Elena Larasati, tidak pernah menduga jika tiga tahun menikah dengan Angga Mahardika, membawa hidupnya dalam kehancuran.
Cinta yang selama ini ia genggam dan jaga dengan baik, ternyata dibalas pengkhianatan yang menyakitkan.
Elena tidak pernah tahu jika selama ini ada wanita lain yang juga berperan seperti dirinya di sisi Angga.
Hingga sebuah peristiwa membongkar semuanya, dan Elena merasa dunianya hancur seketika.
"Ceraikan aku sekarang juga, Mas. Aku nggak sanggup kalau harus berbagi," desak Elena.
"Tidak. Saya tidak akan pernah menceraikan kamu, Elena!" tolak Angga tegas.
"Aku nggak bisa, Mas! Aku mau kita pisah!"
"Tidak akan, Elena. Saya sangat mencintai kamu. Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istri saya!"
Bagaimana Elena melewati kehidupan rumah tangganya dengan kenyataan ada istri lain di sisi suaminya?
Disclaimer hanya untuk yang kuat saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Jujur
Sore itu, suasana rumah orang tua Elena terasa lebih ramai dari biasanya. Angga duduk berhadapan dengan Pak Sigit di ruang tamu. Di atas meja, terdapat sebuah amplop dan beberapa peralatan sekolah yang tadi sempat dibelinya.
"Ini untuk tambahan keperluan sekolah Rendi, Pak," ujar Angga sambil mendorong amplop tersebut.
Pak Sigit tampak terkejut. "Angga, ini terlalu banyak. Kamu tidak perlu—"
"Pak, saya tahu Rendi masih sekolah. Anggap saja ini tanggung jawab saya."
"Tapi kamu sudah banyak membantu keluarga kami nak. Biaya berobat bapak dan biaya sekolah Rendi sudah kamu transfer juga kemarin."
Angga menggeleng. "Saya suami Elena Pak. Selama saya masih mampu, saya tidak ingin keluarga Elena kekurangan."
Dari arah ruang tengah, terdengar suara langkah kaki. Rendi yang baru saja bergabung dengan mereka berhenti di ambang pintu.
Tatapannya langsung tertuju pada buku-buku dan perlengkapan sekolah yang berada di atas meja.
"Ini buat aku, Kak?"
Angga menoleh. "Iya. Coba lihat apakah semuanya sudah lengkap."
Rendi segera mendekat dengan wajah berbinar. Ia membuka tas baru yang diberikan Angga, lalu memeriksa satu per satu perlengkapan di dalamnya.
"Serius, Kak? Sepatunya juga baru?"
Angga tersenyum kecil.
"Kalau sudah tidak nyaman dipakai, bilang kakak ya. Jangan memaksakan yang sudah kekecilan."
Rendi mengangguk cepat. "Terima kasih, Kak Angga."
Belum sempat Angga menjawab, terdengar suara pintu kamar terbuka. Elena keluar setelah berbicara dengan suster Eni tadi. Ia pun berhenti ketika melihat pemandangan di ruang tamu.
Tatapannya berpindah dari ayahnya, lalu kepada Rendi yang sedang tersenyum lebar dengan tas baru di tangannya.
Angga menoleh.
"Sudah bangun?"
Elena tidak menjawab pertanyaan itu. Matanya justru tertuju pada amplop dan perlengkapan sekolah di atas meja.
"Kamu yang memberikan semua itu?"
Angga mengangguk santai. "Rendi membutuhkannya."
Elena hanya diam. Ia berjalan mendekati adiknya yang tersenyum senang seraya memeluk tasnya. Senyumnya Rendi itu justru membuat dadanya terasa sesak.
"Rendi, maaf ya mba nggak inget kalau kamu mau masuk SMA. Kalau kamu ada keperluan, kamu bisa minta sama mbak," ujar Elena, membuat Angga terhenyak.
"Tidak apa-apa Elena. Saya senang bisa memberikan Rendi semua yang dibutuhkan—"
"Aku tidak pernah meminta kamu melakukan semua ini, mas."
Kalimat tersebut membuat Rendi dan ayahnya tersentak kaget. Pasalnya, mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Elena dan juga Angga, hingga Elena dapat mengeluarkan kata-kata yang mungkin dapat menyinggung suaminya.
"Elena, ada apa nak? Angga hanya membantu, mengapa sepertinya kamu sangat tidak suka?" tanya ayahnya hati-hati.
Elena pun menghela nafasnya. Bagaimanapun juga, keluarganya belum tahu apa-apa tentang prahara rumah tangganya bersama Angga.
"Aku hanya tidak enak saja, Pak. Bukankah Bapak tadi mengatakan kalau mas Angga sudah membantu biaya berobat dan juga biaya masuk sekolah Rendi? Aku merasa tidak enak..."
"Sayang, jangan begitu. Saya suami kamu. apapun yang keluargamu butuhkan, selama saya mampu, maka saya akan memberikannya," tutur Angga menyentuh tangan Elena.
Wanita itu terhenyak. Ingin rasanya menarik tangannya dari Angga, tapi ia tidak bisa melakukannya selama masih ada di depan ayah dan adiknya.
"Saya mencintai kamu, Elena. Karena itu, saya akan melakukan apapun untuk kamu dan keluarga kamu. Jadi jangan dijadikan beban ya. Jangan tidak enak sama suami kamu sendiri," ujar Angga lagi seraya tersenyum. Kali ini, pria itu membelai lembut puncak kepala Elena.
"Mas..."
"Iya?"
"Bisa belikan aku martabak telur tradisional yang ada di ujung jalan depan? Sudah lama aku tidak makan itu," pinta Elena tiba-tiba.
Angga tertegun, lalu menatap istrinya dengan tenang. "Baiklah, saya akan mencarinya untukmu. Tunggu ya."
Angga pun beranjak dari duduknya dan mengajak asisten Rei untuk pergi mencari makanan yang diminta Elena. Ia juga memahami, pasti asistennya itu merasa canggung berada di rumah mertuanya seperti ini.
Setelah memastikan Angga dan Asisten Rei sudah pergi, Elena pun mendekat dan duduk di sisi ayahnya.
"Bagaimana kondisi kesehatan Bapak?"
"Sudah lebih baik nduk, tadi siang Bapak berobat ditemani Rendi. Untung ada bantuan dari suamimu, jadi Bapak bisa langsung gunakan untuk berobat."
Elena terdiam sejenak, merasakan nyeri di dadanya. Ia pun menatap Rendi yang sedang sibuk dengan sepatu barunya.
"Dek, bawa barang-barang mu masuk dulu gih. Berantakan. Mbak juga mau bicara dengan Bapak," pinta Elena.
"Oke mbak," sahut Rendi sambil merapikan barang-barangnya dan membawanya ke dalam kamar.
"Ibu kemana Pak?"
"Ibu lagi pengajian di gang sebelah. Ada apa toh nduk?"
Elena menari nafas perlahan sebelum berbicara pada ayahnya.
"Pak, jika aku dan Mas Angga bercerai, menurut Bapak bagaimana?"