Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 029 : KEMENANGAN ATAS WABAH DAN ANCAMAN BARU
Seraphina melangkah masuk ke gerbang Kerajaan Bulan Perak, hatinya terasa berat. Istana yang biasanya megah kini muram dan dingin. Di sepanjang jalan, rakyat berbaring menggigil kedinginan, bercak merah di wajah dan tubuh mereka menandakan Demam Merah Bayangan. Bahkan anak-anak pun tak luput. Dengan iba ia berjalan di antara mereka, lalu segera menuju ruang pembuatan obat tempat Ratu Lira berada.
Sesampainya di sana, pintu terbuka, Nazar muncul. Napasnya sedikit terengah, namun wajahnya tampak lega setelah menuntaskan tugas beratnya.
"Aku kembali," ucap Nazar sambil mengulurkan bunga yang bersinar lembut itu. "Ini Bunga Es Bulan yang Ratu butuhkan."
Lira menerima tanaman itu, matanya berbinar bahagia. "Terima kasih, Nazar. Tanpa tanaman ini, aku tak bisa menyempurnakan obatnya."
Tanpa menunda, Lira bekerja lincah. Ia menumbuk bunga hingga serbuk halus berkilau, lalu mencampurnya ke ramuan perak yang sudah disiapkan. Seketika ruangan dipenuhi cahaya lembut dan aroma segar yang menenangkan hati.
"Ini dia, Penawar Demam Merah Bayangan!" ucap Lira sambil mengangkat bejana berisi cairan bening berkilau bak bintang. "Siap dibagikan ke seluruh rakyat."
Seraphina tersenyum lega. "Bagus. Aku akan membantu membagikannya."
Mereka bertiga segera bertindak. Seraphina dan Nazar membagikan obat kepada rakyat terserang wabah, sementara Lira tetap di ruang utama meracik obat tambahan. Perlahan namun pasti: demam turun, bercak merah memudar hingga hilang, wajah kembali cerah, dan rasa sakit pun lenyap.
"Aku sembuh! Terima kasih, Tuan Putri Seraphina! Terima kasih Ratu Lira! Terima kasih Nazar!" seru rakyat dengan penuh syukur dan haru, bersujud di hadapan mereka.
Seraphina menatap mereka dengan lembut. "Tidak perlu berterima kasih. Ini memang tugas kami untuk melindungi rakyat Kerajaan Bulan Perak."
Di pagi cerah, kabut kegelapan perlahan hilang. Wabah Demam Merah Bayangan telah dikalahkan. Kerajaan Bulan Perak damai kembali, harapan tumbuh di hati setiap warga.
Namun jauh di balik hutan gelap, sepasang mata merah menyala masih mengawasi, tanda ancaman lain sedang menanti.
Seraphina berdiri di depan gerbang kerajaan, bernapas lega namun tetap waspada. Ia tahu kedamaian ini belum sepenuhnya utuh. Tak lama kemudian, Alaric menghampirinya dari belakang.
"Ayah, ada apa?" tanya Seraphina melihat wajah ayahnya yang serius.
"Kaum Serigala kita banyak tewas, dan sampai sekarang Ayah belum menemukan siapa pelakunya," jawab Alaric dengan nada berat.
"Apakah Ayah sudah mengutus orang untuk menyelidiki?" tanya Seraphina cemas.
"Ayah mengutus Boras, namun sampai sekarang ia belum mendapatkan informasi di balik kejadian itu."
Seraphina mengepal tangannya erat. "Biar aku yang urus, Ayah tenang saja. Aku akan mencari siapa yang berani membunuh klan srigala kita."
Sementara itu, di Kerajaan Cahaya Timur, kepanikan melanda juga. Wabah yang sama menyerang rakyatnya, membuat Pangeran Rian gelisah melihat penderitaan rakyatnya.
"Pangeran, aku tahu di mana ada obat untuk menyembuhkan penyakit rakyat kita," lapor salah satu pengawal dengan tergesa-gesa.
"Katakan," perintah Rian.
"Di Kerajaan Bulan Perak. Ratu Lira berhasil membuat obat penawarnya."
Rian terdiam sejenak, mengingat nama kerajaan itu. "Kerajaan Bulan Perak… Baiklah, biar aku sendiri yang ke sana."
"Baik, Pangeran. Aku akan siapkan beberapa pengawal untuk menemani Pangeran," ucap pengawal itu. "Dan hadiah apa yang akan Pangeran bawakan sebagai tanda terima kasih dan persahabatan?"
Rian berpikir sejenak lalu menjawab, "Bawakan permata Bulan Bintang, emas murni, dan tujuh peti kain sutra terbaik dari negeri kami."
"Siap laksanakan, Pangeran!" Para pengawal segera bergerak menyiapkan segala sesuatu untuk perjalanan ke Kerajaan Bulan Perak.