Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.
Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.
Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.
Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.
Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.
Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?
Berhasilkah mereka keluar??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30 : Jeda Sesaat
Tumpukan kayu busuk bekas Bhayavedin masih dimakan cacing putih. Bau kayu busuk campur darah hitamnya nyengat, tapi udah gak gerak lagi. Mati beneran.
Retakan Pohon Induk di depan mereka yang nganga lebar, angin hangat dari dalamnya masih keluar. Tapi berlima gak ada yang mau masuk dulu.
Mereka mundur.
Pelan-pelan, nyeret badan masing-masing menjauh dari Pohon Induk, sampai ke tanah yang lebih keras, yang bukan tanah hitam empuk pemakan orang.
Gilang yang pertama jatuh terduduk, terus rebah. Carriernya dia lepas hingga menimbulkan bunyi gedebuk keras. Dia buka resleting, ngambil botol air. Tangannya masih gemeteran, tutup botol susah dibuka.
Bima yang bantu bukain. Bima sendiri tengkuknya perih, dipegang, darahnya udah berhenti tapi bekas tusukan akar kecil-kecil itu masih ada, kayak bekas jerawat batu.
Maira langsung cek kaki Arga. Kaki Arga penuh luka lilitan akar, berdarah tipis-tipis, plus lumpur hitam masuk ke luka. Maira ambil P3K kecil dari carriernya, lap pakai air minum, perih.
Arga meringis, tapi gak bersuara kenceng lagi. Trauma bekap mulutnya masih ada. Tiap mau ngerang kesakitan, dia tutup mulutnya sendiri pakai tangan. Kebiasaan dari dalam tanah tadi.
Elina yang paling waras, dia keliling, mastiin semua mata pohon beneran mati. Dia ambil kayu buat nyolok mata-mata yang masih kedip dikit.
Pletak.Pletak.
Dimatiin satu-satu, biar gak ngintip lagi pas mereka istirahat.
Habis itu Elina balik, duduk melingkar. Berlima melingkar, di tengahnya korek gunung Gilang yang masih nyala kecil, ditaruh di atas batu biar jadi api unggun mini.
Gak ada yang ngomong dulu 5 menit. Cuma denger napas.
Akhirnya Bima yang buka suara, pelan, gak bisik lagi, ngomong normal:
"Minum dulu, napas dulu. Setelah ini kita keluar."
Gilang minum, terus ngasih botol ke Arga. Arga minum, mukanya masih pucet, lumpur di mukanya udah kering, retak-retak.
Maira ngeluarin roti sobek dari carrier, bagi lima, porsi kecil. Tangan mereka hitam semua kena lumpur penutup mata tadi, rotinya jadi hitam juga pas dipegang, tapi dimakan aja. Laper.
Gilang ketawa kecil, tiba-tiba,"Gue kira gue mati pas tangan akar itu di depan muka gue."
"Gue kira juga lu mati, Lang. Mata lu udah putih semua tadi."timpal Elina.
Arga yang dari tadi diem, akhirnya ngomong, suaranya masih serak, "Makasih... tadi... yang narik gue... gue di bawah... denger semua... tapi gak bisa ngomong."ucapnya terbata dengan suara serak.
Bima tepuk bahu Arga, "Udah, gak usah diinget. Selendangnya gue ikhlasin. Yang penting kita semua selamat."
Maira liat tengkuk Bima: "Bim, itu luka lo diobatin dulu."
Bima geleng, "Nanti, abis keluar hutan ini."
Mereka istirahat sebentar. Hanya 10 menit. Lumayan untuk menetralkan detak jantung yang udah nggak karuan tadi.
"Ayo keluar. Lama-lama disini buat gue pusing." ungkap Bima setelah sepuluh menit berlalu.
Semua langsung bangkit lagi dan berjalan pelan keluar dari sarang pohon bermata itu.
Arga dipapah Bima dan Maira. Sedangkan Elina menggandeng Gilang yang tampak lemas dan linglung.
Berhasil keluar dari area terkutuk itu mereka semua langsung terkapar diatas tanah yang tampak normal. Udara tampak lebih baik di tempat asing itu. Dan untuk beberapa saat kelima sekawan bisa menghirup udara bebas. Tak ada lagi bau busuk, tak ada lagi cairan menjijikkan, tak ada lagi mata-mata dan makhluk aneh yang mengawasi.
Dan mereka bisa istirahat dengan aman untuk sementara.
Arga duduk bersandar di salah satu pohon dengan wajah pucatnya. Disusul Bima dan Maira disamping kiri dan kanan Arga.
" Bim, sini gue obatin luka lo."seru Maira setelah mengobati luka Arga.
Gadis itu beralih ke Bima dan mulai mengobati lukanya. Bima diam saja sambil sesekali meringis perih.
Gilang meletakkan tas besarnya di tanah dan langsung berbaring lelah. Elina ikut duduk di sebelahnya tanpa suara.
Kemudian Gilang bangkit dan menyalakan api kecil dari korek yang ia bawa.
Api korek kecil di tengah jadi satu-satunya cahaya sekarang.
Untuk pertama kalinya sejak masuk Pohon Bermata, gak ada yang ngawasin mereka. Hutan itu sudah buta total.
" El, gimana luka-luka lo?"tanya Gilang memecah keheningan diantara mereka.
Elina kaget dan sontak menoleh,"Udah mendingan kok."
" Syukurlah kalo gitu."sahut Gilang, ia kembali berbaring dengan carrier sebagai bantalan.
Usai mengobati luka Bima, Maira menghampiri Elina. Sebagai satu-satunya teman yang sedikit paham tentang obat dan mengobati, Maira jadi sibuk setiap teman-temannya terluka. Lelah? Pasti. Tapi mengobati teman-temannya adalah prioritas Maira saat ini.
" El, lo gimana? Gue periksa luka lo juga ya. Boleh?"tanya Maira.
" Iya Mai. Tapi kayaknya udah mendingan deh."jawab Elina saat Maira mulai membuka perban yang melilit di kakinya. Dari semua luka di tubuh Elina, bagian kaki paling parah.
Dan saat dibuka, luka itu mulai mengering meski agak basah karena keringat.
Maira mengambil perban baru dan kembali mengobati luka Elina dengan hati-hati.
Elina diam saja saat diobati Maira, namun detik berikutnya mata Elina tak sengaja melihat luka gores panjang di lengan kiri bagian bawahnya. Darah itu sudah kering dan sepertinya Maira tidak menyadari hal itu.
Reflek Elina meraih lengan Maira membuat gadis itu terkejut.
" Astaga Mai. Lengan lo luka."seru Elina dan itu sontak membuat Bima, Arga dan Gilang mengalihkan perhatian mereka.
" Maira luka?"ulang Bima cemas. Ia sampai bangkit dan mendekati kedua gadis itu.
Maira langsung menarik lengannya pelan dari Elina.
" It's oke. Hanya kegores dikit."katanya tampak salah tingkah.
Bima langsung meraih tangan Maira dan memperhatikan lukanya.
" Enggak papa Bim. Luka kecil aja ini."ujar Maira hendak menarik lengannya dari Bima. Sayangnya cengkraman Bima lebih kuat darinya.
" Apaan luka kecil. Lihat tuh darahnya sampai kering gitu."omel Bima khawatir.
Bima meraih kotak P3K itu dan tanpa banyak kata mulai membersihkan luka Maira.
" Bim, gue lagi obatin luka Elina."cegah Maira saat Bima hendak membersihkan lukanya.
" Udah selesai kok Bim. Ini gue bisa sendiri. Tinggal simpul aja gampang lah."sahut Elina cepat, takut merusak suasana 2 sejoli itu. Lalu Elina buru-buru menjauh dan duduk di dekat Gilang yang sudah ngode dari tadi.
Dari semuanya mungkin tak ada yang menyadari kalau Maira juga terluka meski tak separah teman-temannya. Ia sibuk mengobati luka yang lain tapi tak sadar kalau dirinya juga terluka.
" Serius lo nggak sadar luka lo separah ini."ucap Bima lembut sembari membersihkan luka Maira.
" Enggak. Gue nggak kerasa. Hehe."
Bima menghela napas panjang.
" Lo boleh khawatirin kita tapi juga lo harus peduli sama diri lo sendiri Mai."nasihat Bima.
" Aakkkhhh. Pelan-pelan Bim." Maira meringis perih. Tadi ia tak merasakan apa-apa tapi sekarang baru terasa.
" Sorry, sorry.. Tahan bentar ya."
Tanpa keduanya sadari, tiga pasang mata memperhatikan adegan itu.
" Baru kali ini gue lihat Bima sekhawatir itu sama cewek."ungkap Arga takjub.
" Ck, lo nggak tau ya kalau Bima udah lama mendam perasaan sama Maira."sahut Gilang.
" Ohya..." Arga terkejut.
" Sok tau lo Lang."lanjut Arga tak percaya.
" Kalau gue lihat kayaknya bener sih."timpal Elina.
Arga menoleh dengan tatapan bingung.
" Maksud lo."
" Ck, lemot lo Ga. Dari tatapan matanya aja udah kebaca kali. Bima itu suka sama Maira tapi Mairanya gak peka."jelas Elina dan Gilang mengangguk.
" Hah..." Otak Arga yang biasanya jenius mendadak konslet soal ini.
" Udah mending tidur aja lo. Ayo El sini, dekat gue. Ada space kosong nih sebelah gue."ujar Gilang menepuk lembut carriernya.
Arga langsung nerobos sebelum Elina bergerak. Ia berbaring di sebelah Gilang.
" Ga.. Apaan sih lo." Gilang protes.
" Nggak ada ya. Gue tau isi kepala lo, dasar mesum. Udah El, lo istirahat bareng Maira aja sana. Disini biar kita yang cowok."
" ARGA..." Gilang menekan suaranya kesal.
" Kecuali udah nikah boleh. Masih pdkt gak usah."
" Cuma rebahan doang. Astaga."
" Halah, ngeles mulu lo. Sana El, jangan disini." Arga ngusir halus dan itu berhasil buat Elina tertawa melihat tingkah mereka.
" Udah, udah. Gue kesana aja. Kalian tidur aja duluan." Elina bangkit lalu menghampiri Maira.
" Cih, bagian ini langsung nyambung otak lo. Dasar."cibir Gilang sebal tapi Arga pura-pura nggak dengar. Ia berbalik membelakangi Gilang.Matanya langsung merem. Lelah.
" Bima, kalau udah selesai kesini."sorak Gilang lalu ia ikut berbaring dan merem.
" Selesai."seru Bima setelah mengikat perban di lengan Maira dan Elina datang tepat setelahnya.
" Makasih ya."
" Sama-sama. Gue kesana dulu."
Bima beranjak, bergabung dengan Arga dan Gilang.
Maira dan Elina ikut tidur setelahnya dengan alas seadanya.
Malam di rimba larangan masih panjang, tapi untuk sejam ini, mereka berlima istirahat. Tanpa mata, tanpa bisik, tanpa bekap mulut.
***
***