Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 — DESA PERTAMA HILANG
Tiga hari setelah sembilan ledakan misterius mengguncang perbatasan, sisa-sisa kehampaan masih menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang di Desa Batu Api. Desa kecil yang dulunya dihuni oleh dua ratus kepala keluarga itu kini telah berubah total menjadi hamparan abu.
Lu Chen mendarat perlahan. Jubah hitamnya berkibar ditiup angin malam yang hampa. Tanah di sekitarnya merekah, dan langit di atas tertutup awan hitam legam.
"Tidak ada mayat," lapor Wolf setelah menyisir area reruntuhan. "Tidak ada jejak darah, tidak ada sisa perlawanan. Semuanya lenyap begitu saja."
Lin Yue berjongkok di atas tanah, mengambil sedikit debu tipis yang berserakan di telapak tangannya. "Abu ini... bukan berasal dari kayu yang terbakar. Ini adalah sisa penguraian raga manusia."
JLEB. Dada Lu Chen terasa tertusuk sesuatu yang tajam.
Di sudut tembok yang tersisa dari sebuah rumah yang ambruk, sesosok anak kecil berusia sekitar tujuh tahun duduk meringkuk dalam diam. Tatapannya kosong menatap ke depan.
Pakaiannya compang-camping, dan tangannya erat menggenggam sebuah mainan boneka kayu kecil yang sudah usang.
Lu Chen melangkah pelan-pelan, lalu berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan anak itu. "Nak..."
Anak itu menoleh lambat-lambat. Manik matanya basah namun tanpa binar. "Kak..."
"Siapa namamu?" tanya Lu Chen lembut. "Bima, Kak... Ibu... Ibu kemana?"
Lu Chen tertegun, menelan ludahnya yang terasa kelat. "Ibu... sedang tidur di tempat yang jauh, Bima."
Bima memeluk boneka kayunya lebih erat. "Tadi malam... ada suara aneh yang berbisik di luar. 'Berikan kami rasa dendammu'. Terus semua orang berubah menjadi cahaya... terbang ke langit... dan hilang."
Tangan anak itu bergetar hebat. "Aku... aku ketakutan, makanya aku bersembunyi di dalam sumur tua. Makanya aku tidak ikut terbang."
Lu Chen terdiam. Ia meletakkan tangannya di atas bahu kecil Bima. "Kau anak yang sangat hebat karena sudah bertahan hidup."
Di dalam lubuk hatinya, rasa bersalah menghantam keras: Ini adalah kesalahanku. Aku yang mendeklarasikan bahwa perang telah usai dan dunia telah damai.
Luna yang sedang memeriksa dinding kuil desa menemukan sebuah pesan yang ditulis menggunakan darah kering.
1/9. UNTUK KEBANGKITAN. HATI PERTAMA: KETAKUTAN
Xue Ling membaca tulisan itu dengan dahi berkerut. "Jadi para jenderal itu sedang mengumpulkan sembilan emosi negatif manusia. Desa ini mewakili rasa ketakutan." Wolf mendesis geram. "Lalu delapan desa lainnya mengincar emosi apa?!"
Tiba-tiba, tato segel di dada Lu Chen memanas hebat. Dut... dut...
Di udara di atas mereka, bayangan tiga sosok tanpa wajah berwujud kabut hitam mendadak muncul meledek.
"Terlalu lambat, Raja Penyelamat," cibir Jenderal Pertama. Jenderal Kedua menimpali dengan tawa dingin, "Bahkan saat kalian berdiri di sini, kami telah merenggut dua desa lainnya."
WUS! Bayangan itu buyar menghilang.
Lu Chen mengepalkan tinjunya hingga berdarah. "Bagi tim menjadi beberapa kelompok! Cari delapan desa lainnya sekarang juga! SEKARANG!"
Malam harinya, di dalam tenda darurat pengungsian.
Bima tertidur lelap di dalam pelukan Lu Chen, namun bibirnya terus merintih dalam mimpi buruknya: "Ibu... jangan tinggalkan aku..."
Lu Chen dengan penuh kelembutan mengelus kepala anak itu, membisikkan sebuah janji suci: "Tidurlah yang nyenyak, Bima. Kakak berjanji, tidak akan ada lagi anak yang harus kehilangan ibunya."
Shen Yue melangkah masuk membawakan selimut hangat. "Nak..."
Lu Chen mendongak, menatap ibunya dengan sorot mata yang menyiratkan kerapuhan seorang anak manusia. "Bu... aku merasa takut."
Shen Yue tersenyum kecil, duduk di samping putranya. "Merasa takut adalah hal yang sangat wajar. Seorang raja yang mengaku tidak pernah merasa takut adalah seorang pembohong besar."
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Kau boleh merasa takut," bisik Shen Yue bijak. "Namun kau harus tetap melangkah maju menerjang ketakutan itu. Itulah arti dari keberanian yang sesungguhnya."
Lu Chen mengangguk pelan. Bulir air matanya menetes jatuh, membasahi helaian rambut Bima yang sedang tidur.
Keesokan paginya, laporan darurat tiba melalui burung giok komunikasi.
LAPORAN DARURAT: DESA ANGIN. LENYAP SEPERTI ABU. PESAN TINGGALAN: 2/9. HATI KEDUA: KEMARAHAN
Di saat bersamaan, proyeksi wajah Jenderal Ketiga kembali muncul di udara. "Kami akan menunggumu di desa kesembilan, sang Raja. Pastikan kau membawa serta Segel sucimu ke sana."
PUTUS.
Lu Chen bangkit berdiri dengan gerakan mantap. Ia telah mengenakan kembali baju zirah perangnya.
Ia menatap Bima yang masih tertidur nyenyak. "Bima, kau tinggallah bersama Ratu Shen Yue untuk sementara waktu."
"Kakak mau pergi kemana?" tanya Bima mengerjap-ngerjap.
Lu Chen menyunggingkan seulas senyuman—senyuman palsu yang ia paksakan agar anak itu tidak khawatir. "Kakak mau pergi menjemput ibu-ibu yang lain untuk kembali pulang."
Ia membalikkan badan dan melangkah keluar tenda. Di balik punggung bajunya, terukir sebuah kalimat yang ditulis menggunakan darah segarnya sendiri:
UNTUK MEREKA