Indonesia
NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

‎Tangan Reynand terkepal erat di sisi tubuhnya. Penglihatannya mulai terasa kabur di bagian tepi pandangan, seakan ada kabut samar yang menyelimuti indra penglihatannya. Dadanya terasa panas membara, bukan karena kemarahan, melainkan rasa hangat yang menjalar dan menuntut perhatian. Jenis kehangatan yang ia kenal betul, dan yang justru dengan susah payah ia tahan serta lawan semalam saat berada di dekat Anindya.

‎‎"Kau...!" Ia menepis tangan istrinya dengan gerakan yang masih berusaha tegas, lalu mundur sebanyak dua langkah secara tergesa-gesa hingga punggungnya menabrak tepi meja rendah di belakangnya.

‎‎Gelas anggur yang kosong tergelincir dari permukaan meja, jatuh ke lantai dan pecah berantakan.

‎‎Prak!

‎‎Suara pecahan kaca menggema di ruangan yang luas dan remang cahayanya. Gelas anggur merah itu pecah berantakan di atas permadani tebal.

‎‎Reynand memejamkan mata rapat, menarik napas sedalam-dalamnya. Rasa panas itu kembali menjalar, dari tengkuk turun hingga ke ujung jari kakinya.

‎‎"Gisella... apa yang telah kau campurkan ke dalam minuman itu?" suaranya terdengar serak dan tertahan, kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh.

‎‎Gisella tidak mundur selangkah pun. Justru ia maju setengah langkah. Lingerie berwarna merahnya berkilau di bawah pantulan cahaya lampu. Senyumnya masih tampak manis, namun sorot matanya sedingin es.

‎‎"Sebuah obat penguat, Sayang," bisiknya lembut. "Aku hanya ingin kita berbicara dengan tenang. Sebagai suami dan istri. Bukankah sudah sangat lama kita tidak pernah berdua seperti ini?"

‎‎"Dengan cara memaksa?" Reynand tertawa sinis, dadanya terasa sesak. "Itu bukan kebersamaan. Itu menjijikkan."

‎‎Ia mundur dua langkah, hingga punggungnya terantuk tepi meja rendah di belakangnya.

‎‎Gisella pun berhenti melangkah. Wajahnya yang tadi tersenyum kini berubah seketika, menjadi tajam dan penuh amarah yang tertahan.

‎‎"Menjijikkan?" suaranya meninggi. "Aku ini istrimu, Reynand. Kau sendiri yang memilih tinggal di apartemen. Kau yang menjauh. Bukankah aku berhak mempertahankan rumah tangga yang telah kita bangun?"

‎‎"Dengan cara mengancam perusahaan? Dengan memberi obat?" Reynand menatapnya lurus tanpa gentar. "Jika ini caramu mempertahankan semuanya, aku lebih memilih kehilangan segalanya sekaligus."

‎‎"Kau berani melakukannya!" Gisella mendesis menahan emosi. "Kau tahu betul apa akibatnya jika kau tetap bersikeras bercerai dariku! Reynand Group akan hancur lebur! Tanpa dukungan keluarga Wijaya, perusahaan itu sama sekali tidak berarti apa-apa!"

‎‎Reynand menghela napas panjang. Pandangannya mulai terasa kabur di bagian tepi penglihatan. Ia sadar sepenuhnya bahwa jika ia tetap berada di ruangan ini lebih lama lagi, ia akan kalah melawan dirinya sendiri.

‎‎Tanpa menambahkan sepatah kata pun, ia memutar gagang pintu hingga terdengar bunyi klik.

‎‎"Reynand!" teriak Gisella dari belakangnya. "Kalau kau melangkah keluar dari sini, maka lupakan saja segala dukungan untuk perusahaan itu!"

‎‎Reynand tidak menoleh maupun menjawab. Ia melangkah keluar, lalu membanting pintu itu rapat di belakangnya.

‎‎-

‎-

‎Angin malam bertiup kencang dan menusuk tulang. Reynand berdiri di tepi trotoar, jasnya disampirkan di bahu. Keringat dingin masih membasahi pelipisnya meskipun udara di sekitarnya terasa dingin.

‎‎Ia membuka aplikasi pemesanan taksi dan memesan kendaraan.

‎‎Sambil menunggu, ia duduk di bangku tunggu. Kepalanya tertunduk dalam, berusaha melawan efek obat yang masih tersisa dengan cara memikirkan angka-angka, laporan keuangan, dan jadwal rapat yang menanti di kantor.

‎‎Namun sia-sia. Tubuhnya masih terasa panas dan lemah.

‎‎Taksi yang dipesannya akhirnya tiba. Ia masuk ke dalam dan langsung mengatur suhu pendingin udara pada tingkat paling dingin.

‎‎"Menuju ke The Ascend Residences, tolong," ucapnya dengan suara yang terdengar parau namun tetap jelas dan tegas.

‎‎Pengemudi mengangguk patuh. "Baik, Tuan."

‎‎Sekitar lima belas menit kemudian, kendaraan itu berhenti tepat di depan lobi apartemen. Petugas keamanan langsung membuka portal kedatangan begitu melihat siapa yang datang.

‎‎"Selamat malam, Tuan Reynand."

‎‎Ia melangkah masuk menuju lift pribadi yang menuju ke lantai dua puluh delapan. Begitu pintu apartemen terbuka, hawa sepi dan dingin langsung menyergapnya dari setiap sudut ruangan.

‎‎Tanpa melepas sepatu, ia langsung melangkah masuk ke ruang tengah. Ponsel dan dompet yang sedari tadi terselip di saku celananya ia ambil, lalu meletakkannya di atas meja tengah dengan gerakan tergesa-gesa. Baru setelah itu ia melangkah menuju kamar mandi. Kemeja yang dikenakannya ia lepaskan terlebih dahulu dan gantung asal di sandaran kursi di lorong, lalu membuka keran air dingin sepenuhnya. Air dingin dari pancuran menghantam permukaan kulitnya berulang kali. Namun rasa panas yang menjalar dari dalam tubuhnya tidak sepenuhnya sirna. Ia bersandar pada dinding keramik yang dingin, kedua telapak tangannya menutupi wajah. Napasnya masih belum teratur dan terasa berat.

‎‎"Sialan..." gumamnya pelan, suara itu tertahan di balik sela-sela jari.

‎‎Setelah hampir dua puluh menit berlalu, ia akhirnya mematikan keran air. Tubuhnya menggigil menahan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Ia meraih handuk, melilitkannya sekadarnya di pinggang, lalu melangkah keluar dan menjatuhkan diri ke permukaan sofa di ruang tengah apartemennya.

‎‎Ruangan itu senyap sepenuhnya. Hanya terdengar suara dengungan penyejuk udara dan detak jarum jam dinding yang berirama teratur.

‎‎Namun di tengah keheningan yang menyesakkan itu...

‎Bayangan wajah itu tiba-tiba muncul di benaknya, sejelas saat ia melihatnya secara langsung.

‎‎Sepasang mata yang sempat berkaca-kaca semalam. Suara lembut yang bergetar menahan cemas.

"Saya benar-benar memohon maaf sebesar-besarnya..."

‎‎Dan tangan yang menggenggam tali tas dokumennya erat-erat, tanda gugup yang berusaha disembunyikan sekuat tenaga.

‎‎Anindya.

‎‎Reynand langsung membuka matanya lebar-lebar dan duduk tegak seketika. Jantungnya berpacu dengan irama yang tidak karuan, seakan baru saja berlari menempuh jarak jauh.

‎‎"Kenapa..." bisiknya pelan, nadanya terdengar penuh kepayahan. "Kenapa harus dia yang muncul di benakku di saat seperti ini?"

‎‎Ia mengusap wajahnya dengan gerakan kasar, berusaha mengusir bayangan itu secepat mungkin. Namun semakin ia berusaha memaksakan diri untuk melupakan, semakin jelas dan nyata wajah wanita itu terbayang di kepalanya.

‎‎-

‎-

‎‎-

‎‎Ruang kerja CEO itu masih remang-remang, tirai jendela tertutup rapat. Permukaan meja terlihat bersih dan rapi, penutup laptop masih terpasang, dan tidak ada selembar pun jas yang tergantung di sandaran kursi kerja.

‎Anindya berdiri di depan pintu tertutup sambil memeluk map dokumen di dadanya. Jantungnya berpacu dengan irama yang tidak menentu. Sepanjang semalam ia nyaris tidak terlelap. Bayangan kejadian di kamar hotel malam itu, serta tatapan Reynand saat mereka nyaris berciuman, terus berputar tanpa henti di benaknya.

‎‎Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu mengetuk pintu itu dengan lembut dan sopan.

‎‎Namun tidak ada jawaban dari dalam.

‎‎Saat ia sedang menimbang untuk mengetuk sekali lagi, pintu lift pribadi di ujung lorong terbuka. Hansen melangkah keluar. Wajahnya tampak kusut dan kelelahan, dasinya tidak terikat serapi kebiasaan. Di tangannya tergenggam sebuah map tebal dan botol minum.

‎‎Anindya segera melangkah maju setengah langkah.

‎‎"Pak Hansen... apakah Pak Reynand sudah datang?" tanyanya dengan suara yang hati-hati dan tertahan.

‎‎Hansen berhenti melangkah, menatap wanita itu sejenak, lalu menghela napas panjang yang terdengar penuh keberatan.

‎‎"Tuan Reynand sedang sakit."

‎‎Anindya terpaku di tempatnya. Map yang tadi dipeluknya erat seketika terasa jauh lebih berat di tangannya.

‎‎"Sakit?" ulangnya pelan, matanya membelalak cemas. "Sakit apa, Pak?"

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
erai kan gak harus kedua belah pihak setuju
〈⎳ FT. Zira
ancamanya aja yg gak efisien🤧
〈⎳ FT. Zira
sebutannya tetep pelakor ya walau mereka saling suka dan terjebak keadaan.. mulut netizen kan emng paling bener🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
Rey sih gak bakal mundur nin
Bunda HB
bu lady yg trhormat ank mu tdr dgn pria lain yg bernama Gavin .di namakan istri gatal...makanya di cerai sama suami nya 😅😅
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣 lady Gaga 🤭🤣✌️
total 1 replies
Fay
Kutunggu lanjutannya thor biar semangat ku kasi vote deh💪💪
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 🙏😘
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
ehh... gak bisa komen.. lagi revisi katanya🤧🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
dirimu punya hak apa nglarang, suami bukan/Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira
anakmu yg nyosor duluan loh nyonyaaa
〈⎳ FT. Zira
sengaja banget ngasih terapi jantung yak🤧
🍓ADIRA🍓
Ayooo cari tau Rey... 🧐
🍓ADIRA🍓
sepertinya si binik sama kekasih gelapnya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
yg salah y statusnya Reynand 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
MBOK YA JANGAN LANGSUNG PLAK TOH BUK 😎 TANYA DULU BAEK-BAEK GTU LOH 😠
🍓ADIRA🍓
iya iya yg lgi lope lope dah /Heart/🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Terbawa perasaan sesaat??? plis deh ya buk 😎 Reynand itu bukan anak 17 tahun lagi loh 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
maap sya klarifikasi y nyonya... anakmu itu loh yg demen ambil kesempatan dalam kesempitan dluan 😂😂😂🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk calon besan tak boleh galak^ loh NyoMar 😂😂😂
kymlove...
beresin dulu aja ray hubungan mu sama gisella... cari taulah tentang gisella biar kamu tau keburukkan gisella, jadi jika beneran cerai km punya alasan yg kuat. untuk menggugat... biar semua tidak menyalahkan anindya jadi pihak ketiga terus...
kymlove...
hadeh.... udah ketebak pasti bakalan nyalahin nindya.... tapi ibuuuu..... kalau nindya pergi siapa. yang bakalan nanggung pengobatan mu!!!! mbok ya tolong jangan cuma lihat jeleknya aja!!! emang anak ibuuu jg mau terjebak sm. suami orang!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!