Bab 3: Preman, Pahlawan, dan Tatapan Mata Merah

Senin pagi kembali menyapa. Aku menjalankan rutinitasku seperti biasa sebagai Ketua OSIS yang disiplin dan tegas. Berdiri tegak di depan gerbang utama, mataku mengawasi setiap siswa yang mulai berdatangan.

Namun, fokusku mendadak teralih oleh sebuah pemandangan di persimpangan jalan tak jauh dari gerbang. Tampak seorang preman lokal bertubuh gempal sedang memojokkan seorang siswi sekolah kami. Tangan preman itu memaksa meminta uang.

Pak Sumanto, sekuriti sekolah yang juga sahabat almarhum bapakku, saat itu sedang patroli mengecek area belakang gedung.

Melihat siswi berseragam sama denganku dipalak secara terang-terangan, naluriku langsung bergerak. Aku melangkah cepat menghampiri mereka.

"Bro, kamu apain teman saya?" tanyaku santai tapi menekan.

Tentu saja, pertanyaanku tidak disambut ramah. Mana ada

preman yang senang aksinya diganggu?

"Heh, bocah! Mending kamu enggak usah ikut campur. Masuk sana, sekolah yang benar!" gertak preman itu dengan nada tinggi, mencoba mengintimidasiku.

"Wah, tidak bisa begitu, Kawan," balasku penuh percaya diri.

"Dia teman sekolahku. Lagipula, tindakanmu ini jelas salah."

Merasa dilecehkan oleh anak sekolah yang sok jadi pahlawan kepagian, emosi si preman mendadak puncak. Dia melayangkan satu pukulan keras mengarah tepat ke wajahku. Namun, gerakan kasarnya terlalu mudah dibaca.

Sret!

Dengan sigap aku mengelak, memukul tangannya, lalu memutar lengan otot itu ke belakang hingga mengunci pergerakannya sepenuhnya. Sekali dorongan tegas, aku membuatnya berlutut tak berdaya di atas aspal.

"Eits, enggak kena!" ledekku.

Aku merogoh saku jaketnya, mengambil kembali uang tunai milik siswi tadi, lalu mengembalikannya pada siswi yang ketakutan itu.

"Nih, uangmu. Langsung masuk ke dalam ya," bisikku pada siswi tersebut, yang langsung berlari cepat ke dalam sekolah.

Aku beralih menatap tajam ke arah preman yang masih teringkus. "Hei, Bodoh. Dengarkan baik-baik. Jangan pernah muncul lagi di sekitar area sekolah ini. Kalau sampai aku lihat kamu memalak lagi di depan mataku, tanggung sendiri akibatnya. Pergi kamu!"

Aku melepaskan cengkeramanku dan menendang pelan pantatnya. Preman itu terbirit-birit lari sambil mengumpat tak jelas.

Tak lama setelah itu, langkah terburu-buru Pak Sumanto terdengar mendekat.

"Dek Arkan! Ada apa, Dek? Ada yang terluka?" tanya Pak Sumanto dengan napas terengah-engah, wajahnya cemas. Beliau adalah sosok paman bagiku, sahabat karib almarhum Bapak semasa hidup dulu yang selalu memperhatikanku di sekolah.

"Aman, Pak Sumanto. Cuma preman lokal tadi, sudah Arkan suruh pergi," jawabku sambil tersenyum menenangkan.

"Aduh, kamu ini nekat betul, Dek... Tapi bagus, yang penting kamu selamat," puji Pak Sumanto sambil menepuk pundakku penuh rasa bangga.

Saat aku hendak berjalan kembali ke gerbang utama bersama Pak Sumanto, langkahku mendadak terhenti. Di sudut gerbang, berdiri dua gadis cantik yang menatapku tajam.

Bukan tatapan kagum karena melihat aksi pahlawanku barusan, melainkan tatapan penuh dendam. Clara dan Diana berdiri di sana, mata mereka memelotot tajam bak mata

Sharingan tanpa tomoe. Aura kebencian memancar kuat dari wajah manis keduanya.

Aku tahu betul alasan di balik tatapan 'berdarah' itu. Kejadian kemarin Minggu. Sebenarnya itu bukan salahku, melainkan murni karena kebodohan mereka sendiri yang lupa kalender.

Dua gadis itu berjalan melangkah cepat menghampiriku dengan wajah bersungut-sungut.

"Kak Arkan!" pekik Clara dengan nada melengking penuh kekesalan. "Apa maksud Kakak kemarin enggak kasih tahu kalau kemarin itu hari Minggu?! Dan kenapa malah setuju pas kami bilang mau datang pagi-pagi?!"

Diana ikut menimpalinya dengan wajah tak kalah cemberut.

"Iya! Pasti Kak Arkan sengaja mau mengerjain kami, kan? Kakak itu memang Ketua OSIS paling jahat dan tidak berperikemanusiaan!"

Aku hanya bisa menyilangkan dada dan menghela napas panjang melihat tingkah absurd dua anak kaya ini.

"Hei, dua gadis bodoh," panggilku datar. "Yang salah itu kalian, kenapa malah menyalahkan aku? Aku enggak pernah memaksa kalian datang kemarin. Kalian sendiri yang heboh buat janji. Aku cuma bilang 'aku pegang janji kalian'. Mana aku tahu kalau kalian ternyata lupa hari?"

Mendengar kalimat pembelaan dari bibirku—yang memang kenyataannya logis dan tak bisa dibantah—wajah Clara dan Diana langsung memerah padam. Mereka kehabisan kata-kata.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, keduanya berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkanku. Namun, sebelum benar-benar jauh, tangan kanan mereka berdua terangkat ke udara, melayangkan acungan jari tengah secara bersamaan ke arahku.

Aku hanya bisa mengocok perut menyaksikan tingkah konyol mereka.

"Dasar anak manja bodoh..." gumamku dalam hati sambil menggelengkan kepala.

Teng... teng... teng...

Lonceng tanda masuk sekolah berbunyi nyaring. Hari baru di sekolah resmi dimulai, dan aku melangkah masuk ke kelas dengan senyuman puas.

Episodes
1 Bab 1: Awal dari Sebuah Pertemuan
2 Bab 2: Janji Bodoh di Hari Minggu
3 Bab 3: Preman, Pahlawan, dan Tatapan Mata Merah
4 Bab 4: Drama Kantin dan Balas Dendam Kecil
5 Bab 5: Razia Dadakan dan Penemuan Ajaib
6 Bab 6: Penantian Tiga Jam dan Makanan Penutup
7 Bab 7: Pasukan Kosmetik dan Misi Subuh
8 Bab 8: Kerja Sampingan dan Kemudi Galon
9 Bab 9: Pesanan untuk Rumah Sanjaya
10 Bab 10: Labirin Rumah Sanjaya
11 Bab 11: Jalur Potong dan Jalur Asmara
12 Bab 12: Mobil Asing dan Jejak Bahaya
13 Bab 13: Penyekapan dan Strategi Umpan
14 Bab 14: Penyelamatan dan Imbalan Tanpa Nama
15 Bab 15: Pengawal Baru dan Penggoda Kantin
16 Bab 16: Pengakuan Tak Terduga dan Air yang Tersedak
17 Bab 17: Tawaran Pak Frans dan Sikap Judes Clara
18 Bab 18: Rezeki Buat Egi dan Perjamuan Makan Malam
19 Bab 19: Kontrak Mewah dan Balas Dendam Ban Motor
20 Bab 20: Razia Balas Dendam dan Boneka Barbie
21 Bab 21: Pengaruh Uang dan Dendam yang Membara
22 Bab 22: Malam Pertama Egi dan Nona Muda yang Arogan
23 Bab 23: Kejutan di Mall dan Amarah Sang Pengawal
24 Bab 24: Ucapan Terima Kasih Nona Muda dan Laga Basket yang Membara
25 Bab 25: Curhat Malam dan Rahasia Nona Muda
26 Bab 26: Teka-teki Pembungkaman dan Kecurigaan Sang Tante
27 Bab 27: Keceplosan Tante Fani dan Senyum Tipis Sang Pengawal
28 Bab 28: Kabar Duka dan Prediksi Pengawal Baru
29 Bab 29: Penghormatan Terakhir dan Janji Masa Depan
30 Bab 30: Amanat Baru dan Langkah Awal Pengawal Muda
31 Bab 31: Hari Pertama Tugas dan Ujian Kesabaran Sang Pengawal
32 SEDIKIT SALAM DARI SAYA MARKARIO PUTRA
33 Bab 33: Ancaman Kepalan Tangan dan Awal Drama Sekolah
34 Bab 34: Berkas Rahasia dan Dua Bayangan Musuh Lama
35 Bab 35: Rahasia Lembaran Kuning dan Bayangan Masa Lalu
36 Bab 36: Sandiwara Pesan Suara dan Jejak Sang Nona Muda
37 Bab 37: Pengakuan Tak Terduga dan Jemputan Sang Pengawal
38 Bab 38: Topeng Pembelaan dan Rahasia yang Hampir Terbongkar
Episodes

Updated 38 Episodes

1
Bab 1: Awal dari Sebuah Pertemuan
2
Bab 2: Janji Bodoh di Hari Minggu
3
Bab 3: Preman, Pahlawan, dan Tatapan Mata Merah
4
Bab 4: Drama Kantin dan Balas Dendam Kecil
5
Bab 5: Razia Dadakan dan Penemuan Ajaib
6
Bab 6: Penantian Tiga Jam dan Makanan Penutup
7
Bab 7: Pasukan Kosmetik dan Misi Subuh
8
Bab 8: Kerja Sampingan dan Kemudi Galon
9
Bab 9: Pesanan untuk Rumah Sanjaya
10
Bab 10: Labirin Rumah Sanjaya
11
Bab 11: Jalur Potong dan Jalur Asmara
12
Bab 12: Mobil Asing dan Jejak Bahaya
13
Bab 13: Penyekapan dan Strategi Umpan
14
Bab 14: Penyelamatan dan Imbalan Tanpa Nama
15
Bab 15: Pengawal Baru dan Penggoda Kantin
16
Bab 16: Pengakuan Tak Terduga dan Air yang Tersedak
17
Bab 17: Tawaran Pak Frans dan Sikap Judes Clara
18
Bab 18: Rezeki Buat Egi dan Perjamuan Makan Malam
19
Bab 19: Kontrak Mewah dan Balas Dendam Ban Motor
20
Bab 20: Razia Balas Dendam dan Boneka Barbie
21
Bab 21: Pengaruh Uang dan Dendam yang Membara
22
Bab 22: Malam Pertama Egi dan Nona Muda yang Arogan
23
Bab 23: Kejutan di Mall dan Amarah Sang Pengawal
24
Bab 24: Ucapan Terima Kasih Nona Muda dan Laga Basket yang Membara
25
Bab 25: Curhat Malam dan Rahasia Nona Muda
26
Bab 26: Teka-teki Pembungkaman dan Kecurigaan Sang Tante
27
Bab 27: Keceplosan Tante Fani dan Senyum Tipis Sang Pengawal
28
Bab 28: Kabar Duka dan Prediksi Pengawal Baru
29
Bab 29: Penghormatan Terakhir dan Janji Masa Depan
30
Bab 30: Amanat Baru dan Langkah Awal Pengawal Muda
31
Bab 31: Hari Pertama Tugas dan Ujian Kesabaran Sang Pengawal
32
SEDIKIT SALAM DARI SAYA MARKARIO PUTRA
33
Bab 33: Ancaman Kepalan Tangan dan Awal Drama Sekolah
34
Bab 34: Berkas Rahasia dan Dua Bayangan Musuh Lama
35
Bab 35: Rahasia Lembaran Kuning dan Bayangan Masa Lalu
36
Bab 36: Sandiwara Pesan Suara dan Jejak Sang Nona Muda
37
Bab 37: Pengakuan Tak Terduga dan Jemputan Sang Pengawal
38
Bab 38: Topeng Pembelaan dan Rahasia yang Hampir Terbongkar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!