Bab 2: Janji Bodoh di Hari Minggu

Keesokan harinya, Clara Adelin kembali terlambat.

"Yang terlambat hari ini, hukuman kalian bukan lagi membersihkan WC, melainkan membersihkan lingkungan sekolah!" seruku di depan gerbang.

Pandanganku kembali tertuju pada orang yang sama. Clara, nona cantik nan manja itu, hari ini terlambat lagi. Tapi kali ini dia tidak sendiri; dia datang bersama seorang sahabatnya.

Aku tahu gadis itu sahabatnya karena kemarin, saat Clara menyelesaikan hukuman, dia setia menunggu sampai mereka pulang bersama menggunakan mobil pribadi.

"Kamu hebat ya, Anak Manja. Karena takut mengerjakan hukuman sendiri, kamu ajak sahabat kamu buat terlambat bareng?" kataku dengan nada sindiran yang sengaja ingin memancing kekesalan Clara.

"Enggak kok, Kak! Aku bukan diajak Clara buat terlambat," potong sahabat Clara dengan polos. "Aku emang terlambat bangun tadi. Soalnya semalam aku begadang diajak nonton drakor sama Clara."

Mendengar jawaban jujur dari sahabatnya, wajah Clara langsung memerah menahan malu.

"Iya, Kak... Kami janji deh besok enggak bakal terlambat lagi. Besok kami pasti datang lebih pagi! Iya kan, Diana?" seru Clara panik.

"Iya, Kak! Kami janji!" tambah Diana mantap.

Aku hanya tersenyum sinis. "Janji kalian itu palsu. Lagipula aku enggak peduli kalian mau datang cepat atau tidak. Tapi kalau besok kalian terlambat lagi, siap-siap saja lari keliling lapangan sepuluh kali. Nanti keringatan, terus bau... Hiiy."

"Tapi untuk hukuman membersihkan lingkungan sekolah hari ini tetap berlaku. Sini, kalian berdua ikut saya!"

Aku membawa mereka ke area yang penuh dengan sampah. Dari raut wajah keduanya, jelas terlihat rasa jijik saat harus memegang sampah-sampah itu. Tapi aku tidak peduli.

Hukuman tetaplah hukuman, harus dilaksanakan agar ada efek jera.

Baru lima menit mereka memegang alat kebersihan, bel tanda masuk kelas berbunyi nyaring.

"Yes! Hore!"

Dua gadis itu berteriak kegirangan. Tanpa pikir panjang, mereka langsung melempar plastik sampah yang dipegang begitu saja, lalu melangkah pergi tanpa pamit padaku. Aku yang melihat kelakuan mereka hanya bisa mengelus dada. Ingin marah, tapi ya sudahlah.

Setelah membuang sisa sampah pada tempatnya, aku menuju area tempat cuci tangan. Saat tiba di sana, aku dibuat geleng-geleng kepala. Clara dan Diana ternyata masih berada di sana, asyik menghabiskan hampir satu botol sabun cuci tangan hanya untuk menghilangkan kuman di tangan mereka.

Aku berjalan santai ke sebelah mereka untuk mencuci tangan. Sembari mematikan kran air, aku bergumam pelan namun cukup keras untuk terdengar, "Dasar anak manja."

Tanpa memedulikan apakah Clara akan marah atau membanting barang lagi, aku langsung balik kanan dan masuk ke dalam kelas.

Sore harinya, bel pulang sekolah berbunyi. Di area parkir depan, aku kembali bertemu dengan Clara dan Diana yang sedang menunggu jemputan supir pribadi mereka masing-masing.

"Kak Arkan! Besok aku janji enggak bakal terlambat lagi! Aku janji jam enam pagi aku sudah ada di sekolah!" seru Clara penuh percaya diri.

Diana tak mau kalah mengangguk cepat. "Iya, Kak! Kami berdua janji besok datang lebih pagi. Bahkan sebelum Kakak datang, kami pasti sudah ada di sini!"

Mendengar janji yang diucapkan dengan sangat yakin oleh dua gadis itu, aku berusaha menahan tawa yang hampir meledak.

"Oke, aku pegang janji kalian," jawabku singkat sambil mengangguk formal.

Satu per satu mobil mewah mereka melaju pergi meninggalkan area sekolah. Begitu kedua mobil itu menghilang di belokan jalan, tawa yang sejak tadi kutahan akhirnya pecah juga.

Sepanjang perjalanan pulang, aku terus-menerus tertawa sendiri di atas sepeda motor.

"Kenapa ya kebanyakan orang kaya itu polos atau agak bodoh?" gumamku sambil tertawa. "Apa mereka benar-benar lupa kalau besok itu hari Minggu dan sekolah libur?"

Aku menepuk jidatku sendiri, membayangkan apa yang akan terjadi besok.

Namun, tawa pelanku perlahan meredup saat mataku menatap deru angin yang menerpa setang motor tua ini. Motor butut peninggalan almarhum bapakku. Bapak sudah lama meninggal, sementara ibuku... aku bahkan tidak tahu dia ada di mana sekarang. Memori tentang ibu sangat kabur di benakku, hanya tersisa sebuah foto kusam dengan gambar yang sudah tidak terlalu jelas. Kenyataan itu selalu berhasil menarikku kembali dari tawa gembira menjadi anak laki-laki yang harus bertahan hidup sendirian.

Keesokan harinya, Minggu pagi pukul 08.00 WITA.

Clara dan Diana benar-benar menepati janji mereka. Keduanya sudah berdiri rapi di depan gerbang sekolah dengan seragam lengkap. Namun, suasana di sekitar sekolah terasa sangat sepi dan hening. Pintu gerbang besi yang megah itu masih terkunci rapat dengan gembok besar.

"Di mana sih semua orang? Kok enggak ada yang datang ke sekolah?" tanya Clara sambil mengipas-ngipaskan tangannya ke wajah, merasa heran.

"Iya, Ra... Kenapa orang-orang pada belum muncul ya?

Padahal kan sudah jam dela..."

Kalimat Diana terhenti seketika. Matanya menyipit menatap layar ponsel di genggamannya, membaca nama hari yang tertera di sana.

"Clara..." panggil Diana dengan suara bergetar. "Pantas saja tidak ada orang yang datang."

"Kenapa, Di?"

"Coba kamu lihat hari ini... hari apa?"

Clara merebut ponsel Diana dan melihat deretan angka serta nama hari di layar. Seketika, raut wajah cantiknya berubah merah padam. Matanya melotot tajam penuh kekesalan.

"KETUA OSIS BANGSAT!" umpat Clara histeris, suaranya menggema di depan gerbang sekolah yang sepi.

"Pantas saja kemarin dia santai banget dengar janji kita! Dia sengaja mau ngerjain kita, Di!"

Napas Clara naik turun menahan emosi. Di pagi hari Minggu yang cerah itu, dendam dan rasa benci Clara Adelin terhadap sosok Ketua OSIS bernama Arkan Jaya meroket naik mencapai puncaknya.

Episodes
1 Bab 1: Awal dari Sebuah Pertemuan
2 Bab 2: Janji Bodoh di Hari Minggu
3 Bab 3: Preman, Pahlawan, dan Tatapan Mata Merah
4 Bab 4: Drama Kantin dan Balas Dendam Kecil
5 Bab 5: Razia Dadakan dan Penemuan Ajaib
6 Bab 6: Penantian Tiga Jam dan Makanan Penutup
7 Bab 7: Pasukan Kosmetik dan Misi Subuh
8 Bab 8: Kerja Sampingan dan Kemudi Galon
9 Bab 9: Pesanan untuk Rumah Sanjaya
10 Bab 10: Labirin Rumah Sanjaya
11 Bab 11: Jalur Potong dan Jalur Asmara
12 Bab 12: Mobil Asing dan Jejak Bahaya
13 Bab 13: Penyekapan dan Strategi Umpan
14 Bab 14: Penyelamatan dan Imbalan Tanpa Nama
15 Bab 15: Pengawal Baru dan Penggoda Kantin
16 Bab 16: Pengakuan Tak Terduga dan Air yang Tersedak
17 Bab 17: Tawaran Pak Frans dan Sikap Judes Clara
18 Bab 18: Rezeki Buat Egi dan Perjamuan Makan Malam
19 Bab 19: Kontrak Mewah dan Balas Dendam Ban Motor
20 Bab 20: Razia Balas Dendam dan Boneka Barbie
21 Bab 21: Pengaruh Uang dan Dendam yang Membara
22 Bab 22: Malam Pertama Egi dan Nona Muda yang Arogan
23 Bab 23: Kejutan di Mall dan Amarah Sang Pengawal
24 Bab 24: Ucapan Terima Kasih Nona Muda dan Laga Basket yang Membara
25 Bab 25: Curhat Malam dan Rahasia Nona Muda
26 Bab 26: Teka-teki Pembungkaman dan Kecurigaan Sang Tante
27 Bab 27: Keceplosan Tante Fani dan Senyum Tipis Sang Pengawal
28 Bab 28: Kabar Duka dan Prediksi Pengawal Baru
29 Bab 29: Penghormatan Terakhir dan Janji Masa Depan
30 Bab 30: Amanat Baru dan Langkah Awal Pengawal Muda
31 Bab 31: Hari Pertama Tugas dan Ujian Kesabaran Sang Pengawal
32 SEDIKIT SALAM DARI SAYA MARKARIO PUTRA
33 Bab 33: Ancaman Kepalan Tangan dan Awal Drama Sekolah
34 Bab 34: Berkas Rahasia dan Dua Bayangan Musuh Lama
35 Bab 35: Rahasia Lembaran Kuning dan Bayangan Masa Lalu
36 Bab 36: Sandiwara Pesan Suara dan Jejak Sang Nona Muda
37 Bab 37: Pengakuan Tak Terduga dan Jemputan Sang Pengawal
38 Bab 38: Topeng Pembelaan dan Rahasia yang Hampir Terbongkar
Episodes

Updated 38 Episodes

1
Bab 1: Awal dari Sebuah Pertemuan
2
Bab 2: Janji Bodoh di Hari Minggu
3
Bab 3: Preman, Pahlawan, dan Tatapan Mata Merah
4
Bab 4: Drama Kantin dan Balas Dendam Kecil
5
Bab 5: Razia Dadakan dan Penemuan Ajaib
6
Bab 6: Penantian Tiga Jam dan Makanan Penutup
7
Bab 7: Pasukan Kosmetik dan Misi Subuh
8
Bab 8: Kerja Sampingan dan Kemudi Galon
9
Bab 9: Pesanan untuk Rumah Sanjaya
10
Bab 10: Labirin Rumah Sanjaya
11
Bab 11: Jalur Potong dan Jalur Asmara
12
Bab 12: Mobil Asing dan Jejak Bahaya
13
Bab 13: Penyekapan dan Strategi Umpan
14
Bab 14: Penyelamatan dan Imbalan Tanpa Nama
15
Bab 15: Pengawal Baru dan Penggoda Kantin
16
Bab 16: Pengakuan Tak Terduga dan Air yang Tersedak
17
Bab 17: Tawaran Pak Frans dan Sikap Judes Clara
18
Bab 18: Rezeki Buat Egi dan Perjamuan Makan Malam
19
Bab 19: Kontrak Mewah dan Balas Dendam Ban Motor
20
Bab 20: Razia Balas Dendam dan Boneka Barbie
21
Bab 21: Pengaruh Uang dan Dendam yang Membara
22
Bab 22: Malam Pertama Egi dan Nona Muda yang Arogan
23
Bab 23: Kejutan di Mall dan Amarah Sang Pengawal
24
Bab 24: Ucapan Terima Kasih Nona Muda dan Laga Basket yang Membara
25
Bab 25: Curhat Malam dan Rahasia Nona Muda
26
Bab 26: Teka-teki Pembungkaman dan Kecurigaan Sang Tante
27
Bab 27: Keceplosan Tante Fani dan Senyum Tipis Sang Pengawal
28
Bab 28: Kabar Duka dan Prediksi Pengawal Baru
29
Bab 29: Penghormatan Terakhir dan Janji Masa Depan
30
Bab 30: Amanat Baru dan Langkah Awal Pengawal Muda
31
Bab 31: Hari Pertama Tugas dan Ujian Kesabaran Sang Pengawal
32
SEDIKIT SALAM DARI SAYA MARKARIO PUTRA
33
Bab 33: Ancaman Kepalan Tangan dan Awal Drama Sekolah
34
Bab 34: Berkas Rahasia dan Dua Bayangan Musuh Lama
35
Bab 35: Rahasia Lembaran Kuning dan Bayangan Masa Lalu
36
Bab 36: Sandiwara Pesan Suara dan Jejak Sang Nona Muda
37
Bab 37: Pengakuan Tak Terduga dan Jemputan Sang Pengawal
38
Bab 38: Topeng Pembelaan dan Rahasia yang Hampir Terbongkar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!