Dengan jemari yang gemetar hebat, Amara buru-buru menyambar buku catatan kecilnya, lalu menulis dengan terburu-buru hingga goresan pensilnya terlihat berantakan.

‘Maaf... suaraku jelek. Aku... aku sebenarnya tidak bisu, hanya saja aku tidak tahu bagaimana cara berbicara lagi setelah sekian lama...’ tulis Amara dengan air mata yang hampir tumpah, menyodorkan buku itu sambil menunduk dalam-dalam karena rasa malu yang teramat sangat.

Gabriel membaca tulisan itu dalam satu tarikan napas. Seketika, rasa nyeri yang menusuk menjalar di dadanya. Pria itu tidak membiarkan Amara terus menyiksa dirinya sendiri. Dengan gerakan pasti, Gabriel merengkuh dagu gadis itu, mengangkatnya perlahan agar kembali menatap manik matanya.

"Hei... dengarkan aku," ucap Gabriel dengan suara baritonnya yang lembut namun penuh wibawa.

Amara mengerjap, air matanya akhirnya lolos menuruni pipi.

"Suaramu tidak jelek, Amara," lanjut Gabriel penuh penekanan, mengusap lembut pipi mulus gadis itu dengan ibu jarinya. "Dan kau tidak perlu meminta maaf hanya karena bersuara. Apapun kondisimu—baik kau berbicara, menulis, atau hanya diam—suaramu adalah hal paling berharga yang ingin kudengar di dunia ini."

Amara terkesiap. Napasnya tercekat mendengar ketulusan yang begitu besar dari pria di hadapannya.

"Kau tidak bisu," tambah Gabriel sambil tersenyum tipis, meyakinkan gadis itu dengan tatapan penuh cinta dan perlindungan. "Kau hanya terluka, dan aku akan membantumu menyembuhkan luka itu pelan-pelan. Termasuk suaramu... kita punya banyak waktu untuk melatihnya kembali, bersama-sama."

Mendengar kalimat itu, pertahanan terakhir Amara runtuh. Ia tidak lagi menulis di buku catatannya. Alih-alih menunduk, Amara justru memberanikan diri menerjang maju, memeluk pinggang Gabriel erat-erat dan membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.

Gabriel tersenyum hangat, langsung mendekap tubuh rapuh itu dengan erat dan aman, membiarkan Amara menemukan kembali rumah di dalam pelukannya.

"Masalah istri tadi," ucap Gabriel dengan senyum jailnya yang jarang sekali terlihat, kontras dengan auranya yang biasanya dingin dan intimidatif.

Amara langsung mendongak dari dekapannya, mengerjap kaget dengan pipi yang merona merah padam hingga menjalar ke lehernya.

Ia buru-buru melepaskan pelukannya, melangkah mundur selangkah karena salah tingkah, lalu menyambar buku catatan di mejanya dengan tergesa-gesa.

‘I-istri? Apa maksudmu tadi... Tuan?’ tulis Amara cepat dengan jemari yang gemetar karena gugup, lalu memperlihatkannya pada Gabriel sambil menggigit bibir bawahnya.

Gabriel terkekeh pelan melihat reaksi salah tingkah Amara. Pria itu melangkah mendekat perlahan, memperpendek jarak di antara mereka hingga Amara bisa merasakan hawa hangat tubuhnya.

"Kenapa masih memanggilku Tuan?" tanya Gabriel dengan sebelah alis terangkat, menatap lekat manik mata gadis itu. "Bukankah tadi aku sudah memanggilmu istriku?"

Amara semakin salah tingkah, napasnya memburu dan ia menggeleng pelan dengan kepala tertunduk dalam. ‘T-tapi kita kan belum... maksudku... ini terlalu cepat, Tuan.’

"Terlalu cepat?" ulang Gabriel dengan nada menggoda, lalu mencondongkan wajahnya sedikit mendekati telinga Amara yang kini sudah dipasangi alat bantu dengar canggih. "Bagiku, tidak ada kata cepat untuk mengamankan apa yang sudah jadi milikku. Atau... kau keberatan jadi istriku, Amara?"

Mendengar pertanyaan itu, Amara buru-buru mendongak. Kepalanya menggeleng kuat-kuat, menyangkal kepanikan yang sempat tebersit di mata Gabriel.

‘B-bukan begitu...’ tulis Amara dengan buru-buru, kali ini goresan penanya tampak tidak beraturan karena gugup. ‘Aku hanya... merasa tidak pantas. Aku gadis yang rusak dan penuh kekurangan.’

Seketika, senyum jail di wajah Gabriel lenyap, berganti dengan tatapan serius yang sarat akan ketegasan. Ia meraih kedua tangan Amara, menggenggamnya erat-erat di dalam telapak tangannya yang besar.

"Jangan pernah ucapkan kalimat itu lagi, Amara," bisik Gabriel lembut namun penuh penekanan. "Kau sempurna dengan segala luka dan kekuranganmu. Dan aku tidak butuh persetujuan orang lain untuk menjadikannya nyata. Reno sudah kuberi tahu untuk mengurus semuanya. Hari ini, dokumen pernikahan kita akan selesai."

Mata Amara membelalak lebar, sungguh tak menyangka pria di hadapannya bertindak secepat itu demi dirinya.

"Jadi, mulai sekarang..." Gabriel menaikkan sebelah sudut bibirnya, membentuk senyuman maut yang membuat jantung Amara berdegup ribuan kali lebih cepat. "...panggil aku dengan nama. Jangan panggil aku Tuan lagi, Amara."

"T-t-tapi..." ucap Amara terbata-bata, suaranya terdengar begitu gugup sekaligus memohon. Gadis itu menatap Gabriel dengan mata bulatnya yang berbinar panik.

Gabriel menggeleng pelan, mempertahankan tatapan intens yang membuat Amara salah tingkah.

"Tidak ada tapi, Amara," sela Gabriel dengan nada tegas namun sarat akan kehangatan. Pria itu menyeringai kecil melihat pipi gadis di hadapannya yang semakin merah merona. "Sekali lagi kamu memanggilku dengan sebutan tuan, maka aku akan menciummu. Agar kamu tahu, bahwa diriku benar-benar mengklaim dirimu menjadi milikku."

Mendengar ancaman bernada posesif itu, mata Amara membelalak lebar. Ia spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan kecilnya, membuat Gabriel kembali terkekeh pelan.

‘I-itu tidak adil!’ tulis Amara cepat di buku catatannya dengan jemari yang gemetar karena salah tingkah, lalu menyodorkannya ke hadapan Gabriel. ‘Kau sengaja mengancamku!’

Gabriel membaca tulisan itu, lalu mengangkat sebelah alisnya dengan gaya menantang.

"Memang sengaja. Karena hanya itu cara agar kau berhenti memanggilku dengan sebutan formal yang kaku itu."

Amara mengerucutkan bibirnya—sebuah ekspresi kekesalan yang justru terlihat sangat menggemaskan di mata Gabriel. Gadis itu menunduk, menatap lantai seolah mencari cara untuk melarikan diri dari situasi ini.

"Nah, coba buktikan kalau kau mengerti," ucap Gabriel lembut sambil merapikan beberapa helai rambut Amara yang menutupi wajahnya. "Panggil namaku, Amara."

Amara menelan ludahnya susah payah. Jantungnya berdegup

kencang seolah mau copot dari rongga dadanya. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap manik mata hitam Gabriel yang penuh antisipasi.

"G-Ga... briel..." bisik Amara terbata. Suaranya serak, namun terdengar begitu manis dan tulus saat lolos dari bibirnya.

Gabriel terpaku sesaat. Senyuman terkembang di wajah pria itu—senyuman tulus yang begitu langka, yang hanya ia tunjukkan khusus untuk wanita di hadapannya ini.

"Bagus," puji Gabriel pelan, ibu jarinya dengan lembut mengusap pipi Amara. "Panggil aku seperti itu terus, istriku."

1
Rahmat
ayah dan ibu tiri lucknat masih gak nyadar y di penjara baru tau rass ciuh😠
Rahmat
bahagiax jd istri moga sukses ritualx🤭
Rahmat
lanjut thor
Rahmat
saking traumax sering dpt kekerasan fisik dan hinaan mpai suarax pun tdk kedengaran
Rahmat
lanjut thour ceritax bagus
Iffanaya 😽
belum sah ya Gabriel udah di klaim jd istri 🤣🤣
Soraya
lanjut
Fitria Syafei
semangat KK 👌 KK cantik kereen 😍 kereen 😍
Soraya
mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!