Indonesia
NovelToon NovelToon
Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa / Bad Boy
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.

Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.

Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!

IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com

Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ultimatum 24 Jam

Amplop dokumen berstempel emas Mahkamah Agung Republik Indonesia itu terasa berat di genggaman Sean. Di bawah naungan kanopi kantin Kampus Sunway yang riuh oleh gelak tawa mahasiswa, udara mendadak berhawa dingin yang membekukan.

Pengacara keluarga Wijaya menyunggingkan senyum kemenangan yang amat memuakkan. "Dua puluh empat jam, Tuan Sean. Tuan Besar Anderson sudah menyiapkan jet pribadi untuk menjemput Anda di Bandara Subang malam ini. Jika Anda tidak berada di meja akad pernikahan besok pagi, seluruh saham Anda ditarik, dan tim hukum kami akan menyita seluruh aset tempat tinggal Nona Emily di Malaysia atas tuduhan pencucian uang."

Pengacara itu membalikkan badan, melangkah pergi dengan percaya diri bersama kedua orang tua Emily yang masih memandang Sean dengan tatapan serakah.

"Sean..." bisik Emily pelan, meraih lengan kemeja hitam Sean.

Sean mengepalkan tangannya hingga dokumen di genggamannya remuk. Matanya menyala amarah yang begitu dahsyat, napasnya memburu. "Ayahku beneran udah gila... Dia rela menghancurkan hidupku sendiri cuma demi menyokong bisnis keluarga Wijaya yang mulai sekarat."

"Jangan emosi, Sean," suara Emily mengalun sangat tenang, jernih, dan rasional. Gadis itu menarik pelan jemari Sean, menuntunnya keluar dari area kantin menuju lorong yang lebih sepi. "Ini yang diinginkan Valerie. Dia mau bikin kamu panik dan mengambil keputusan gegabah."

"Tapi aset tempat tinggal kamu di sini, Mil! Beasiswamu, apartemenmu—"

"Aset bisa dicari lagi, Sean," potong Emily tegas, menatap tepat ke retina mata Sean dari balik kacamata tipisnya. "Tapi kalau kamu kembali ke Jakarta dan menandatangani surat pernikahan itu... kita bakal kehilangan masa depan kita selamanya."

Sean termangu. Dinding pertahanan dalam dadanya yang siap meledak seketika luluh oleh ketenangan gadis di hadapannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pukul 14.00 siang. Meskipun badai besar sedang mengintai hidupnya, Emily tidak melarikan diri dari kewajibannya sebagai mahasiswi baru.

Di ruang kelas ekonometrika yang berpendingin udara dingin, Emily duduk di barisan tengah bersama Mei Ling. Pensilnya menari lincah di atas lembar soal kuis semesteran, menghitung variabel multiple regression dengan kecerdasan yang tak tertandingi. Sementara mahasiswa lain mengeringkan pelipis karena stres memikirkan rumus, Emily menyelesaikan 20 soal matematika rumit itu hanya dalam waktu 35 menit.

Mei Ling melirik lembar jawaban Emily dengan mata membelalak kagum, lalu berbisik pelan, "Mil... kamu itu manusia apa kalkulator berjalan sih? Cepet banget ngerjainnya!"

Emily menyunggingkan senyum tipis, menyerahkan kertas jawabannya ke meja dosen di depan, lalu kembali ke kursinya.

Bagi orang luar, kehidupan Emily di Sunway terlihat begitu ideal. Ia adalah mahasiswi teladan yang hemat, suka menyeduh mi instan saat akhir bulan, menyukai iced matcha latte murah di kantin gedung F, dan selalu bersedia mengajari teman-teman sekelasnya. Kehidupan maba ini memberi Emily ruang untuk bernapas sebagai remaja normal, sesuatu yang pernah direnggut darinya saat di Jakarta.

Namun begitu bel kelas berakhir pukul 16.00 sore, penyamaran mahasiswi sederhana itu seketika dilepas.

Saat keluar dari gedung kuliah, Steven menghampiri Emily dengan raut wajah yang jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi gaya sombong atau kata-kata merendahkan. Steven menunduk kaku, menyodorkan sebuah folder laporan kelompok yang sudah dijilid rapi.

"Em... Emily," panggil Steven canggung, menghindari tatapan mata Emily. "Ini... laporan kelompok kita udah gua susun ulang. Nama lu gua taro di urutan paling atas sebagai ketua. Tolong... tolong bilangin sama cowok lu yang kemarin buat nggak merusak bisnis pengiriman ayah gua ya?"

Emily menatap Steven sejenak, lalu mengambil folder tersebut dengan tenang. "Terima kasih, Steven. Selama kamu penuhi tugasmu dengan jujur, tidak akan ada yang mengusik bisnis keluargamu."

Steven mengangguk panik berkali-kali sebelum berlari menjauh. Mei Ling yang memperhatikan dari jauh geleng-geleng kepala heran. "Gila ya, Mil... si Steven mendadak penurut banget kayak kucing manis. Cowok yang kemarin bentak orang tua kamu itu beneran bukan orang sembarangan ya?"

Emily menatap Mei Ling, mengusap pelan bahu sahabat barunya itu. "Dia cuma seseorang yang sangat berarti buat aku, Mei. Maaf ya kalau hari ini kamu harus lihat drama keluargaku."

Mei Ling memeluk lengan Emily hangat. "Nggak apa-apa, Mil! Aku tahu kamu itu cewek kuat. Kalau ada apa-apa, kamu selalu punya aku di sini."

Kehangatan dari pertemanan sederhana di kampus itu menguatkan pijakan kaki Emily saat ia melangkah menuju perang besar yang menunggunya di luar gerbang Sunway.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam harinya, di dalam townhouse tersembunyi kawasan Petaling Jaya, suasana terasa sangat tegang.

Layar-layar monitor terenkripsi menyala terang, membiaskan cahaya biru di atas meja kerja kayu. Sean berdiri di dekat jendela, memegang cangkir kopi hitamnya yang sudah dingin, sementara Emily menari lincah di atas papan ketik terminal perbankan internasionalnya.

Waktu menunjukkan pukul 22.00 malam. Delapan jam tersisa dari ultimatum 24 jam yang diberikan Ayah Sean.

"Aku menemukan celahnya, Sean," ujar Emily mendadak. Suaranya memecah keheningan ruangan.

Sean berbalik cepat, melangkah mendekati meja Emily. "Celah apa, Mil?"

Emily menunjuk sebuah diagram audit sejarah kepemilikan saham Anderson Group yang ia ekstrak dari dokumen rahasia milik Gabriel Setiawan.

"Empat belas tahun lalu," jelas Emily seraya memperbesar bagan struktur saham, "Ayahmu memindahkan 25% saham induk Anderson Group ke sebuah perusahaan cangkang di Labuan atas nama ibumu yang sudah almarhum. Menurut hukum waris internasional dan perjanjian akuisisi Asia Tenggara, saham itu seharusnya menjadi hak milik mutlak kamu begitu kamu berusia 21 tahun."

Mata Sean membelalak. "Ayahku tidak pernah memberi tahu soal saham warisan almarhum Ibuku."

"Tentu saja tidak," sahut Emily dengan senyum dingin yang amat tajam. "Karena Ayahmu menggunakan 25% saham itu sebagai jaminan utang ke keluarga Wijaya! Artinya, posisi Ayahmu di dewan komisaris sebenarnya ilegal tanpa persetujuan kamu sebagai ahli waris sah. Dokumen tuntutan yang dibawa pengacara tadi siang... cuma gertakan kosong buat memanipulasi kamu agar kamu menyerah sebelum menyadari hak warismu!"

Sean menatap Emily dengan rasa kagum dan haru yang tak terhingga. Di saat semua orang, termasuk dirinya sendiri terdesak oleh kepanikan, pikiran analitis Emily yang tajam berhasil menemukan kunci emas untuk membalikkan keadaan.

"Kamu bukan lagi cewek penakut yang menyembunyikan wajah di balik kacamata tebal, Mil," bisik Sean lembut, merengkuh bahu Emily dari belakang dan mengecup pelipis gadis itu dengan amat hangat. "Kamu jauh lebih hebat dari siapa pun."

Emily menyandarkan kepalanya di dada bidang Sean, menikmati kehangatan yang amat tulus. "Aku belajar dari cowok yang rela mengorbankan seluruh hidupnya buat melindungiku di bandara empat tahun lalu."

"Jadi... apa rencana kita?" tanya Sean seraya menatap layar monitor.

Emily mendongak, matanya memancarkan tekad membara yang tak tergoyahkan. "Kamu harus tetap naik pesawat ke Jakarta malam ini, Sean."

Sean tersentak, mengerutkan dahinya. "Apa?! Tapi Mil-"

"Dengar dulu," potong Emily pelan seraya memegang jemari Sean. "Kamu terbang ke Jakarta untuk menghadiri pesta pengumuman pernikahan yang dibuat Ayahmu dan Valerie besok pagi. Biarkan mereka merasa sudah menang. Biarkan Valerie mengundang seluruh media nasional."

Emily menyunggingkan senyum kemenangan yang amat memukau. "Dan saat mereka siap menandatangani surat itu di depan media... aku bakal datang membawa dokumen pembekuan saham warisan Ibumu langsung dari Mahkamah Arbitrase Internasional."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pukul 02.00 Dini Hari. Terminal Keberangkatan Bandara Sultan Abdul Aziz Shah di Subang.

Gerimis tipis membilas kaca-kaca besar terminal. Jet pribadi berlogo Anderson Group sudah bersiap di landasan pacu dengan mesin yang menyala pelan.

Sean berdiri di dekat pintu garbarata, mengenakan mantel hitam tebal. Di hadapannya, Emily berdiri mengenakan sweater rajut sederhana dan kacamata tipisnya.

Tidak ada derai air mata perpisahan seperti empat tahun lalu di Bandara Soekarno-Hatta. Yang ada hanyalah rasa percaya dan cinta yang teramat dalam di antara dua jiwa yang telah dewasa oleh penderitaan.

Sean meraih pinggang Emily, menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukan yang hangat dan erat. "Aku tunggu kamu di Jakarta, Princess. Jangan terlambat."

Emily membalas pelukan Sean, membenamkan wajahnya di dada aroma kayu cendana yang amat ia cintai. "Aku nggak akan terlambat. Jaga dirimu di sana."

Sean mengecup bibir Emily dengan kelembutan yang amat dalam, sebuah kecupan hangat yang mengunci janji setia mereka di bawah naungan hujan malam Kuala Lumpur.

Setelah melepaskan pelukannya, Sean membalikkan badan dan melangkah mantap masuk ke dalam jet pribadi yang akan membawanya terbang menembus kegelapan menuju Jakarta.

Emily berdiri mematung di balik kaca terminal, mengamati burung besi itu lepas landas membelah awan malam.

Begitu bayangan pesawat menghilang di langit malam, Emily merogoh ponsel khususnya, menekan nomor kontak Lukas, asisten pribadinya dari Helios Capital.

"Lukas," suara Emily mengalun dingin, berkuasa, dan tanpa keraguan sedikit pun. "Siapkan penerbangan pertama ke Jakarta pagi ini. Dan hubungi seluruh perwakilan media utama di Indonesia. Kita punya pertunjukan besar yang harus disiarkan secara langsung besok pagi."

Roda nasib telah berputar sempurna. Emily Valencia tidak lagi berlari dari masa lalunya. Ia sedang terbang kembali ke tempat semuanya bermula untuk menghancurkan sangkar emas yang mengurung cintanya dan merebut kembali takhta kehidupannya.

Bersambung......

1
Alia Chans
Hadir atuuu/Smile//Smile/
Bella: haloo kakk, makasihh yaa 🥰 enjoy ceritanyaa 💖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!