Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
WUSSS...
Angin pagi perbukitan Bandung bertiup lembut, membawa aroma tanah basah dan wangi embun yang menyegarkan. Di dapur rumah panggung mereka, Arka sudah berdiri telaten di depan kompor. Pria tegap berkaos oblong santai itu mengaduk adonan cilok dengan gerakan teratur, memasang raut wajah polos dan hangat seolah pertumpahan darah di hutan selatan malam tadi hanyalah mimpi belakangan.
KRELEK...
Suara pintu kamar terbuka memecah keheningan pagi. Kinanti melangkah keluar sambil merapikan ikatan rambutnya. Wajahnya berseri manis saat melihat punggung tegap Arka yang sibuk beraktivitas.
"Mas Arka... rajin banget, jam segini udah ngeracik adonan," sapa Kinanti lembut seraya mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang Arka dari belakang, menyandarkan pipinya di punggung suaminya.
Arka menghentikan adukannya sejenak. Ia memegang jemari Kinanti yang melingkar di perutnya, lalu berbalik dan mengecup dahi istrinya dengan penuh kehangatan.
"Selamat pagi, Sayang. Biar nanti pas jualan sore semuanya udah siap, Kinanti tinggal istirahat aja," balasku Arka penuh kedamaian.
Kinanti tersenyum hangat, namun tiba-tiba matanya tertuju pada kain celemek yang tergantung di sudut meja dapur. Ada sedikit sisa bercak gelap yang tampak seperti tanah atau bumbu kering yang sebenarnya adalah sisa jejak darah dari eksekusi semalam.
"Lho, Mas... celemeknya kok ada noda gelap begini? Kemarin perasaan udah Kin cuci bersih," tanya Kinanti curiga sambil mengambil kain tersebut dan mengamatinya dekat-dekat.
Jantung Arka berdesir pelan, namun indra dan kontrol emosinya yang sempurna membuat ekspresi wajahnya tetap tenang tanpa cela. Ia tersenyum polos seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Oh, itu... tadi malam Mas sempat keluar sebentar ke belakang buat benerin talang air yang bocor, Sayang. Kena tanah basah sama oli bekas sarang burung kayaknya," sahut Arka beralasan dengan sangat alami.
Kinanti menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. "Dasar Mas Arka, malam-malam malah benerin talang. Nanti biar Kin cuci lagi ya."
"Makasih ya, Sayang," balas Arka lembut, menarik Kinanti ke dalam pelukan erat menyembunyikan kilatan mata tajamnya saat memikirkan ancaman Galuh yang mungkin masih mengintai kawasan desa.
CEKREK...
Di dalam gubuk taktis The White Dragon, Sarah yang tampil rapi dengan kemeja biru navy ala pramugari dan rok span taktisnya sedang mengomeli Lingga yang duduk santai di kursi kayu.
"Lingga! Kamu dengar nggak sih?!" cerocos Sarah cerewet sambil menunjuk layar monitor laptop yang menayangkan peta infra-merah perbatasan desa. "Meskipun Galuh sudah kabur semalam, intel kita mencatat ada dua pergerakan baru dari sel pengintai luar! Mereka mulai memetakan rute warga desa!"
Lingga dengan gaya rambut mullet-nya yang khas hanya mengunyah pisang gorengnya dengan santai. Ia meraih tangan Sarah, mengusap punggung tangan kekasihnya itu penuh perhatian.
"Sabar, Sayang... napas dulu," goda Lingga sambil tersenyum manis. "Kamu kalau lagi cerewet gini makin cantik, tapi nanti cepat lelah. Bos Arka udah memperketat ring-3 pertahanan. Siapa pun yang berani masuk jalur perumahan warga bakal langsung diadang anak-anak."
"Lingga! Aku serius!" omel Sarah gemas sambil menepuk lengan kekasihnya, meski raut wajahnya luluh oleh perhatian Lingga. "Aku nggak mau ada celah sedikit pun yang bikin Nyonya Kinanti curiga!"
"Nggak bakal ada celah, Sayang. Percaya sama aku," jawab Lingga mantap, merangkul bahu Sarah dari samping.
SREK... SREK...
Sore harinya, Arka mendorong gerobak ciloknya menyusuri jalanan setapak desa yang mulai ramai oleh warga. Kinanti berjalan berdampingan di sisinya, menyapa tetangga dengan ramah.
Namun saat melewati area persimpangan jalan menuju bukit timur, langkah Kinanti mendadak terhenti. Matanya menatap bingung ke arah sekelompok pria berjaket tebal yang tampak berjaga secara tidak mencolok di sudut jalan. Mereka adalah sel penjaga dari The White Dragon yang disebar Lingga.
"Mas..." bisik Kinanti heran sambil memegang lengan Arka. "Kok belakangan ini desa kita banyak orang asing yang jaga-jaga di pinggir jalan ya? Terus warga desa juga kayak lebih waspada kalau Kin keluar rumah..."
Arka menghentikan dorongan gerobaknya sejenak. Matanya melirik halus ke arah para personel pengamanannya sebelum kembali menatap istrinya dengan pendar mata yang amat hangat dan menenangkan.
"Mungkin pak RT lagi memperketat ronda malam, Sayang. Biar desa kita tetap aman dan Kinanti bisa jualan dengan tenang," jawab Arka santai seraya mengelus lembut pipi Kinanti.
Kinanti menatap manik mata suaminya lama, merasakan kehangatan yang luar biasa, walau di dasar hatinya benih-benih tanda tanya kecil mulai bermunculan tentang keanehan di sekitarnya.
"Yuk, lanjut jalan lagi, Sayang," ajak Arka manis.
"Iya, Mas..." sahut Kinanti dengan senyum tipis, berjalan kembali di samping Arka tanpa menyadari bahwa benteng perlindungan mutlak sedang dibangun secara penuh di sekeliling hidupnya.
WUSSS...
Malam hari membungkus desa di perbukitan Bandung dengan udara dingin bertiup kencang menembus celah pepohonan. Di rumah panggung, Kinanti sudah terlelap pulas. Senyum tipis terhias di bibirnya saat bermimpi, dibalut selimut tebal yang dipasangkan Arka sebelum ia menyelinap keluar lewat pintu belakang.
SREK...
Di luar rumah, di kegelapan malam yang pekat, Arka berdiri tegak. Sosok pria lembut penyayang istri kini telah menguap total. Wajahnya dingin bak patung pualam, matanya menusuk tajam mengawasi perimeter ring-1 rumah panggungnya.
Dari balik rimbunnya pohon nangka di samping rumah, sesosok bayangan melangkah keluar dengan cepat namun senyap. Lingga dengan gaya rambut mullet-nya yang berantakan tertiup angin berhenti dua langkah di depan Arka dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Bos," bisik Lingga dengan suara sangat rendah. "Dua sel eksekutor perintis dari The Apex Hunters yang mencoba memetakan rute jualan Nyonya Kinanti sudah kita kunci di area jurang timur. Mereka tidak sempat melangkah masuk ke radius lima ratus meter dari rumah panggung."
Arka menatap ke arah kegelapan jurang timur tanpa berkedip. "Bagaimana dengan warga desa?"
"Aman, Bos. Sarah dan tim intai sudah menyebar isu bahwa ada latihan ronda malam gabungan dan pembersihan sarang hewan liar, jadi warga lokal tidak curiga sama sekali melihat pergerakan personel kita," jawab Lingga sigap.
Arka mengangguk tipis. "Bagus. Jangan sampai ada percikan api sekecil apa pun yang mengganggu ketenangan Kinanti."
CEKREK...
Sementara itu, di pos pengintai bukit selatan, Sarah berdiri anggun memegang teropong malam thermal. Meskipun berada di tengah perbukitan yang dingin dan kotor, Sarah tetap tampil rapi dengan kemeja biru navy ala pramugari dan rok span taktisnya.
"Lingga! Masuk, Lingga!" cerocos Sarah cerewet lewat radio komunikasi earpiece. "Kenapa lama banget laporan sama Bos Arka?! Ini infra-merah sektor empat ada pergerakan mencurigakan! Kamu jangan pacaran sama angin malam ya!"
Di dekat rumah panggung, Lingga menepuk jidatnya pelan seraya menahan tawa, lalu menyahut radio komunikasinya dengan nada lembut dan santai.
"Iya, Sayang... ini aku selesai laporan. Kamu cerewet banget sih malam-malam begini, nanti bibirmu makin gemas," goda Lingga berbisik. "Tunggu di sana, aku ke sektor empat sekarang."
"Lingga! Jangan bercanda, ini situasi taktis!" balas Sarah gemas dengan nada tinggi yang ditahan, walau pipinya memerah di balik kegelapan pos pengintai.
BUGH!
Di jurang timur, pertempuran senyap berlangsung sangat singkat. Arka dan Lingga melumpuhkan lima anggota The Apex Hunters yang mencoba menembus perimeter tanpa memberikan kesempatan pada musuh untuk melepaskan satu letusan senjata pun.
CTAK!
Arka mematahkan leher eksekutor terakhir dengan satu gerakan cepat, menyapu bekas noda di lengannya dengan kain celemek yang selalu dibawanya.
"Pastikan tempat ini bersih total sebelum subuh," perintah Arka datar pada Lingga. "Galuh mungkin sudah melarikan diri semalam, tapi sisa-sisa selnya masih mencoba mencari celah. Pukul mundur mereka sampai ke luar perbatasan Bandung."
"Siap, Bos!" tegas Lingga.
Arka berbalik melangkah kembali menembus rimba, menyelinap masuk ke dalam rumah panggungnya tanpa suara. Ia membersihkan tangannya hingga wangi sabun mangga favorit istrinya kembali menyeruak.
Saat Arka merebahkan badan di samping Kinanti, wanita itu menggeliat pelan dan secara refleks menyusupkan kepalanya ke dada bidang Arka, mencari kehangatan.