Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Bab 1: Awal dari Sebuah Pertemuan

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Kisah ini bermula dari zaman kami masih satu sekolah. Aku adalah kakak kelas yang terpaut dua tahun dari Clara Adelin.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.

Teng... teng... teng...

Bunyi lonceng tanda masuk sudah berbunyi.

"Cepat! Lima menit lagi gerbang akan saya tutup!" teriakku.

Ini adalah aku di masa sekolah. Jabatanku waktu itu adalah Ketua OSIS.

"Tunggu, Kak! Terima kasih, Pak," teriak seorang gadis cantik yang tak lain adalah Clara.

Namun, karena dia sudah terlambat, aku terpaksa menutup gerbang dan menghukum atau mengusir siswa-siswi yang datang terlambat hari itu.

"Kalian sudah terlambat. Kalian terlambat lima menit," kataku dengan nada serius dan tegas.

Lalu, pandanganku tertuju pada Clara yang hampir setiap hari terlambat.

"Nama kamu Clara, kan?" tanyaku, masih dengan wajah serius.

"Iya, Kak," jawab Clara dengan wajah menunduk.

"Kamu saya lihat hampir setiap hari terlambat. Padahal kamu diantar pakai mobil. Rumah kamu di mana?"

Lalu Clara menyebutkan salah satu daerah, dan daerah tempat dia tinggal ternyata sama dengan tempat tinggalku.

"Padahal kita satu daerah, loh. Kamu juga berangkat pakai mobil, tapi masih terlambat," tegasku. "Sekarang kalian semua pilih: pulang, atau membersihkan WC sekolah?"

Semuanya memilih untuk membersihkan WC. Aku pun mengantar mereka ke area toilet dan membaginya menjadi dua kelompok. Pria membersihkan WC pria, dan wanita membersihkan WC wanita.

Hari itu menjadi hari sial untuk Clara Adelin, karena hanya dia satu-satunya murid wanita yang terlambat.

"Kak, enggak mungkin, kan, kalau aku bersihin ini sendiri?" kata Clara dengan nada bicara yang sedikit dibuat memelas.

"Kenapa tidak mungkin? Yang membuat pelanggaran hanya kamu saja wanitanya. Kan tidak mungkin saya harus memanggil murid lain untuk masuk ke WC wanita."

"Tapi, Kak..."

"Tidak ada tapi-tapi, Nona. Berani berbuat salah, harus berani juga bertanggung jawab."

Hari itu aku bisa tahu kalau Clara ini memang anak orang kaya. Dilihat dari caranya memegang sapu saja sudah tidak benar.

"Kamu ini... tidak pernah kerja, ya?" tanyaku dengan nada sedikit heran.

"Iya, Kak. Aku enggak pernah kerja karena di rumah kami selalu dilayani oleh pelayan," jawab Clara tanpa rasa malu.

"Pantas saja. Dasar anak manja."

Ternyata Clara tidak terima dikatai manja.

"Hiii... aku bukan manja! Itu karena orang tuaku kaya, makanya di rumah disediakan pelayan oleh orang tuaku!" jawabnya dengan nada meninggi.

Dia lalu membanting sapu yang dipegangnya dan pergi dengan wajah yang sudah hampir menangis.

"Hey! Pekerjaan kamu belum selesai, Anak Manja!" panggilku.

Namun, dia tidak peduli dan tetap pergi meninggalkanku yang hanya bisa terdiam.

"Baiklah, hukumannya nanti saja kalau sudah pulang sekolah," gumamku dalam hati.

Sesuai rencana, tepat ketika bel pulang sekolah berdentang nyaring, aku sudah berdiri tegak di depan kelas Clara dengan menyilangkan kedua tangan di dada. Beberapa siswa yang keluar kelas menatapku segan—maklum, jabatan Ketua OSIS buat mereka cukup disegani.

Tak lama kemudian, sosok yang kutunggu muncul. Clara keluar sambil menggendong tasnya dengan wajah lesu. Begitu matanya menatapku, langkahnya langsung terhenti. Wajahnya yang tadinya cemberut makin bertambah sebal.

"Ikut aku. Hukuman mu tadi pagi belum selesai, Nona Manja," kataku santai tapi tetap tegas.

"Kak Arkan! Aku kan udah bilang aku bukan anak manja! Lagian tadi baju aku hampir kotor cuma gara-gara pegang sapu itu!" protesnya dengan nada melengking, bibirnya cemberut maksimal.

"Alasan. Di sekolah ini enggak ada anak emas atau anak kaya, semuanya sama. Ayo, selesaikan atau nama kamu saya catat di buku pelanggaran dan dipanggil orang tua," ancamku.

Mendengar kata 'orang tua', raut wajah Clara langsung berubah panik. Dengan terpaksa dan langkah kaki yang sengaja dihentakkan ke lantai, dia mengikutiku kembali ke area toilet belakang.

Selama hampir 30 menit, aku memperhatikannya dari luar toilet. Harus kuakui, melihat anak kaya raya yang biasanya tinggal terima beres ini kesulitan meremas kain pel dan bingung cara menyiram lantai sampai bersih adalah pemandangan yang cukup menggelikan. Tapi di sisi lain, ada sedikit rasa iba melihat tangannya yang halus harus berurusan dengan ember dan sabun pembersih.

"Udah selesai kan, Kak?" tanya Clara akhirnya, keluar sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang basah dengan napas terengah-engah. Rambutnya sedikit acak-acakan, sangat berbanding terbalik dengan penampilannya yang selalu rapi di pagi hari.

"Ya, lumayan. Besok-besok jangan terlambat lagi, Clara. Kurangi kebiasaan begadang atau malas-malasan kamu," jawabku sambil menyodorkan saputangan dari saku seragamku. "Pakai ini buat ngeringkan tangan kamu."

Clara menatap saputangan polos milikku sebentar, lalu mengambilnya dengan canggung. "Makasih..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar, sebelum berpaling karena gengsi.

Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna hitam meluncur pelan dan berhenti di dekat area parkir depan sekolah. Seorang pria paruh baya berpenampilan sangat rapi dengan setelan jas turun dari pintu belakang. Aura kepemimpinan dan kewibawaannya terasa begitu kuat.

"Clara? Kenapa kamu baru keluar? Dan kenapa baju kamu agak basah begitu?" suara berat pria itu terdengar.

"Papi..." panggil Clara dengan nada mengadu.

Ternyata pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Pak Frans menatapku penuh selidik, sementara aku tetap berdiri tegak menyapa mereka dengan sopan.

Terpopuler

Comments

Alissia

Alissia

hai thor🤭🤭🤭🤭

2026-07-28

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Awal dari Sebuah Pertemuan
2 Bab 2: Janji Bodoh di Hari Minggu
3 Bab 3: Preman, Pahlawan, dan Tatapan Mata Merah
4 Bab 4: Drama Kantin dan Balas Dendam Kecil
5 Bab 5: Razia Dadakan dan Penemuan Ajaib
6 Bab 6: Penantian Tiga Jam dan Makanan Penutup
7 Bab 7: Pasukan Kosmetik dan Misi Subuh
8 Bab 8: Kerja Sampingan dan Kemudi Galon
9 Bab 9: Pesanan untuk Rumah Sanjaya
10 Bab 10: Labirin Rumah Sanjaya
11 Bab 11: Jalur Potong dan Jalur Asmara
12 Bab 12: Mobil Asing dan Jejak Bahaya
13 Bab 13: Penyekapan dan Strategi Umpan
14 Bab 14: Penyelamatan dan Imbalan Tanpa Nama
15 Bab 15: Pengawal Baru dan Penggoda Kantin
16 Bab 16: Pengakuan Tak Terduga dan Air yang Tersedak
17 Bab 17: Tawaran Pak Frans dan Sikap Judes Clara
18 Bab 18: Rezeki Buat Egi dan Perjamuan Makan Malam
19 Bab 19: Kontrak Mewah dan Balas Dendam Ban Motor
20 Bab 20: Razia Balas Dendam dan Boneka Barbie
21 Bab 21: Pengaruh Uang dan Dendam yang Membara
22 Bab 22: Malam Pertama Egi dan Nona Muda yang Arogan
23 Bab 23: Kejutan di Mall dan Amarah Sang Pengawal
24 Bab 24: Ucapan Terima Kasih Nona Muda dan Laga Basket yang Membara
25 Bab 25: Curhat Malam dan Rahasia Nona Muda
26 Bab 26: Teka-teki Pembungkaman dan Kecurigaan Sang Tante
27 Bab 27: Keceplosan Tante Fani dan Senyum Tipis Sang Pengawal
28 Bab 28: Kabar Duka dan Prediksi Pengawal Baru
29 Bab 29: Penghormatan Terakhir dan Janji Masa Depan
30 Bab 30: Amanat Baru dan Langkah Awal Pengawal Muda
31 Bab 31: Hari Pertama Tugas dan Ujian Kesabaran Sang Pengawal
32 SEDIKIT SALAM DARI SAYA MARKARIO PUTRA
33 Bab 33: Ancaman Kepalan Tangan dan Awal Drama Sekolah
34 Bab 34: Berkas Rahasia dan Dua Bayangan Musuh Lama
35 Bab 35: Rahasia Lembaran Kuning dan Bayangan Masa Lalu
36 Bab 36: Sandiwara Pesan Suara dan Jejak Sang Nona Muda
37 Bab 37: Pengakuan Tak Terduga dan Jemputan Sang Pengawal
38 Bab 38: Topeng Pembelaan dan Rahasia yang Hampir Terbongkar
Episodes

Updated 38 Episodes

1
Bab 1: Awal dari Sebuah Pertemuan
2
Bab 2: Janji Bodoh di Hari Minggu
3
Bab 3: Preman, Pahlawan, dan Tatapan Mata Merah
4
Bab 4: Drama Kantin dan Balas Dendam Kecil
5
Bab 5: Razia Dadakan dan Penemuan Ajaib
6
Bab 6: Penantian Tiga Jam dan Makanan Penutup
7
Bab 7: Pasukan Kosmetik dan Misi Subuh
8
Bab 8: Kerja Sampingan dan Kemudi Galon
9
Bab 9: Pesanan untuk Rumah Sanjaya
10
Bab 10: Labirin Rumah Sanjaya
11
Bab 11: Jalur Potong dan Jalur Asmara
12
Bab 12: Mobil Asing dan Jejak Bahaya
13
Bab 13: Penyekapan dan Strategi Umpan
14
Bab 14: Penyelamatan dan Imbalan Tanpa Nama
15
Bab 15: Pengawal Baru dan Penggoda Kantin
16
Bab 16: Pengakuan Tak Terduga dan Air yang Tersedak
17
Bab 17: Tawaran Pak Frans dan Sikap Judes Clara
18
Bab 18: Rezeki Buat Egi dan Perjamuan Makan Malam
19
Bab 19: Kontrak Mewah dan Balas Dendam Ban Motor
20
Bab 20: Razia Balas Dendam dan Boneka Barbie
21
Bab 21: Pengaruh Uang dan Dendam yang Membara
22
Bab 22: Malam Pertama Egi dan Nona Muda yang Arogan
23
Bab 23: Kejutan di Mall dan Amarah Sang Pengawal
24
Bab 24: Ucapan Terima Kasih Nona Muda dan Laga Basket yang Membara
25
Bab 25: Curhat Malam dan Rahasia Nona Muda
26
Bab 26: Teka-teki Pembungkaman dan Kecurigaan Sang Tante
27
Bab 27: Keceplosan Tante Fani dan Senyum Tipis Sang Pengawal
28
Bab 28: Kabar Duka dan Prediksi Pengawal Baru
29
Bab 29: Penghormatan Terakhir dan Janji Masa Depan
30
Bab 30: Amanat Baru dan Langkah Awal Pengawal Muda
31
Bab 31: Hari Pertama Tugas dan Ujian Kesabaran Sang Pengawal
32
SEDIKIT SALAM DARI SAYA MARKARIO PUTRA
33
Bab 33: Ancaman Kepalan Tangan dan Awal Drama Sekolah
34
Bab 34: Berkas Rahasia dan Dua Bayangan Musuh Lama
35
Bab 35: Rahasia Lembaran Kuning dan Bayangan Masa Lalu
36
Bab 36: Sandiwara Pesan Suara dan Jejak Sang Nona Muda
37
Bab 37: Pengakuan Tak Terduga dan Jemputan Sang Pengawal
38
Bab 38: Topeng Pembelaan dan Rahasia yang Hampir Terbongkar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!