Indonesia
NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Udara di bibir jurang es vertikal Sektor 7 membeku seketika, tertelan oleh aura mematikan yang terpancar dari pedang plasma di tangan Jenderal Vane. Pendaran cahaya merah menyala dari bilah senjata berteknologi tinggi itu mendesis nyaring, melelehkan kristal-kristal es di sekitarnya dan mengepulkan uap panas yang langsung buyut diterpa angin badai bawah tanah.

Di hadapan sang jenderal, Ren berdiri tegak di anjungan sempit lokomotif Vanguard. Mantel panjangnya berkibar liar, sementara pendaran cahaya biru dari The Core Engine di dadanya berdenyut tidak stabil, memancarkan gelombang energi pelindung yang meredam hawa dingin luar.

Di dalam kabin melalui kaca palka depan yang berembun, Soju, Leo, Gavin, and Yuna menatap tegang ke arah luar. Layar hologram utama di konsol tengah secara otomatis menampilkan analisis data tempur real-time dari sistem sensor darurat kereta—sebuah peringatan visual yang memperlihatkan tingkat kekuatan fisik Jenderal Vane yang berada jauh di luar skala normal manusia.

"Kapten...!" teriak Soju dari balik kaca palka, jemarinya mencengkeram kusen pintu dengan buku-buku jari yang memutih. "Orang itu... tingkat kekuatan energinya melampaui batas standar militer! Jangan hadapi dia sendirian!"

Leo melangkah maju, tangannya meraih kunci pas besar di samping kemudi. "Aku akan keluar membantunya! Kita tidak bisa membiarkan Ren menghadapi monster itu seorang diri!"

Sebelum Leo sempat membuka pintu palka, suara Ren terdengar tegas melalui pengeras suara eksternal, memecah deru badai salju dengan otoritas mutlak seorang pemimpin yang menolak untuk dibantah.

"Tetaplah berada di dalam kereta," suara Ren terdengar parau namun sarat akan ketenangan yang dingin. Ia menoleh sedikit ke belakang, melirik sekilas ke arah bayangan teman-temannya di balik kaca palka. "Jangan ada yang keluar. Tugas kalian adalah menjaga kereta ini tetap hidup."

Di dalam kabin, Gavin terkesiap, matanya membelalak menatap layar hologram yang menunjukkan angka vitalitas Jenderal Vane yang melonjak drastis. "Tapi Ren! Analisis data menunjukkan perbedaan level kekuatan kalian terlalu jauh! Dia akan membunuhmu!"

"Aku tahu," jawab Ren lirih, namun cukup jelas tertangkap oleh sensor komunikasi internal.

Alasan terbesar Ren melarang rekan-rekannya keluar bukanlah karena ia meragukan kemampuan mereka, melainkan karena ia melihat apa yang menjadi target utama sang jenderal. Melalui pantulan cahaya pedang plasma Vane, Ren menyadari bahwa sasaran sebenarnya bukanlah dirinya semata, melainkan gerbong Vanguard—tempat di mana orang-orang yang baru saja menjadi bagian dari hidupnya bernaung. Vane berniat menghancurkan kereta itu beserta seluruh isinya untuk menghapus sisa-sisa sejarah Korporasi Aether yang tersembunyi.

Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh kereta ini... batin Ren bergemuruh, genggamannya pada gagang Rust-Bite Blade semakin mengerat. Tempat ini adalah rumah terakhir kami.

Tanpa memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk mendebat perintahnya, Ren melangkah maju, menempatkan dirinya tepat di antara Jenderal Vane dan pintu palka depan Vanguard.

Jenderal Vane mendengus dingin, senyuman sinis terukir jelas di balik bekas luka bakar vertikal di pelipisnya. "Keputusan yang sangat bodoh, Ren. Menyerahkan nyawamu demi sekelompok sampah rongsokan di atas rel berkarat."

Sebelum gema suara Vane sepenuhnya hilang di udara, pergerakan sang jenderal meledak bagai sambaran petir.

Bum!

Vane melesat ke depan dengan kecepatan yang melampaui batas penglihatan manusia biasa. Pedang plasma merahnya terayun horizontal, membelah udara dengan kekuatan destruktif yang masif.

Ren mengangkat Rust-Bite Blade untuk menangkis serangan tersebut.

Clang!

Benturan dua bilah senjata itu menciptakan gelombang kejut sonik yang sangat dahsyat, memecahkan sisa-sisa pilar es di sekitar jurang dan memercikkan ribuan bunga api menyilaukan. Namun, perbedaan level kekuatan fisik dan tenaga dalam yang timpang langsung terlihat nyata. Seketika hantaman itu mendarat, Ren merasakan lengan kanannya seperti dihantam palu raksasa dari baja murni.

Kaki boots Ren tergesek mundur beberapa sentimeter di atas lantai logam lokomotif yang sempit. Tulang-tulang di pergelangan tangannya berderit ngilu menahan beban tekanan yang luar biasa berat.

"Apa hanya sebatas ini kemampuan pemilik inti mesin terlarang?!" cibir Vane merendahkan, menambah tekanan pada pedang plasmanya.

Sebelum Ren sempat memulihkan keseimbangannya, Vane memutar tubuhnya dengan kelenturan seorang algojo berpengalaman. Siku tangan kirinya yang berlapis zirah berat melesat telak menghantam rusuk kiri Ren.

Bugh!

Suara hantaman tumpul yang mengerikan menggema di udara. Ren terpental ke samping, tubuhnya menghantam keras dinding baja lokomotif hingga cat pelindungnya mengelupas dan meninggalkan penyok yang cukup dalam. Darah segar seketika menyembur keluar dari sudut bibir Ren, menetes membasahi salju putih di bawah kakinya.

Di dalam kabin, Yuna menutup mulutnya dengan kedua tangan, napasnya tercekat melihat kekejaman serangan tersebut. Soju mengepalkan tangannya hingga kuku jarinya menancap di telapak tangannya sendiri, sementara Gavin berteriak frustrasi di depan terminal melihat grafik vitalitas Ren yang merosot tajam.

Di layar monitor utama, sistem internal The Core Engine berkedip liar mengeluarkan lampu peringatan berwarna merah darah:

[PERINGATAN KRITIS: INTEGRITAS SELULER MENURUN DRASTIS. KERUSAKAN TULANG TERDETEKSI DI ATAS 65%. RISIKO KEGAGALAN SISTEM: KRITIS (HP < 5%).]

Rasa sakit yang luar biasa membakar sekujur tubuh Ren. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca tajam yang merobek paru-parunya. Tulang rusuknya retak, dan aliran darah hangat mengalir deras membasahi bagian dalam mantelnya.

Namun, di tengah kesakitan fisik yang mencapai ambang batas kesadaran manusia, tekad di dalam mata perak Ren tidak sedikit pun padam. Ia mendongakkan kepalanya perlahan, menatap tajam ke arah Jenderal Vane yang kembali mengangkat pedang plasmasanya untuk melancarkan serangan pemungkas.

Vane melihat kelemahan pada musuhnya, menyeringai lebar. "Akhir perjalananmu, Ren!" teriak Vane sambil melompat tinggi ke udara, mengayunkan pedang plasma merahnya vertikal ke bawah—menargetkan kepala Ren sekaligus bermaksud menembus lambung palka depan Vanguard di belakangnya.

Serangan itu dirancang untuk menghancurkan segalanya dalam satu ayunan maut.

Melihat bilah plasma itu meluncur turun ke arah kereta di mana rekan-rekannya berada, sebuah insting perlindungan yang melampaui batas akal sehat meledak di dalam diri Ren. Pendaran cahaya biru dari The Core Engine di dadanya mendadak berubah menjadi nyala api biru yang sangat terang, membakar habis rasa sakit dan kelelahan fisiknya dalam sekejap.

Dengan sisa-sisa tenaga terakhir yang dikumpulkannya dari seluruh sisa sel tubuhnya, Ren melompat menerjang ke depan—bukan untuk menghindari tebasan maut tersebut, melainkan untuk menghalanginya dengan tubuhnya sendiri.

Syuuung!

Ren merentangkan kedua tangannya, berdiri tepat di depan pintu palka kereta, menggunakan Rust-Bite Blade dan tubuhnya sebagai perisai hidup yang mutlak untuk melindungi Vanguard dari hancurkan pedang plasma Jenderal Vane.

Bilah merah menyala itu menghantam tepat telak menembus bahu kiri Ren, memercikkan kilat panas yang membakar kulit dan pakaian, sementara gelombang kejut benturannya mengguncang seluruh bodi kereta hingga nyaris tergelincir jatuh ke dalam jurang.

Darah segar menyembur keluar dari luka menganga di bahu Ren, membasahi bilah pedang musuh. Namun, berkat tindakan impulsif yang mempertaruhkan nyawa tersebut, hantaman maut Jenderal Vane berhasil dihentikan sepenuhnya di udara—tidak satu pun goresan atau pecahan plasma yang berhasil menyentuh bodi gerbong tempat teman-temannya berada.

Ren terengah-engah hebat, tubuhnya terkulai lemas bertumpu pada pedangnya yang menancap di lantai logam. Pandangannya mulai kabur, warna dunia di sekelilingnya memudar menjadi kelam, dan kesadarannya perlahan-lahan runtuh di ambang kegelapan total.

Jenderal Vane terperanjat kaget melihat pertahanan nekat tersebut, sementara dari dalam kabin kereta, suara teriakan histeris Soju memanggil namanya pecah menembus badai salju saat tubuh Ren terkulai jatuh ke lantai lokomotif tanpa daya tepat di hadapan pintu palka yang tertutup rapat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!