Indonesia
NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Berkas Rahasia dan Dua Bayangan Musuh Lama

Setelah memastikan mobil sedan hitam yang kukemudikan meluncur mulus keluar dari area gerbang SMA Tiara Nusa, aku mengarahkan kemudi menuju pusat bisnis ibu kota. Tujuan utamaku pagi ini adalah menuju kantor pusat Sanjaya Group, gedung pencakar langit milik ayah Clara, Pak Frans Sanjaya.

Setibanya di kawasan perkantoran megah tersebut, mataku disambut oleh kemegahan arsitektur modern yang berdiri kokoh menembus awan. Gedung puluhan lantai itu memancarkan pesona kejayaan bisnis yang sangat luar biasa. Logo huruf "S" berwarna emas khas Sanjaya Group yang terpampang jelas di puncak gedung seolah menambah aura kepemimpinan yang begitu tangguh dan tak tergoyahkan.

Aku memarkirkan mobil di area khusus executive, merapikan setelan jas hitamku di balik cermin, lalu melangkah mantap memasuki lobi utama kantor yang megah berlantai marmer mengilap. Langkah kakiku bergaung pelan saat berjalan mendekati meja resepsionis yang dijaga oleh seorang wanita muda berpenampilan sangat rapi dan profesional.

"Selamat pagi, Mbak," sapa ramah dengan mengulas senyum sopan.

"Nama saya Arkan Jaya, supir sekaligus pengawal pribadi putri kandung Pak Frans Sanjaya. Saya ada jadwal untuk bertemu dengan beliau pagi ini."

Resepsionis itu menyunggingkan senyum hangat yang teramat halus dan sopan. "Selamat pagi, Pak Arkan. Baik, mohon tunggu sebentar ya, Pak. Saya konfirmasikan terlebih dahulu ke sekretaris pribadi beliau di lantai atas."

Wanita itu lalu mengangkat gagang telepon di mejanya, berbicara sebentar dengan intonasi rendah yang teratur. Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi dirinya untuk meletakkan kembali telepon tersebut dan kembali menatapku dengan ramah.

"Mari Pak Arkan, saya antar langsung menuju ruangan privat beliau," ujar resepsionis itu seraya berdiri dan memberi isyarat tangan.

"Baik, Mbak. Terima kasih banyak ya," balasku penuh hormat.

Kami berdua berjalan melintasi lorong khusus executive menuju lift privat yang langsung mengarah ke lantai teratas gedung. Suasana di dalam lift teramat hening, hanya terdengar suara dengung halus dari mesin lift yang bergerak naik dengan cepat. Begitu pintu lift terbuka di lantai paling atas, kami menyusuri koridor berkarpet tebal hingga tiba di depan sebuah pintu logam besar bertuliskan CEO Private Room.

"Ini ruangannya, Pak Arkan. Silakan langsung masuk saja. Kami sudah menyampaikan kedatangan Anda kepada Bapak Chairman," tutur sang resepsionis dengan gestur menunduk sopan.

"Terima kasih banyak, Mbak."

Aku menepuk kemejaku sejenak, menetralkan rasa gugup di dalam dada, lalu mendorong pintu logam tebal tersebut secara perlahan.

Sreeek...

Pintu bergeser mulus. Di dalam ruangan kerja yang teramat luas dan mewah dengan pemandangan lanskap kota dari balik kaca besar, tampak Pak Frans Sanjaya sedang berdiri di dekat meja kerjanya. Melihat kehadiranku di ambang pintu, wajah berwibawa pria paruh baya itu seketika melunak. Beliau menyambut kedatanganku dengan sangat lembut dan begitu santai.

"Halo, Arkan! Ayo masuk, Nak, duduk di sini," sapa Pak Frans dengan senyuman penuh kehangatan, mengisyaratkan aku untuk duduk di kursi kulit di hadapan meja kerjanya.

Aku melangkah masuk, menjabat tangannya dengan takzim lalu duduk dengan posisi tegap. "Terima kasih banyak, Pak Frans."

Pak Frans menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya, menatapku dengan pendar mata yang penasaran. "Bagaimana hari pertama kerjamu pagi ini, Arkan? Apakah putri manja saya itu sudah mulai membuat ulah atau merepotkanmu?"

Mendengar pertanyaan itu, ingatan tentang ancaman kepalan tangan mungil Clara di depan lobi sekolah tadi langsung berputar di kepalaku. Aku tidak bisa menahan senyum tipis di bibirku. Entah mengapa, ada dorongan semangat tersendiri yang membakar dadaku setiap kali membahas tentang Nona Muda satu itu.

"Lumayan berkesan, Pak," balasku penuh semangat dengan nada bicara yang cair. "Tadi di sekolah saya cuma diancam sedikit sama Nona Clara. Katanya saya wajib hukumnya standby di depan lobi tepat waktu dan enggak boleh terlambat satu detik pun saat jemput dia pulang nanti. Kalau terlambat, saya mau dilaporin ke Bapak."

Ha-ha-ha!

Tawa kecil yang renyah keluar dari wajah tampan Pak Frans. Beliau menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar tingkah laku putri tunggalnya.

"Dasar Clara..." kekeh Pak Frans seraya mengulas senyum maklum.

"Kamu ikuti saja dulu semua kemauannya ya, Arkan. Selama rencananya masih batas wajar dan dia tidak meminta hal-hal yang aneh atau membahayakan dirinya sendiri, turuti saja. Di balik sifat galak dan judesnya itu, Clara sebenarnya anak yang sangat penyayang."

"Siap, Pak Frans! Saya mengerti," jawabku tegas penuh kesiapan.

Namun, baru saja tawa ringan itu mereda, atmosfer di dalam ruangan privat tersebut mendadak berubah drastis. Senyuman di wajah Pak Frans perlahan melenyap, berganti dengan raut wajah yang teramat serius, dingin, dan sarat akan kecemasan mendalam.

Ada aura ketegangan terpancar dari sorot matanya, menandakan bahwa ada hal yang sangat krusial dan krusial yang akan beliau sampaikan kepadaku.

Pak Frans membuka laci meja kerja kayunya, lalu mengeluarkan sebuah map dokumen berwarna kuning tebal. Tanpa membuang waktu, beliau menggeser map tebal tersebut tepat ke hadapanku.

"Arkan..." panggil Pak Frans dengan intonasi suara yang berat dan bergetar penuh ketegasan. "Map kuning di hadapanmu itu berisi dokumen dan lembaran informasi penting mengenai dua musuh

terbesar saya. Saya minta kamu membaca dan memahami setiap detail informasi dari musuh-musuh saya ini dengan sangat teliti."

Jantungku berdegup kencang seketika. Menerima arahan serius tersebut, aku langsung menarik map kuning itu mendekat. Jemariku membuka sampulnya secara perlahan. Di lembar pertama, tampak dua buah foto pria paruh baya berwajah dingin beserta deretan data rekam jejak kejahatan dan persaingan bisnis yang mengerikan.

Dua nama besar tercetak tebal di bagian atas berkas: Alex Wijaya dan Denzo Rajasa.

"Alex Wijaya dan Denzo Rajasa..." gumamku pelan seraya membaca riwayat singkat di lembaran tersebut.

"Benar, Arkan. Mereka berdua adalah musuh lama saya," potong Pak Frans seraya menautkan kedua jemarinya di atas meja, menatap lurus ke dalam mataku. "Mereka adalah dalang di balik berbagai ancaman bisnis dan persaingan kotor yang merugikan Sanjaya Group selama bertahun-tahun. Bahkan... kasus penculikan Clara waktu itu, saya memiliki keyakinan kuat bahwa ada keterlibatan orang-orang suruhan dari salah satu di antara mereka."

Aku menelan ludah, mencerna setiap detail kalimat yang diucapkan Pak Frans. Sorot mata pria berpengaruh ini memancarkan perpaduan antara kemarahan pada musuh-musuhnya dan rasa cemas luar biasa terhadap keselamatan putri tercintanya.

"Mereka berdua tidak akan pernah berhenti mencari celah untuk menjatuhkan saya, Arkan," lanjut Pak Frans dengan suara yang makin dalam. "Dan titik lemah terbesar yang paling mudah mereka serang untuk menghancurkan hidup saya... adalah Clara."

Pak Frans membungkukkan badannya sedikit ke depan, menatapku dengan keteguhan dan kepercayaan penuh yang terpancar dari matanya.

"Arkan... Tolong jaga putri saya baik-baik," bisik Pak Frans penuh penekanan pada setiap kata yang diucapkannya. "Bentengi dia, lindungi dia dari marabahaya apa pun. Karena untuk saat ini... hanya kamu satu-satunya orang yang bisa saya percayakan keselamatan nyawa Clara sepenuhnya."

Mendengar amanat sakral yang begitu besar diletakkan di atas pundakku, rasa takut di dalam diriku menguap seketika, berganti menjadi sebuah ikrar kesetiaan. Aku menutup map kuning tersebut dengan mantap, menatap balik mata Pak Frans tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Bapak tidak perlu khawatir," ikrarku dengan nada tegas dan berwibawa. "Selama saya masih bernapas dan berdiri di samping Nona Clara, tidak ada satu pun orang suruhan Alex Wijaya maupun Denzo Rajasa yang bisa menyentuh atau melukainya. Saya jaminkan keselamatan Nona Clara dengan nyawa saya sendiri, Pak Frans."

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!