Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Langkah kaki Ji-eun terasa begitu berat saat melangkah masuk menembus pintu apartemennya. Rasa lelah yang menumpuk dari pekerjaan hotel seharian seolah meluruhkan seluruh energinya sekaligus. Tanpa sempat melepaskan rasa penat secara perlahan, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk ruang tengah.
Televisi ia nyalakan sekadar agar ruangan itu tidak terlalu sunyi, meski matanya sama sekali tidak fokus memandangi layar. Selama sepuluh menit Ji-eun hanya berbaring menatap langit-langit, menikmati keheningan yang amat langka. Ia tahu ia harus segera mandi dan membersihkan diri, tetapi tubuhnya seolah menolak untuk bergerak.
Jam dinding baru saja menunjukkan pukul 20.45 ketika suara bel pintu apartemennya mendadak berbunyi.
Ji-eun mendesah pelan, memandangi pintu depan dengan enggan. Dengan langkah terseret dan setengah mengantuk, ia berjalan mendekat. Tanpa sempat memeriksa layar interkom terlebih, Ji-eun langsung memutar gagang pintu.
Betapa kagetnya Ji-eun ketika pintu terbuka lebar. Sosok Tae-jun berdiri tegak di hadapannya.
Pria itu terlihat jauh lebih segar dan santai dibanding beberapa jam lalu ketika mereka masih beradu akting kaku di hotel. Kemeja kerjanya telah berganti dengan kaus hitam santai yang dilapisi mantel kasual. Di tangan kanannya, Tae-jun menenteng sebuah kantong kertas berisi makanan hangat yang aromanya langsung menyeruak memenuhi udara.
"Aku tahu Kau pasti melewatkan makan malam," ujar Tae-jun dengan senyum tipis yang hangat di bibirnya. "Jadi aku datang membawa ini."
Ji-eun membeku sejenak sebelum bibirnya mengukir lengkungan bahagia yang tak bisa disembunyikan. Kelelahan yang tadinya mengimpit dadanya mendadak menguap tanpa bekas. Ji-eun menyambut kedatangan pria itu. Mereka melangkah ke dapur, menata makanan hangat dari kedai langganan Tae-jun di atas meja, lalu menikmati makan malam bersama dalam perbincangan ringan yang menenangkan.
Usai makan malam sederhana itu, Ji-eun memburu waktu untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Sementara Tae-jun menunggu santai di ruang tengah, menyalakan film di televisi seraya membiarkan Ji-eun menyelesaikan ritual malamnya.
Beberapa saat kemudian, Ji-eun keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan pakaian tidur yang nyaman dengan handuk kecil yang terlilit asal di lehernya. Rambut hitamnya yang panjang masih basah, meneteskan sisa air ke pundaknya.
Ji-eun baru saja hendak berjalan mengambil pengering rambut ketika Tae-jun tiba-tiba berdiri dari sofa. Pria itu mengambil alih hair dryer dari tangan Ji-eun tanpa menguarkan banyak kata, lalu menuntun perempuan itu untuk duduk santai di lantai, tepat di depan sofa tempatnya bersandar.
"Tae-jun-ssi, tidak perlu..."
"Duduklah," potong Tae-jun lembut namun tak bisa dibantah.
Tae-jun mencabut kabel pengering rambut, menyalakannya pada mode angin hangat yang pas, lalu mulai mengeringkan rambut Ji-eun. Gerakan jemari Tae-jun yang membelai helai demi helai rambut basahnya terasa begitu telaten, lembut, dan mengejutkannya... sangat ahli. Pria yang biasanya memegang pulpen mahal dan dokumen transaksi miliaran itu kini memijat kulit kepalanya dengan kelembutan yang membuat Ji-eun memejamkan mata ketagihan.
"Sejak kapan Kau sejago ini mengeringkan rambut orang?" gumam Ji-eun memiringkan kepala, menikmati kehangatan itu.
"Sejak aku memutuskan bahwa hanya aku yang boleh melakukan ini padamu," bisik Tae-jun tepat di dekat telinganya, menyisipkan godaan yang membuat pipi Ji-eun merona di balik terpaan angin hangat hair dryer.
Ji-eun menyandarkan kepalanya di antara kedua lutut Tae-jun, membiarkan keheningan malam yang manis mendekap mereka dalam kehangatan.
Ding-dong!
Suara bel pintu apartemen mendadak kembali berbunyi, memecah suasana romantis yang baru saja terbangun.
Ji-eun mengedipkan matanya kaget, langsung mematikan pengering rambut di tangan Tae-jun. "Siapa malam-malam begini?"
Belum sempat Ji-eun berdiri untuk memeriksa layar interkom atau memutar gagang pintu, terdengar suara tombol kode akses pintunya ditekan dari luar dengan sangat cepat dan lihai.
Bip-bip-bip-bip... Cklek!
Pintu apartemen terdorong terbuka lebar dari luar sebelum Ji-eun sempat melangkah dua tapak.
"Hei, Han Ji-eun! Aku datang membawa camilan malam!" seru sebuah suara wanita yang sangat familier, penuh nada ceria tanpa beban.
Seo-ah, sahabat terdekat Ji-eun yang memegang kode sandi apartemennya, melangkah masuk membawa sekantong plastik makanan ringan dengan santainya.
Langkah Seo-ah terhenti mendadak tepat di lorong depan pintu. Kantong plastik makanan ringan di tangannya nyaris merosot jatuh ketika matanya menangkap sosok pria tinggi berpakaian kasual yang sedang memegang pengering rambut di samping Ji-eun.
Seo-ah membeku. Matanya membelalak sempurna, menatap tidak percaya pada wajah tampan pria yang selama ini hanya bisa ia lihat di majalah bisnis papan atas, berita televisi, atau papan iklan megah. Pria di hadapannya adalah Seo Tae-jun, sosok pengusaha muda yang sangat terkenal, dipuja banyak orang karena pesona dan keberhasilannya, serta dikenal teramat dingin dan tak tersentuh oleh media.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya dalam hidup, Seo-ah melihat sosok legendaris itu secara langsung, berdiri santai di dalam apartemen sahabatnya dengan pengering rambut di tangan.
"A-astaga... Seo Tae-jun?!" jerit Seo-ah tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya berbinar-binar antara syok dan sangat antusias. "Ini benar Seo Tae-jun? Tokoh utama majalah Forbes yang sering dibicarakan orang-orang itu?!"
Ji-eun menggigit bibirnya, mengusap tengkuknya yang terasa dingin akibat reaksi mendadak sang sahabat. "Seo-ah-ya... pelankan suaramu..."
Seo-ah seolah tidak mendengar teguran Ji-eun. Rasa senang dan takjub menutupi rasa terkejutnya. Ia melangkah maju dua tapak dengan wajah sumringah. "Halo, Direktur Seo! Astaga, ini pertama kalinya saya melihat Anda dari dekat! Ternyata Anda jauh lebih tampan dan tinggi daripada yang ada di televisi!"
Tae-jun yang semula tetap tenang mengukir senyum tipis yang ramah, sebuah respons yang sangat jarang ia berikan pada orang asing. Ia meletakkan pengering rambut di atas meja, lalu membungkuk sopan. "Halo. Kau pasti Seo-ah, sahabat yang sering diceritakan Ji-eun."
"Iya, betul sekali!" seru Seo-ah antusias. Ia lalu menoleh cepat ke arah Ji-eun, menatap sahabatnya itu dengan pandangan sarat kebanggaan sekaligus godaan tajam. "Han Ji-eun! Kau gila ya? Bagaimana bisa Kau pacaran dengan pria sesempurna dan seterkenal ini tanpa bilang-bilang padaku?!"
"Kami... kami bermaksud memberitahumu, tapi belum menemukan waktu yang pas," sahut Ji-eun dengan pipi yang mulai memerah merona.
Seo-ah menepuk-nepuk tangannya gembira. "Siapa yang sangka pacarmu sekarang adalah orang terkenal! Ji-eun-a, Kau benar-benar hebat! Dan Anda, Direktur Seo, tolong jaga sahabatku ini baik-baik ya, dia agak keras kepala kalau sedang lelah."
Tae-jun terkekeh pelan, menatap Ji-eun dengan binar kehangatan yang manis di matanya. "Tentu saja. Tanpa Kau minta pun, aku akan menyayanginya dan menjaganya setiap hari."
Jawaban santai dan jujur dari Tae-jun sukses membuat Seo-ah makin kegirangan melihat kebersamaan mereka, sementara Ji-eun hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan rasa malu sekaligus kebahagiaan yang membuncah di dadanya.
...****************...