Bab 4: Drama Kantin dan Balas Dendam Kecil

Teng... teng... teng...

Lonceng tanda istirahat pertama akhirnya berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Suara itu seolah menjadi komando bagi ratusan siswa yang langsung berhamburan keluar kelas menuju satu titik tujuan utama: kantin. Aku yang sejak tadi menahan lapar pun ikut melangkah santai menuju area kantin sekolah yang mulai padat dan bising.

Di tengah keramaian murid yang mengantre makanan, mataku menyipit melihat dua sosok yang tidak asing. Clara Adelin dan Diana sedang duduk di salah satu meja sudut kantin.

"Ternyata dua bocah manja itu ada di sini juga," bisikku dalam hati sambil tersenyum tipis.

Namun, baru saja aku mau melangkah mendekati stan ibu kantin, sebuah tontonan gratis mendadak tersaji di hadapanku.

Seorang siswi seangkatanku melangkah lebar penuh emosi menghampiri meja Clara. Wajah siswi itu merah padam, tangannya berkacak pinggang di depan Clara yang sedang santai meminum es tehnya.

"Hei, Clara Adelin! Kamu itu memang wanita enggak tahu malu ya?!" bentak siswi itu dengan suara melengking, memancing perhatian seluruh penghuni kantin.

Clara tidak langsung merespons. Dia tetap tenang, menyesap minumannya dengan sangat santai seolah wanita di depannya hanyalah angin lalu. Sikap acuh tak acuhnya justru membuat siswi itu makin naik darah.

"Heh, Clara! Aku bilang sama kamu ya, jangan coba-coba dekat-dekat sama cowokku! Dasar cewek gatal, ganjen!" teriaknya lagi, kini menarik perhatian lebih banyak pasang mata.

Saat itulah Clara perlahan meletakan gelasnya. Dia berdiri dari kursi, membetulkan letak seragamnya yang rapi, lalu menatap wanita itu dengan pandangan dingin dan penuh martabat.

"Heh, wanita bodoh dan jelek," balas Clara dengan nada suara yang begitu tenang, berkelas, namun menusuk ulu hati.

"Asal kamu tahu ya, aku—Clara Adelin—enggak pernah berniat merampas pacar orang, apalagi gatal sama cowok murahan begitu."

Sebelum siswi itu sempat membalas, Diana yang duduk di samping Clara ikut angkat suara dengan nada mengejek yang telak.

"Ra, ternyata pacar dia itu cowok yang maksa minta nomor kamu pas kita di mal kemarin!" seru Diana seraya melambaikan ponselnya ke udara. "Dan kamu tahu, Ra? Cowoknya itu sudah chat kamu puluhan kali tapi kamu cuekin terus. Dasar pria dan wanita bodoh!"

Kalimat Diana menjadi pukulan telak yang menyempurnakan kemenangan mereka. Wajah siswi tadi makin memerah karena malu. Merasa terpojok dan panik, dia mencoba merebut ponsel yang dipegang Diana. Namun dengan sigap, Diana menarik tangannya ke belakang.

"Eits, jangan main sambar!" gertak Diana sinis. "Kalau HP keluaran terbaru ini jatuh dan rusak, cewek bodoh kayak kamu enggak bakal mampu menggantinya!"

Tahu dirinya kalah telak di depan umum dan dipermalukan oleh kenyataan, siswi itu akhirnya berbalik badan lalu berlari meninggalkan area kantin dengan menanggung malu. Clara dengan santai kembali duduk, merogoh ponselnya sendiri, lalu mengusap layarnya untuk memblokir nomor cowok tak tahu diri tersebut.

Aku menggelengkan kepala melihat drama kekanak-kanakan itu. Tanpa memedulikan mereka lagi, aku berjalan mendekati meja Ibu Kantin seolah tidak terjadi apa-apa.

"Bu, gorengan dua biji ya," pemesanan singkat.

Sengaja aku hanya membeli dua gorengan untuk lauk tambahan bekal nasi yang kubawa dari rumah. Maklum, sebagai anak yang hidup sendirian, aku harus hemat dan pandai mengatur keuangan. Aku duduk di bangku kayu tak jauh dari sana, menikmati bekalku dengan tenang di tengah riuhnya suasana kantin.

Tak terasa, waktu istirahat hampir usai. Teng... teng... teng... Lonceng masuk kelas kembali berbunyi.

Aku merapikan tempat bekal dan bersiap untuk berdiri. Tiba-tiba...

Brak!

Dua pasang sepatu melangkah tepat di atas kedua ibu jari kakiku. Rasa sakit mendadak menjalar cepat dari ujung kaki. Aku meringis pelan, mendongak, dan mendapati Clara serta

Diana sedang berjalan melintasiku tanpa rasa bersalah sedikit pun. Mereka menginjak kakiku dengan sengaja, seolah menjadikan kakiku sebagai alas pelampiasan rasa stres mereka.

"Rasakan itu, OSIS jahat!" seru Clara sambil melirik sinis ke arahku.

"Iya, rasakan! OSIS jahat!" timpal Diana menyetujui, lalu keduanya tertawa renyah sambil berjalan cepat melangkah pergi masuk ke dalam kelas.

Aku memegangi jari kakiku yang berdenyut sakit, menatap punggung kedua gadis itu yang makin menjauh. "Awas kalian ya..." gumamku sambil tertawa kecil menahan geram.

Episodes
1 Bab 1: Awal dari Sebuah Pertemuan
2 Bab 2: Janji Bodoh di Hari Minggu
3 Bab 3: Preman, Pahlawan, dan Tatapan Mata Merah
4 Bab 4: Drama Kantin dan Balas Dendam Kecil
5 Bab 5: Razia Dadakan dan Penemuan Ajaib
6 Bab 6: Penantian Tiga Jam dan Makanan Penutup
7 Bab 7: Pasukan Kosmetik dan Misi Subuh
8 Bab 8: Kerja Sampingan dan Kemudi Galon
9 Bab 9: Pesanan untuk Rumah Sanjaya
10 Bab 10: Labirin Rumah Sanjaya
11 Bab 11: Jalur Potong dan Jalur Asmara
12 Bab 12: Mobil Asing dan Jejak Bahaya
13 Bab 13: Penyekapan dan Strategi Umpan
14 Bab 14: Penyelamatan dan Imbalan Tanpa Nama
15 Bab 15: Pengawal Baru dan Penggoda Kantin
16 Bab 16: Pengakuan Tak Terduga dan Air yang Tersedak
17 Bab 17: Tawaran Pak Frans dan Sikap Judes Clara
18 Bab 18: Rezeki Buat Egi dan Perjamuan Makan Malam
19 Bab 19: Kontrak Mewah dan Balas Dendam Ban Motor
20 Bab 20: Razia Balas Dendam dan Boneka Barbie
21 Bab 21: Pengaruh Uang dan Dendam yang Membara
22 Bab 22: Malam Pertama Egi dan Nona Muda yang Arogan
23 Bab 23: Kejutan di Mall dan Amarah Sang Pengawal
24 Bab 24: Ucapan Terima Kasih Nona Muda dan Laga Basket yang Membara
25 Bab 25: Curhat Malam dan Rahasia Nona Muda
26 Bab 26: Teka-teki Pembungkaman dan Kecurigaan Sang Tante
27 Bab 27: Keceplosan Tante Fani dan Senyum Tipis Sang Pengawal
28 Bab 28: Kabar Duka dan Prediksi Pengawal Baru
29 Bab 29: Penghormatan Terakhir dan Janji Masa Depan
30 Bab 30: Amanat Baru dan Langkah Awal Pengawal Muda
31 Bab 31: Hari Pertama Tugas dan Ujian Kesabaran Sang Pengawal
32 SEDIKIT SALAM DARI SAYA MARKARIO PUTRA
33 Bab 33: Ancaman Kepalan Tangan dan Awal Drama Sekolah
34 Bab 34: Berkas Rahasia dan Dua Bayangan Musuh Lama
35 Bab 35: Rahasia Lembaran Kuning dan Bayangan Masa Lalu
36 Bab 36: Sandiwara Pesan Suara dan Jejak Sang Nona Muda
37 Bab 37: Pengakuan Tak Terduga dan Jemputan Sang Pengawal
38 Bab 38: Topeng Pembelaan dan Rahasia yang Hampir Terbongkar
Episodes

Updated 38 Episodes

1
Bab 1: Awal dari Sebuah Pertemuan
2
Bab 2: Janji Bodoh di Hari Minggu
3
Bab 3: Preman, Pahlawan, dan Tatapan Mata Merah
4
Bab 4: Drama Kantin dan Balas Dendam Kecil
5
Bab 5: Razia Dadakan dan Penemuan Ajaib
6
Bab 6: Penantian Tiga Jam dan Makanan Penutup
7
Bab 7: Pasukan Kosmetik dan Misi Subuh
8
Bab 8: Kerja Sampingan dan Kemudi Galon
9
Bab 9: Pesanan untuk Rumah Sanjaya
10
Bab 10: Labirin Rumah Sanjaya
11
Bab 11: Jalur Potong dan Jalur Asmara
12
Bab 12: Mobil Asing dan Jejak Bahaya
13
Bab 13: Penyekapan dan Strategi Umpan
14
Bab 14: Penyelamatan dan Imbalan Tanpa Nama
15
Bab 15: Pengawal Baru dan Penggoda Kantin
16
Bab 16: Pengakuan Tak Terduga dan Air yang Tersedak
17
Bab 17: Tawaran Pak Frans dan Sikap Judes Clara
18
Bab 18: Rezeki Buat Egi dan Perjamuan Makan Malam
19
Bab 19: Kontrak Mewah dan Balas Dendam Ban Motor
20
Bab 20: Razia Balas Dendam dan Boneka Barbie
21
Bab 21: Pengaruh Uang dan Dendam yang Membara
22
Bab 22: Malam Pertama Egi dan Nona Muda yang Arogan
23
Bab 23: Kejutan di Mall dan Amarah Sang Pengawal
24
Bab 24: Ucapan Terima Kasih Nona Muda dan Laga Basket yang Membara
25
Bab 25: Curhat Malam dan Rahasia Nona Muda
26
Bab 26: Teka-teki Pembungkaman dan Kecurigaan Sang Tante
27
Bab 27: Keceplosan Tante Fani dan Senyum Tipis Sang Pengawal
28
Bab 28: Kabar Duka dan Prediksi Pengawal Baru
29
Bab 29: Penghormatan Terakhir dan Janji Masa Depan
30
Bab 30: Amanat Baru dan Langkah Awal Pengawal Muda
31
Bab 31: Hari Pertama Tugas dan Ujian Kesabaran Sang Pengawal
32
SEDIKIT SALAM DARI SAYA MARKARIO PUTRA
33
Bab 33: Ancaman Kepalan Tangan dan Awal Drama Sekolah
34
Bab 34: Berkas Rahasia dan Dua Bayangan Musuh Lama
35
Bab 35: Rahasia Lembaran Kuning dan Bayangan Masa Lalu
36
Bab 36: Sandiwara Pesan Suara dan Jejak Sang Nona Muda
37
Bab 37: Pengakuan Tak Terduga dan Jemputan Sang Pengawal
38
Bab 38: Topeng Pembelaan dan Rahasia yang Hampir Terbongkar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!