Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Naga

Kontrak Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.

Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.

Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.

Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16 Dua Orang Di Badai

Blaar!

Blaarr!

Blaarrr!

Petir. Petir. Dan petir.

Dataran Badai seolah tidak memiliki tanah. Yang terlihat hanya ada bebatuan hitam yang hangus. Setiap kali kilat menyambar, daratan gersang ini menyala putih menyengat, memperlihatkan kepulan asap belerang yang keluar dari retakan-retakan magma mati.

Udara di tempat tersebut terasa berat, dipenuhi bau logam terbakar dan listrik statis yang membuat bulu kuduk meremang. Mengundang rasa takut yang teramat. Menciutkan nyali mereka yang datang.

"Ini benar-benar gila!" gerutu Kael dengan napas tersengal sembari menatap jauh pada petir yang terus menerus saling menyambar.

Mereka berdua berteduh di balik bongkahan batu besar, satu-satunya pelindung alami dari amukan langit. Cukup untuk melindungi mereka sementara dari sambaran petir yang terus menggila.

"Setiap sepuluh detik ada petir yang menyambar. Ini luar biasa gila!" gumamnya lagi tak percaya dia akan mendatangi tempat paling berbahaya benua mereka.

Jari-jemarinya mencengkeram erat gagang pedang, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk jika batu pelindung itu hancur berkeping-keping. Sihir anginnya menguar, cukup kuat untuk sebuah serangan. Dia benar-benar ketakutan.

"Karena tempat ini adalah sumbernya," sahut Eliya dengan sikap yang tetap tenang meski pikiran terus berputar mencari jalan keluar.

Mahkota elemen di pergelangan tangannya kembali berdenyut. Tanda-tanda kuno itu terasa dingin di kulitnya dan terus menjalar ke seluruh pembuluh darah, tetapi di dalamnya tersimpan energi murni yang terus beresonansi dengan badai di atas mereka.

Setiap kali petir menyambar, tanda-tanda elemen menyerupai tato di tangannya ikut berpendar memancarkan cahaya biru bercampur coklat zamrud dan putih pucat yang samar.

"Apa aku akan mati di sini?" Kael mengusap keringat di dahinya.

Eliya melirik, mencibirkan bibir mengingat pemuda itu adalah putra jenius angin dari kerajaan Venthora.

"Putra jenius apa kau ini? Hanya seperti ini saja sudah merasa putus asa," cibir Eliya melirik Kael yang berdiri di sampingnya dengan bergetar.

Pemuda itu mendengus kesal, dia hanya tidak ingin mati jauh dari keluarganya.

Dari arah lain, terdengar suara langkah kaki yang terseret di atas kerikil tajam. Eliya menoleh, tahu siapa yang datang mendekat.

Kael langsung memasang posisi siaga, tetapi Eliya menahannya dengan lambaian tangan.

"Kau tahu siapa yang datang?" tanya Kael melirik Eliya.

Gadis itu hanya mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari kabut yang menyelimuti tempat tersebut. Menunggu kedatangan pemuda yang beberapa saat lalu berhadapan dengannya.

Dari balik kabut asap, muncul pemuda berjubah abu-abu itu. Rambut hitamnya berantakan diterpa angin kencang. Wajahnya pucat, tetapi struktur rahangnya tegas, dia terlalu tampan untuk tempat neraka seperti itu.

"Dia ... pangeran lemah dari Ignis," ujar Kael yang menurunkan kewaspadaannya saat melihat sosok tersebut.

Eliya menoleh dengan mata melotot. Mereka tidak tahu saja siapa pemuda yang datang itu. Jika dibandingkan, Kael bukanlah apa-apa.

Dia batuk beberapa kali sambil memegangi dada seolah paru-parunya tak kuat menahan udara beracun Dataran Badai. Dia terlihat sangat lemah. Terlihat tidak berguna sesuai rumor yang beredar.

"Maafkan aku ... kalian juga mencari tempat berlindung?" tanyanya dengan suara serak, nyaris tenggelam oleh gemuruh guntur.

'Akting yang buruk', pikir Eliya di dalam hati.

Aura sihir apinya sengaja disembunyikan, tapi sisa energinya masih ada. Eliya bisa merasakan hawa panas yang samar-samar menolak dinginnya badai di sekitar tubuh pemuda itu.

'Seseorang yang benar-benar lemah pasti sudah mati tersambar petir sejak menginjakkan kaki di perbatasan dataran ini. Tapi ini adalah dia ....'

Eliya menatap pemuda di hadapannya dengan perasaan yang tidak dapat dijelaskan.

"Dia adalah Rayn Ardent. Putra Mahkota dari Kerajaan Valoris yang dirumorkan lemah dan tidak berguna, padahal hanya "berpura-pura lemah" untuk menyembunyikan identitasnya sebagai salah satu penyihir elemen api terkuat di generasi ini."

Suara Zharvion menggema di dalam kepala Eliya, membuka identitas sebenarnya tentang pemuda lemah di hadapan mereka.

Eliya memasang wajah ramah dan tersenyum, menyembunyikan semua pemikirannya.

"Ah, benar. Kau ingin bergabung? Kemarilah! Bergabung dengan kami di sini sebelum petir berikutnya menyambarmu. Namaku Eliya," ucapnya mempersilahkan Rayn masuk ke tempat berlindung mereka.

Dia mengangguk pelan, melangkah masuk ke dalam celah batu yang sempit.

"Rayn," katanya singkat memperkenalkan diri.

Lalu, dia duduk bersandar di sisi batu yang berlawanan. Di saat itu, suara berat dan bergema kembali terdengar di dalam pikirannya. Zharvion, memberinya peringatan.

'Hati-hati, Gadis Kecil. Manusia ini menyembunyikan monster di dalam jiwanya. Dia sangat berbahaya.'

'Aku tahu,' jawab Eliya di dalam hati, menenangkan Zharvion. Tapi dia bisa berguna untuk saat ini.

"Kalian sedang mencari sesuatu?" Rayn membuka suara, matanya yang sehitam arang melirik sekilas ke arah kain kumal yang digunakan Eliya sebagai jubah.

"Hanya mencari jalan keluar dari badai ini," bohong gadis itu dengan nada santai untuk meyakinkan Rayn.

"Bagaimana denganmu? Kurasa tidak ada orang waras yang mendaki Dataran Badai hanya untuk berjalan-jalan, bukan?" lanjutnya menatap Rayn dengan mata memicing.

Rayn terkekeh pelan, kepura-puraannya sangat rapi hingga Kael di samping Eliya mulai menurunkan kewaspadaannya.

"Aku tersesat setelah karavan dagangku diserang monster di kaki gunung. Aku hanya mencoba bertahan hidup," katanya sembari menatap Eliya menelisik.

Apa benar kau Aurelia si penakut? Rasanya aku tidak percaya jika tidak melihat langsung seperti ini. Rayn bergumam di dalam hati sambil mengingat-ingat wajah Aurelia yang selalu menunduk saat bertemu orang-orang.

Tiba-tiba, suara gemuruh yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya mengguncang tempat mereka berpijak. Langit malam yang hitam pekat berubah menjadi merah darah.

Di tengah dataran, di puncak bukit meratap, pusaran petir raksasa mulai terbentuk, menciptakan tornado listrik yang bergerak cepat ke arah tempat mereka berlindung. Sambaran petir kini terjadi setiap dua detik sekali, menghancurkan batu-batu di sekitar tempat itu menjadi debu.

"Batu ini tidak akan bertahan!" teriak Kael sambil menunjuk retakan besar yang mulai muncul di langit-langit pelindung yang mereka ciptakan. Tangannya mengeluarkan sihir angin yang cukup besar.

Eliya menatap Rayn. Pangeran itu masih berpura-pura panik dan ketakutan, tetapi matanya mengarah tepat ke arah perisai sihir yang ingin dia rapalkan secara rahasia. Membuat aray baru untuk melindungi mereka.

"Rayn!" panggil Eliya, memotong kepura-puraannya.

"Jika kau ingin hidup, kurasa ini saat yang tepat untuk berhenti batuk dan berpura-pura lemah. Gunakan sihir apimu untuk menahan tekanan angin!" ujar Eliya tak dapat menahan diri untuk berpura-pura tidak tahu siapa dan bagaimana pemuda itu.

Rayn tertegun, tubuhnya membeku beberapa saat. Detik berikutnya, tatapan matanya yang semula layu berubah menjadi tajam dan dingin. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang penuh misteri.

"Ah, ternyata kau sudah tahu sejak awal tentang siapa aku, Eliya? Aku terlalu meremehkanmu," katanya menatap Eliya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

Tanpa menunggu jawaban gadis tersebut, Rayn berdiri tegak. Jubah abu-abunya berkibar hebat, dan dalam sekejap, lingkaran sihir merah menyala meluas di bawah kaki tempat mereka. Ia mengusir dingin dan menciptakan kubah pelindung api yang menahan amukan badai listrik di luar. Aray yang lebih kuat dari sebelumnya.

Kael meneguk saliva, menatap Rayn dengan mata lebar. Sihir Rayn lebih kuat darinya, dan beberapa saat lalu dia telah meremehkan pangeran itu.

Ternyata selama ini dia hanya berpura-pura? Dunia tertipu olehnya. Jika saja aku tidak melihat langsung hari ini, aku tetap akan menganggapnya pecundang.

Kael berbisik di dalam hati, bergidik membayangkan kemarahan pemuda itu. Bagaimana sihir apinya bisa melahap segala yang ada di hadapan.

Eliya tersenyum puas di balik badai. Permainan baru saja dimulai.

1
beybi T.Halim
kok yaa kasihan,kan ada 4 kerajaan apakah tak ikut bertempur?? atau malah sdh mati semua🙈
Aisy Hilyah: nah itu, udah ngilang semua itu
total 1 replies
beybi T.Halim
ceritanya sungguh bagus,sepanjang episode nahan nafas terus,karakter eliya sang badai benar2 tangguh,kuat dan tentunya ada sisi melow nya ,dikelilingi pangeran tampan dari 4 kerajaan, tak sabar untuk episode berikutnya👍👍👍👍👍semangat
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 😍😍
total 1 replies
beybi T.Halim
keren👍
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Pena Quality
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!