Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 — Surat Wasiat
Sirine polisi itu tidak berhenti di depan rumah petak. Ia berhenti di jembatan bambu, karena mobil patroli tidak bisa masuk ke jalan tanah yang becek.
Dua polisi muda turun dengan sepatu boot karet, menginjak lumpur, masuk ke halaman rumah petak yang hampir roboh itu dengan senter, meski hari masih jam 10 pagi tapi di dalam rumah itu gelap seperti jam 7 malam.
Yang mereka lihat di dalam membuat mereka membeku.
Seorang nenek 85 tahun dengan kebaya cokelat duduk lemas di lantai tanah, menangis seperti anak kecil dengan tongkat patah di sampingnya. Dua pria berbadan besar tiarap di bawah kolong tempat tidur bambu karena ketakutan. Seorang kakek tua dengan batik cokelat — Mahendra — memeluk sebuah kotak besi berkarat seperti memeluk bayi. Seorang pria 50 tahunan — Jatmiko — memeluk kakek itu. Dan di pojok, seorang ibu muda dengan daster penuh lumpur — Dilla — duduk memeluk buku tulis kecil dan foto, di peluk suaminya yang bahunya berdarah — Fadil — dan seorang anak kecil 5 tahun — Arif — yang memeluk kaki ibunya sambil menatap polisi dengan mata takut.
Bu Ratih dan Sekar yang tadi ditahan dengan golok, kini duduk di luar pintu, dipeluk Laras yang juga penuh lumpur.
Polisi yang paling tua, yang kenal Jatmiko karena Jatmiko dulu lurah di Karangrejo, langsung lepas topi.
"Pak Jatmiko... ini... apa yang terjadi?"
Jatmiko tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan kotak besi berkarat itu pada polisi itu.
"Di dalamnya ada akta asli 1985. 70% milik Mahendra. Yang selama ini kami kira hilang. Tolong... tolong amankan... jangan kasih ke siapa pun selain notaris Pranoto."
Nenek Suri yang mendengar kata akta asli, mendongak dengan mata sembab.
"Itu bukan akta asli! Itu palsu! Mahendra yang palsukan! Saya yang asli! Saya trauma miskin! Saya tidak mau miskin lagi!"
Polisi muda itu bingung. Ia menatap Pranoto yang sejak tadi berdiri di belakang dengan linggis kecil.
"Pak Pranoto, Anda notarisnya?"
Pranoto mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Ia mengambil akta itu dari tangan Jatmiko dengan tangan gemetar. Kertasnya sudah menguning, tapi cap notarisnya masih jelas: Kantor Notaris Pranoto & Rekan, Glodok 1985.
"Ini tulisan saya... ini tanda tangan saya 28 tahun lalu... masih basah... saya yang buat..." bisiknya.
Azam yang sejak tadi berdiri di depan pintu untuk menghalangi dua pria berbadan besar itu kabur, maju selangkah.
"Pak Polisi, perempuan tua itu Raden Ayu Suryowati. Dikira meninggal 15 tahun lalu di Solo. Ternyata akta kematiannya palsu. Dia dalang penculikan anak ini," Azam menunjuk Arif. "Dan dia yang suruh Bagaskara rebut perusahaan 28 tahun lalu."
Polisi itu menatap Nenek Suri yang 85 tahun. Tidak tega memborgol nenek-nenek. Ia hanya memapah Nenek Suri keluar dengan pelan.
"Nek, kita ke kantor polisi dulu ya, Nek... cerita pelan-pelan..."
Nenek Suri tidak melawan. Ia berjalan tertatih, dituntun polisi, sambil terus menatap kotak besi di tangan Pranoto.
"Jangan kasih ke Dilla... Dilla akan bagi-bagi ke orang miskin... nanti Wiratama bangkrut..."
Kalimat itu didengar Dilla.
Dilla yang masih duduk di lantai tanah dengan buku tulis kecil ibunya di pangkuan, mendongak. Air matanya masih mengalir, tapi tatapannya kini berbeda. Bukan tatapan ibu yang takut anaknya diculik lagi. Tapi tatapan seorang anak yang baru saja membaca wasiat terakhir ibunya.
Ia membuka halaman kedua buku tulis kecil Larasati itu dan membacanya keras-keras, agar Nenek Suri yang sedang dipapah keluar itu dengar.
"Dilla, kalau kamu baca ini, jangan benci Nenek Suri ya... Nenek Suri itu dulu waktu Jepang jajah, tidak bisa makan 3 hari. Adiknya mati kelaparan di gendongannya. Makanya Nenek Suri takut miskin. Makanya Nenek Suri rebut semua. Maafkan Nenek Suri ya, Nak... Tapi jangan kasih 70% itu ke Nenek Suri. Kasih ke orang kontrakan yang mau digusur. Biar mereka tidak merasakan lapar seperti Nenek Suri dulu... - Ibu, Larasati"
Nenek Suri yang mendengar tulisan Larasati dibacakan, berhenti melangkah di depan pintu. Punggungnya yang bungkuk bergetar hebat. Tongkatnya yang patah jatuh ke tanah.
Untuk pertama kalinya dalam 50 tahun, ia mendengar nama adiknya yang mati kelaparan di gendongannya zaman Jepang disebut lagi. Oleh Larasati — menantu yang dulu ia benci karena miskin.
Nenek Suri berbalik pelan, menatap Dilla yang duduk di lantai tanah.
"Larasati... masih ingat adik saya...?" bisiknya dengan suara yang hancur.
Dilla mengangguk sambil menangis. "Ibu tulis begitu, Nek... Ibu tidak benci Nenek..."
Nenek Suri terduduk lagi di lantai tanah, kali ini bukan karena dipaksa polisi, tapi karena lututnya sendiri lemas. Ia menangis. Tangisan nenek 85 tahun yang kehilangan adiknya karena lapar 70 tahun lalu, dan kini kehilangan segalanya lagi karena takut lapar.
Bu Ratih yang melihat Nenek Suri menangis, tanpa diminta, maju dan memeluk Nenek Suri dari samping. Bu Ratih yang juga trauma miskin, mengerti rasa takut itu.
"Sudah, Bu Suri... sudah... kita pulang ya, Bu..."
Polisi membiarkan Bu Ratih memapah Nenek Suri keluar. Tidak diborgol. Hanya dituntun seperti nenek dan cucu.
Dua pria berbadan besar suruhan Bagaskara diborgol dan dibawa ke mobil patroli.
Di dalam rumah petak yang kini hanya tersisa keluarga, hening.
Mahendra masih memeluk kotak besi itu. Jatmiko memeluk Mahendra. Fadil memeluk Dilla dan Arif. Azam dan Pranoto dan Laras berdiri di pojok, memberi ruang untuk keluarga itu menangis bersama.
Arif yang dari tadi diam, tiba-tiba melepaskan pelukan ibunya dan berjalan kecil ke arah Mahendra.
Arif mengambil bingkai foto Larasati yang tadi terjatuh di tanah dan menyerahkannya pada Mahendra dengan kedua tangan kecilnya.
"Kakek... ini foto nenek Larasati... Ibu bilang nenek Larasati cantik..."
Mahendra mengambil bingkai foto itu dengan tangan gemetar. Foto Larasati yang tersenyum bahagia di pelukannya 28 tahun lalu.
"Cantik... nenekmu paling cantik di Glodok dulu..." bisik Mahendra sambil mengusap foto itu dengan jempolnya yang keriput.
Dilla yang melihat Arif berani mendekati Mahendra, tersenyum kecil di tengah tangisnya.
"Arif, panggil Kakek Mahendra, Nak..."
Arif menatap Mahendra dengan mata polos. "Kakek Mahendra..."
Satu panggilan itu membuat Mahendra yang 68 tahun itu menangis lagi seperti anak kecil. Ia memeluk Arif dengan hati-hati, takut tubuh tuanya yang bau debu mengotori baju bersih Arif.
Pranoto yang melihat akta asli di dalam kotak, membuka lembar kedua dan mengerutkan kening.
"Mahendra... ini... akta ini valid... tapi... status kependudukanmu..."
Semua orang menoleh.
Pranoto menunjuk cap di pojok akta. "Di sini tertulis Mahendra dinyatakan meninggal dunia tahun 1988 karena kecelakaan tol Jagorawi. Akta kematianmu ada di Dukcapil. Kamu secara hukum... sudah mati 28 tahun."
Mahendra terdiam. Ia tahu itu. Ia hidup tanpa KTP selama 28 tahun. Jadi pemulung, jadi tukang parkir, tanpa identitas, agar tidak ditemukan keluarga Wiratama.
"Jadi... untuk balikkan 70% ini ke Dilla... kita harus hidupkan dulu status Mahendra di pengadilan," lanjut Pranoto. "Butuh sidang. Butuh saksi. Butuh..."
"Butuh saya," potong Jatmiko. "Saya saksi bahwa Mahendra tidak mati. Saya yang lihat Mahendra sembunyi di gudang penggilingan padi malam itu setelah kecelakaan palsu."
Azam mengangguk. "Dan butuh Bu Ratih. Bu Ratih yang antar Larasati ke rumah sakit palsu malam itu."
Fadil yang sejak tadi menahan nyeri di bahunya, tiba-tiba pucat dan keringat dingin. Darah di perbannya semakin banyak karena ia mencabut papan lantai dengan tangan kosong tadi.
"Mas... Mas kenapa?" Dilla langsung panik melihat wajah Fadil yang pucat.
Fadil mencoba tersenyum. "Tidak apa-apa, Sayang... cuma... pusing..."
Tapi tubuhnya ambruk pelan ke samping, ke pelukan Dilla.
"FADIL!"
Semua orang panik. Arif menangis kencang.
Azam langsung menggendong Fadil — yang tubuhnya jauh lebih berat dari Azam — dengan susah payah dibantu Jatmiko, keluar dari rumah petak itu menuju taksi yang masih menunggu di jembatan bambu.
"Ke rumah sakit Karangrejo! Cepat!" teriak Azam pada sopir taksi.
Dilla menggendong Arif yang menangis, membawa kotak besi berisi akta asli, buku tulis Larasati, dan foto Larasati, berlari di belakang Azam yang menggendong Fadil.
Mahendra dan Jatmiko dan Pranoto dan Bu Ratih dan Sekar dan Laras berlari di belakang mereka, meninggalkan rumah petak dengan lantai yang sudah tercabut dan pohon mangga tua yang miring itu.
Di belakang mereka, di dalam rumah petak yang kosong, angin bertiup pelan dan menutup sendiri pintu bambu yang lapuk itu, seperti Larasati yang menutup rapat rahasianya selama 28 tahun.
Di taksi menuju rumah sakit, Dilla memeluk Fadil yang pingsan di pangkuannya, sambil memeluk Arif di sisi lain.
"Mas... jangan tinggalin aku... Mas janji mau bagi 70% itu buat orang kontrakan... Mas jangan tidur..."
Fadil membuka matanya pelan dengan susah payah dan berbisik, "Mas tidak tidur, Sayang... Mas cuma... istirahat sebentar..."
Di kursi depan, Mahendra memegang akta asli 70% itu dengan erat, menatap Fadil yang pingsan di spion.
"Anak menantuku... jangan mati dulu... kamu belum lihat kontrakan petak kita jadi milik kita sendiri..."
Taksi melaju kencang menuju rumah sakit Karangrejo yang kecil dan sepi, meninggalkan debu jalan tanah dan pohon mangga tua di belakang.
Bersambung...