Indonesia
NovelToon NovelToon
MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTENGKARAN KECIL

Hari-hari berikutnya berlalu dengan Anyara yang berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, meski di dalam hatinya, struk hotel itu terus menghantui setiap kali ia melihat wajah Juned. Ia belum siap konfrontasi—bukan karena takut kehilangan Juned, melainkan takut pada apa yang akan terjadi setelahnya, pada bagaimana Ratih akan bereaksi, pada bagaimana ia harus menghadapi semuanya sendirian.

Pagi itu, ketegangan yang selama ini tersimpan rapi akhirnya pecah juga, meski dipicu oleh hal yang terlihat sepele.

"Anyara, ini kopi kenapa pahit banget sih? Gulanya kurang apa gimana?" tanya Ratih, mencicipi kopi paginya dengan wajah tidak puas.

"Maaf, Bu, sebentar saya bikinin lagi," jawab Anyara, mengambil cangkir itu kembali ke dapur.

"Kamu ini akhir-akhir ini kayak nggak fokus ya. Masak asal-asalan, kerjaan rumah juga berantakan. Ada masalah apa?"

Anyara terdiam sesaat, tangannya menuang gula ke cangkir baru. "Nggak ada apa-apa, Bu. Cuma kurang tidur aja."

"Kurang tidur kenapa? Jangan-jangan chat-chatan sama orang sampe malem ya?"

Pertanyaan itu menusuk tepat di titik yang paling Anyara takutkan. Ia menoleh cepat, matanya sedikit melebar. "Chat sama siapa, Bu? Saya nggak chat-chatan sama siapa-siapa."

"Lho, kok kayak defensif banget jawabnya. Ibu cuma nanya biasa aja," ucap Ratih, matanya menyipit curiga.

Dari ruang tengah, Juned yang baru bangun ikut nimbrung, mendengar sepotong pembicaraan itu. "Chat sama siapa sih, Ra?"

"Nggak ada, Mas. Ibu cuma salah paham," jawab Anyara cepat, mengaduk kopi dengan gerakan yang lebih kasar dari biasanya.

Juned mengangkat bahu, tidak terlalu peduli, lebih sibuk mencari sarapan di meja. "Ya udah, jangan berantem pagi-pagi."

Anyara menahan diri untuk tidak meledak saat itu juga. Ingin rasanya ia balik bertanya, "Mas sendiri chat sama siapa sampe ada yang namanya disimpen 'Sayang'?" Tapi ia tahu, bukan saat yang tepat, bukan di depan Ratih yang pasti akan langsung membela anaknya tanpa mendengar penjelasan apa pun.

Siang harinya, setelah Juned berangkat kerja dan Ratih tidur siang, Anyara duduk sendirian di dapur, menatap struk hotel yang masih tersimpan di dompetnya. Ia mengambil ponsel, membuka percakapan dengan Hans.

"Pak Hans, boleh nanya sesuatu?"

"Boleh, Mbak. Ada apa?"

"Kalau misalnya... seseorang curiga pasangannya selingkuh, tapi belum berani konfrontasi, menurut Bapak sebaiknya gimana?"

Ada jeda cukup lama sebelum balasan datang.

"Ini soal Mbak sendiri ya?"

Anyara ragu sejenak sebelum akhirnya mengetik jujur.

"Iya, Pak. Saya nemu struk hotel di saku suami saya. Katanya meeting di Bandung, tapi struknya nama hotel di Kemang."

"Turut prihatin, Mbak. Itu berat banget pasti."

"Saya bingung, Pak. Takut salah, takut juga kalau bener."

"Menurut saya, Mbak berhak tau kebenarannya. Tapi soal kapan dan gimana caranya ngomong, itu Mbak yang paling tau situasinya. Saya cuma bisa bilang, jangan buru-buru ambil keputusan pas lagi emosi. Kumpulin dulu semua yang Mbak yakin, baru bicara baik-baik."

Anyara menatap layar itu, merasa sedikit lega karena akhirnya ada yang benar-benar mendengarkan tanpa langsung menghakimi atau membela salah satu pihak.

"Terima kasih, Pak. Setidaknya ada yang mau dengerin."

"Kapan aja, Mbak. Saya di sini."

Sore harinya, saat Anyara sedang menyapu halaman depan, salah satu tetangga, Bu Ida, lewat dan sengaja berhenti sejenak.

"Anyara, denger-denger kemarin ada yang lihat kamu naik mobil bagus, diturunin deket minimarket. Siapa itu? Bukan suamimu kan, mobilnya beda."

Anyara terkejut, tangannya berhenti menyapu. "Itu... temen lama, Bu. Kebetulan ketemu, nganter pulang."

"Temen lama kok mobilnya mewah gitu. Hati-hati lho, Anyara, jangan sampe kamu yang malah kena gosip duluan padahal suamimu yang macem-macem."

Kalimat itu terasa seperti tamparan tak langsung. Anyara tersenyum kaku. "Nggak ada apa-apa kok, Bu. Cuma kebetulan aja."

Bu Ida melangkah pergi dengan senyum yang sulit diartikan, meninggalkan Anyara dengan kekhawatiran baru—bukan hanya soal Juned yang mungkin berselingkuh, tapi juga soal namanya sendiri yang mulai jadi bahan omongan karena kedekatannya dengan Hans, meski ia tahu betul tidak ada yang salah dalam pertemuan mereka.

Malam itu, sebelum tidur, Anyara menatap langit-langit kamar, di sampingnya Juned sudah tertidur pulas seperti biasa, tanpa beban apa pun. Ia menghela napas panjang, merasakan dirinya terjepit di antara dua sisi yang sama-sama berat—kebohongan suaminya yang belum terungkap penuh, dan kedekatannya dengan Hans yang mulai menarik perhatian orang lain, meski di hatinya sendiri, ia masih berusaha meyakinkan diri bahwa semua itu tidak lebih dari sekadar pertemanan biasa.

Tapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu, batas itu sudah mulai kabur, dan cepat atau lambat, ia harus memilih jalan mana yang akan ia ambil.

1
Heny
Apa anyana gk punya tlp orang kantor bisa di tanya kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!