Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 "SUDAH MULAI KUAT TERNYATA..."
"Nisa...."
"Nisaaa... Bangunlah...."
Kelopak mata Nisa berkedip pelan, merespon sayup-sayup panggilan yang menembus pekatnya kegelapan.
Dan...
"AAAAAAAAAAAA!!!!! HAAHH... HAAHH... HAAHH..."
Nisa memekik histeris, tubuhnya langsung terhenyak duduk. Ia terkesiap hebat, seolah nyawanya baru saja ditarik paksa kembali ke dalam raganya. Dada Nisa naik turun dengan ekstrem, meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Seketika itu juga, dengan tangan yang bergetar hebat, Nisa meraba seluruh tubuhnya secara kalap.
Ia sentuh kedua tangannya, Utuh?
Ia raba kedua kakinya. Utuh?
Tangannya merayap ke arah perut yang dalam ingatannya baru saja dirobek paksa.
Rata. Tak ada luka. Tak terjadi apa-apa.
Semuanya utuh. Sempurna seperti sedia kala. Tak ada setetes darah pun yang menodai kulitnya.
Begitu menyadari fisiknya tak terluka, Nisa segera melempar pandangannya ke kanan dan ke kiri.
Sisa-sisa trauma masih mencengkeram erat jantungnya, takut jika ia kembali terbangun di tengah-tengah pasar dengan ribuan lelembut beringas yang siap mencabiknya lagi.
Akan tetapi... Nisa mendapati dirinya berada di tempat yang jauh berbeda. Sangat jauh berbeda.
Ia tak lagi berada di jalanan tanah berdebu. Kini, Nisa tengah berada di dalam sebuah bangunan luas, megah, tanpa dinding penutup, yang sangat identik dengan pendopo agung di sebuah keraton.
Di sekeliling pendopo itu, terhampar taman yang luar biasa indah, namun memancarkan aura ganjil. Taman itu dipenuhi oleh ribuan bunga dari berbagai jenis, namun tak ada satu pun yang merekah. Semuanya masih kuncup, seolah tertidur dan enggan menyapa dunia.
Perhatian Nisa lalu beralih ke bawah tubuhnya sendiri. Ternyata, ia sedang terduduk di atas sebuah ranjang kebesaran dari rangka kayu jati berukir rumit, dengan kelambu tipis yang tirainya dibiarkan terbuka lebar menjuntai.
Dan... sedetik kemudian...
Dayang Putri sudah berdiri anggun di hadapannya.
"Nisa..." panggil sosok itu pelan.
Dayang Putri masih mengenakan busana kebesaran layaknya seorang ratu keraton yang menyilaukan mata—persis seperti penampilannya sesaat sebelum Nisa dilempar ke dalam kerumunan lelembut tadi.
Sepasang matanya menatap Nisa dengan senyuman yang terukir lembut.
Namun, Nisa masih mematung layaknya orang linglung. Batinnya terlalu terguncang untuk sekadar memberikan respon.
"Nisa..." panggil Dayang Putri untuk kedua kalinya.
Bukannya tenang, Nisa justru merasa gentar menatap wajah itu. Meski ia tahu betul sosok itu adalah Dayang Putri, perewangan yang selama ini menjaganya, Nisa merasa seolah sedang berhadapan dengan entitas asing yang berbahaya.
Nisa membuang muka, menolak menatap mata sang lelembut, dan sedikit menggeser tubuhnya menjauh.
Lalu... Tiba-tiba...
Dari balik punggung Dayang Putri, melangkah keluar satu sosok lain yang sukses membuat Nisa terpaku.
Sosok itu... memiliki rupa yang sama persis!
Wajahnya serupa. Sorot matanya sama. Rambut hitam lurusnya yang menjuntai di punggung, sama. Bahkan, balutan busana ratu keraton berwarna emas yang membalut tubuhnya pun sama persis, tanpa cela.
Semuanya adalah kembaran identik dari Dayang Putri.
Sosok lain itu melengkungkan senyum sinis, lalu tertawa pelan. Ia melirik Dayang Putri yang berdiri kaku di sebelahnya.
"Hihihi... Sudah kubilang padamu, Dayang Putri, relung hatinya masih kosong... Hihihi..."
"Kau benar, Sekar Mayang..." jawab Dayang Putri tanpa menoleh, tatapannya tetap terkunci pada Nisa.
Ternyata... kembaran identik itu adalah wujud dari Sekar Mayang!
"Sampai kapan kau akan bersikap keras kepala, Dayang Putri? Apa kau tak merasa kasihan melihatnya tersiksa seperti itu?" ucap Sekar Mayang, kini memindahkan tatapan tajamnya ke arah Nisa.
Nisa masih saja terduduk kaku di atas ranjang pendopo itu. Pikirannya kosong. Jiwanya seolah melayang di antara realitas dan ilusi gaib.
"Jika kau mengizinkan, aku bisa turun tangan membantumu mengisinya..." tawar Sekar Mayang dengan nada yang membius.
"Tidak perlu. Bukankah kau sendiri yang menegaskan, bahwa sudah menjadi tugasku untuk menuntun dan mengisi kekosongan di batinnya?" tolak Dayang Putri dingin.
"Hahaha... Tentu saja. Tapi, melihat rapuhnya batinnya itu, sepertinya kau akan menemui kesulitan besar, Dayang Putri," balas Sekar Mayang, nada suaranya kini terdengar jelas sedang mencemooh kehebatan saudarinya sesama lelembut itu.
"Kau terlalu sombong. Kau tak bisa melihat gambaran masa depan," desis Dayang Putri membalas.
"Jangan berlagak kau, Dayang Putri. Justru eksistensiku lah yang lebih superior darimu, karena aku sanggup menembus dan melihat masa lalu," balas Sekar Mayang tak mau kalah.
Pertengkaran dua entitas lelembut kelas atas itu terus berdengung.
Namun, entah hidayah atau kekuatan dari mana yang tiba-tiba merangsek masuk ke dalam relung batin Nisa, gadis yang sedari tadi meringkuk ketakutan itu mendadak mengangkat kepalanya.
Matanya menatap tajam dua entitas di depannya, lalu dengan suara yang menggelegar dan memecah keheningan gaib, Nisa membentak.
"DIAM KALIAN!"
Sontak, perdebatan itu terputus.
Dayang Putri dan Sekar Mayang terdiam membisu, menoleh ke arah ranjang secara bersamaan dengan wajah terkejut. Ekspresi kedua lelembut itu persis seperti dua anak kembar identik yang baru saja disemprot habis-habisan oleh ibu mereka.
Kesadaran spiritual Nisa seolah mengambil alih kendali tubuhnya. Trauma dan ketakutannya menguap, digantikan oleh bara keberanian dan keteguhan iman yang menyala terang. Dengan nada tegas, lugas, dan tak terbantahkan, Nisa menjatuhkan titahnya sebagai seorang manusia.
"Kalian boleh menyombongkan kekuatan kalian masing-masing! Tapi ingat satu hal, sampai kapan pun, kekuatan kalian tak akan pernah bisa melebihi Kuasa Sang Pencipta!"
Gema ucapan berlandaskan tauhid itu seolah menampar ruang dimensi tersebut.
Kedua mata Dayang Putri seketika melebar. Senyumnya pudar, digantikan oleh tatapan lurus yang tajam dan tak terbaca ke arah Nisa.
Berbeda halnya dengan Sekar Mayang.
Sosok itu justru perlahan mengulas sebuah senyum penuh arti.
Matanya berkilat puas menatap kemarahan Nisa.
"Sudah mulai kuat ternyata... Hihihi...."
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya