Indonesia
NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 : Hanya kau dan aku

Pagi berjalan seperti biasa.

Lorong gedung masih lengang, hanya suara sepatu hak tinggi yang memantul pelan di lantai marmer. Blair melangkah tenang menyusuri koridor panjang, balutan biru gelap membingkai tubuhnya dengan rapi. Rambut panjang yang tergerai dengan beberapa helaian diselipkan ke sisi wajah bergoyang pelan setiap kali ia berbelok.

Ia berhenti di depan ruangannya. Tangannya meraih gagang pintu dan mendorongnya masuk. Langkahnya langsung terhenti.

Seseorang berdiri di dalam ruangannya.

Pria itu tinggi, jas hitam membalut bahu lebarnya dengan rapi. Tubuhnya bersandar ringan di tepi meja kerja, satu tangan memegang selembar laporan milik Blair.

Mata mereka bertemu.

Blair langsung menyipit.

Kenapa dia lagi…

Keheningan jatuh di antara mereka.

Theodore lebih dulu bergerak. Ia meletakkan laporan itu di atas meja, lalu berdiri tegak dan melangkah mendekat. Berhenti beberapa langkah di hadapan Blair.

Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

“Selamat pagi,” katanya singkat.

Blair tidak menjawab sapaan itu. Ia menutup pintu di belakangnya pelan, lalu menatap pria itu lurus.

“Ada perlu apa, Tuan Pengawas?” Nada suaranya datar.

Theodore menatapnya beberapa detik sebelum berbicara.

“Gudang itu,” katanya pelan.

“Hanya diketahui dua orang.”

Blair tidak bergerak.

“Kau… dan aku.”

Hening.

Tatapan Blair mengeras sedikit, tapi ekspresinya tetap tenang. Theodore melanjutkan, suaranya tetap terkontrol.

“Aku tidak datang untuk menanyakan siapa yang melakukannya.”

Blair mengangkat satu alis tipis. “Lalu?”

Theodore diam sebentar, seperti memilih kata.

“Aku hanya ingin tahu…”

“perlukah aku mulai menganggapmu terlibat.”

Nada itu bukan tuduhan. Lebih seperti… peringatan.

Blair terdiam.

Beberapa detik berlalu. Matanya tidak lepas dari wajah pria di hadapannya. Lalu ia menghela napas kecil, nyaris seperti tawa pendek.

“Menarik.”

Theodore menunggu.

“Kalau aku benar-benar terlibat,” ucap Blair pelan, “kau tidak akan datang sendirian sekarang,"

Alis Theodore berkerut tipis.

Blair melanjutkan, kali ini lebih tegas. “Dan kau tidak akan bertanya seperti ini.”

Ia melangkah melewati Theodore, meletakkan tas di atas meja, seolah percakapan itu tidak terlalu penting baginya.

“Orang yang bekerja sembarangan selalu meninggalkan bukti,” katanya sambil membalik badan.

“Aku tidak termasuk di situ.”

Tatapan mereka kembali bertemu. Beberapa detik.

Akhirnya Theodore berkata pelan, “Itu terdengar seperti penyangkalan.”

Blair tersenyum tipis.

“Tidak,” jawabnya ringan. “Itu kenyataannya.”

Keheningan jatuh. Tatapan mereka masih saling mengunci. Detik terasa berjalan lebih lambat.

BRAKK!

Pintu ruang kerja terbuka lebar saat seseorang berlari dan menabraknya dari luar.

Keduanya langsung berpaling bersamaan.

Seorang pria berdiri di ambang pintu, napasnya terengah, satu tangan masih menahan daun pintu yang bergetar pelan akibat benturan barusan.

“Siapa sih yang nutup pintu begini...”

Lucas terdiam. Matanya menyapu ruangan. Dan tubuhnya langsung menegang.

Di dalam, Blair dan Theodore berdiri saling berhadapan.

Udara di antara mereka terasa tebal, seperti baru saja dilewati sesuatu yang tidak seharusnya ia dengar.

Pelan-pelan, keringat dingin mulai mengalir di pelipis Lucas. Tatapan Blair dan Theodore kini sama-sama tertuju padanya.

Dua pasang mata. Dua tekanan berbeda.

Rasanya… seperti sedang ditodong dua senjata dari arah berlawanan.

Lucas menelan ludah.

Untuk memecah keheningan yang membuat dadanya sesak, ia memaksa bibirnya terangkat.

Senyum itu jelas tidak berhasil.

“…maaf,” gumamnya cepat, masih terengah. “Biasanya pintu ruang Hakim Blair selalu terbuka…”

Tidak ada jawaban.

Lucas makin gugup. Ia berdehem kecil, lalu mencoba bersikap sopan.

“Selamat pagi, Hakim Blair…”

Lalu menoleh sedikit, ragu-ragu sebelum menambahkan, “…Tuan Pengawas.”

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!