Indonesia
NovelToon NovelToon
BLACK AND WHITE

BLACK AND WHITE

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Chicklit / Enemy to Lovers
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Bubble🫧

Pout for Me, Little Mouse.

Keylana Reinhardt, Putri seorang raja perbankan lokal Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang Miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.

Setelah disatukan, mereka tinggal bersama di Berlin, Kota kelahiran Julian. Tidak ada satu hari pun tanpa perdebatan. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal, memanggil Julian dengan nama depannya.

Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan Perasaan yang dianggap tidak penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubble🫧, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takut Salah

"Aku harus mencarinya besok."

Julian bergumam muram, berhenti di depan cermin lemari pakaiannya.

Pantulan dirinya menunjukkan seorang pria yang berbeda dari biasanya - Miliarder anggun dan acuh digantikan oleh seorang pria yang kesal dengan cara yang kekanak-kanakan dan posesif.

Rasa cemburu tergambar di wajahnya. Wajah keren yang selalu memikat wanita mungkin akan berbalik menakuti mereka.

"Lihat saja kau, Ethan." Julian kembali berjalan ke meja untuk mengambil ponsel lana.

Jari-jari Julian kembali mengetik, ia sedikit memutar otaknya untuk membuat jawaban yang normal sebagai lana.

Tanggapannya pada Ethan sengaja dibuat biasa-biasa saja, dirancang untuk memikat siswa itu tanpa menaruh curiga.

Ia menemukan respons yang terdengar sangat polos bagi siapa pun yang membaca.

Lana: Aku berubah pikiran, Ethan! Kopi kedengarannya enak. Ada sebuah kafe kecil yang lucu di dekat kampus - 'The Daily Grind.' Temui aku di sana besok siang sekitar jam tiga?

Julian menekan tombol kirim dengan seringai predator, membayangkan kegembiraan naif Ethan setelah membaca pesannya.

Dia melemparkan ponselnya kembali ke meja samping tempat tidurnya.

Julian berbaring di tempat tidurnya dengan senyum puas, meletakkan tangannya di belakang tengkoraknya membayangkan wajah Ethan saat ia memberinya pelajaran.

Matahari terbit esok harinya, Julian memulai harinya di penthouse sendirian.

Berbanding terbalik dengan di vila Julian. Ibu lana sedang sibuk di pagi buta untuk segera kembali ke Munich. Ayah dan Sieg sudah pergi lebih dulu.

Lana menuruni tangga dengan setelan santainya ke kampus. Ransel kecilnya berayun punggungnya dengan suara gemerincing gantungan saat berjalan ke meja makan yang cerah.

"Mama? Sudah akan pergi pagi ini?"

Lana menghampiri ibunya yang tengah mengelap meja walau ada staf yang bisa melakukannya.

"Iya, sayang. Adikmu akan merepotkan kakek jika ibu tidak segera pulang."

Lana duduk sambil meletakkan ranselnya ke kursi kosong di sampingnya. Staf yang bertugas di dapur segera menyajikan sarapannya.

"Apakah Berlin lebih Menyenangkan daripada rumah?"

Ibunya duduk saat lana mulai memakan Croissantnya sambil mengayunkan kaki.

"Menanyakan hal ini lagi? apakah mama sedang mengujiku?"

Lana menyipitkan mata sambil tersenyum mendengarkan pertanyaan yang telah dilontarkan lebih dari lima kali itu. Ibunya menghela nafas sambil tersenyum menyelipkan helai rambut ke belakang telinga putrinya.

"Apapun itu, Aku tidak bisa tidak khawatir. Kau bahkan tidak bisa memasak sesuatu yang hasilnya layak dimakan."

"Kokinya selalu memasak,"

"Dan bagaimana dengan kebiasaanmu yang makan larut malam karena melewatkan makan malam? Bahkan kurir makanan pun sudah tidak tersedia."

Ibunya terus memperhatikannya, Lana menelan sebelum menjawab.

"Kebiasaan itu, sudah aku hilangkan." Ibunya mengangkat alis jelas tidak sepenuhnya percaya.

"Dan Julian juga mengatakan bahwa kau pergi tanpa izin."

Lana membeku di tengah mengunyah, tidak berani menatap ibunya yang sudah membawa nada introgasi.

"Pergi liburan melintasi benua tanpa mengatakan apapun, hmm? Apakah Herr Donnersmarck tidak menggubrismu ataukah kau terlalu keras kepala untuk mendengarkannya."

Lana menelan sarapannya lalu bergegas menjelaskan. Ibunya menyandarkan punggung menunggu dengan tatapan menghakimi yang sepenuhnya dimaksudkan untuk kasih sayang.

"Ibu, aku hanya lupa. Aku pikir Herr Donnersmarck sibuk dan aku berniat menghubunginya di jam senggang tapi aku lupa."

"Sungguh? Lana-ku bukannya pembohong bukan?"

Lana meringis pada serangan lembut itu, Ia memiringkan posisi duduknya untuk menghadap ibunya sepenuhnya, kedua tangannya menekan lututnya yang tidak tertutup karena mengenakan Shortskirt.

"Maaf..."

Ibunya menghela nafas menggelengkan kepalanya, menyentuh lengan lana sambil mengusapnya.

"Sayang, Herr Donnersmarck bahkan sampai menyusulmu ke tempat sejauh itu. dia pasti khawatir dengan keselamatan mu."

"Kau tahu, Ia terkadang bekerja selama enam belas jam sehari saat perusahaan begitu menuntut dirinya. Dan kamu? Malah menambahkan daftar tugas mendesak padanya."

Cih! mana mungkin, dia bisanya melemparkanku seperti barang saat sesuatu tidak sesuai keinginannya... Gumam lana dalam benaknya.

"Aku pergi bersama dua temanku."

"Apapun itu, mereka tidak bisa bertanggungjawab jika suatu insiden terjadi dan ayahmu juga tidak bisa menuntut pertanggungjawaban pada mereka." Ia mengusap rambut halus lana di dekat telinganya.

"Kau bukanlah putri dari tokoh masyarakat biasa, sayang. Walau kami berusaha memperlakukan mu dengan demikian."

Ibunya mendorongnya kembali ke sarapannya dengan lembut.

"Makanlah, Jangan lakukan itu lagi." Katanya lembut.

"Baik, Mama."

Lana meneruskan sarapannya, Ia sudah menduga Julian akan bersikap dramatis tapi tidak pernah menyangka akan menyusulnya dan melemparkannya ke Munich sehingga hingga terlihat seperti bocah bandel dan pengasuh.

Pria itu memang tua, Lana mengingatnya dan bahkan sering mengejeknya tua dan kuno saat perdebatan mereka yang bisa membuatnya marah seperti banteng dan mengunci lana di lemari.

Usia Julian Donnersmarck saat ini adalah 32, Telalu muda untuk disebut sebagai salah satu raja industri teknologi modern tapi itulah dia.

"Berapa lama lagi Study mu berakhir, Sayang?"

Ibunya membubarkan lamunan nya, segera memegang pundaknya dengan sedikit khawatir.

"Ada yang salah?"

"Tidak, hanya memikirkan tugas dan rencana dengan teman." Lana menoleh. "Uh, dan studynya, Tersisa tiga belas bulan dari sekarang dan juga untuk magang."

Ibunya mendengarkan dengan seksama penjelajahannya sambil mengangguk. Ia meliriknya sambil mengedipkan mata.

"Itu adalah waktu untuk hitung mundur tanggal pernikahanmu."

Pernyataan yang tiba terasa seperti petir petir menggelegar di siang hari bagi lana. Membuat mulutnya ternganga dan membeku sejenak.

"Ehhh?! Sudah ditentukan?"

Lana mencondongkan tubuh ke depan mencoba mencaritahu apakah ibunya menggodanya atau serius. Ibunya tertawa kecil di balik jari-jarinya melihat reaksi lana.

"Kau serius, Kami menemukan pembicaraan tentang ini semalam. Dan mungkin saja, Kau akan menikah tepat setelah Ujian." Ia menyentuh hidung lana.

"Mama, Jangan bercanda. Mengapa aku tidak tahu ini - Mengapa aku tidak dilibatkan dalam pembicaraan ini, Ini butuh pendapatku bukan?"

Desak lana dengan gelisah dengan perasaan tidak percaya dan panik, tangannya menggoyangkan lengan ibunya menuntut penjelasan.

"Serius." Ia memasang wajah serius kepada lana sambil memegang pundaknya. "Kami sudah memutuskan setelah melihat kalian cocok satu sama lain. Tapi kamu kebetulan tidak disana saat diskusi itu, Kamu pergi bersama Julian."

Nadanya kembali menggoda lagi, memperhatikan lana yang menganga.

"Apakah Julian juga tidak tahu ini?"

"Tentu dia tahu, Dialah yang menawarkan diri. Ia merasa sudah siap menerima tanggungjawab besar itu."

Idiot itu! Tidak heran bahwa mereka langsung setuju.... Ha, Sial. Haruskah aku melakukan sesuatu....

"Tidakkah ini terlalu cepat ma..." Keluhnya.

Wajah ibu melembut saat memperhatikan wajah putrinya yang resah dengan perasaan kasih sayang dan penyerahan yang berat hati.

"Jika itu menurutku, sayang. aku bahkan tidak akan pernah mengatakan kamu sudah siap. Kamu adalah gadis kecil selamanya di mata ibu."

Ia memeluknya dengan erat seolah memberikan kekuatan dan mendukungnya, bahwa ia tidak pernah sendiri. Lana membalasnya tanpa ragu walau ada beberapa staf di dekat sana.

Pelukan itu berlangsung lebih lama, lana merasakan kehangatan paling mendasar setelah malamnya yang gelisah.

"Astaga, Kamu bisa terlambat jika terus merengek karena hari pernikahanmu ditentukan."

Ibunya tiba-tiba melepaskannnya untuk membantunya menghaluskan atasannya.

"Dan juga, Aku melihat Tuan Christoper sangat menaruh harapan padamu." Ibunya menambahkan satu lana mulai menarik ranselnya.

"Berusahalah yang terbaik, sayang. Terkadang ekspektasi lebih mematikan daripada sebuah tuntutan. terutama ekspektasi dari seorang pria tua."

Ibunya merapikan pakaiannya sambil sesekali mengusap rambutnya. Lana mengangguk, Ibunya mencium pelipisnya sebelum membiarkannya pergi.

Lana memegang ranselnya sambil berjalan ke pintu, ia berhenti di tengah langkahnya. Ingin melihat ke belakang ke ibunya seolah ia sudah berada di ambang antara rumah dan altar.

Lana berbalik dan berjalan ke arah ibunya yang sedang merapikan piring untuk menenangkan kegelisahannya.

"Mama, katakan padaku. Jika aku melakukan kesalahan, apakah itu..."

Ia bahkan bingung dengan apa yang sebenarnya ia tanyakan. Ibunya tersenyum tipis.

"Kamu takut salah, Sayangku?" Ia memiringkan kepala.

"Setiap manusia melakukan kesalahan, tidak ada kesempurnaan di dunia ini."

Ia menyerahkan piring kotor kepada staf dan mendekat ke arah lana yang bingung sambil menatap lantai.

"Jika aku salah dalam pilihanku, Jika aku salah jalan dan sudah terlambat menyadarinya. Dan saat itu, tidak ada ibu untuk membawaku ke jalan yang benar atau menyelamatkanku dari rasa frustasi.... bagaimana? apakah aku bisa? apakah aku akan baik-baik saja?"

Wajah ibunya tampak prihatin sejenak, Perkataannya memiliki banyak arti yang tidak dapat disimpulkan dalam waktu singkat namun kebingungan itu terlihat jelas dan membutuhkan salep yang segera menenangkannya.

Ia mendekat dan membawa kepala lana ke bahunya.

"Jika itu terjadi, Sayangku. Kehadiran ibu bukan satu-satunya penyelamat. Di dunia ini, ada banyak manusia, beberapa dari mereka baik. Kau hanya harus menemukan seseorang yang menyayangimu atau peduli terhadap sesama." Ia mengusap wajah lana yang bersandar.

"Bertemanlah, temukan seseorang yang cukup peduli. Sayangi mereka, mereka akan menyayangimu. Dan juga, Sebuah penyelamat tidak selalu berupa seseorang."

Nadanya yang lembut adalah balsem yang mendinginkan syaraf, membuat lana seolah kembali ke buaian bayi.

"Sebuah penyelamat biasanya juga berupa sebuah pelajaran. Kau ingat? Nenekmu, mengajarimu untuk selalu membawa pita tambahan ke dalam saku agar kau bisa mengikat rambut di saat yang tidak terduga?"

Mata lana terbelalak mengingatnya. Dalam saku lana sungguh terdapat sebuah pita rambut merah yang selalu ia bawa karena kebiasaan.

Neneknya, wanita yang ia anggap cerewet telah membuat banyak pengajaran dalam hidupnya. Semua pelajaran moral itu adalah harga diri dan pelindung yang menyelamatkannya dalam arus deras bernama Julian.

"Begitu pula dalam hidup. Kamu bisa selamat karena sebuah kenangan dari orang yang bahkan sudah tidak ada dunia ini lagi, bahkan ketika jarak antara kalian adalah kehidupan dan kematian."

1
Jordin Yanti
semangat yha kakak othor ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!